PDA

View Full Version : -= Renungan Harian =-



Pages : [1] 2

FaGuS
October 22nd, 2007, 00:39
ini thread untuk renungan harian yang akan gua usahain update tiap hari...

FaGuS
October 22nd, 2007, 00:40
Renungan Harian perlu untuk membantu hubungan pribadi kita dengan Tuhan melalui firman-Nya, yakni dengan merenungkan firman Tuhan untuk mengoreksi dan memperbarui hidup kita agar sesuai dengan kehendak-Nya dan terus-menerus hidup melekat dengan sang Pokok (Yoh. 15:1-8).
Berikut ini adalah penuntun sederhana utk kita ber SaTe dgn renungan harian.. sehingga benar-benar dapat menjadi sarana untuk menjadikan kita semakin peka akan kehendak dan berkat Tuhan dalam proses bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus.

1. Berdoalah terlebih dahulu sebelum mulai membaca. Mohon dengan kesungguhan agar Tuhan berbicara melalui firman-Nya.

2. Bacalah bagian Alkitab yang telah ditentukan sampai mengerti benar. Sebaiknya lebih dari sekali.

3. Bacalah artikelnya dengan pengertian yang benar, sesuai dengan konteksnya, sambil tetap ingat bahwa yang terpenting tetaplah firman Tuhan dalam Alkitab, bukan artikel tersebut.

4. Renungkan bagian Alkitab dan artikel pada hari itu, serta mengaitkannya dengan kehidupan pribadi kita. Apakah Firman tersebut menjadi peringatan, peneguhan, penghiburan, atau petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup sesehari?

5. Bersyukurlah untuk berkat yang telah kita peroleh dari firman Tuhan tersebut. Mohon Roh Kudus mengingatkan dan memberi kekuatan kepada kita untuk menaatinya pada hari itu dan hari-hari selanjutnya. Akui juga di hadapan Tuhan bila kita pernah melakukan dosa dengan mengingkari firman Tuhan pada hari itu serta dosa-dosa lainnya, dan mohon pengampunan dari-Nya.

Demikian tuntunan sederhana pada tahap permulaan kita mengadakan persekutuan dengan Tuhan. Untuk pertumbuhan iman selanjutnya, anda minta pimpinanNya dalam setiap langkah hidup anda tentunya..
Tuhan ingin anak-anak-Nya selalu rindu untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Dia secara dewasa melalui hubungan pribadi yang teratur dengan-Nya. Roh Kudus akan memelihara kerinduan kita!

FaGuS
October 22nd, 2007, 00:42
Markus 6:48
Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.

"Tuhan, bulan ini saya harus melunasi hutang buku-buku anak saya di sekolah", gumam seorang ibu beranak dua sambil menyapu di teras rumah kontrakannya. Ia lalu duduk di kursi, menangis. Ia juga menahan sakit kepala yang sudah dua minggu dia alami. Ibu ini begitu tertekan dengan hal yang menimpa keluarganya. Suaminya sudah 1 tahun terkena PHK karena tempat dia bekerja bangkrut dan belum mendapat pekerjaan pengganti. Mau usaha sendiri tidak punya modal, uang tabungan mereka yang tidak banyak semakin menipis dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Padahal mereka keluarga yang setia pada Tuhan.

Kalau kita ada pada posisi ibu tersebut, kita bisa saja berkata bahwa Allah tidak sayang. Kita mungin bertanya, "Kok Tuhan Yesus tega membiarkan anak-anak-Nya susah padahal kita sudah setia pada-Nya?"

Tapi apa memang begitu? Saya kira tidak! Allah sangat sayang pada kita. Seperti Tuhan Yesus yang melihat murid-murid-Nya mendayung perahu di tengah angin sakal. Ketika mereka terlihat kepayahan, Yesus tidak tinggal diam membiarkan mereka tenggelam, tapi Dia menghampiri mereka dan akhirnya angin sakal reda. Mari tanamkan dalam hati kita bahwa Yesus Kristus berdaulat dalam hidup kita. Dia tahu kekuatan kita dalam menghadapi masalah-masalah. Kita tidak akan dibiarkan berjuang sendiri.


Pejamkan mata Anda sejenak dan lihatlah betapa Ia berkuasa dalam hidup Anda.

FaGuS
October 22nd, 2007, 00:49
Harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2 Korintus 4:7)


Bacaan: Roma 2:17-24
Setahun: Yesaya 65-66; 1 Timotius 2

Seorang pendeta dari Kanada, John Gladstone, membuat sebuah penerapan yang menarik dari sebuah babak menyedihkan dalam kehidupan Isaac Watts. Sang penulis nyanyian pujian asal Inggris yang terkenal itu jatuh cinta dengan seorang wanita muda yang cantik bernama Elizabeth Singer. Wanita muda tersebut mengagumi puisi, pemikiran, dan semangat Isaac, tetapi ia tidak dapat menutupi rasa tidak sukanya terhadap penampilan Isaac.

Isaac adalah seorang yang pendek dan kecil, memiliki mata berwarna abu-abu yang sangat kecil, berhidung bengkok, dan tulang pipi yang menonjol. Saat ia melamar Elizabeth, wanita muda itu dengan berat hati menjawab, “Tuan Watts, seandainya saja kotak perhiasaan itu seindah perhiasan di dalamnya.”

Pendeta John Gladstone menghubungkan kisah di atas dengan analogi “perhiasan” Injil dan “kotak perhiasan” gereja. Betapa banyak orang yang menolak kabar baik Injil karena meskipun para saksi memiliki sikap yang tulus, namun mereka terlalu menggebu-gebu! Apakah tanpa disadari, kita telah menjadi orang-orang yang tidak disukai dan tidak menunjukkan kasih? Bagaimana kita dapat menjadi “penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan” (Roma 2:19) jika keindahan Yesus tidak terlihat di dalam diri kita?

Bagaimanapun caranya, kita harus mengabarkan Injil. Namun, marilah kita berdoa agar Roh Kudus membuat kita memiliki pribadi yang menarik, penuh kasih, dan bebas dari dosa, sehingga kita dapat menarik orang lain kepada-Nya —VCG


KEBENARAN DALAM HATI
MENGHASILKAN KEINDAHAN DALAM KARAKTER

-----------------------------------

Roma 2:17-24
2:17 Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah,
2:18 dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak,
2:19 dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan,
2:20 pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.
2:21 Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?
2:22 Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?
2:23 Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?
2:24 Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain."

FaGuS
October 22nd, 2007, 00:54
READ: Romans 2:17-24

We have this treasure in earthen vessels, that the excellence of the power may be of God and not of us. —2 Corinthians 4:7



Canadian minister John Gladstone has made a compelling application of a sad episode in the life of Isaac Watts. That famous English hymnwriter fell in love with a beautiful young woman, Elizabeth Singer. She admired his poetry, his mind, and his spirit, but for all her admiration she could not overcome her revulsion at his appearance.

Isaac was short and slight, afflicted with mere slits of gray eyes, a hook nose, and large cheekbones. When he proposed to Elizabeth, she all too hurtfully replied, "Mr. Watts, if only I could say that I admire the casket [jewelry box] as much as I admire the jewel it contains."

Gladstone draws a disturbing analogy between the "jewel" of the gospel and the "casket" of the church. How many people have rejected the good news because of its often sincere yet overly zealous witnesses! Are we unknowingly repulsive and unloving? How can we be "a guide to the blind, a light to those who are in darkness" (Rom. 2:19) if the beauty of Jesus cannot be seen in us?

By every means possible, let’s proclaim the gospel. But let’s pray that the Holy Spirit will make us personally winsome and loving and free from sin so that we can attract others to Him. —Vernon C Grounds


Let the beauty of Jesus be seen in me,
All His wonderful passion and purity;
Oh, Thou Spirit Divine, all my nature refine
Till the beauty of Jesus be seen in me. —Orsborn


Righteousness in the heart produces beauty in the character.

FaGuS
October 23rd, 2007, 08:17
Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22)

Bacaan: Mazmur 126
Setahun: Yeremia 1-2; 1 Timotius 3

Seorang hakim memerintahkan seorang pria Jerman untuk berhenti tertawa di hutan. Joachim Bahrenfeld, seorang akuntan, dituntut ke pengadilan oleh salah seorang dari beberapa orang yang berjoging, dan berkata bahwa kegiatan joging mereka terganggu oleh ledakan tawa Bahrenfeld yang memekakkan telinga. Ia diancam akan dipenjara selama 6 bulan jika tertangkap sedang tertawa lagi. Bahrenfeld, 54 tahun, berkata bahwa hampir setiap hari ia pergi ke hutan untuk tertawa. Itu dilakukannya untuk melepaskan stres. “Bagi saya, tertawa adalah bagian dari hidup,” katanya, “seperti makan, minum, dan bernapas.” Ia merasa bahwa hati yang gembira, yang diungkapkan melalui tawa yang terbahak-bahak, penting bagi kesehatan dan kelangsungan hidupnya.

Hati yang gembira sangatlah penting dalam kehidupan kita. Kitab Amsal 17:22 berkata, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” Hati yang gembira memengaruhi jiwa dan kesehatan tubuh kita.

Namun, ada sukacita yang lebih dalam dan lebih bertahan lama bagi mereka yang percaya kepada Tuhan. Sukacita itu bukan sekadar didasarkan atas perasaan senang dan keadaan di sekitar kita, melainkan atas keselamatan dari Allah. Dia telah memberikan pengampunan dosa dan hubungan yang dipulihkan dengan-Nya melalui Yesus, Putra-Nya. Itu memberikan sukacita mendalam yang tidak dapat diusik oleh keadaan sekitar kita (Mazmur 126:2,3; Habakuk 3:17,18; Filipi 4:7).


Kiranya hari ini Anda mengalami sukacita karena telah mengenal Yesus Kristus! —MLW

SUKACITA DATANG DARI TUHAN YANG HIDUP DALAM DIRI KITA
BUKAN DARI SESUATU YANG TERJADI DI SEKITAR KITA

Mazmur 126
126:1 Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.
126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"
126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
126:4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!
126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

FaGuS
October 23rd, 2007, 08:24
Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Efesus 5:16


Kalimat di atas bukan hal yang asing, tapi pasti kita sering mendengarnya. Mungkin baru beberapa menit yang lalu ada seseorang yang mengatakannya. Tapi kalimat itu kontra produktif dengan karakter Allah yang selalu punya waktu untuk beraktivitas. Mungkin sedikit dari kita yang menganalisa, betapa destruktifnya makna dibalik kalimat tersebut. Ketika Rasul Paulus mengatakan agar kita menggunakan waktu yang ada, ia ingin menekankan kita harus bekerja lebih keras dari iblis. Ini lebih berupa perintah daripada sekedar himbauan. 2 Petrus 5:8 mengingatkan kita untuk sadar dan berjaga-jaga, sebab lawan kita, si iblis sedang berkeliling mencari siapa saja yang dapat ditelannya alias ia sedang bekerja keras. Jika Anda tidak punya waktu untuk berjaga-jaga, Anda akan ditelannya.

Pernahkah Anda renungkan bagaimana perasaan Allah ketika kita berkata, "Maaf, saya tidak punya waktu!" Untuk Dia?? Ia juga berkata, "Engkau menyebut Aku Bapa, tapi tidak menghormati Aku. Engkau menyebut Aku Tuhan, tapi tidak melayani Aku. Engkau menyebut Aku sahabat, tapi tidak meyembah Aku. Maaf bila suatu saat engkau bertanya apakah namamu tercantum dalam kitab Kehidupan-Ku, saat itulah Aku akan berkata, ‘Maaf, Aku tidak punya waktu untuk menuliskannya.'" Jelas penyesalan tidak berguna, karena itu selagi masih ada waktu mari kita sediakan waktu untuk Dia.


Milikilah waktu bersama dengan Dia, sebagai bukti Anda sungguh mengasihi-Nya.

FaGuS
October 24th, 2007, 00:20
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
1 Korintus 9:24


Firman Tuhan mengatakan bahwa hidup ini seperti gelanggang pertandingan. Kalau kita ingin menjadi pemenang dalam pertandingan tersebut, maka ada tiga hal yang harus kira taklukkan.

1. Jarak.

Secepat apapun seorang pelari berlari, tetapi jika tidak menyelesaikan jarak yang ditentukan, maka ia tidak dapat disebut sebagai seorang pemenang. Itu berarti dalam kehidupan, kita harus konsisten berjuang sampai garis finish.

2. Waktu.

Apabila jarak yang ditentukan dapat diselesaikan, tetapi dengan waktu yang lebih lambat dari pelari yang lain, ia juga tidak dapat disebut sebagai seorang pemenang. Demikian juga dengan kehidupan kita. Kita harus dapat menggunakan waktu seefisien mungkin, dengan tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna dan sia-sia.

3. Sikap diri.

Selain jarak dan waktu, seorang pelari yang ingin menang harus mampu menaklukkan diri sendiri, khususnya sikap cepat puas diri dan tidak mau untuk menanggung kesulitan dalam dirinya. Tidak ada kemajuan tanpa kesulitan.


Menjadi seorang pemenang, berarti dapat menaklukkan tantangan sesulit apapun dalam hidup Anda.

FaGuS
October 24th, 2007, 00:23
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi
Matius 5:14

Bacaan: Matius 5:13-20
Setahun: Yeremia 3-5; 1 Timotius 4

Orang-orang sering bertanya kepada saya tentang hal yang paling berkesan saat melayani sebagai pemimpin Moody Bible Institute. Jawabannya adalah, siswa-siswinya. Saya mengagumi semangat mereka bagi Yesus dan cara mereka menunjukkannya kepada dunia di sekitar mereka. Para pemimpin perusahaan yang nonkristiani sering mengatakan kepada saya mengenai etika kerja siswa-siswi Moody yang patut dicontoh. Kepala polisi Chicago pernah berkata, “Saat siswa-siswi Moody kembali ke kampus, daerah di sekitarnya menjadi lebih terang, seperti ada seseorang yang menyalakan lampu di sana.”

Itulah maksud Yesus saat Dia mengatakan, “Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). Itu adalah kata-kata yang ampuh dalam menggambarkan suatu perbedaan. Harus ada perbedaan yang jelas antara integritas yang dimiliki orang-orang kristiani dan kegelapan dunia yang merajalela.

Yang penting bukan berbicara tentang Yesus, melainkan bagaimana orang melihat kita. Walaupun mereka mungkin tidak ingin mendengar tentang Yesus, Anda boleh yakin bahwa mereka ingin melihat apakah Dia membuat perbedaan dalam hidup kita. Saat Yesus berkata, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik” (ayat 16). Maksud-Nya adalah sebelum kita berbicara, kita harus dapat menunjukkan bukti dari apa yang kita katakan. Kemampuan kita untuk bersinar bagi Yesus diukur oleh perbuatan baik kita, yang memberikan kesaksian kuat dalam hidup kita. Mari kita menyalakan lampu-lampu kita —JMS


UNTUK DAPAT MEMIMPIN ORANG LAIN KELUAR DARI KEGELAPAN DOSA
TUNJUKKANLAH SINAR KRISTUS DALAM HIDUP ANDA




Matius 5:13-20
5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

FaGuS
October 24th, 2007, 00:28
READ: Matthew 5:13-20


You are the light of the world. A city that is set on a hill cannot be hidden. —Matthew 5:14


People often ask me what I miss most about serving as president of Moody Bible Institute. Without question it’s the students. I love their passion for Jesus and the way they demonstrate it to the world around them. Non-Christian employers often told me of the students’ exemplary work ethic. Chicago’s police super-intendent once said, "When the Moody students return to campus, it’s like somebody turned on the lights on the Near North side."

This is exactly what Jesus had in mind when He said, "You are the light of the world" (Matt. 5:14). It’s a powerful word picture of the impact of contrast. There should be a recognizable difference between the integrity of Christians and the prevailing darkness of our world.

It’s not about making speeches for Jesus; it’s about people observing us. Even though they may not want to hear about Jesus, you can be sure they’re watching to see if He makes a difference in our lives. When Jesus said, "Let your light so shine before men, that they may see your good works" (v.16), He was saying that before we can speak up we have to show up. Our capacity to shine for Jesus is measured by our good works, which reveal His compelling reality in our lives.


Let's turn on the lights. —Joe Stowell
You are called with a holy calling
The light of the world to be,
To lift up the lamp of the Savior
That others His light may see. —Anon.




To lead others out of the darkness of sin, let them see the light of Christ in your life.

FaGuS
October 25th, 2007, 00:15
Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.
Yeremia 5:25


Masih ingat perumpamaan anak yang hilang? Saat di kandang babi ia hanya terpikir untuk bisa jadi kacung ayahnya. Itu keadaan terbaik yang berani ia pikirkan. Padahal dia ahli waris seorang kaya raya. Kenapa itu bisa terjadi? Awalnya dari dosa, ia tidak merasa layak mendapat yang lebih baik. Semua harta atau kelebihan dalam diri kita tidak dapat terlihat karena tertutup dosa. You can't see the treasure's within you because of sins. Inilah cara pandang kita terhadap dosa. Dosa menyebabkan degradasi nilai kita secara luar biasa.

Banyak orang iri melihat orang sukses dan para penyanyi ternama dipuja. Menurut saya mereka memang layak dipuja, itu extra reward hasil kerja keras mereka. Dan untuk orang-orang yang iri, di mana mereka saat orang-orang yang berhasil tadi sedang mempersiapkan diri meraih sukses? Jelas iri hati tidak membawa kita pada kesuksesan. Kunci mendapatkan yang kita inginkan terletak pada cara berpikir positif.

Tanyakan pada diri Anda: "Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat diri lebih berharga dari sekarang?" Visualisasikan diri bukan sebagaimana Anda sekarang, tapi sebagaimana Anda menjadi nantinya. Ingatkan diri secara teratur bahwa Anda lebih baik daripada yang Anda kira.




Lakukan sesuatu yang dapat membuat Anda menjadi lebih berharga dari diri Anda yang sekarang.

FaGuS
October 25th, 2007, 00:33
READ: Hebrews 12:7-11


No chastening seems to be joyful for the present, but . . . it yields the peaceable fruit of righteousness to those who have been trained by it. —Hebrews 12:11



My Uncle Lester, who lived in Florida, was discouraged by the lack of fruit on his grapefruit tree. Someone told him he needed to whack the trunk of the tree a few times with a board.

Apparently, there is some truth to this unusual method of encouraging growth. One gardening expert says: "At times, the flowering hormone in the tree seems to get stuck and no flowers appear. Carefully persuade the tree to flower by shocking it. Hit the trunk . . . several times, [which will cause] small bruises in the bark." This advice may stimulate growth.

When trouble comes into our lives, we sometimes feel as if we’ve been hit broadside. We feel desperation and then we wonder, Why is this happening to me?

One possibility is that God is using a painful experience to get our attention. In Psalm 119:71, David wrote, "It is good for me that I have been afflicted, that I may learn Your statutes." And Hebrews 12:11 says that chastening "yields the peaceable fruit of righteousness."

Is God using pain in your life to lovingly persuade you to change? The season of trouble may not be easy, but if we let ourselves be trained by it, new growth will result as we become more like His Son (Phil. 3:10). —Cindy Hess Kasper


We shrink from the purging and pruning,
Forgetting the Gardener knows
The deeper the cutting and paring
The richer the cluster that grows. —Anon.


Affliction for God’s people can be the pruning knife to prepare us for greater fruitfulness.

FaGuS
October 25th, 2007, 00:38
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi … ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11)

Bacaan: Ibrani 12:7-11
Setahun: Yeremia 6-8; 1 Timotius 5

Paman saya, Lester, yang tinggal di Florida, merasa kecewa karena pohon jeruk balinya tidak berbuah banyak. Lalu ia diberi tahu bahwa ia perlu memukul batang pohon itu beberapa kali menggunakan sebuah papan.

Rupanya, cara mendorong pertumbuhan yang tidak lazim ini ada benarnya juga. Seorang pakar berkebun berkata, “Terkadang, hormon yang mendorong munculnya bunga di pohon itu sepertinya terhambat, sehingga tidak ada bunga yang muncul. Hati-hati, piculah pohon itu untuk berbunga dengan cara mengejutkannya. Pukullah batang pohonnya … beberapa kali, sampai muncul memar kecil di kulit batangnya.” Saran ini ternyata dapat merangsang pertumbuhan.

Ketika berbagai-bagai masalah datang dalam kehidupan ini, kita terkadang merasa seperti dipukul dari samping. Kita merasa putus asa dan bertanya-tanya, Mengapa hal ini terjadi kepada saya?

Salah satu kemungkinannya adalah Allah sedang menggunakan sebuah pengalaman menyakitkan untuk menarik perhatian kita. Dalam Mazmur 119:71, Daud menulis, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Selain itu, Ibrani 12:11 berkata bahwa ganjaran “menghasilkan buah kebenaran”.


Apakah Allah sedang menggunakan penderitaan hidup untuk membujuk Anda dengan penuh kasih agar Anda berubah? Musim kesulitan mungkin tidak mudah, tetapi jika kita mengizinkan diri kita dilatih oleh kesulitan itu, pertumbuhan yang baru akan terjadi pada saat kita semakin menjadi seperti Putra-Nya (Filipi 3:10) —CHK


BAGI UMAT ALLAH, PENDERITAAN DAPAT MENJADI PISAU PEMBABAT
yang MENYIAPKAN KITA AGAR BERBUAH LEBIH BANYAK




Ibrani 12:7-11

12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

FaGuS
October 26th, 2007, 05:33
READ: Psalm 42


Why are you cast down, O my soul? . . . Hope in God, for I shall yet praise Him for the help of His countenance.
Psalm 42:5


Looking at the western shores of Sri Lanka, I found it hard to imagine that a tsunami had struck just a few months earlier. The sea was calm and beautiful, couples were walking in the bright sunshine, and people were going about their business—all giving the scene an ordinary feeling I wasn’t prepared for. The impact of the disaster was still there, but it had gone underground into the hearts and minds of the survivors. The trauma itself would not be easily forgotten.

It was catastrophic grief that prompted the psalmist to cry out in anguish: "My tears have been my food day and night, while they continually say to me, ‘Where is your God?’" (Ps. 42:3). The struggle of his heart had likewise been turned inward. While the rest of the world went on with business as usual, he carried in his heart the need for deep and complete healing.

Only as we submit our brokenness to the good and great Shepherd of our hearts can we find the peace that allows us to respond to life: "Why are you cast down, O my soul? And why are you disquieted within me? Hope in God, for I shall yet praise Him for the help of His countenance" (v.5).

Hope in God—it’s the only solution for the deep traumas of the heart. —Bill Crowder


The Christian’s hope is in the Lord,
We rest secure in His sure Word;
And though we’re tempted to despair,
We do not doubt that God is there. —D. De Haan

No one is hopeless whose hope is in God.

FaGuS
October 26th, 2007, 05:35
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? … Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Mazmur 42:6

Bacaan: Mazmur 42
Setahun: Yeremia 9-11; 1 Timotius 6

Setelah melihat pantai sebelah barat Sri Lanka , saya tidak bisa membayangkan bahwa bencana tsunami pernah melanda daerah itu hanya beberapa bulan sebelumnya. Laut itu kelihatan tenang dan indah, banyak pasangan kekasih berjalan-jalan di bawah sinar matahari yang cerah, dan orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Semuanya itu memberi sebuah perasaan yang aneh kepada saya. Dampak dari bencana itu masih tetap ada, tetapi telah menyusup jauh ke dalam lubuk hati dan pikiran orang-orang yang selamat. Trauma itu sendiri tidak akan mudah mereka lupakan.

Malapetaka yang besar mendorong sang pemazmur untuk berseru dalam keluh kesahnya, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: ‘Di mana Allahmu?’” (Mazmur 42:4). Pergumulan hati sang pemazmur pun telah menyusup ke dalam. Pada saat orang-orang lainnya melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa, ia membawa kebutuhan akan kesembuhan yang dalam dan sempurna di dalam hatinya.

Hanya dengan menyerahkan kehancuran kita kepada Gembala hati kita yang baik dan besar, kita dapat menemukan kedamaian yang memampukan kita untuk menanggapi hidup: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”[/I] (ayat 6).


[I]Marilah kita berharap hanya kepada Allah. Karena, itu merupakan satu-satunya jawaban bagi trauma hati kita yang mendalam —WEC

ORANG-ORANG YANG BERHARAP KEPADA ALLAH
TIDAK AKAN PERNAH PUTUS ASA



Mazmur 42
42:1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah.
42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
42:4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
42:5 Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.
42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
42:7 Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.
42:8 Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku.
42:9 TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.
42:10 Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?"
42:11 Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?"
42:12 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

FaGuS
October 26th, 2007, 08:16
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
Efesus 4:2


Pernah melihat seseorang dengan sikap yang sangat berpengaruh? Saat mereka masuk ruangan, suasana berubah. Dengarkanlah orang-orang ini berbicara di telepon. Perhatikanlah keanggunan mereka saat berhadapan dengan orang-orang bermasalah. Amati cara mereka berdiri, duduk, dan sedikit membungkuk ke depan saat mereka mendengarkan Anda, sambil mengangguk setuju. Mereka duduk lebih tegak, dan senyuman mereka lebih tulus. Perhatikanlah, ada sesuatu yang berbeda dengan bahasa tubuh mereka.

Sikap kita dalah hasil pekerjaan Yesus Kristus dalam kehidupan kita, dari waktu ke waktu, dan kepatuhan kita pada petunjuk-Nya. Masa depan kita cerah jika sikap kita benar, dan sikap tersebut membuat masa sekarang lebih menyenangkan. Sikap bukan perasaan, bukan juga hasil dari suatu kejadian, baik atau buruk. Namun sikap kita adalah keputusan. Sikap baru tidak terbentuk dengan sendirinya, tapi harus dibangun. Buatlah keputusan hari ini untuk berubah jika Anda merasa belum memiliki sikap yang baik. Dunia membenci perubahan, tapi itu yang menyebabkan kemajuan.

Sikap yang baik menyebabkan Tuhan leluasa untuk melakukan kehendak-Nya, adalah permulaan dari prestasi yang luar biasa. Bentuklah sikap yang baik dan lihatlah pintu menuju ke tempat orang-orang sukses berada terbuka lebar di hadapan Anda.


Raihlah masa depan yang cerah dengan sikap hati yang benar, karena akan banyak pintu yang terbuka untuk Anda

FaGuS
October 27th, 2007, 20:20
Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati
setia kepada Tuhan
Kisah Para Rasul 11:23


Bacaan: Kisah Para Rasul 11:19-26
Setahun: Yeremia 12-14; 2 Timotius 1

Saat masih remaja, Jean sering berjalan-jalan dan melihat ibu-ibu duduk di bangku sambil bercakap-cakap di taman. Anak-anak mereka yang masih kecil duduk di ayunan, berharap agar ada orang yang mau mendorong mereka. “Saya mendorong mereka,” kata Jean. “Dan, tahukah Anda apa yang terjadi saat Anda mendorong seorang anak di atas ayunan? Tak lama kemudian anak itu akan melakukannya sendiri. Itulah peran saya dalam kehidupan; saya mendorong orang lain.”

Dalam hidup, mendorong orang lain adalah tujuan hidup yang mulia. Yusuf, seorang saleh dalam kitab Kisah Para Rasul, memiliki karunia itu. Pada zaman gereja mula-mula, ia menjual tanahnya dan memberikan uangnya kepada gereja supaya digunakan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung (4:36,37). Ia juga pergi bersama Paulus dalam perjalanan misi dan mengabarkan Injil (11:22-26; 13:1-4).

Anda mungkin telah mengenal Yusuf sebagai “Barnabas”, yaitu nama yang diberikan para rasul kepada “Anak Penghiburan”. Saat gereja yang berada di Yerusalem mendengar bahwa orang-orang di Antiokhia mulai mengenal Yesus sebagai Juru Selamat, mereka mengirim Barnabas karena “Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman” (11:24). Ia “menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan” (ayat 23).


Kita pun dapat memberikan “dorongan” semangat kepada orang-orang lainnya dalam perjalanan mereka bersama Tuhan —AMC


SEDIKIT PERCIKAN SEMANGAT
DAPAT MEMANTIK USAHA YANG BESAR




Kisah Para Rasul 11:19-26
11:19 Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.
11:20 Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.
11:21 Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.
11:22 Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.
11:23 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,
11:24 karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
11:25 Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

FaGuS
October 27th, 2007, 20:31
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
Yesaya 60:1



Ketika aliran listrik tiba-tiba padam ketika malam hari, apa yang kita lakukan? Pasti kita akan segera mencari lilin untuk penerangan darurat. Ketika lilin dinyalakan, kita akan segera melihat cahaya terang yang keluar dari lilin tersebut, dan kegelapan pun terusir. Keadaan dunia saat ini boleh dibilang semakin gelap, seperti gelapnya malam ketika aliran listrik padam. Dan yang dibutuhkan dunia adalah seberkas cahaya terang dari orang-orang yang mau menjadi seperti lilin tersebut.

Sebuah lilin dapat menerangi sekelilingnya dengan melelehkan dirinya, membakar dirinya sehingga ada nyala api yang memberikan terang. Demikian juga dengan hidup kita, saat kita berkomitmen menjadi terang bagi sekeliling kita, mungkin kita akan merasa sakit ‘terbakar' , merasa dikucilkan saat kita harus menjadi terang bagi orang lain, bagi rekan kerja kita, atau bagi siapapun.

Tetapi saat kita mau setia, kemuliaan Tuhan akan dinyatakan melalui kehidupan kita, dan kehidupan kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Mari, bangkit dan menjadi terang!


Bangkitlah dan menjadi terang, maka kemuliaan Tuhan akan diyatakan!

FaGuS
October 27th, 2007, 20:43
Tahun 2007 adalah tahun sukses dan tahun keberhasilan. Tetapi seseorang bisa sukses dan berhasil kalau dia menyadari bahwa dia adalah warga Kerajaan Sorga.
Dalam ayat 16 dikatakan : PAULUS SEDIH HATINYA. Di dalam Alkitab bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Paulus sedih hatinya. Namun, dalam Alkitab King James Version katanya bukanlah “sad” (sedih) tetapi lebih detail lagi dijelaskan “HIS SPIRIT WAS STIRRED” artinya rohnya bergejolak. Jadi sangat jauh berbeda artinya. Pertanyaannya, mengapa?

1. Paulus sedih bukan karena doanya tidak terkabul.
Paulus adalah orang yang diurapi sehingga apa yang dia doakan pasti dijawab Tuhan.

2. Paulus sedih bukan karena hidupnya tidak diberkati.
Paulus pasti sangat diberkati Tuhan sehingga kemanapun melayani, Paulus tidak kekurangan.

3. Paulus sedih bukan karena ia tidak mengalami mujizat.
Paulus adalah salah satu Rasul yang sangat dipercaya Tuhan dalam menyampaikan kabar baik keselamatan sehingga mujizat pasti menyertai pelayanannya.

4. Paulus sedih bukan karena ia gagal dalam hidupnya.
Paulus adalah orang yang berhasil dalam hidupnya.

Jadi Paulus sedih bukan sedih yang biasa tetapi ia sedih dalam roh. Ini adalah hal yang berbeda. Ada orang yang merasa “jengkel” jika melihat orang yang belum bertobat atau orang yang murtad tetapi ada juga orang yang merasa sedih (rohnya bergejolak) melihat orang yang belum bertobat atau orang yang murtad tersebut. Inilah yang disebut kepekaan.
Doa saya, agar setiap kita mempunyai kepekaan sehingga di saat-saat tertentu, roh kita bergejolak. Karena kalau roh kita bergejolak, disatu sisi kita takut berbuat dosa tetapi disisi lain, kita tidak takut menghadapi apapun di dunia ini.


II. KEPEKAAN
Paulus sedih dalam roh karena kepekaannya akan hati Tuhan (Ia dapat merasakan apa yang ada di hati Tuhan). Yesus juga pernah merasakan kesedihan (RohNya bergejolak) waktu memandang Yerusalem. Yesus belum ditolak di Yerusalem, Yesus tidak menangis ketika dicambuk dan disalib, tetapi Yesus menangis ketika RohNya bergejolak melihat Yerusalem. Orang yang rohnya bergejolak, akan melayani dengan sungguh-sungguh karena melihat jiwa-jiwa.

Kepekaan meliputi :

1. Peka dalam mendengar suara Tuhan
(Yes. 50:4, Yoh. 10:3).
Hal ini sangat penting karena orang yang mau melayani Tuhan bukannya masalah bisa atau tidak, tetapi harus dimulai dari dasarnya. Oleh sebab itu orang yang baru bertobat belum boleh melayani. Orang yang mau melayani harus mulai dari dasarnya yaitu harus bertobat, kemudian mengenal Firman dan hidup di dalamnya setelah itu dia bisa hidup di dalam roh sehingga dia mempunyai kepekaan. Dan kepekaan inilah yang akan mendorongnya untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan.
Menurut Yoh. 10:3 dikatakan bahwa domba mendengar suara gembala. Di dalam pelayanan, Yesus adalah tetap Gembala Agung kita.


2. Peka ketika Tuhan menghendaki/melarang sesuatu (Kis. 20:19-20, Kis. 16:6-7).
Di dalam pelayanan, kita kadangkala mempunyai ide atau orang lain mempunyai ide yang lain. Ada saatnya Tuhan menghendaki dan kalau Tuhan menghendaki, maka kita harus maju terus. Tetapi ada saatnya Tuhan melarang, pada saat tersebut, kita harus segera berhenti dan berbalik. Di dalam Kis. 20:19-20, menceritakan mengenai pengalaman Paulus yang dalam pelayanannya banyak mengalami tantangan dan pencobaan, tetapi Paulus tetap maju karena Tuhan menghendaki. Tetapi berbeda dengan kejadian di dalam Kis. 16:6-7 dimana Roh Kudus melarang mereka. Jadi di satu sisi, Tuhan menghendaki pelayanan dilakukan sehingga walaupun ada banyak tantangan, harus tetap maju, namun, disisi yang lain, Roh Kudus melarang sehingga pelayanan tidak boleh dilakukan. Setiap pelayanan harus ada masalah dan
tantangan, tetapi kita harus peka akan suara Tuhan sehingga kita bisa mengambil keputusan yang tepat.


3. Peka akan kebutuhan orang lain (Mat. 25:35-40).
Janganlah kita menjadi orang yang masa bodoh dan bebal akan kebutuhan orang lain. Kita harus menolong orang lain dengan tulus karena kita mempunyai kepekaan. Jangan menolong dengan mengharapkan imbalan.


4. Peka akan apa yang menyakiti hati Tuhan (Yoh. 2:13-17).
Menyenangkan hati Tuhan bukan hanya melakukan apa yang Tuhan suka tetapi juga tidak melakukan apa yang tidak disukai Tuhan.
Dunia hari-hari ini memerlukan orang yang peka akan suara Tuhan.


III. TIMBULNYA KEPEKAAN
Dari mana kepekaan datang?

1. Kepekaan datang dari kedekatan hubungan dengan Tuhan (Yak. 4:8-10). (Band. Maz. 73:28, Maz. 85:10, Maz. 62:2-3)
Mempunyai kepekaan bukanlah dengan mendatangi seminar-seminar, tetapi kita bisa menjadi peka jika hubungan kita dekat dengan Tuhan. Menurut Maz. 73:27-28, menjelaskan bahwa orang yang dekat dengan Tuhan akan menjadi peka sehingga dapat menceritakan pekerjaan Allah bagi orang lain.

2. Kepekaan datang dari bersihnya hati
(Yeh. 18:31-32).
Di dalam Yeh. 18:31 dijelaskan, “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu!”. Jika dalam hati kita masih ada hal-hal yang kotor, kita harus membuangnya sehingga hati kita bersih. Ketika hati bersih, maka hati kita bisa menjadi peka akan suara Tuhan.

3. Kepekaan datang dari penyerahan diri total (Rom. 12:1-3).
Kalau kita menyerahkan diri secara total, kita akan tahu mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Itulah kepekaan. Untuk membedakan mana yang baik dan mana yang bukan adalah hal yang mudah, tetapi untuk mengetahui kehendak Allah diantara yang “baik”, itu membutuhkan kepekaan.

4. Kepekaan datang dari kesiapan untuk berkorban (2 Kor. 12:15).
Orang yang suka berkorban, semakin lama ia akan semakin peka akan suara Tuhan.


IV. PENUTUP
Dunia makin memerlukan orang-orang yang peka untuk membawa damai, memberi pertolongan dan mewarnai hidup ini dengan kasih dan terang Tuhan.

Refleksi :
Mencintai Tuhan itu luar biasa, tetapi kadangkala kita hanya kurang peka akan suara Tuhan sehingga kita mudah terpengaruh dan mudah sekali jatuh bangun. Ketika setan tidak bisa menghambat kita untuk mencintai Tuhan, maka ia akan membuat kita menjadi orang-orang yang bingung sehingga kita berpikir bahwa kita mengerjakan kehendak Tuhan, padahal pekerjaan kita jauh dari kehendak Tuhan. Itulah sebabnya kita membutuhkan kepekaan akan suara Tuhan.

FaGuS
October 28th, 2007, 08:42
Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.
Kejadian 26:25


Ishak merupakan salah satu contoh pengusaha yang sukses dan diberkati oleh Tuhan. Kehidupannya yang berhasil telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Apakah yang menjadi kunci keberhasilannya? Ia tahu bagaimana menetapkan prioritas yang tepat.

Alkitab memberikan sebuah pola dari kehidupan Ishak yang berhasil. Berikut ini adalah prioritas yang dilakukan oleh Ishak:

1. Hubungan pribadi dengan TUHAN.

Ia mendirikan mezbah dan memanggil nama TUHAN. Hal pertama yang menjadi prioritas Ishak adalah hubungan pribadi dengan TUHAN. Inilah kunci utama keberhasilan Ishak.

2. Membangun rumah tangga dan keluarga.

Prioritas Ishak yang kedua adalah memasang kemah. Hal ini berbicara mengenai membangun rumah tangga dan memprioritaskan keluarga. Hubungan yang harmonis dengan orang tua, suami, istri maupun anak-anak menjadi hal yang didahulukan di atas karir.

3. Pekerjaan atau pelayanan.

Hal terakhir yang menjadi prioritas Ishak barulah menggali sumur. Pekerjaan atau pelayanan menjadi prioritas terkhir yang dilakukan Ishak.

Ishak membangun kehidupannya di atas dasar janji kebenaran firman Tuhan. Ishak sudah memberikan contoh sebuah pola kehidupan yang berhasil karena tahu menempatkan prioritas yang tepat. Apa prioritas Anda hari ini?


Menentukan prioritas hidup yang tepat akan membawa Anda kepada keberhasilan yang sesungguhnya.

FaGuS
October 28th, 2007, 08:52
Bacaan: Matius 21:28-32
Setahun: Yeremia 15-17; 2 Timotius 2

Pernahkah Anda menghadapi tugas yang tidak ingin Anda lakukan? Menyiangi rumput, mencuci pakaian, membersihkan rumah, atau bahkan mempersiapkan pelajaran Sekolah Minggu setelah menjalani satu minggu yang melelahkan dapat membuat kita ingin menunda semua pekerjaan itu.

Saat kami juga mengalami hal yang sama, saya dan istri memiliki sebuah semboyan yang kami katakan kepada satu sama lain, “Saya tidak ingin melakukannya, tetapi saya tetap akan melakukannya.” Dengan mengakui bahwa kami kurang bersemangat, tetapi kemudian memilih untuk bertanggung jawab, membuat kami berhasil melakukan hal yang tak kami sukai tersebut.

Penilaian Allah terhadap iman dan ketaatan dapat kita lihat melalui perumpamaan-perumpamaan Yesus. Kristus berbicara tentang dua anak yang diminta oleh sang ayah untuk bekerja di kebun anggur. Anak yang pertama berkata tidak, tetapi “kemudian ia menyesal dan pergi” (Matius 21:29). Anak yang kedua berkata ya, tetapi tidak melakukannya. Lalu Tuhan bertanya, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (ayat 31). Jawabannya sudah jelas, yaitu anak yang menyelesaikan tugasnya.

Perumpamaan Tuhan itu menggaris bawahi sebuah prinsip rohani yang sangat penting. Allah menginginkan iman dan ketaatan kita, bukan hanya niat baik kita. Lain kali, saat Anda tergoda untuk melalaikan tugas Anda, berkatalah, “Saya sedang tidak ingin melakukannya,” kemudian mohonlah anugerah untuk tetap melakukannya kepada Allah —DHF


KETAATAN ADALAH IMAN DALAM PERBUATAN




Matius 21:28-32
21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

FaGuS
October 28th, 2007, 23:57
Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut … tidak memihak dan tidak munafik
Yakobus 3:17



Bacaan: Yakobus 3:13-18
Setahun: Yeremia 18-19; 2 Timotius 3


Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang “tak dapat tenggelam” itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang “kecil” adalah tindakan bodoh.

Dalam beberapa hal, gereja hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di dalam gereja bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung.

Banyak orang merasa tidak penting, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani, dan beberapa orang melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk membuat mereka merasa penting. Yakobus berkata, “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan gereja-gereja besar, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) menyatukan gereja.


Sebagai anggota gereja, kita harus menjadi “keling-keling” yang tak bercacat. Jika kita murni (Yakobus 3:17), kuat (Efesus 6:10), dan berdiri teguh (1 Korintus 15:58), kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis —JAL



ADALAH HAL YANG BESAR UNTUK SETIA
DALAM HAL-HAL YANG KECIL


Yakobus 3:13-18
3:13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

FaGuS
October 29th, 2007, 00:03
Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.
Daniel 1:8


Seandainya Anda jadi tawanan bersama dengan Daniel pada waktu itu bukankah enak? Karena tawanan yang ini diperlakukan berbeda, disediakan makanan mewah dan minuman anggur yang biasa disantap oleh Raja. Mereka tidak perlu bekerja keras, hanya duduk makan enak. Tugas mereka hanyalah belajar, yang pastinya bukan pekerjaan sulit karena karena mereka adalah bangsawan, orang terpelajar. Selama tiga tahun mereka hidup enak seperti itu, gaya hidup mewah. Nebukadnezar bermaksud mencuci otak mereka dengan gaya hidup mewah ala Raja. Tujuannya supaya mereka mau mengabdi padanya dengan sukarela sebab sudah terbiasa dengan hidup enak. Hanya empat orang yang memutuskan untuk tetap hidup kudus, menolak semua gaya hidup mewah yang ditawarkan oleh Raja.

Kalau kita renungkan, bukankah sekarang dunia juga sedang berusaha untuk mencuci otak kita dengan gaya hidup mewah dan gampang? Kartu kredit, internet, teknologi komunikasi, makanan dan minuman instant, jadi sarjana dalam waktu satu tahun, semuanya memudahkan kita. Kalau kita tidak waspada, jangan-jangan kita juga terseret dengan gaya hidup dunia.

Tetaplah jaga hati dan karakter kita. Jadikan Roma 12:2 ‘Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna' sebagai pegangan hidup Anda.


Jagalah hati dan karakter Anda, agar segala yang baik yang dari Tuhan dapat menjadi pegangan hidup Anda.

FaGuS
October 29th, 2007, 00:07
READ: James 3:13-18



The wisdom that is from above is first pure, then peaceable, gentle, . . . without partiality and without hypocrisy.
James 3:17


Scientists have determined that faulty rivets may have caused the rapid sinking of the "unsinkable" HMS Titanic. According to researchers who recently examined parts recovered from the wreck, impure rivets made of wrought iron rather than steel caused the ship’s hull to open like a zipper. The Titanic proves the foolishness of spending resources on fancy equipment and public promotion while neglecting the "ordinary" parts.

In a sense, churches are like ships, and many of their people are like rivets. Although rivets seem insignificant, they are essential for holding the ship together and keeping it afloat.

Feelings of insignificance are rampant these days, even among Christians, and some do hurtful things to make themselves feel important. James says, "Where envy and self-seeking exist, confusion and every evil thing are there" (3:16). People corrupted by worldly desires for beauty, wealth, and power can bring down great churches, but people who are pure and undefiled (1:27) hold churches together.

As members of God’s church, we need to be "rivets" without defect. When we are pure (James 3:17), strong (Eph. 6:10), and steadfast (1 Cor. 15:58), we will be used by the Lord to keep His ship afloat in times of crisis. —Julie Ackerman Link


The task Thy wisdom hath assigned,
O let me cheerfully fulfill;
In all my works Thy presence find,
And prove Thy good and perfect will. —Wesley


It is a great thing to be faithful in little things

FaGuS
October 30th, 2007, 08:21
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Matius 6:27



Jawabannya: tidak ada. Kekuatiran tidak akan membawa kita kemana-mana, justru menghambat kita. Kekuatiran tampaknya bukan sesuatu yang aneh bagi kebanyakan orang. Ada saja yang membuat orang kuatir dalam hidup, mulai dari pekerjaan, finansial, keluarga, pasangan hidup, cuaca, sampai masa depan. Tapi, apakah kekuatiran adalah hal yang normal bagi orang percaya yang mengenal Allah?

Sebenarnya itu tidak normal. Mari kita renungkan sejenak, kalau seseorang kuatir dengan hidupnya, di manakah iman percayanya kepada Allah yang sanggup mengatur seluruh alam semesta? Lagipula, dalam perikop hari ini kita tahu bahwa Yesus dengan jelas menyebut orang-orang yang ada di sana pada waktu itu sebagai orang yang kurang percaya (ayat 30). Ia memperingatkan mereka, tapi sekaligus memberikan juga kunci jawaban agar mereka tidak lagi kuatir dengan hidupnya.

Lantas, apakah kunci untuk lepas dari kekuatiran? Mengenal Allah dan hidup seturut yang difirmankan-Nya. Klise? Tidak, karena ini memang kuncinya. Ketika kita mau belajar mengenal-Nya lewat Firman dan doa, iman percaya kitapun akan semakin bertumbuh. Jika kita hidup bersama Allah, memiliki fokus yang benar di hadapan-Nya, dan berjalan seturut perintah-Nya, maka sama sekali tidak ada alasan untuk kita kuatir. Dia pasti bertanggungjawab atas seluruh hidup saya dan Anda.



Hidup dekat dengan-Nya dan berjalan dalam Firman-Nya, membawa Anda lepas dari kekuatiran.

FaGuS
October 30th, 2007, 08:27
Saat kematianku sudah dekat (2 Timotius 4:6)


Bacaan: 2 Timotius 4:1-8
Setahun: Yeremia 20-21; 2 Timotius 4

Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti “melonggarkan” atau “melepaskan tambatan”. Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, “Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus” (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti “berlayar”—membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk “meninggal dunia”.

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, “Selamat jalan!”

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?


Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) —DHR

ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH
TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN



2 Timotius 4:1-8
4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!
4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

FaGuS
October 31st, 2007, 00:05
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Mazmur 119:9



Apakah mungkin hidup dengan memiliki pikiran tetap bersih di dunia di mana kita terus dicekoki media dalam masyarakat yang dipenuhi pikiran atau hal yang tidak kudus? Sulit, tapi bisa. Rick Warren mengilustrasikannya dengan baik sebagai berikut. Anda tahu ikan-ikan di laut itu telah hidup di air asin sepanjang hidupnya tapi ikan-ikan itu tidak pernah menjadi asin. Ia tumbuh dalam lingkungan di mana tiap saat dikelilingi air asin yang begitu asinnya, hingga Anda tidak dapat meminumnya atau Anda akan sakit.

Nah, seperti Allah yang dapat menangkap seekor ikan dan memeliharanya dalam sebuah lingkungan yang penuh garam sepanjang hidupnya, tapi tidak terpengaruh olehnya, Allah yang sama dapat memelihara Anda di dunia yang sudah kena polusi dan memelihara pikiran Anda tetap bersih. Seperti Ia dapat memisahkan ikan itu dan memeliharanya di lingkungan air asin, tapi tidak membuatnya asin, Allah dapat menjaga kita dalam dunia tercemar dan menjaga pikiran dan hati kita bersih. Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi?

Allah tidak pernah menyuruh melakukan sesuatu tanpa mengatakan bagaimana melakukannya. Mazmur 119:9 "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." Itulah caranya. Mengikuti standar Tuhan. Jadi buatlah komitmen mengikuti standar Allah.



Buatlah hidup Anda berjalan di dalam standarnya Tuhan, dan kekudusan akan menjadi sahabat Anda.

FaGuS
October 31st, 2007, 00:09
Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak
Markus 6:31

Bacaan: Markus 6:30-46
Setahun: Yeremia 22-23; Titus 1

Delapan puluh kilometer di sebelah barat Asheville, North Carolina, saya membawa mobil saya keluar dari jalan bebas hambatan yang padat dan melanjutkan perjalanan ke kota melalui jalur Blue Ridge Parkway yang berpemandangan indah. Pada sore hari di akhir bulan Oktober itu, saya mengemudi dengan lambat dan sering berhenti untuk menikmati pemandangan pegunungan serta dedaunan musim gugur yang berkilauan. Perjalanan itu memang tidak membawa saya sampai tujuan dengan cepat, tetapi perjalanan itu menyegarkan jiwa saya.

Pengalaman itu membuat saya bertanya, “Seberapa sering saya melewati jalan yang sepi bersama Yesus? Adakah saya keluar dari jalan bebas hambatan yang penuh tanggung jawab dan kesibukan untuk memusatkan perhatian kepada-Nya selama beberapa saat setiap hari?”

Setelah para murid Yesus menyelesaikan sebuah pelayanan yang penuh tantangan, Dia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak” (Markus 6:31). Bukannya memperoleh liburan panjang, mereka justru hanya melakukan sebuah perjalanan singkat di atas perahu bersama Yesus sebelum kemudian mereka dikerumuni orang banyak. Para murid menyaksikan belas kasihan Tuhan dan berpartisipasi dengan-Nya dalam memenuhi kebutuhan orang banyak tersebut (ayat 33-43). Saat hari yang melelahkan itu berakhir, Yesus mencari penyegaran melalui doa kepada Bapa surgawi (ayat 46).



Yesus Tuhan kita selalu beserta kita, baik di tengah hiruk pikuk atau ketenangan. Namun demikian, kita perlu mengambil waktu setiap hari untuk melewati jalan yang sepi bersama-Nya —DCM



SANGATLAH BAIK UNTUK MELUANGKAN
WAKTU BERSAMA ALLAH



Markus 6:30-46
6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.
6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.
6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.
6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
6:46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.

FaGuS
November 1st, 2007, 00:16
Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!
Mazmur 31:16



Secara tidak sadar manusia sering melakukan penipuan pada diri sendiri dengan berbagai cara mempertahankan kemudaan, misalnya: agar tampak tidak tua berupaya memoles rambut putih jadi hitam, kulit keriput dioperasi menjadi kencang, dan berbagai hal lain. Manusia tidak suka bicara tentang penuaan, kematian, kefanaan, ketidakberdayaan? Manusia lebih suka bicara dan mempertahankan tentang kehidupan, kekinian, dan kehebatan mereka di usia muda, meski sadar ataupun tidak mereka adalah makhluk yang bisa mati, fana, dan tidak berdaya.

Berapa kali Anda sudah merayakan ulang tahun? Atau sudah berapa kali Anda menghadiri perayaan ulang tahun orang lain? Selalu ada lagu "panjang umurya panjang umurnya ....." yang merupakan harapan manusia yang ingin kekekalan dengan umur panjang. Tapi kalau mau jujur setiap kali kita berulang tahun umur kita memendek satu tahun dan bukan bertambah panjang satu tahun karena kita hidup dalam kondisi sementara. Umur panjang adalah saat kita menerima Kristus sebagai Juruselamat karena Dialah yang menjanjikan hidup kekal nanti. Oleh sebab itu orientasikan hidupmu pada hal yang kekal dan bukan pada hal yang fana.




Hidup kekal hanya ada dalam Kristus.

FaGuS
November 1st, 2007, 00:25
READ: Matthew 22:15-22



Render therefore to Caesar the things that are Caesar’s, and to God the things that are God’s.
Matthew 22:21


In a report in USA Today, Rick Hampson wrote: “The young generally don’t have the old-time political religion. They look at voting and see a quaint, irrational act.” One graduate was quoted as saying, “I don’t care enough to care about why I don’t care.” I wonder if this is how we as Jesus-followers sometimes view our civic responsibility!

The insights of Jesus in Matthew 22 helped His followers think clearly about their civic duty in the world. The Jews were required to pay taxes to the Roman government. They hated this taxation because the money went directly into Caesar’s treasury, where some of it supported the pagan temples and decadent lifestyle of the Roman aristocracy. They may have questioned whether they even had a civic responsibility to Caesar. Jesus reminded them, however, that they had dual citizenship. They lived in a world with two kingdoms—Caesar’s kingdom (human authority) and God’s kingdom (spiritual authority). They had responsibilities to both, but their greater responsibility was to God and His kingdom (Acts 5:28-29).

As followers of Christ, we are commanded to cooperate with our rulers, but we are called to give God our ultimate obedience and commitment. —Marvin Williams


We live today as citizens of two worlds,
And this demands a duty to fulfill;
But greater far should be our heart’s desire
To honor Christ and always do His will. —Hess



Government has authority, but God has ult

FaGuS
November 1st, 2007, 00:30
Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah
Matius 22:21


Bacaan: Matius 22:15-22
Setahun: Yeremia 24-26; Titus 2


Dalam sebuah tulisan di USA Today, Rick Hampson menulis, “Tidak seperti dahulu, kehidupan agama kaum muda sekarang tidak membuat mereka peduli pada kehidupan bernegara. Mereka bahkan menganggap pemilihan umum sebagai tindakan yang tak masuk akal.” Berikut adalah kutipan kata-kata dari seorang sarjana, “Saya tak peduli mengapa saya tidak peduli.” Saya heran bahwa sebagai pengikut Yesus, kita terkadang juga memandang tanggung jawab bernegara kita dengan cara seperti itu!

Pandangan Yesus dalam Matius 22 membantu para pengikut-Nya untuk berpikir jernih mengenai kewajiban bernegara mereka di dunia. Bangsa Yahudi diwajibkan membayar pajak kepada pemerintah Romawi. Mereka benci membayar pajak karena uang tersebut langsung masuk ke perbendaharaan Kaisar. Sebagian pajak ini digunakan untuk menyokong pembangunan kuil-kuil berhala dan gaya hidup para bangsawan Romawi yang mengalami kemerosotan moral. Mereka mungkin juga mempertanyakan apakah mereka memiliki tanggung jawab bernegara kepada Kaisar. Namun, Yesus mengingatkan bahwa mereka memiliki dua kewarganegaraan. Mereka hidup di dunia yang memiliki dua kerajaan, yaitu kerajaan Kaisar (otoritas yang bersifat manusiawi) dan kerajaan Allah (otoritas yang bersifat ilahi). Mereka bertanggung jawab terhadap keduanya, tetapi mereka punya tanggung jawab lebih kepada Allah dan kerajaan-Nya (Kisah Para Rasul 5:28,29).



Sebagai pengikut Kristus, kita diperintahkan untuk bekerja sama dengan penguasa kita, tetapi kita dipanggil untuk menunjukkan ketaatan dan komitmen utama kepada Allah —MLW




PEMERINTAH MEMILIKI OTORITAS
TETAPI ALLAH MEMEGANG OTORITAS TERTINGGI



Matius 22:15-22
22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
22:22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

FaGuS
November 2nd, 2007, 01:21
Yang berjalan di depanmu di perjalanan untuk mencari tempat bagimu, di mana kamu dapat berkemah: dengan api pada waktu malam dan dengan awan pada waktu siang, untuk memperlihatkan kepadamu jalan yang harus kamu tempuh.
Ulangan 1:33


"Andaikan aku ini Tuhan..." Kalimat ini tidak jarang muncul begitu saja lewat bibir kita, entah sadar atau tidak. Yang jelas kalimat tersebut menggambarkan sebuah ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Ketika malapetaka dan kemalangan melanda kehidupan, saat itu kita sadar bahwa kita membutuhkan sebuah kekuatan yang sanggup mengatasi setiap problem. Jelas kekuatan itu hanya dimiliki oleh satu pribadi yaitu Tuhan. tapi celakanya kita seringkali mencoba mengatasi problema dengan bertindak sebagai tuhan atas hidup kita sendiri.

Bangsa Israel adalah sebuah contoh kasus nyata. Allah telah menuntun bangsa ini sedemikian rupa, mulai dari Mesir (tanah perbudakan) hingga ke negeri perjanjian (Kanaan). Bahkan kaki mereka sendiri telah berdiri di tanah yang Tuhan janjikan (Ulangan 1:30-31). Tapi karya Tuhan yang sedemikian dahsyat itu dianggap angin lalu saja. Mereka bersikeras mengatur hidup mereka sendiri dan menjadi tuhan atas hidup mereka sendiri (Ulangan 1:32). Tentu saja mereka berpikir bahwa cara demikian adalah yang terbaik bagi mereka. Tapi sayangnya, cara-cara seperti ini kurang berhikmat, sering berakhir dengan menyedihkan. Jika demikian, masihkah kita ingin bertindak sebagai tuhan atas hidup kita?



Jangan pernah jadi tuhan atas diri Anda, semua adalah kesia-siaan.

FaGuS
November 2nd, 2007, 01:25
Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku
Mazmur 86:7


Bacaan: Mazmur 86:1-7
Setahun: Yeremia 27-29; Titus 3

Sebuah judul berita berbunyi: Doa-doa yang Tak Terjawab: Surat-surat untuk Tuhan Ditemukan Terbuang di Lautan. Surat-surat itu, yang berjumlah 300 buah dan dikirimkan kepada seorang pendeta di New Jersey, telah dibuang ke laut. Kebanyakan surat itu belum dibuka. Pendeta tersebut sudah lama meninggal. Bagaimana ratusan surat itu bisa ditemukan terapung-apung di atas ombak pantai New Jersey, masih menjadi misteri.

Surat-surat itu ditujukan kepada sang pendeta karena ia berjanji untuk mendoakannya. Beberapa surat meminta hal-hal yang tidak keruan; yang lainnya ditulis oleh pasangan, anak-anak, atau janda yang sedang menderita. Mereka menumpahkan isi hati mereka kepada Allah, memohon pertolongan untuk saudara mereka yang menyalahgunakan obat dan alkohol, atau pasangan yang mengkhianati mereka. Ada satu surat yang minta seorang suami dan ayah yang mencintai anaknya. Reporter itu menyimpulkan, semua surat itu adalah “doa-doa yang tak terjawab”.

Tidak demikian! Jika para penulis surat itu berseru kepada Allah, maka Dia mendengar setiap seruan mereka. Tak satu pun doa yang jujur terlewat dari telinga-Nya. “Engkau mengetahui segala keinginanku,” Daud menulis di tengah-tengah krisis pribadi yang mendalam, “dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu” (Mazmur 38:10). Daud mengerti bahwa kita bisa menyerahkan segala kesusahan kita kepada Tuhan, bahkan jika tidak ada orang lain yang mau mendoakan kita. Dengan penuh keyakinan, ia menyimpulkan, “Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku” (86:7) —DHR



YESUS MENDENGAR SERUAN KITA YANG PALING LEMAH



Mazmur 86:1-7
86:1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.
86:2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
86:3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.
86:4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
86:6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.
86:7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

FaGuS
November 3rd, 2007, 04:59
Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
Yohanes 14:9



Kata-kata ini tidak diucapkan sebagai hardikan, tidak juga dengan rasa heran; Yesus menganjurkan Filipus untuk datang lebih dekat. Namun kita selalu menjadi pribadi yang paling lambat menjadi akrab dengan Yesus. Sebelum hari Pentakosta, para murid mengenal Yesus sebagai Pribadi yang memberi mereka kuasa untuk mengalahkan setan-setan dan mendatangkan kebangunan rohani (Lukas 10:18-20). Itu merupakan keakraban yang lebih mesra yang sedang menantikan mereka, "...Aku menyebut kamu sahabat..." (Yohanes 15:15). Persahabatan sejati jarang terjalin di dunia. Itu berarti menyamakan diri dengan seseorang dalam pikiran, hati dan roh. Seluruh pengalaman hidup dirancang untuk menyanggupkan kita memasuki hubungan terakrab ini dengan Yesus Kristus. Kita menerima berkat-berkat-Nya dan mengetahui firman-Nya, tetapi apakah kita sesungguhnya mengenal Dia?

Yesus bersabda, "Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi..." (Yohanes 16:7). Dia meninggalkan hubungan itu untuk menuntun mereka semakin dekat. Yesus bersukacita bila seorang murid meluangkan waktu untuk berjalan semakin dekat bersama Dia. Menghasilkan buah selalu ditunjukkan dalam Alkitab sebagai akibat nyata dari hubungan yang akrab dengan Yesus Kristus (Yohanes 15:1-4).

Sekali kita bergaul akrab dengan Yesus, maka kita tidak pernah kesepian dan kita tidak pernah kurang pengertian atau belas kasihan. Kita senantiasa dapat mencurahkan isi hati kita kepada-Nya tanpa dianggap bersikap emosional secara berlebihan atau beriba-diri. Orang Kristen yang benar-benar akrab dengan Yesus takkan pernah menarik perhatian terhadap dirinya sendiri, tetapi hanya akan menunjukkan bukti suatu kehidupan yang sepenuhnya dikuasai Yesus. Itu adalah akibat dari mempersilahkan Yesus mengisi setiap segi kehidupan dengan kepuasan yang sempurna. Gambaran yang dihasilkan oleh kehidupan semacam itu adalah gambaran keseimbangan yang teguh dan tenang yang diberikan oleh Tuhan kita kepada mereka yang akrab dengan Dia.



Jadikan keintiman dengan Tuhan sebagai gaya hidup kita.

FaGuS
November 3rd, 2007, 05:05
Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu
Efesus 3:16


Bacaan: Efesus 3:14-4:3
Setahun: Yeremia 30-31; Filemon

Suatu sore Dana dan Rich pergi ke luar untuk bersepeda dengan harapan akan pulang ke rumah dalam keadaan lebih segar. Sebaliknya, sejak sore itu hidup mereka berubah selamanya. Ketika bersepeda menuruni bukit, Rich kehilangan kendali dan mengalami kecelakaan. Tubuhnya terluka parah dan ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan yang hampir tak terselamatkan.

Dana dengan setia berjaga di samping suaminya. Suaminya tak bisa makan sendiri dan tidak bisa berjalan. Suatu hari, ketika keduanya duduk-duduk di bawah pohon di luar rumah sakit, Rich berbalik kepada istrinya dan berkata, “Dana, aku tidak tahu apakah aku akan bisa berjalan lagi, tetapi aku belajar untuk berjalan lebih dekat kepada Yesus, dan itulah yang benar-benar kuinginkan.” Bukannya marah kepada Allah, Rich justru mengulurkan tangan untuk menggapai tangan-Nya.

Terkadang di tengah-tengah ujian hidup, kita perlu merenungkan orang-orang seperti Rich untuk membantu kita mengubah cara pandang, yaitu untuk mengingatkan akan hubungan kita yang luar biasa dengan Allah melalui Yesus Kristus. Hubungan seperti inilah yang paling kita butuhkan saat memasuki perjalanan hidup yang paling berat.

Kita tidak dipersiapkan untuk menghadapi semua masalah yang menghadang, tetapi Allah siap menopang kita. Karena itu, Dia meminta kita untuk menyerahkan semua masalah kepada-Nya, untuk menyerahkan “khawatirmu kepada Tuhan” (Mazmur 55:23). Seperti yang didapati oleh Rich, berjalan bersama Yesus tidak tergantung pada kaki, tetapi pada hati kita —JDB



KITA BISA MELEWATI KEGELAPAN YANG PALING PEKAT
APABILA BERJALAN BERSAMA ALLAH DALAM TERANG



Efesus 3:14-4:3
3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

FaGuS
November 3rd, 2007, 05:07
READ: Ephesians 3:14–4:3



That He would grant you, according to the riches of His glory, to be strengthened with might through His Spirit in the inner man.
Ephesians 3:16

Dana and Rich went out for an afternoon bike ride expecting to come home refreshed. Instead, their lives were changed forever. As Rich rode down a hill, he lost control of his bike and crashed. His body was mangled, and he barely made it to the hospital alive.

Dana faithfully kept vigil by her husband’s side. He couldn’t feed himself, and he couldn’t walk. One day, as the two of them sat under a shade tree outside the hospital, Rich turned to his wife and said, “Dana, I don’t know if I’ll ever walk again, but I’m learning to walk closer to Jesus, and that’s what I really want.” Instead of shaking his fist at God, Rich reached out and grabbed His hand.

Sometimes in the midst of our trials, we need to think about someone like Rich to help us adjust our perspective—to remind us of the remarkable relationship we have with God through Jesus Christ. This is the relationship we need most when the going gets the toughest.

We are not equipped to handle all the problems we face, but God is. That’s why He told us to give them all to Him—to “cast your burden on the Lord” (Ps. 55:22). As Rich found out, walking with Jesus doesn’t depend on our legs. It depends on our heart.
—Dave Branon


I don’t worry o’er the future,
For I know what Jesus said;
And today I’ll walk beside Him,
For He knows what is ahead. —Stanphill
© 1950 by Ira Stanphill



We can walk through the darkest trials when we walk with God in the light.

FaGuS
November 4th, 2007, 06:32
"Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya.
Yeremia 2:2



Apakah Anda masih mengasihi Allah seperti dahulu, atau Anda hanya berharap Allah mengasihi Anda? Apakah segala sesuatu dalam hidup Anda membuat hati-Nya bersukacita, atau Anda selalu mengeluh karena banyak hal tidak terjadi sesuai dengan keinginan Anda? Seseorang yang telah lupa akan harta kekayaan Allah takkan merasa gembira. Sungguh indah untuk mengenang bahwa Yesus Kristus mempunyai kebutuhan yang dapat kita penuhi - "Berilah aku minum" (Yohanes 4:7). Berapa besarkah kasih yang telah Anda tunjukkan kepada-Nya minggu lalu? Sudahkah hidup Anda mencerminkan nama baik-Nya?

Allah sedang berkata kepada umat-Nya, "Kalian tidak mengasihi aku lagi sekarang, tetapi Aku ingat akan masa kalian mengasihi Aku dahulu." Dia bersabda, "Aku teringat... kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin" (Yeremia 2:2). Apakah cinta Anda kepada Yesus Kristus sekarang masih meluap-luap seperti pada mulanya dahulu, ketika Anda berbalik dari kebiasaan anda untuk membuktikan pengabdian Anda kepada-Nya? Apakah Dia pernah mendapati Anda sedang mengenang masa lalu ketika Anda hanya mempedulikan Dia saja? Masih seperti itukah keadaan Anda sekarang, atau Anda telah memilih hikmat manusia untuk menggantikan kasih sejati kepada-Nya? Apakah Anda sedemikian mengasihi Dia sehingga Anda tidak peduli ke mana pun Dia akan membimbing Anda? Atau Anda ingin tahu berapa banyak kehormatan yang Anda terima untuk mengimbangi pelayanan yang harus Anda berikan kepada-Nya.

Sementara Anda mengenang hal yang diingat Allah tentang diri Anda, Anda mungkin juga mulai menyadari bahwa Dia tidak seperti dahulu dalam sikap-Nya kepada Anda. Bila ini terjadi, Anda seharusnya membiarkan rasa malu dan rendah diri timbul dalam hidup Anda, karena itu akan mendatangkan dukacita rohani, dan "dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan..." (2 Korintus 7:10).



"Apakah kasih mula-mula tetap ada dalam hati anda?"

FaGuS
November 4th, 2007, 06:40
Latihlah dirimu beribadah
1 Timotius 4:7


Bacaan: 1 Timotius 4:1-11
Setahun: Yeremia 32–33; Ibrani 1

Ketika atlet Dean Karnazes menyelesaikan Maraton New York sejauh 42 kilometer pada bulan November 2006, hal itu menjadi tanda berakhirnya sebuah pertunjukan daya tahan tubuh yang hampir tidak mungkin terjadi. Karnazes telah mengikuti 50 lari maraton di 50 negara bagian dalam waktu 50 hari. Pertunjukan daya tahan ultra para atlet yang sangat langka ini mencakup: lari sejauh 563 kilometer tanpa henti, bersepeda gunung selama 24 jam tanpa henti, dan berenang menyeberangi Teluk San Francisco. Tingkat kebugaran tubuh semacam ini menuntut disiplin latihan yang harus dilakukan terus menerus.

Kebugaran rohani, demikian kata Paulus kepada Timotius, juga menuntut lebih daripada sekadar melakukan pendekatan yang santai untuk menjalani hidup yang menghormati Allah. Dalam budaya yang ditandai dengan pengajaran palsu dan disertai bentuk-bentuk ekstrem pemuasan dan penyangkalan diri, Paulus menulis, “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:7,8).

Tubuh dan pikiran kita harus diarahkan kepada Allah serta disiapkan untuk melayani-Nya (Roma 12:1,2). Tujuannya bukan kehebatan rohani, melainkan ibadah, hidup yang menyukakan Tuhan. Mempelajari firman dengan giat, doa yang terfokus, dan disiplin tubuh menjadi bagian proses ini.




Seberapa baik latihan kita sangat menentukan seberapa baik kita menjalani arena kehidupan ini —DCM




LATIHAN YANG SESUAI KEHENDAK ALLAH
ADALAH KUNCI MENUJU KARAKTER YANG SALEH



1 Timotius 4:1-11
4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan
4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.
4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.
4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,
4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.
4:6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.
4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.
4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.
4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.
4:11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.

FaGuS
November 4th, 2007, 06:44
Blessed is the man who perseveres.
James 1:12 NIV

It's said that halfway up the Swiss Alps there's a popular rest house. It's a good day's climb from the bottom to the top, but you can usually get to the rest house by lunchtime. And that's where you separate the men from the boys. When some amateur climbers feel the warmth of the fire and smell the good cooking they say to their companions, "I'll just wait here while you go to the top. When you come back down I'll join you and we'll go to the base together." A glaze of satisfaction comes over them as they sit by the fire, or play the piano and sing mountain-climbing songs. But at about 3:30 in the afternoon everything changes; they start looking toward the mountaintop as their friends reach it. Suddenly the atmosphere in the rest house changes and they think - If only I'd kept climbing!

Three things can cause you to lose sight of your God-given goals:
(1) Weariness. Jesus told Peter, "Satan has asked for you, that he may sift you as wheat. But I have prayed for you, that your faith should not fail" (Luke 22:31-32). We all have to overcome the failing faith syndrome.
(2) Fear. Some days the mountain just seems too high and we're tempted to give up. Then a voice whispers, "Have not I commanded you? Be strong and courageous… for the Lord your God will be with you" (Joshua 1:9 NIV).
(3) Comfort. "Woe to you who are at ease [become complacent] in Zion" (Amos 6:1). Conflict and hard times keep us on our toes - and on our knees. But too much comfort can seduce us into settling short of our goal. So keep climbing!

FaGuS
November 5th, 2007, 06:11
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Filipi 4:7


Seorang jurnalis Rusia, Salomon Sheresheveski, terkenal karena memiliki ingatan sempurna. Bila didorong untuk mengingat apa yang terjadi pada suatu hari tertentu lima belas tahun lalu, ia hanya akan diam beberapa saat sebelum bertanya, "Pada jam berapa?". Di zaman modern, pemimpin Microsoft, Bill Gates masih ingat dengan beratus-ratus baris kode sumber dari bahasa pemrograman basic-nya yang asli. Prestasi terjadi karena individu-individu yang bersangkutan melakukan strategi-strategi tertentu.

Tujuh tahun yang lalu, saya termasuk salah seorang pemain basket handal yang tidak pernah dipandang sebelah mata. Namun ketika saya mulai memasuki dunia kerja dan sibuk mengembangkan diri dengan profesi baru sebagai penulis, permainan basket saya menurun drastis. Penyebabnya adalah terlalu lama saya meninggalkan dunia bola basket. Sama halnya dengan pikiran. Jika pikiran kita tidak pernah dipakai; untuk mengingat, untuk berpikir dan sebagainya, pasti kemampuan pikiran kita akan menurun secara bertahap. Ingat, Allah menciptakan dan memelihara pikiran kita dengan sangat indah dan luar biasa, maka kita perlu memeliharanya, dan bukan memanjakannya.

Mulailah membiasakan diri dengan melatih pikiran dan ingatan Anda. Cobalah menyusun kembali strategi-strategi untuk menjadikan ingatan Anda lebih baik lagi. Tidak ada orang bodoh dan orang jenius di dunia ini. Semua manusia tercipta dengan bentuk otak yang sama. Hanya saja yang membuatnya berbeda adalah kemauan untuk meningkatkan kemampuan daya pikir mereka.



Akal sehat adalah insting dan sebagian daripada itu adalah kejeniusan.

FaGuS
November 5th, 2007, 06:15
[Allah] yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut
Yeremia 5:22

Bacaan: Yeremia 5:20-29
Setahun: Yeremia 34-36; Ibrani 2

Tidak ada tahun yang berlalu tanpa bencana alam yang menyebabkan kekacauan di suatu tempat di dunia ini. Banjir, badai, dan tsunami menghancurkan kehidupan, rumah-rumah, dan sumber penghidupan.

Tak seorang pun berpendapat bahwa laut memiliki “hak” untuk melanggar batas yang ditetapkan dan menerjang garis pantai. Sebenarnya, semua orang setuju bahwa bencana akan muncul jika laut melanggar garis pantai. Allah sendiri telah “membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut” (Yeremia 5:22).

Allah juga menetapkan batas-batas untuk perilaku manusia. Namun, tak ada hari berlalu tanpa pelanggaran yang tak terhitung banyaknya terhadap perintah-Nya. Dan, itu semua menyebabkan kerusakan fisik dan rohani. Yang mengherankan, kita sering berpendapat bahwa kita memiliki “hak” untuk melanggar batas-batas ini.

Pada zaman Nabi Yeremia, umat Allah juga telah melanggar batas. Mereka menggunakan tipu daya untuk menjadi kaya dan menolak untuk membela orang-orang miskin (5:27,28). Akibatnya adalah bencana. Allah berkata, “Dosamu menghambat yang baik dari padamu” (ayat 25).

Dalam diri setiap ciptaan Allah, terdapat suatu tatanan yang sudah melekat sejak awal. Melanggar tatanan berarti menanggung konsekuensi yang melekat pada pelanggaran itu. Allah dalam kebaikan-Nya, dengan penuh kasih dan dalam cara yang mudah dipahami, mengomunikasikan tatanan tersebut kepada kita supaya kita bisa menghindari akibatnya. Mengetahui dan tinggal dalam batas-batas yang telah ditetapkan-Nya adalah tindakan yang bijaksana —JAL


MENGABAIKAN TATANAN ALLAH
MEMBAWA KEPADA KEKACAUAN!



Yeremia 5:20-29
5:20 Beritahukanlah ini di antara kaum keturunan Yakub, kabarkanlah itu di Yehuda dengan mengatakan:
5:21 "Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol dan yang tidak mempunyai pikiran, yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar!
5:22 Masakan kamu tidak takut kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, kamu tidak gemetar terhadap Aku? Bukankah Aku yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut, sebagai perhinggaan tetap yang tidak dapat dilampauinya? Biarpun ia bergelora, ia tidak sanggup, biarpun gelombang-gelombangnya ribut, mereka tidak dapat melampauinya!
5:23 Tetapi bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak; mereka telah menyimpang dan menghilang.
5:24 Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.
5:25 Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.
5:26 Sesungguhnya, di antara umat-Ku terdapat orang-orang fasik yang memasang jaringnya; seperti penangkap burung mereka memasang perangkapnya, mereka menangkap manusia.
5:27 Seperti sangkar menjadi penuh dengan burung-burung, demikianlah rumah mereka menjadi penuh dengan tipu; itulah sebabnya mereka menjadi orang besar dan kaya,
5:28 orang gemuk dan gendut. Di samping itu mereka membiarkan berlalu kejahatan-kejahatan, tidak mengindahkan hukum, tidak memenangkan perkara anak yatim, dan tidak membela hak orang miskin.
5:29 Masakan Aku tidak menghukum mereka karena semuanya ini?, demikianlah firman TUHAN. Masakan Aku tidak membalas dendam-Ku kepada bangsa yang seperti ini?"

FaGuS
November 6th, 2007, 07:25
Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.
Pengkhotbah 8:11


Seorang manajer yang baru diangkat di sebuah perusahaan milik pemerintah bermasalah dengan para bawahannya yang semakin hari semakin menunjukkan ketidakdisiplinan. Seringkali manajer ini mendapati kantornya masih sepi, padahal jam kantor sudah mulai. Ia sendiri selalu datang dan pulang pada waktunya, dan merasa sudah memberikan teladan yang baik. Manajer ini menuturkan sebenarnya awalnya hanya ada seorang karyawan senior di bagian administrasi yang berperilaku kurang disiplin. Hal ini dibiarkannya karena ia merasa sungkan untuk menegur orang yang lebih tua dan telah bekerja lebih lama dari dirinya. Tapi ketika karyawan senior ini diberikan ‘sedikit dispensasi', ia bukannya merubah perilakunya malahan karyawan yang lain mengikuti perilakunya yang indisipliner.

Dari contoh di atas, kita bisa mempelajari seorang pemimpin tidak hanya memberikan contoh atau panutan. Ketegasan dalam menegakkan disiplin juga diperlukan untuk menjaga keteraturan. Leader bukan hanya mempunyai hak tapi juga kewajiban memberikan hukuman atas pelanggaran aturan. Selama ia bertindak berdasarkan aturan yang disepakati bersama, tidak ada alasan merasa sungkan.

Seorang leader adalah penentu arah dari kelompok yang dipimpinnya. Di sinilah diperlukan suatu ketegasan mengenai tujuan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Seringkali seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang ‘tidak populer'. Keputusannya bukan mengikuti selera kebanyakan orang melainkan keputusan yang memastikan tujuan awal tercapai.


Lakukan yang terbaik agar target Anda tercapai.

FaGuS
November 6th, 2007, 07:30
Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan
Filipi 1:21


Bacaan: Filipi 1:19-26
Setahun: Yeremia 37-39; Ibrani 3

Sir Francis Bacon mengatakan, “Saya tidak percaya bahwa ada orang yang takut mati, mereka hanya takut pada serangan kematian.” Woody Allen berkata, “Saya tidak takut mati. Saya hanya tidak ingin berada di sana ketika hal itu terjadi.”

Yang sangat menakutkan bukanlah kematian, melainkan detik-detik menghadapi kematian. Ketika Paulus dalam tahanan dan ada kemungkinan ia akan mati di sel penjara, ia membagikan pandangannya mengenai kehidupan dan kematian, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Benar-benar cara pandang yang luar biasa!

Kematian adalah musuh kita (1 Korintus 15:25-28), tetapi kematian bukanlah suatu akhir yang mesti ditakuti sedemikian banyak orang. Bagi orang percaya, ada sesuatu yang menunggu mereka di luar kehidupan ini, yaitu sesuatu yang lebih baik.

Seseorang pernah berkata, “Bagi kepompong, sesuatu yang sepertinya adalah akhir kehidupan, bagi kupu-kupu, hal itu barulah awal kehidupan.” George MacDonald menulis, “Alangkah anehnya ketakutan akan kematian! Kita tidak pernah takut saat melihat matahari terbenam.”

Saya menyukai ungkapan dari Filipi 1:21, “Bagi saya, hidup berarti kesempatan melayani Kristus, dan mati—ya, berarti lebih baik lagi!” (FAYH). Selama menjalani kehidupan jasmani, kita berkesempatan untuk melayani Yesus. Namun suatu hari, kita akan benar-benar berada dalam hadirat-Nya. Ketakutan kita akan luntur ketika kita melihat-Nya muka dengan muka.

Itulah “sesuatu yang lebih baik lagi” yang dimaksudkan Rasul Paulus! —CHK


BAGI ORANG KRISTIANI, KETAKUTAN AKAN KEMATIAN
justru MENUNTUN PADA keHIDUPan YANG PENUH



Filipi 1:19-26
1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.
1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik;
1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.
1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,
1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

FaGuS
November 7th, 2007, 07:01
Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.
2 Korintus 5:7


Saat menikah, tanpa disadari sebenarnya Anda telah mempercayakan hidup Anda pada pasangan hidup Anda. Artinya bagaimana hidup Anda kelak sangat bergantung pasangan seperti apa yang Anda percayai. Saya pernah melihat seorang wanita hancur hidupnya karena menikah dengan pria yang salah. Sang suami berselingkuh dan hendak menceraikannya dengan alasan sudah tidak cinta lagi. Padahal usia pernikahan mereka masih sangat muda. Celakanya mereka adalah orang yang mengerti firman Tuhan. Sungguh ironis bukan?

Hidup orang percaya adalah hidup karena percaya pada Yesus Kristus. Allah yang berkuasa atas hidup manusia. Di tangan-Nya ada kuasa untuk merendahkan dan meninggikan, menghancurkan dan memulihkan, mematikan dan menghidupkan, mengutuk dan memberkati. Tetapi yang lebih penting, Dia berkuasa menyelamatkan orang berdosa dan memberi kehidupan kekal. Rasul Paulus mengingatkan kehidupan anak-anak Allah adalah hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Artinya meskipun Anda melihat hal-hal yang mustahil, percayalah bahwa Allah sanggup melakukannya untuk Anda. Beranilah untuk mempercayakan kehidupan Anda kepada pribadi yang tepat, Yesus Kristus, dan bukan pada manusia. Manusia setiap saat bisa mengecewakan Anda, tapi Allah tidak akan pernah mengecewakan Anda. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).


Tuhan tidak pernah mengecewakan Anda, percayalah!

FaGuS
November 7th, 2007, 07:04
Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.
Mazmur 20:8


Bacaan: Yesaya 31
Setahun: Yeremia 40-42; Ibrani 4

Pada bulan Agustus 2004, Badai Charley mengakibatkan kehancuran hebat di wilayah Florida, Amerika Serikat. Selama badai berlangsung, Danny Williams yang berusia 25 tahun pergi ke luar untuk mencari perlindungan di salah satu tempat kesukaannya, yaitu sebuah lumbung yang berada di bawah naungan cabang-cabang pohon beringin yang rindang. Akan tetapi, ternyata pohon beringin itu tumbang, lalu menimpa lumbung dan menewaskan Williams. Kadang kala, tempat yang kita datangi untuk berlindung justru dapat menjadi tempat yang paling berbahaya bagi kita.

Nabi Yesaya mengingatkan Raja Hizkia dari Yehuda akan kebenaran ini. Hizkia adalah raja yang baik, tetapi ia mengulang dosa ayahnya, Ahaz, yaitu mencari perlindungan dan bersekutu dengan kekuatan asing (2 Raja-Raja 16:7; Yesaya 36:6). Seharusnya, ia mendorong rakyatnya untuk menaruh kepercayaan kepada Tuhan.

Dengan mencari bantuan dari Mesir, Hizkia menunjukkan bahwa ia gagal belajar dari sejarah. Mesir tidak boleh dijadikan sekutu oleh Israel. Hizkia juga telah melupakan Kitab Suci. Mengumpulkan kuda untuk dijadikan kavaleri adalah melawan hukum ilahi bagi raja (Ulangan 17:16).

Akhirnya, Hizkia mencari bantuan dari Tuhan (Yesaya 37:1-6,14-20). Dan, Allah secara ajaib melenyapkan bangsa Asyur yang menyerang (ayat 36-38).

Yehuda melakukan kesalahan dengan menilai kekuatan Mesir melebihi Allah yang hidup. Semoga kepercayaan kita selalu dalam nama Tuhan Allah kita (Mazmur 20:8) —MLW


TIDAK ADA KEHIDUPAN YANG LEBIH AMAN
DARIPADA KEHIDUPAN YANG BERSERAH KEPADA ALLAH



Yesaya 31
31:1 Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.
31:2 Akan tetapi Dia yang bijaksana akan mendatangkan malapetaka, dan tidak menarik firman-Nya; Ia akan bangkit melawan kaum penjahat, dan melawan bala bantuan orang-orang lalim.
31:3 Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama.
31:4 Sebab beginilah firman TUHAN kepadaku: Seperti seekor singa atau singa muda menggeram untuk mempertahankan mangsanya, dan tidak terkejut mendengar teriakan seluruh pasukan gembala yang dikerahkan melawan dia, dan tidak mengalah terhadap keributan mereka, demikianlah TUHAN semesta alam akan turun berperang untuk mempertahankan gunung Sion dan bukitnya.
31:5 Seperti burung yang berkepak-kepak melindungi sarangnya, demikianlah TUHAN semesta alam akan melindungi Yerusalem, ya, melindungi dan menyelamatkannya, memeliharanya dan menjauhkan celaka.
31:6 Bertobatlah, hai orang Israel, kepada Dia yang sudah kamu tinggalkan jauh-jauh!
31:7 Sungguh pada hari itu kamu masing-masing akan membuang berhala-berhala peraknya dan berhala-berhala emasnya yang dibuat oleh tanganmu sendiri dengan penuh dosa.
31:8 Asyur akan rebah oleh pedang, tetapi bukan pedang orang, dan akan dimakan habis oleh pedang, tetapi bukan pedang manusia; mereka akan melarikan diri terhadap pedang, dan teruna-terunanya akan menjadi orang rodi.
31:9 Pelindung mereka akan lenyap karena gentar, dan panglimanya akan lari terkejut meninggalkan panji-panji, demikianlah firman TUHAN yang mempunyai api di Sion dan dapur perapian di Yerusalem.

FaGuS
November 8th, 2007, 07:11
Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Yakobus 1:8


Suatu saat ada perlombaan panjat tebing yang diikuti oleh para katak dari segala jenisnya. Ketika start semua penonton bersorak mendukung mereka. Tapi di tengah pertandingan, beberapa katak menyerah karena medan perlombaan sangat berat. Hanya ada lima katak terus berjuang mencapai garis akhir. Saat medan bertambah sulit para penonton yang tadinya mendukung para katak itu mulai tidak yakin akan kemampuan mereka. Mereka berteriak agar para katak menyerah saja. Bahkan sebagian memberitahu para katak bahwa medan yang berat itu berbahaya dan bisa membunuh mereka. Akhirnya hanya seekor katak yang bertahan dan memenangkan perlombaan. Setelah diteliti mengapa banyak yang gagal, hasilnya menyebutkan mereka mendengarkan perkataan penonton menjadi takut dan berhenti. Dan bagaimana dengan katak yang bisa terus dan akhirnya memenangkan pertandingan? Ternyata ia adalah seeokr katak yang tuli, ia tidak mendengar apapun yang penonton katakan. Dalam kasus ini, budek itu anugerah.

Saat kesulitan hidup meningkat, daripada percaya Tuhan kita seringkali mendengarkan suara negatif orang-orang di sekitar kita dan mempercayainya. Jadi jika anda ingin mencapai tujuan hidupmu, jangan memberi tempat kepada perkataan negatif, intimidasi dari orang lain. Yakinlah akan tujuanmu, tempatkan perkataan Tuhan sebagai panduan, dan percayalah akan jawaban doa-doamu!


Tutuplah kuping Anda untuk hal-hal yang negatif!

FaGuS
November 8th, 2007, 07:22
Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu
2 Korintus 6:11

Bacaan: 2 Korintus 6:1-13
Setahun: Yeremia 43-45; Ibrani 5

Sebuah majalah mengenai perahu melaporkan bahwa Serenity, Time Out, Serendipity, dan Reel Time adalah beberapa nama paling populer yang biasanya dipakai untuk memberi nama perahu. Belum lama ini, saya melihat nama Living Large pada sebuah perahu di sebuah dermaga kecil di Grand Haven, Michigan. Saya tidak tahu makna nama itu bagi pemiliknya, tetapi bagi banyak orang, “hidup yang luas” (living large) berarti memiliki harta benda yang terbaik, berlibur ke tempat-tempat yang paling eksotis, membeli segala sesuatu yang Anda inginkan, hidup mewah.

Akan tetapi, hidup semacam itu tidak membawa kita kepada tujuan atau kepuasan sejati. Para pengikut Yesus Kristus menjalani hidup yang penuh dengan cara berbeda, seperti terlihat dalam teladan Rasul Paulus dan rekan kerjanya, Timotius. Paulus berkata kepada jemaat Korintus, “Hati kami terbuka lebar-lebar” (2 Korintus 6:11). Alkitab versi King James menerjemahkannya demikian: “Hati kami membesar.” Mereka telah menunjukkan kasih sepenuh hati kepada jemaat, sama seperti yang dilakukan seorang ayah kepada anak-anaknya ketika ia memeluk mereka. Sekarang mereka mengharapkan tanggapan yang sama. Maka, Paulus meminta, “Sekarang, supaya timbal balik … Bukalah hati kamu selebar-lebarnya” (ayat 13).

Seseorang yang memiliki hati yang terbuka menunjukkan kasihnya melalui kata-kata dan tindakan, dengan bebas dan murah hati. Sebagai orang-orang percaya, mari kita miliki hidup yang luas dan secara bebas menyambut serta memeluk sesama dengan kasih —AMC


ORANG-ORANG YANG TIDAK MENUNJUKKAN KASIH
BENAR-BENAR TIDAK BISA MENGASIHI —Shakespeare


2 Korintus 6:1-13
6:1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
6:2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
6:4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,
6:5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
6:6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;
6:7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela
6:8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai,
6:9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;
6:10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
6:11 Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.
6:12 Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu.
6:13 Maka sekarang, supaya timbal balik--aku berkata seperti kepada anak-anakku--:Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!

FaGuS
November 9th, 2007, 07:21
Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Roma 3:24



Intel Corp, perusahaan pembuat chip terbesar di dunia, memangkas harga mikroprosesor tercepatnya untuk kategori computer desktop dan laptop. Pemangkasan harga tercatat mencapai angka 38% per April 2003. hal ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Intel menjelang launching-nya sejumlah prosesor baru yang performanya lebih cepat.

Harga prosesor Intel Pentium 4 berkecepatan 3 GHz dipangkas hingga 32% dari harga 589 dollar AS (sekitar Rp. 5 juta lebih) menjadi hanya 401 dollar AS (sekitar p. 3,5 juta). Sedangkan untuk jenis Pentium 4 berkecepatan 2,4 GHz harga dipangkas hingga 38%, menjadi 348 dollar AS (sekitar Rp. 3 juta) saja. Intel sebelumnya juga telah memangkas harga chip-chip ini pada bulan yang lalu. Pemangkasan harga ini otomatis berakibat pada turunnya harga PC (Personal Computer) karena mikroprosesor adalah salah satu komponen PC yang paling mahal.

Sudah wajar produk yang bernilai dihargai tinggi karena kualitas yang dimilikinya. Atau pemangkasan harga produk lama menyongsong kehadiran produk baru. Tapi Yesus menawarkan sesuatu yang sangat paradoks dengan prinsip ini. Karya penebusan-Nya di kayu salib tidak bisa diberi price tag atau label harga karena sesungguhnya tidak ternilai. Tetapi Ia sekedar memangkas harga-Nya habis-habisan, malah menawarkan secara Cuma-Cuma. Hal itu hanya karena kasih-Nya pada kita. Jadi jangan pernah menyia-nyiakan kasih-Nya.


Keselamatan yang ditawarkan Yesus, gratis! Sekarang terserah Anda.

FaGuS
November 9th, 2007, 07:44
Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal
Yohanes 3:14,15


Bacaan: Bilangan 21:1-9
Setahun: Yeremia 46-47; Ibrani 6

Pada Maret 1918, Albert Gitchell, seorang juru masak tentara di Fort Riley, Kansas, didiagnosa terserang flu. Sebelum tahun itu berakhir, penyakit ini telah menyebar ke seluruh dunia, menewaskan sekitar 40 juta orang. Virus yang sangat menular ini menjadi wabah—kasus penyebaran penyakit secara global.

Seorang dokter melaporkan bahwa para pasien dengan cepat menunjukkan gejala-gejala seperti terserang flu, yang berkembang menjadi sejenis radang paru-paru terparah, kemudian mati lemas hanya dalam hitungan jam. Untungnya, influenza tersebut segera menghilang dengan cara yang sama misteriusnya ketika ia menyerang. Namun, para dokter tetap heran akan penyebabnya dan tak mampu menemukan obatnya.

Bangsa Israel kuno juga menderita wabah yang mengerikan, tetapi mereka tahu penyebabnya dan minta obatnya kepada Musa. Mereka tak tahu berterima kasih dan mengeluh kepada Allah atas manna yang telah disediakan-Nya. Dalam murka-Nya, Allah mengirimkan ular yang gigitannya akan meninggalkan luka mematikan. Lalu, Dia menyuruh Musa untuk membuat ular tembaga dan meletakkannya pada sebuah tiang. Siapa saja yang melihat tiang itu akan disembuhkan (Bilangan 21:1-9).

Berabad-abad kemudian, Yesus mengatakan bahwa ular tembaga itu adalah simbol atas kematian-Nya di kayu salib, “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14,15).

Apakah Anda memercayai Yesus untuk menyembuhkan jiwa Anda? —HDF



CARILAH KRISTUS SEKARANG
ATAU ANDA AKAN TERSESAT SELAMANYA




Bilangan 21:1-9
21:1 Raja negeri Arad, orang Kanaan yang tinggal di Tanah Negeb, mendengar, bahwa Israel datang dari jalan Atarim, lalu ia berperang melawan Israel, dan diangkutnya beberapa orang tawanan dari pada mereka.
21:2 Maka bernazarlah orang Israel kepada TUHAN, katanya: "Jika Engkau serahkan bangsa ini sama sekali ke dalam tangan kami, kami akan menumpas kota-kota mereka sampai binasa."
21:3 TUHAN mendengarkan permintaan orang Israel, lalu menyerahkan orang Kanaan itu; kemudian orang-orang itu dan kota-kotanya ditumpas sampai binasa. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Horma.
21:4 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.
21:5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak."
21:6 Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.
21:7 Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.
21:8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."
21:9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

FaGuS
November 10th, 2007, 00:49
Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu
Lukas 12:15


Bacaan: Lukas 12:13-21
Setahun: Yeremia 46-47; Ibrani 6


Ketika menyusuri jalan raya di Houston, saya melewati papan iklan dengan tulisan besar berbunyi: “KEHIDUPAN YANG BAIK!” Saya tak sabar mendekatinya agar bisa membaca tulisan kecil yang menjelaskan bahwa maksud “kehidupan yang baik” adalah membeli rumah di tepi danau yang harganya mulai 300.000 dolar [kira-kira 2,7 miliar rupiah]. Saya lalu bertanya-tanya bagaimana seandainya yang tinggal di rumah-rumah itu adalah keluarga tidak bahagia, yang anak-anaknya tidak pernah bertemu orangtuanya, atau pasangan yang, meskipun tinggal di tepi danau, berharap agar mereka tidak hidup bersama.

Saya lalu teringat pada kisah dalam Lukas 12 tentang seorang lelaki yang meminta Yesus untuk memberi tahu saudaranya agar berbagi warisan dengannya. Sangat keliru jika ia meminta Yesus melakukan hal itu! Dia menjawab dengan peringatan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (ayat 15). Dia kemudian bercerita tentang seorang kaya raya yang menurut pandangan Allah adalah orang bodoh, bukan karena ia berhasil menjadi kaya, melainkan karena ia tidak kaya di hadapan Allah.

Kita akan hidup semakin baik jika kita semakin cepat menghilangkan anggapan bahwa semakin banyak kekayaan yang terkumpul berarti semakin damai, bahagia, dan puas. Dan, kita akan semakin mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sudah lama dirindukan, yaitu “kehidupan baik” yang sejati, yang hanya bisa diberikan oleh Yesus —JMS



“KEHIDUPAN YANG BAIK” DITEMUKAN
DALAM KEKAYAAN DI HADAPAN ALLAH



Lukas 12:13-21
12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

FaGuS
November 10th, 2007, 23:58
Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.
Markus 4:10


Kesunyian-Nya Bersama Kita. Ketika Allah membuat kita menyendiri melalui penderitaan, kesedihan, godaan, kekecewaan, sakit atau hasrat yang terhalang, persahabatan yang retak, atau persahabatan baru - ketika Dia benar-benar membuat kita menyendiri, dan kita benar-benar kehilangan kata-kata, bahkan tidak sanggup mengajukan sebuah pertanyaan apapun, maka pada saat itulah Dia mulai mengajar kita. Perhatikanlah cara Yesus Kristus mengajar kedua belas murid-Nya. Para murid-Nya terus-menerus mengajukan pertanyaan, dan dia terus-menerus menjelaskan kepada mereka, tetapi mereka tidak memahaminya sampai mereka menerima Roh Kudus (lihat Yohanes 14:26).

Selama Anda berjalan dengan Tuhan, satu-satunya hal yang ingin dijelaskan-Nya adalah cara Dia bekerja dengan jiwa Anda. Dukacita dan kesulitan dalam hidup orang lain akan sungguh-sungguh membingungkan Anda. Kita menyangka bahwa kita memahami pergumulan orang lain sampai Allah menyingkapkan kekurangan-kekurangan serupa di dalam hidup kita. Ada banyak segi kekerasan hati dan ketidaktahuan yang harus disingkapkan Roh Kudus dalam diri kita masing-masing, tetapi itu hanya dapat dilakukan bila Yesus membuat kita menyendiri. Apakah kita sedang menyendiri bersama Dia sekarang? Atau kita lebih mementingkan gagasan, persahabatan dan pemeliharaan tubuh kita sendiri? Yesus tidak dapat mengajarkan apapun kepada kita sebelum kita meniadakan semua pertanyaan intelektual kita lalu menyendiri bersama Dia.


Banyak rahasia yang akan disingkapkan-Nya kepada Anda.

FaGuS
November 11th, 2007, 00:12
Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik
Yakobus 2:8

Bacaan: Yakobus 1:1-13
Setahun: Yeremia 50; Ibrani 8

Dalam buku Flags of Our Fathers, James Bradley menceritakan pertempuran Iwo Jima dalam Perang Dunia II dengan peristiwa pengibaran benderanya yang terkenal di Gunung Suribachi. Ayah Bradley, John, adalah salah seorang pengibar bendera itu. Namun yang lebih penting, ayah Bradley tersebut adalah seorang anggota korps kesehatan angkatan laut, yakni sebagai seorang dokter.

Di tengah-tengah sengitnya pertempuran, menghadapi berondongan tembakan dari kedua sisi, John mengambil risiko yang membahayakan dirinya agar dapat merawat orang-orang yang terluka dan sekarat. Pengorbanan diri ini menunjukkan kemauan dan tekadnya untuk memedulikan orang lain, meskipun itu berarti membahayakan dirinya sendiri.

Dokter Bradley memenangkan Navy Cross atas kepahlawanan dan keberaniannya, tetapi ia tidak pernah membicarakan itu dengan keluarganya. Bahkan pada kenyataannya, mereka baru tahu ia mendapat bintang kehormatan militer, setelah ia meninggal. Bagi sang dokter, yang penting bukan masalah memenangkan medali kehormatan, melainkan bagaimana ia memedulikan teman-temannya.

Dalam Yakobus 2:8 kita membaca, “Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’, kamu berbuat baik.” Yakobus mengatakan bahwa kita “berbuat baik” ketika sengaja memerhatikan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kata baik berarti “dengan benar, mulia, sehingga tidak mungkin disalahkan”.

“Berbuat baik” tanpa mementingkan diri sendiri berarti mencerminkan hati Allah, dan memenuhi hukum kasih-Nya —WEC


sesungguhnya KASIH adalah INTI DARI KETAATAN

Yakobus 1:1-13
1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.
1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,
1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.
1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.
1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

FaGuS
November 12th, 2007, 07:30
TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan
Mazmur 149:4

Bacaan: 1 Petrus 2:9-17
Setahun: Yeremia 51-52; Ibrani 9

Bagi sebagian orang, kata kekudusan memunculkan gambaran orang pemalu dan kaku, yaitu orang “baik” dalam arti terburuk dari kata itu, dengan wajah cemberut dan murung. Mereka penuh kebenaran diri dan kewajiban yang kaku, “berpegang pada kehidupan selanjutnya,” seperti yang digambarkan penulis Washington Post.

Kebanyakan orang merindukan kebenaran dan kebaikan. Namun, keinginan itu bisa dirusak oleh apa yang mereka lihat dalam diri sebagian orang kristiani, yang mereka anggap orang yang membenarkan diri dan suka menghakimi. Bagi orang yang belum percaya, “sifat baik” jauh lebih tidak menarik daripada sifat buruk, sehingga mereka memilih sifat buruk meskipun mereka mungkin membenci sifat buruk itu. Joy Davidman, istri C.S. Lewis, mengatakan, “Satu orang munafik yang sok suci menghasilkan seratus orang tidak percaya.”

Seandainya dunia melihat hal yang sebenarnya, yaitu kualitas hidup luar biasa yang dibicarakan Petrus, kehidupan yang begitu menawan dan menarik hati, maka banyak orang akan datang kepada Sang Juru Selamat (1 Petrus 2:12). “Seandainya saja 10% penduduk dunia memiliki [kekudusan],” C.S. Lewis bertanya-tanya, “bukankah seluruh dunia akan diubahkan dan menikmati kebahagiaan sebelum tahun ini berakhir?”

Kita bisa melakukannya! Ketika kita menyandarkan hidup kepada Roh Allah, maka kita dapat menjalani hidup yang sangat indah di hadapan dunia yang mengamati kita. Penyair Israel meyakinkan kita, “Tuhan … memahkotai orang-orang yang rendah hati” (Mazmur 149:4) —DHR



HIDUPLAH sedemikian rupa
sehingga membuat ORANG LAIN INGIN MENGENAL YESUS


1 Petrus 2:9-17
2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.
2:12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.
2:13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,
2:14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.
2:15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
2:17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

FaGuS
November 13th, 2007, 07:13
Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah
Yohanes 1:12


Bacaan: Mazmur 8
Setahun: Ratapan 1-2; Ibrani 10:1-18

Dalam sebuah pidato sambutan yang ditujukan kepada para wisudawan di Miami University, seorang kolumnis bernama George Will menunjukkan statistik yang membuat kita merasa tidak berarti. Ia menunjukkan bahwa “matahari yang dikitari Bumi adalah salah satu dari kemungkinan 400 miliar bintang di galaksi Bima Sakti, yang merupakan galaksi kecil jika dibandingkan dengan galaksi lainnya.” Ia menambahkan, “Kemungkinan terdapat 40 miliar galaksi di alam semesta yang masih belum terungkap. Jika semua bintang di alam semesta hanya sebesar kepala peniti, maka semua bintang itu baru bisa ditampung di suatu tempat yang ukurannya 3 miliar kali lebih besar dari ukuran stadion football Orange Bowl di Miami.”

Ada sisi positif dari semua data yang sedemikian hebat itu. Allah, yang menciptakan dan menopang alam semesta yang dipenuhi bintang dan luasnya tak bisa dipahami itu, mengasihi kita. Dan, Dia tidak hanya mengasihi umat manusia sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari miliaran orang. Namun, Dia mengasihi kita secara pribadi. Apa yang dikatakan Rasul Paulus mengenai dirinya juga berlaku bagi kita masing-masing dalam keadaan kita yang tidak berarti apa-apa: Kristus “mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

Secara astronomi, kita ini tidak penting. Akan tetapi, kita ini adalah objek kesayangan dari kepedulian Allah. Meskipun kita tidak memiliki alasan untuk berbangga, kita bersyukur kepada Allah karena cinta-Nya secara pribadi kepada kita dinyatakan melalui salib Kalvari —VCG



KITA TIDAK MEMILIKI APA PUN UNTUK DIBANGGAKAN
NAMUN KITA SANGAT DIKASIHI ALLAH


Mazmur 8
8:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.
8:2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
8:3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
8:4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
8:5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
8:6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
8:7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
8:8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;
8:9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.
8:10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

FaGuS
November 14th, 2007, 18:24
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya Ratapan 3:22


Bacaan: Ratapan 3:19-29

Setahun: Ratapan 3-5; Ibrani 10:19-39

Ketika bus-bus tingkat Routemaster warna merah di London ditarik dari layanan reguler pada Desember 2005, banyak orang merasa kehilangan teman. Routemaster telah menyediakan layanan yang andal selama 51 tahun, dan telah menjadi sangat populer di kalangan penduduk London dan juga wisatawan karena orang bisa dengan mudah melompat naik atau turun dari bus-bus tersebut. Beberapa bus tua itu masih beroperasi di dua rute wisata Heritage, tetapi di bagian lain kota yang tak beraturan itu, bus-bus tersebut sudah menghilang.

Banyak perubahan dalam kehidupan ini yang kita rasakan sebagai kehilangan, entah itu kehilangan sekecil kenangan akan bus yang menyenangkan ataukah sebesar rumah keluarga yang hancur, impian akan keberhasilan yang tidak tercapai, atau kematian orang yang sangat kita cintai. Dalam setiap kehilangan, kita merindukan sentuhan penyembuhan dan harapan.

Kitab Ratapan disebut sebagai kitab “penguburan sebuah kota”. Di dalamnya, Nabi Yeremia meratapi umatnya yang ditawan musuh dan kehancuran kota Yerusalem. Namun, di tengah-tengah kesedihan yang dirasakannya, ada penghiburan karena kesetiaan Allah, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! ‘Tuhan adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (Ratapan 3:22-24).

Ketika hati kita terluka karena kehilangan yang kita alami, kita dapat menemukan harapan di dalam Tuhan yang tidak pernah berubah —DCM



SAAT SINAR KASIH ALLAH BERTEMU DENGAN DERAI KESEDIHAN KITA
MUNCULLAH PELANGI JANJI ALLAH

--------------------------------------------------------------------------------

Ratapan 3:19-29

3:19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu."

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

3:28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.

3:29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.

FaGuS
November 15th, 2007, 07:25
TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong
Mazmur 28:7


Bacaan: Yeremia 17:1-8
Setahun: Yehezkiel 1-2; Ibrani 11:1-19

Di awal karier saya sebagai editor di sebuah penerbit rohani, saya bertanggung jawab atas lini buku kategori “self-help” (menolong diri sendiri). Istilah itu mengganggu saya karena tampaknya bertentangan dengan pengertian kristiani secara keseluruhan.

Gagasan menolong diri sendiri menjadi populer karena itu mendukung pendapat bahwa kita sendirilah yang memegang kendali, seperti dalam kata-kata puisi berjudul Invictus: “Aku adalah tuan atas nasibku; aku adalah kapten bagi jiwaku.”

Namun, sebenarnya tidaklah demikian! Akhirnya, sesuatu terjadi dan mengingatkan bahwa hidup ini sungguh di luar kendali kita, dan tidak ada buku berkategori “menolong diri sendiri” yang bisa membantu kita memperbaikinya.

Syukurlah, orang-orang kristiani tak berurusan dengan menolong diri sendiri. Yang terjadi justru sebaliknya! Menjadi kristiani berarti menerima ketidakberdayaan kita dan mengakui ketergantungan total kita kepada Allah. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” demikian kata Yesus (Yohanes 15:5).

Bangsa Israel kuno selalu kesulitan untuk memercayai Allah dan lebih mengandalkan kekuatan manusia (Yeremia 17:5). Namun, sesudah mereka gagal, Tuhan bahkan berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” (ayat 7).

Ketika keadaan yang amat sulit atau godaan yang sangat kuat menimpa hidup kita dan mengingatkan kita akan ketidakberdayaan yang kita sandang, kita masih memiliki Allah yang berkuasa dan membela mereka yang percaya kepada-Nya —JAL


APA PUN YANG TIDAK BERAWAL DARI ALLAH
AKAN BERAKHIR DENGAN KEGAGALAN


Yeremia 17:1-8
17:1 "Dosa Yehuda telah tertulis dengan pena besi, yang matanya dari intan, terukir pada loh hati mereka dan pada tanduk-tanduk mezbah mereka
17:2 sebagai peringatan terhadap mereka! --Mezbah-mezbah mereka dan tiang-tiang berhala mereka memang ada di samping pohon yang rimbun di atas bukit yang tinggi,
17:3 yakni pegunungan di padang. --Harta kekayaanmu dan segala barang perbendaharaanmu akan Kuberikan dirampas sebagai ganjaran atas dosamu di segenap daerahmu.
17:4 Engkau terpaksa lepas tangan dari milik pusakamu yang telah Kuberikan kepadamu, dan Aku akan membuat engkau menjadi budak musuhmu di negeri yang tidak kaukenal, sebab dalam murka-Ku api telah mencetus yang akan menyala untuk selama-lamanya."
17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

FaGuS
November 16th, 2007, 07:02
After they had prayed, the place where they were meeting was shaken. And they were all filled with the Holy Spirit.
Acts 4:31



Do you feel like you're under attack today? If so, notice four things the Apostles did when they were threatened by the authorities for doing what God told them to do:

(1) They brought God into the picture. "Lord, look on their threats" (Acts 4:29 NIV). Have you talked to the Lord about it yet? If it's not big enough to be a prayer it's too small to be a burden! God should be the first person you discuss it with, not the last. Prayer is the door through which He enters your situation, but you have to invite Him in.
(2) They prayed for greater faith. "Lord… grant to Your servants… boldness" (Acts 4:29). It's unrealistic to expect that all your questions will be answered and all your fears disappear. Fear and faith will always be at work in your life. If you want to be an overcomer, learn to starve your fear and feed your faith (Romans 10:17).
(3) They expected God to intervene. "Stretch out Your hand" (Acts 4:30 NIV). The disciples had been through a terrible storm with Jesus so they knew what He could do: "About three o'clock in the morning Jesus came toward them, walking on the water" (Matthew 14:25 NLT). And He still works the nightshift. He's available 24/7; all you need to do is call on Him!
(4) They were all filled with the Holy Spirit (Acts 4:31). There's the key; they stayed energised and directed by the Spirit of God. And you must too. It's okay to use your gifts, as long as you lean only on God!


Daily Bible Reading:
1 Chronicles 16-18, John 10:1-10, Psalm 105:1-15, Proverbs 26:23-26

FaGuS
November 16th, 2007, 23:18
Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia
Ibrani 12:2


Bacaan: 1 Korintus 15:42-49
Setahun: Yehezkiel 5–7; Ibrani 12


Pada tahun 1728, Ben Franklin muda mengarang tulisan untuk batu nisan*nya sendiri:

Tubuh B. Franklin, si tukang cetak, ibarat sampul sebuah buku tua, lembaran buku itu sudah usang, hurufnya yang berwarna emas sudah terkelupas, terbaring di sini dan menjadi makanan cacing. Namun, karya dalam buku itu tidak akan hilang; karena, sebagaimana yang ia percayai, ia akan muncul sekali lagi, dalam edisi yang baru dan lebih cantik, sudah dikoreksi dan disempurnakan oleh Sang Pengarang.

Dalam tulisan batu nisan ini, si jenaka Franklin, manusia Renaissance kolonial, mengikuti kebenaran pandangan Alkitab mengenai kebangkitan. Tubuh yang sekarang ini kita miliki mudah termakan usia, mengalami kemunduran fisik, dan pada akhirnya mati. Akan tetapi, kebangkitan Yesus Kristus menjanjikan tubuh adikodrati baru yang dibangkitkan dalam kemuliaan. Rasul Paulus berkata kepada kita, “Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Yang ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan” (1 Korintus 15:42,43).

Ketika kehidupan yang kita jalani menyusuri perjalanannya dalam proses menjadi tua, kita memiliki suatu harapan akan tubuh baru yang jauh lebih baik dari*pada tubuh kita yang semula. Di samping rasa sakit dan nyeri yang kita rasakan, ketetapan Tuhan bagi hidup kita aman di tangan “Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibrani 12:2) —HDF


DALAM SEKEJAP MATA …
KITA SEMUA AKAN DIUBAH —Rasul Paulus

1 Korintus 15:42-49
15:42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.
15:43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.
15:44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.
15:45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
15:46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.
15:47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.
15:48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.
15:49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.

FaGuS
November 18th, 2007, 05:58
Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain … yang olehnya kita dapat diselamatkan
Kisah Para Rasul 4:12


Bacaan: Yohanes 3:1-8
Setahun: Yehezkiel 8-10; Ibrani 13



Sebuah lagu rohani lama mengingatkan, “Setiap orang yang membicarakan surga tidak akan pernah ke sana.” Karena surga adalah tempat tinggal Allah, suatu tempat untuk menyatakan hadirat dan kemuliaan-Nya dalam segala keagungan, Dia memiliki hak penuh untuk menentukan siapa dan dengan syarat apa seseorang dapat diterima di surga. Kepercayaan lain mengenai bagaimana dan mengapa kita diterima di surga sudah pasti salah.

Contohnya adalah rasa percaya diri yang diekspresikan oleh seorang artis terkenal. Ketika ditanya mengenai imannya, ia menjawab, “Saya berdoa. Saya membaca Alkitab. Alkitab adalah buku terindah yang pernah ditulis. Saya seharusnya masuk surga; kalau tidak, itu tidak menyenangkan. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Suara hati saya sangat jernih. Jiwa saya pun seputih bunga anggrek yang tumbuh di sana, dan saya akan langsung ke surga.”

Allah sendirilah yang menentukan siapa yang akan langsung pergi ke surga. Dalam Alkitab, firman Allah yang kudus, Dia menyatakan bahwa hanya mereka, yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan diterima. Rasul Paulus mengatakan, “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).

Penilaian diri tentang kemurnian jiwa dan kelayakan karakter seseorang untuk masuk surga bukanlah kriteria. Hanya firman Allah yang memberi kita standar penerimaan di surga —VCG



JIKA KRISTUS DIIMANI
KESELAMATAN DITERIMA DAN SURGA PUN DIRAIH


Yohanes 3:1-8
3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

FaGuS
November 18th, 2007, 23:34
Janganlah kamu khawatir … Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu
Matius 6:31,32

Bacaan: Matius 6:25-34
Setahun: Yehezkiel 11-13; Yakobus 1

Keponakan laki-laki saya akan segera kehilangan pekerjaan. Sebab itu, saya senang ketika mendengar kabar dari istrinya bahwa ia baru saja menerima tawaran untuk sebuah jabatan baru.

“Kami berdoa, saya cemas, dan Eric berketetapan untuk mendapatkan pekerjaan baru,” demikian tulis Angie lewat e-mail, menjelaskan perjalanan hidup mereka selama beberapa bulan terakhir.

Kita dengan mudah menjadi panik ketika menghadapi masalah yang serius, misalnya kehilangan pekerjaan, anggota keluarga yang terkena kanker, anak yang suka melawan.

Kita pun berdoa, dan menyibukkan diri. Kita mulai melakukan segala sesuatu yang kita anggap bisa membawa kita ke arah yang positif.

Dan, kita cemas. Kita tahu bahwa itu hanya memboroskan waktu. Namun, banyak di antara kita terjebak dalam dilema ini. Kita tahu bahwa kita harus memercayai Allah, tetapi kita bertanya-tanya tentang apa yang kira-kira akan Dia lakukan.

Inilah saatnya bagi kita untuk berpaling kepada firman-Nya, dan mengingat bahwa Dia berjalan bersama kita dan meminta kita menyerahkan segala kekhawatiran dan beban kita kepada-Nya. Kitab Suci menyatakan, “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu” (1 Petrus 5:7), dan “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Ketika pikiran Anda mencemaskan masa depan, ingatlah bahwa “Bapamu yang di surga tahu” (Matius 6:32) dan akan memberi Anda apa yang Anda butuhkan —CHK



KECEMASAN ADALAH BEBAN
YANG TIDAK PERNAH DIKEHENDAKI ALLAH UNTUK KITA PIKUL


Matius 6:25-34
6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

FaGuS
November 22nd, 2007, 05:02
Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu,
karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
Yakobus 5:8


Bacaan: Yakobus 4:13-17; 5:7-11
Setahun: Yehezkiel 18-19; Yakobus 4

Himne berjudul Come, Ye Thankful People, Come sering dinyanyikan pada kebaktian pengucapan syukur kristiani. Himne yang ditulis pada 1844 oleh Henry Alford itu diawali dengan ucapan syukur kepada Allah atas hasil panen yang berhasil dikumpulkan sebelum musim dingin. Akan tetapi, himne itu sebetulnya lebih dari sekadar rasa syukur atas berkat hasil bumi. Himne itu berakhir dengan fokus pada “panen” Allah akan umat-Nya ketika Kristus datang:


Ya Tuhan, segeralah datang
Ke lumbung panenan akhir-Mu:
Kumpulkan umat-Mu,
Bebas dari penderitaan,
bebas dari dosa;
Dimurnikan selamanya,
Tinggal selamanya dalam hadirat-Mu:
Datanglah, bersama semua malaikat-Mu, datanglah—
Dirikanlah lumbung panenan yang mulia.


Ketika kita mengucap syukur atas pemenuhan kebutuhan materi, sangatlah penting untuk mengingat bahwa rencana kita tidak pasti dan hidup kita bagaikan uap yang cepat berlalu (Yakobus 4:14). Yakobus mendorong kita untuk bersikap seperti petani yang menunggu tanamannya bertumbuh dan siap dipanen. “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (5:8).

Ketika kita bersyukur kepada Allah karena telah menyediakan berbagai kebutuhan kita, ingatlah akan kedatangan kembali Yesus Kristus yang telah dijanjikan. Dengan penantian yang sabar, kita hidup bagi-Nya dan menanti datangnya hari ketika Dia datang untuk mengumpulkan tuaian kemenangan-Nya —DCM



AMIN, DATANGLAH, TUHAN YESUS! —Wahyu 22:20

Yakobus 4:13-17; 5:7-11
4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung",
4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.
5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.
5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

FaGuS
November 23rd, 2007, 14:56
Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan,
supaya kamu sembuh
Yakobus 5:16


Bacaan: Kejadian 27:19-33
Setahun: Yehezkiel 20-21; Yakobus 5

Ketika seorang pelayan di Ohio menanyakan SIM seorang pelanggan, ia sangat terkejut saat melihat foto di kartu tersebut. Itu adalah fotonya sendiri! Pelayan itu telah kehilangan kartu identitasnya sebulan sebelumnya, dan wanita muda tadi menggunakannya supaya punya “bukti” bahwa ia sudah cukup umur untuk minum alkohol. Pelayan itu memanggil polisi dan si pelanggan ditangkap atas tuduhan pencurian kartu identitas. Karena berusaha untuk mendapatkan keinginannya, wanita muda itu berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya.

Yakub, dalam Perjanjian Lama, juga berpura-pura. Dengan bantuan ibunya, Ribka, ia menipu ayahnya yang hampir meninggal supaya mengira ia adalah kakaknya, yaitu Esau, sehingga ia bisa mendapatkan berkat anak sulung (Kejadian 27). Usaha penipuan Yakub terbongkar, tetapi Esau sudah terlambat untuk menerima berkat tersebut.

Kini kepura-puraan juga kerap kali terjadi di gereja. Beberapa orang menunjukkan penampilan yang palsu. Mereka menggunakan kata-kata “kristiani,” pergi ke gereja hampir setiap Minggu, dan bahkan berdoa sebelum makan. Mereka berpura-pura “melakukan semuanya itu” hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Namun di dalam hati, mereka bergumul dengan kehancuran, rasa bersalah, keraguan, kecanduan, atau dosa lain yang tidak bisa dilepaskan.

Allah menempatkan kita di antara sekumpulan orang percaya supaya saling menguatkan. Terimalah kenyataan bahwa Anda tidak sempurna. Kemudian, mintalah nasihat kepada saudara yang saleh dalam Kristus —AMC


JADILAH SEPERTI YANG DIKEHENDAKI ALLAH BAGI ANDA
DAN JANGAN BERPURA-PURA MENJADI ORANG LAIN


Kejadian 27:19-33
27:19 Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku."
27:20 Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: "Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!" Jawabnya: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku."
27:21 Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan."
27:22 Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau."
27:23 Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia,
27:24 tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya!"
27:25 Lalu berkatalah Ishak: "Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau." Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum.
27:26 Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: "Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku."
27:27 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.
27:28 Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.
27:29 Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia."
27:30 Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.
27:31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: "Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku."
27:32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: "Siapakah engkau ini?" Sahutnya: "Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau."
27:33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: "Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati."

FaGuS
November 24th, 2007, 04:52
Nyata kemurahan Allah, Juru Selamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia
Titus 3:4


Bacaan: Titus 3:1-7
Setahun: Yehezkiel 22-23; 1 Petrus 1

Bertahun-tahun yang lalu, saya menerima sebuah bingkisan berbentuk tabung melalui pos. Bingkisan tersebut berisi tongkat pancing bambu buatan Jim Schaaf yang indah sekali dan kili-kili pancing Bill Ballan yang klasik—peralatan pancing yang mahal dan harganya tidak terjangkau. Ada catatan tulisan tangan yang berbunyi, “Saya ingin melakukan sesuatu bagi Anda.” Sampai sekarang ini, saya tidak tahu siapa yang mengirimkan bingkisan tersebut.

Penyair William Cowper juga punya sahabat yang tak ia kenal dan mengiriminya berbagai hadiah, tetapi tak pernah menyebutkan namanya. Komentar Cowper setiap kali menerima hadiah selalu sama, “Orang yang tak dikenal telah datang.” Saya sering memikirkan ucapannya ketika memancing dengan tongkat pancing itu, “Orang yang tak dikenal telah datang.” Saya selalu berterima kasih kepada sahabat yang tak saya ketahui namanya atas kebaikan dan kasihnya.

Sepanjang hidup, Allah mencurahkan kebaikan-Nya—kebenaran, keindahan, persahabatan, kasih, dan tawa, serta banyak lagi. Dan, kita bersikap seakan kita tidak tahu dari mana asalnya. Allah telah menjadi Sahabat kita yang tidak dikenal.

Namun, Dia tak ingin selamanya tidak dikenal. Jika Anda ingin tahu lebih banyak lagi tentang Sahabat rahasia Anda, bacalah Injil, karena Dia tampak paling nyata dalam diri Yesus. Kasih selalu ada di dalam hati Allah, tetapi di dalam Yesus, kasih itu “kelihatan”. Allah, yang dinyatakan dalam diri Yesus, adalah Sahabat Anda yang baik hati dan penuh kasih. Apakah Anda akan mengakui-Nya dan berterima kasih kepada-Nya hari ini? —DHR



SAHABAT YANG PALING KITA KASIHI HANYALAH BAYANGAN
JIKA DIBANDINGKAN DENGAN YESUS


Titus 3:1-7
3:1 Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.
3:2 Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.
3:3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
3:4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,
3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,
3:7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

FaGuS
November 25th, 2007, 00:21
Kamu adalah terang dunia
Matius 5:14


Bacaan: Roma 1:14-17
Setahun: Yehezkiel 24-26; 1 Petrus 2


Allah tidak kehabisan cara untuk menjangkau manusia. Jadi, jika Anda merasa bahwa Anda tidak memiliki kemampuan untuk menjangkau jiwa bagi Kristus, ingatlah Ethel Hatfield yang berusia 76 tahun. Karena ingin melayani Tuhan, ia bertanya kepada pendeta di gerejanya, apakah ia boleh mengajar Sekolah Minggu. Akan tetapi, pendeta tersebut berkata bahwa Ethel mungkin sudah terlalu tua! Ia pulang ke rumah dengan hati sedih dan kecewa.

Kemudian suatu hari, ketika Ethel sedang merawat kebun mawarnya, seorang mahasiswa keturunan Cina dari kampus yang ada di dekat situ berhenti untuk mengomentari keindahan bunga-bunga mawarnya. Ethel menawarkan secangkir teh. Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Ethel berkesempatan untuk bercerita mengenai Yesus dan kasih-Nya. Keesokan harinya mahasiswa tadi datang bersama mahasiswa lain, dan itulah awal pelayanan Ethel.

Ethel merasa sangat senang dapat membagikan Injil Kristus kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, karena ia tahu bahwa Dia memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Injil-Nya adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Roma 1:16).

Justru karena Ethel sudah tua, para mahasiswa keturunan Cina itu mendengarkannya dengan rasa hormat dan penghargaan. Ketika ia meninggal, sekitar 70 orang keturunan Cina yang sudah menjadi orang percaya berkumpul di upacara pemakamannya. Mereka telah dimenangkan bagi Kristus oleh seorang wanita yang dianggap terlalu tua untuk mengajar kelas Sekolah Minggu! —VCG



TAK SEORANG PUN TERLALU TUA
UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS


Roma 1:14-17
1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.
1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.
1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

FaGuS
November 25th, 2007, 23:15
Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan
Habakuk 1:13


Bacaan: Habakuk 1:1-5
Setahun: Yehezkiel 27-29; 1 Petrus 3

Saya pecandu berita yang senang mengetahui segala yang terjadi di dunia. Namun, kadang kekejaman hidup membuat saya merasa seperti anak kecil yang sedang menonton film horor. Saya tak ingin melihat apa yang terjadi. Saya ingin berpaling agar tak melihat semua itu.

Allah bereaksi terhadap kejahatan dengan cara yang sama. Bertahun-tahun lalu, Dia memperingatkan bangsa Israel bahwa Dia akan memalingkan muka dari mereka jika mereka berpaling pada kejahatan (Ulangan 31:18). Bangsa Israel melakukan kejahatan, dan Dia menyembunyikan wajah-Nya (Yehezkiel 39:24).

Nabi Habakuk tidak meninggalkan Allah, tetapi ia menderita bersama mereka yang telah meninggalkan Dia. “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan,” tanyanya kepada Allah, “sehingga aku memandang kelaliman?” (Habakuk 1:3).

Tanggapan Allah terhadap nabi-Nya yang sedang bingung menunjukkan bahwa ketika kejahatan mengaburkan wajah Allah, ketidakmampuan kita melihat Dia bukan berarti bahwa Dia tidak bekerja demi kebaikan kita. Allah berkata, “Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceritakan” (ayat 5). Allah akan menghakimi Yehuda, tetapi Dia juga akan menghakimi Babel sebagai bangsa penjajah atas kejahatan mereka (lihat Habakuk 2). Melalui semuanya itu, “orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (2:4).

Ketika berbagai kejadian dunia membuat Anda putus asa, tinggalkan berita dan bacalah Kitab Suci. Akhir kisahnya sudah dituliskan oleh Allah kita yang kudus. Kejahatan tidak akan bertahan —JAl



JANGAN PUTUS ASA KARENA KEJAHATAN
sebab ALLAH YANG AKAN MENANG


Habakuk 1:1-5
1:1 Ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk.
1:2 Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
1:3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
1:4 Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.
1:5 Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan.

FaGuS
November 27th, 2007, 04:09
Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali
Lukas 15:32


Bacaan: Lukas 15:25-32
Setahun: Yehezkiel 30-32; 1 Petrus 4

Kisah mengenai anak yang hilang sebenarnya adalah kisah mengenai dua saudara yang suka memberontak dan ayah mereka yang penuh kasih. Ini adalah kisah universal yang mewakili setiap umat manusia.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyamakan diri saya dengan anak yang hilang. “Kehidupan liar” asing bagi saya. Akan tetapi, sikap sang kakak yang membenarkan diri tersebut mencerminkan pergumulan rohani saya. Dosanya mungkin lebih serius daripada gaya hidup amoral yang jelas-jelas tampak. Dosa itu tersembunyi, tetapi akan mudah dikenali ketika ia muncul.

Berikut ini adalah ciri-cirinya: Ia memilih kemarahan daripada penerimaan (Lukas 15:28). Ia memisahkan diri dan “tidak mau masuk” (ayat 28). Ia berkata kepada ayahnya, “anak bapa” (ayat 30), bukannya menyebutnya “saudaraku”. Jelaslah, ia belum mengalami mukjizat dari rahmat Allah.

Namun, sang ayah mencintai kedua anaknya tanpa syarat. Terhadap anak yang sudah memboroskan hartanya, ia berlari keluar untuk menyambut kedatangannya. Dan, terhadap anaknya yang sulung, ia “keluar dan membujuknya” (ayat 28). Tidak ada kata cercaan yang kasar. Yang ada hanyalah sukacita atas kepulangan anak bungsunya dan hati yang selalu merindukan anak sulungnya. Sebuah gambaran yang sangat indah mengenai betapa baiknya Allah yang mencari-cari kita!

Dalam kisah itu, anak manakah yang mencerminkan diri Anda? Sudahkah Anda menanggapi kasih Bapa surgawi yang tak terbatas? —DJD




KASIH ALLAH MENGUBAH ANAK YANG HILANG
MENJADI ORANG KUDUS YANG BERHARGA


Lukas 15:25-32
15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

FaGuS
November 28th, 2007, 05:15
Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon
Daniel 9:3


Bacaan: Daniel 9:3-19
Setahun: Yehezkiel 33-34; 1 Petrus 5

Apakah Anda pernah mendengar kisah seorang laki-laki tua berusia 85 tahun yang ditangkap karena berdoa? Kemungkinan besar, Anda sudah mendengarnya. Itu adalah kisah Daniel, seorang Yahudi tua di negeri Babel yang dijatuhi hukuman mati karena kesetiaannya dalam berdoa kepada Allah (Daniel 6).

Meskipun doa yang menyebabkan Daniel dilemparkan ke gua singa adalah doanya yang paling terkenal (6:11), itu bukan satu-satunya saat ketika kita mendapatinya sedang berdoa.

Dalam kitab Daniel 9, kita membaca sebuah contoh bagaimana ia berdoa. Ketika Daniel sedang membaca gulungan kitab Yeremia, ia mendapati bahwa pembuangan bangsanya akan berlangsung selama 70 tahun, dan bangsanya sudah 67 tahun berada dalam pembuangan (Yeremia 25:8-11). Ia sangat ingin supaya masa pembuangan itu segera berakhir.

Allah telah memanggil umat-Nya untuk hidup benar, tetapi mereka tidak melakukannya. Daniel memutuskan untuk hidup benar meskipun bangsanya tidak beriman. Ia mulai berdoa agar Allah tidak menunda berakhirnya masa pembuangan.

Ketika berdoa, Daniel berfokus pada penyembahan dan pengakuan dosa. Pola doanya memberi kita wawasan yang penting mengenai cara berbicara dengan Allah. Kita harus mengakui bahwa Allah itu “mahabesar dan dahsyat” (ayat 4) dan bahwa kita “telah berbuat dosa” (ayat 15). Dalam doa, kita memuja Allah dan mengakui dosa kita.

Marilah kita ikuti teladan Daniel. Baginya, doa sama pentingnya dengan hidup itu sendiri —JDB



TAK ada yang setegar ORANG KRISTIANI YANG BERTELUT dalam doa


Daniel 9:3-19
9:3 Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.
9:4 Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: "Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu!
9:5 Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu,
9:6 dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri.
9:7 Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau.
9:8 Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.
9:9 Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia,
9:10 dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.
9:11 Segenap orang Israel telah melanggar hukum-Mu dan menyimpang karena tidak mendengarkan suara-Mu. Sebab itu telah dicurahkan ke atas kami kutuk dan sumpah, yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, hamba Allah itu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Dia.
9:12 Dan telah ditetapkan-Nya firman-Nya, yang diucapkan-Nya terhadap kami dan terhadap orang-orang yang telah memerintah kami, yakni bahwa akan didatangkan-Nya kepada kami malapetaka yang besar, yang belum pernah terjadi di bawah semesta langit, seperti di Yerusalem.
9:13 Seperti yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, segala malapetaka ini telah menimpa kami, dan kami tidak memohon belas kasihan TUHAN, Allah kami, dengan berbalik dari segala kesalahan kami dan memperhatikan kebenaran yang dari pada-Mu.
9:14 Sebab itu TUHAN bersiap dengan malapetaka itu dan mendatangkannya kepada kami; karena TUHAN, Allah kami, adalah adil dalam segala perbuatan yang dilakukan-Nya, tetapi kami tidak mendengarkan suara-Nya.
9:15 Oleh sebab itu, ya Tuhan, Allah kami, yang telah membawa umat-Mu keluar dari tanah Mesir dengan tangan yang kuat dan memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini, kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik.
9:16 Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.
9:17 Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.
9:18 Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.
9:19 Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!"

FaGuS
November 29th, 2007, 04:15
We have… an eternal house in Heaven.
2 Corinthians 5:1 NIV



Daily Bible Reading:
2 Chronicles 29-31, John 12:20-36, Psalm 118:19-29, Proverbs 28:5-8



Alice Gray writes, "Laurel knew she was dying. Over the weeks we often talked about Heaven. The hardest part was trying to image something we had never seen. Then I remembered this story - the young girl had been blind since birth. When she was twelve the doctors were able to perform a new type of surgery that would give her sight. But the outcome wouldn't be known for several days. After the bandages were removed from her eyes they had to be protected from the light. So she sat in darkness, waiting. The mother spent long hours answering her daughter's questions about what things looked like and what she should expect. Finally the moment came when the child's eyes could endure enough light for her to look out the window. She stood there for a long time without saying a word. Outside, the spring day was ideal - with fluffy white clouds decorating a blue sky. Blossoms sprinkled to the ground like pink snow as soft breezes bared the cherry trees. Yellow crocuses proudly lined the brick walkway that wound across the grass. When the girl turned back to her mother, tears were streaming down her cheeks. 'Oh, mother. Why didn't you tell me it would be so beautiful?' I shared this story with my friend, tears filling my own eyes. 'Laurel, right now we're sitting in the darkness, but before long you will be asking God the same question.'"

Heaven is real. It's more real than any place you've ever been, and much more beautiful. Paul calls it "Far better" (Philippians 1:23). When you get there you'll take Jesus by the hand and ask, "Why didn't You tell me it would be so beautiful?"

FaGuS
November 30th, 2007, 03:14
TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa
Yosua 14:10


Bacaan: Yosua 14:6-13
Setahun: Yehezkiel 37-39; 2 Petrus 2


Nola Ochs, seorang mahasiswi Fort Hays State University di Kansas, baru-baru ini mengambil libur dari studi untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-95. Ia mulai berkuliah di Fort Hays pada 1930, tetapi tidak lulus. Ketika ia menyadari bahwa hanya dengan mengambil beberapa kredit lagi ia akan mendapatkan gelar, maka ia kembali kuliah di universitas itu pada tahun 2006. Nola tidak akan membiarkan usia mencegahnya untuk menghargai komitmen yang dibuatnya lebih dari 76 tahun lalu untuk menyelesaikan pendidikannya.

Dalam Yosua 14, kita membaca bahwa Kaleb tidak membiarkan usianya yang sudah lanjut mencegahnya untuk percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya yang diberikan 45 tahun sebelumnya (ayat 10-12). Sebagai salah satu pengintai yang dikirim ke Tanah Perjanjian , ia melihat kota-kota besar yang didiami oleh orang-orang kuat yang tubuhnya besar (Bilangan 13:28-33).

Akan tetapi, Kaleb setia kepada Allah dan percaya bahwa Dia akan membantu bangsa Israel menaklukkan tanah tersebut (14:6-9). Pada usia 85 tahun, Kaleb secara fisik masih kuat dan imannya tetap teguh. Ia percaya bahwa Allah akan membantunya menaklukkan tanah tersebut, meskipun didiami oleh para raksasa. Maka, Yosua memberkati Kaleb dengan bagian tanah tersebut dan memenuhi janji Allah yang sudah berusia 45 tahun.

Seperti Kaleb, kita pun tidak boleh membiarkan usia, raksasa pribadi kita, atau janji yang belum terpenuhi, menghalangi kita untuk memercayai bahwa Allah masih menghargai firman-Nya bagi kita —MLW




SETIAP JANJI ALLAH
DINYATAKAN BERSAMA DENGAN JAMINAN PRIBADI-NYA



Yosua 14:6-13
14:6 Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: "Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea.
14:7 Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya.
14:8 Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.
14:9 Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.
14:10 Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;
14:11 pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.
14:12 Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN."
14:13 Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya.

FaGuS
December 1st, 2007, 04:07
Jesus I know, and I know about Paul, but who are you?
Acts 19:15 NIV



Ever watch those TV shows where people do daring and dangerous things - things you might be tempted to think you could do? But there's always a disclaimer 'don't try this at home,' or 'don't try this on your own.' With that in mind let's read: "God did extraordinary miracles through Paul… handkerchiefs and aprons that had touched him were taken to the sick, and their illnesses were cured and the evil spirits left them. Some Jews who went around driving out evil spirits tried to invoke the name of the Lord Jesus over those who were demon-possessed. They would say, 'In the name of Jesus, whom Paul preaches, I command you to come out.' Seven sons of Sceva, a Jewish chief priest, were doing this… (One day) the evil spirit answered them, 'Jesus I know and I know about Paul, but who are you?' Then the man who had the evil spirit jumped on them and… gave them such a beating that they ran out of the house naked and bleeding" (Acts 19:11-16 NIV).

Paul was so empowered by God that he made ministry look easy. So these guys thought, "I can do that too." No you can't - unless God equips you, you'll fall flat on your face! The seven sons of Sceva were attracted by the wrong things. They wanted the power Paul had but they didn't want to pay the price Paul paid. God doesn't empower you to do your own thing, He empowers you to do His thing; which is the only thing that matters. Spirit-empowered living cannot be imitated, duplicated, bought, borrowed, or faked - and without it you're no match for the enemy!

Daily Bible Reading:
2 Chronicles 35-36, (2 Jn), John 13:1-17, Psalm 14, Proverbs 28:13-16

FaGuS
December 2nd, 2007, 05:24
She will bring forth a Son, and you shall call His name Jesus, for He will save His people from their sins.
Matthew 1:21


READ: Matthew 1:18-25

In the off-season of baseball, managers and coaches concentrate on trading players to set themselves up for a winning season the next year. But if you are a Chicago Cubs fan like I am, you don’t expect much because we haven’t won a championship in years! That made the promise from a newly acquired player for the Cubs sound rather incredible. To a packed press conference, he said, “We are going to win the World Series!” I have to admit, it was hard not to be skeptical. It sounded like a promise that most likely he couldn’t deliver.

No doubt the Jews of Jesus’ day who were living under the oppressive thumb of Rome had to wonder if God would ever make good on His promise to send a Deliverer who would forgive sin and restore the glory of Israel (Isa. 1:26; 53:12; 61). God had long ago promised them a Redeemer, but they hadn’t heard a word from Him in 400 years. But then, at just the right moment, the angel announced to Joseph that Mary would give birth to a Son who would “save His people from their sins” (Matt. 1:21).

Christmas proves that God is a promise-keeping God! He said that He would send a Deliverer, and He did. Your sin is not beyond the reach of this promise. He is ready and waiting to forgive your sins—all of them. —Joe Stowell

FaGuS
December 2nd, 2007, 23:28
Grow in the grace and knowledge of our Lord and Savior Jesus Christ.
2 Peter 3:18


READ: Philippians 3:12-21


Jon Krakauer, author and mountain climber, was determined to reach the “roof of the world,” the peak of Mt. Everest. In an arduous ascent that killed some of his fellow climbers, he persevered. On May 10, 1996, he reached the summit.

“I understood on some dim, detached level that [the sweep of earth beneath my feet] was a spectacular sight,” wrote Krakauer of that moment. “I’d been fantasizing about this moment, and the release of emotion that would accompany it, for many months. But now that I was finally here, standing on the summit of Mt. Everest, I just couldn’t summon the energy to care.”

Temporal goals can never fully satisfy. We see this in the ministry of Paul. He told the believers in Philippi: “I press toward the goal for the prize of the upward call of God in Christ Jesus” (Phil. 3:14). It is the goal “for which Christ Jesus has also laid hold of me” (v.12). He will “transform our lowly body that it may be conformed to His glorious body” (v.21).

That goal can provide the most powerful incentive. It inspires us to become more and more like Jesus. Every upward step gives us joyful soul-satisfaction. How diligently are we striving to reach that goal? —Vernon C Grounds



I’m pressing on the upward way,
New heights I’m gaining every day—
Still praying as I’m onward bound,
“Lord, plant my feet on higher ground.” —Oatman


Don’t let contentment with earthly goals prevent you from attaining eternal gains.

FaGuS
December 4th, 2007, 03:41
Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran
1 Yohanes 3:18


Bacaan: 1 Yohanes 3:16-24
Setahun: Yehezkiel 47-48; 1 Yohanes 3

Ketika masuk kantor di pagi hari, saya kerap menemukan kejutan di meja saya. Beberapa waktu lalu, kejutan itu berupa cangkir kopi bergambar bunga matahari yang diberikan seorang rekan kantor. Ia melihatnya di sebuah toko dan ia tahu, cangkir itu akan membuat istri saya senang—jadi ia membelinya lalu meninggalkannya di meja saya dengan disertai kalimat penyemangat.

Dengan senang hati saya membawa pulang hadiah itu untuk istri saya Sue, dan memberikannya atas nama wanita yang ingin menyemangatinya.

Orang itu mungkin betul-betul memikirkan istri saya. Ia mungkin telah membicarakan istri saya secara positif dengan orang lain. Namun, itu tentu berbeda dengan dorongan semangat yang ditimbulkan suatu tindakan.

Dalam 1 Yohanes 3:18, Yohanes membahas apa yang harus kita lakukan bila melihat orang lain memerlukan bantuan kita. Ia mengatakan, kita harus mempunyai belas kasihan yang aktif: “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan.” Kalau kita melihat seseorang memerlukan bantuan kita, membicarakan hal itu memang hal yang baik. Akan tetapi, kita juga harus melakukan sesuatu untuk menolongnya. Kita diperintahkan: “Hendaklah kita menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja” (Yakobus 1:22).

Mintalah Roh Kudus menaruh seseorang di dalam hati Anda, yang dapat Anda tolong dalam nama Yesus. Lalu ambillah tindakan. Buatlah perbedaan pada hari ini. Kirimkan kartu. Berikanlah hadiah. Ajaklah berjalan-jalan. Teleponlah. Kasih yang diwujudkan dalam tindakan adalah kasih sejati —JDB



Belas kasihan adalah kasih dalam tindakan


1 Yohanes 3:16-24
3:16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,
3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,
3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

FaGuS
December 5th, 2007, 20:13
Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis
Matius 4:1


Bacaan: Matius 4:1-11
Setahun: Daniel 1-2; 1 Yohanes 4


Saya sangat menyukai taman saya. Namun, hidup di Amerika Serikat bagian Barat Tengah selama musim dingin telah mengubah taman saya yang indah menjadi pemandangan yang beku, tertutup salju, dan gersang.

Itu tidak seperti di taman Eden. Eden merupakan taman yang luar biasa indah sepanjang tahun. Di taman inilah Adam dan Hawa menikmati ciptaan Allah yang istimewa dan sukacita keselarasan sempurna dengan-Nya dan antara satu sama lain. Namun, kemudian Setan muncul. Ia membawa rumput-rumput liar, onak duri, kerusakan, dan maut.

Anda pasti dapat melihat perbedaan antara pemandangan di Kejadian 1 dan di Matius 4. Penggoda yang sama, yang pernah memasuki taman Allah, sekarang menyambut Allah di tanahnya—padang gurun yang berbahaya dan tandus.

Padang gurun dapat menjadi suatu gambaran kejadian yang akan menimpa dunia—dan kehidupan—apabila kemauan Setan dituruti. Dengan satu pukulan yang menentukan, sukacita Eden digantikan dengan rasa malu karena telanjang (Kejadian 3). Akan tetapi, Yesuslah yang menjadi pemenang di tanah Setan! (Matius 4). Dengan kemenangan itu Dia memberi kita harapan bahwa kita pun dapat menang. Sebuah kemenangan yang menunjukkan kepada kita bahwa musuh tidak lagi dapat menguasai kita. Kemenangan yang meyakinkan kita akan datangnya hari ketika kita tidak lagi akan bersusah-payah di padang gurun Setan, tetapi akan diantar memasuki surga, di mana sukacita Eden akan menjadi milik kita—untuk selamanya. Inilah hal yang kita nanti-nantikan! —JMS



JIKA Anda berjalan melalui padang gurun godaan
kemenangan Kristus menjadi kemenangan Anda


Matius 4:1-11
4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

FaGuS
December 5th, 2007, 23:26
Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
2 Korintus 9:15


Bacaan: 1 Yohanes 5:9-13,20
Setahun: Daniel 3-4; 1 Yohanes 5

Hadiah Natal yang paling disukai Sharon dari suaminya, Andy, adalah kotak antik untuk menyimpan perhiasan. Di dalamnya terdapat tiga kotak dengan hadiah tambahan berupa cokelat dan perhiasan. Ia menyukai setiap hadiah yang ada di dalam hadiah itu.

Ketika Allah mengirimkan Putra-Nya Yesus untuk menjadi Juru Selamat dunia, Dia memberi kita banyak hadiah di dalam Hadiah itu. Dan, sejak saat itu, orang-orang yang menerima hadiah Yesus, mereka juga akan menerima hadiah-hadiah khusus berikut:

Pengampunan dosa. “Sebab di dalam Dia [Yesus] kita beroleh penebusan oleh darah-Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya” (Efesus 1:7).

Pengajaran dari Roh Kudus. Yesus telah memberi janji, “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu” (Yohanes 14:26).

Hidup kekal dan rumah di surga. Yohanes berkata, “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup” (1 Yohanes 5:12). Yesus berjanji, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal …. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yohanes 14:2).

Kasih yang tiada tara. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu .... Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:9,13).

Sudahkah Anda menerima Hadiah Allah yang tak terkatakan itu? Anda hanya perlu memintanya —AMC


Yesus adalah hadiah dan
Pemberi setiap hadiah yang baik


1 Yohanes 5:9-13,20
5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.
5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.
5:13 Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.

5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

futurism
December 5th, 2007, 23:29
Wah, thank you mod, renungan nya mengena banget

FaGuS
December 7th, 2007, 04:19
Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan
Roma 10:13


Bacaan: Kisah Para Rasul 3:1-16
Setahun: Daniel 5-7; 2 Yohanes


Nama adalah sesuatu yang penting. Para orangtua mungkin menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencari dan memutuskan nama yang paling sempurna bagi bayi mereka. Kerap kali keputusan terakhir didasarkan pada bunyi, keunikan, atau artinya.

Ada seorang wanita yang memakai nama baru sebab ia tidak menyukai nama aslinya. Ia keliru menyangka bahwa dengan berganti nama, ia dapat mengubah nasibnya. Itu tidak mungkin terjadi, tetapi bagi orang-orang yang memercayai Yesus sebagai Juru Selamat dan sejak saat itu dikenali lewat nama-Nya, benar-benar terjadi sebuah perubahan menyeluruh.

Ada arti penuh kuasa yang terkait dengan nama Yesus. Para rasul melakukan mukjizat-mukjizat (Kisah Para Rasul 3:6,7,16; 4:10) dan mengusir setan dalam nama Yesus (Lukas 10:17). Mereka berbicara dan mengajar dalam nama Yesus. Mereka membaptis orang-orang percaya dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 2:38). Dan, hanya melalui nama Yesus-lah kita dapat sampai kepada Bapa (Kisah Para Rasul 4:12).

Ketika kita menjadi orang-orang kristiani, kita semua memiliki nama yang berharga ini. Dan, saat kita mengikut Kristus, kita mampu memantulkan cahaya-Nya ke kegelapan mana pun yang kita jumpai; di lingkungan kita, di tempat kerja kita, atau bahkan di rumah kita. Kita harus berdoa agar saat orang melihat kita—mereka akan melihat Kristus.

Nama yang kita sandang dapat mempunyai makna atau arti. Akan tetapi, menyandang nama kristiani berarti mengalami sebuah perubahan hidup —CHK




Nama Yesus adalah satu-satunya nama
yang memiliki kuasa untuk mengubahkan


Kisah Para Rasul 3:1-16
3:1 Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.
3:2 Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah.
3:3 Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.
3:4 Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami."
3:5 Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka.
3:6 Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"
3:7 Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.
3:8 Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.
3:9 Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah,
3:10 lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.
3:11 Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo.
3:12 Petrus melihat orang banyak itu lalu berkata: "Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?
3:13 Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan.
3:14 Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.
3:15 Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.
3:16 Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.

FaGuS
December 8th, 2007, 01:43
Jagalah supaya jangan ada seorang pun .... Janganlah ada orang yang ... mempunyai nafsu rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan
Ibrani 12:15,16

Bacaan: Ibrani 12:12-17
Setahun: Daniel 8-10; 3 Yohanes

Apakah kita “menjual habis” seperti yang dilakukan oleh Esau? (Ibrani 12:16). Apakah godaan kekayaan, kekuasaan, gengsi, kedudukan, keamanan, gaya, atau pengakuan dan pujian dari orang lain membuat kita menukarkan kekayaan Allah dengan sepiring makanan?

Esau berusaha mengubah pikiran ayahnya dan memperoleh warisan yang telah direnggut darinya karena ia meremehkan hak kesulungannya, tetapi ia tidak bisa lagi memperbaiki keadaan yang telah dirusaknya. Ia harus hidup dengan keputusan yang diambilnya. Kita juga tidak dapat memutar waktu dan memperbaiki kesalahan yang kita lakukan kepada diri kita sendiri atau kepada orang lain.

Meskipun masa lalu tidak dapat diulang kembali, ada hari baru di hadapan kita, yang dipenuhi berbagai kesempatan dan harapan baru. Allah tidak akan mengubah masa lalu kita, tetapi bila kita bertobat, Dia dapat dan bersedia mengampuni kita serta menaruh kita di jalan yang baru.

Tuhan dapat memberi kita berbagai kesempatan untuk menunjukkan betapa kita sungguh-sunguh menyesali keputusan masa lampau, dan betapa kita ingin melayani-Nya dalam berbagai keputusan kita di hari-hari mendatang. Dia tidak akan pernah mengungkit perbuatan-perbuatan kita yang mempermalukan orang lain dan kita sendiri; perbuatan-perbuatan itu sudah diampuni dan dilupakan untuk selama-lamanya.


Allah akan memberi kita tempat untuk memulai lagi—untuk mengasihi, melayani, menyentuh orang lain secara mendalam dan kekal bagi-Nya. Ini menunjukkan kebesaran kasih pengampunan Bapa di surga bagi kita —DHR


Pengampunan Allah adalah pintu menuju awal yang baru


Ibrani 12:12-17
12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
12:13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.
12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

FaGuS
December 8th, 2007, 22:59
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya
Yesaya 53:4


Bacaan: Yesaya 53:1-6
Setahun: Daniel 11-12; Yudas

Saat ini, semakin banyak gereja yang setiap tahun menyelenggarakan kebaktian-kebaktian Natal Kelabu bagi orang-orang yang menghadapi kedukaan dan kehilangan. Musim liburan yang menekankan kebahagiaan dan kegembiraan acap kali membuat orang-orang yang sedang mengalami kekecewaan merasa lebih sedih.

Artikel di Associated Press mengutip seorang pendeta yang melukiskan kebaktian Natal Kelabu sebagai “kesempatan bagi orang-orang untuk datang dan berada di dalam hadirat Allah serta mengakui dukacita, keputusasaan, dan kesepian mereka, lalu menyerahkannya kepada Allah.” Seorang peserta menambahkan, “Itu adalah tempat yang baik untuk menangis dan tidak seorang pun akan merasa keberatan.”

Selama masa Natal, kita sering membaca nubuatan-nubuatan Yesaya tentang Mesias yang akan datang, yang akan lahir dari seorang perawan (Yesaya 7:14) dan disebut “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (9:6). Namun, mungkin kita juga perlu memasukkan kata-kata di dalam Yesaya 53: “Ia … seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan .… Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya … dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (ayat 3-5). Pemazmur mengingatkan kita bahwa “[Tuhan] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mazmur 147:3).



Jika Anda merasa sedih pada hari Natal ini, ingatlah: Yesus datang untuk menyelamatkan kita, menolong kita, dan menyembuhkan kita —DCM



Yesus menyediakan oasis anugerah DI gurun kedukaan



Yesaya 53:1-6
53:1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
53:2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
53:3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

bassman
December 9th, 2007, 00:50
Amin bro..God Bless you..

FaGuS
December 10th, 2007, 03:59
Orang-orang ... yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran [akan bercahaya] seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya Daniel 12:3

Bacaan: Matius 2:1-12
Setahun: Hosea 1-4; Wahyu 1

Akhir-akhir ini banyak orang mencari ketenaran dengan berusaha untuk disorot oleh media. Akan tetapi, seorang tawanan Yahudi yang masih muda mencapai “ketenaran” dengan cara yang lebih baik.

Ketika Daniel dan teman-temannya ditangkap oleh bangsa penyerbu yang kejam, tampaknya mustahil nama mereka akan terdengar lagi. Tetapi tak lama kemudian, para pemuda saleh ini justru menjadi menonjol karena cerdas dan dapat dipercaya.

Ketika raja mendapat mimpi yang tidak dapat diulangi atau ditafsirkan oleh orang-orang bijak di istana raja, ia menghukum mati mereka. Setelah semalaman berdoa bersama teman-temannya, Daniel menerima isi mimpi raja tersebut dan tafsirannya dari Allah. Maka, raja mempromosikan Daniel menjadi penasihat utamanya (lihat Daniel 2).

Kisah ini sudah cukup luar biasa jika berakhir di situ. Namun, beberapa orang terpelajar percaya bahwa pengaruh Daniel di Babel membuat orang sadar akan adanya berbagai nubuatan tentang Mesias, tentang Juru Selamat yang akan lahir di Betlehem. Pengajaran Daniel mungkin dijadikan alasan oleh orang-orang bijak dari Timur yang 500 tahun kemudian mengikuti bintang sampai ke bagian dunia yang terpencil dan asing. Mereka menemukan Raja yang masih bayi, menyembah-Nya, dan kembali ke negeri mereka dengan kabar baik tentang perjalanan Allah yang luar biasa ke dunia (Matius 2:1-12).


Dengan membuat orang-orang lain berbalik kepada kebenaran, kita, seperti Daniel, dapat menjadi bintang yang bersinar abadi —JAL

Anda dapat menarik orang kepada Yesus
bila Anda memiliki cahaya-Nya di dalam hidup Anda

Matius 2:1-12
2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2:2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
2:5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
2:7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
2:8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
2:9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

FaGuS
December 11th, 2007, 03:39
Bumi penuh dengan kasih setia TUHAN
Mazmur 33:5

Bacaan: Mazmur 33:1-9
Setahun: Hosea 5-8; Wahyu 2

Pohon-pohon mapel di halaman depan rumah saya adalah pohon-pohon terakhir yang kehilangan daun-daunnya pada musim gugur. Jadi, pada suatu hari yang dingin di bulan November, saya menggerutu sambil menyerok dan memasukkan daun-daun terakhir ke dalam kantong sampah.

Lalu terdengarlah suara riang, “Selamat pagi!” Tanpa saya sadari, wanita yang mencatat meteran gas kami menghampiri saya. Saya bertanya, “Bagaimana kabar Anda di pagi yang sangat berangin ini?”

“Saya sangat diberkati,” katanya sambil tersenyum. Setelah menyesuaikan diri dengan cepat, saya menyahut, “Saya juga. Bukankah Allah luar biasa?”

“Ya. Dia memang luar biasa,” jawabnya. “Apakah Anda juga percaya kepada Yesus?” “Ya,” balas saya, “dan Dia telah mengisi hidup saya dengan berkat.”

Percakapan singkat itu tidak saja mencerahkan hati saya, tetapi juga mengingatkan saya bahwa kita, orang-orang yang percaya kepada Kristus, sangat diberkati. Setelah saudara seiman di dalam Kristus ini pergi, langit tidak lagi tampak begitu gelap; angin tidak lagi begitu dingin; pekerjaan membersihkan daun terasa lebih ringan. Tuhan telah memakai seorang saudara seiman untuk mengalihkan perhatian saya kepada-Nya dan melihat kebaikan-Nya (Mazmur 33:5).


Orang-orang kristiani merupakan bagian dari masyarakat. Marilah kita saling memberi semangat satu sama lain. Kita tidak pernah tahu kapan seorang saudara seiman perlu diingatkan akan kebaikan Allah —DCE


KEPercayaAN pada kebaikan allah
memberikan nyanyian di hati anda dan pujian di mulut anda

Mazmur 33:1-9
33:1 Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.
33:2 Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
33:3 Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!
33:4 Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
33:5 Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.
33:6 Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.
33:7 Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan, Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah.
33:8 Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!
33:9 Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

FaGuS
December 12th, 2007, 04:30
Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan
1 Tesalonika 4:13


Bacaan: 1 Tesalonika 4:13-18
Setahun: Hosea 9-11; Wahyu 3

Pada 14 November 1970, jatuhnya pesawat terbang telah merenggut nyawa sebagian besar anggota tim sepak bola Marshall University, staf pelatih, dan banyak pemimpin masyarakat di Huntington, Virginia Barat. Tujuh puluh lima orang tewas dalam kecelakaan itu, sehingga universitas dan masyarakat sangat terguncang. Dua dari orang-orang yang kehilangan orang terkasih ialah Paul Griffen dan Annie Cantrell. Kisah mereka berkaitan sebab putra Griffen, Chris, adalah tunangan Annie. Ketika Chris tewas, mereka tenggelam dalam tahun penuh derita yang rasanya tak tertanggungkan lagi. Mengapa? Sebab, seperti kata Paul kepada Annie di film yang menggambarkan tragedi ini, “Kesedihan itu memorak-porandakan.”

Ia benar, kesedihan memang memorak-porandakan. Kita semua, pada waktu tertentu, merasakan kesedihan—termasuk kita yang menjadi pengikut Kristus. Meskipun demikian, bagi orang percaya ada suatu hal yang lebih dari air mata, rasa sakit, dan kehilangan. Yaitu pengharapan.

Dengan menulis kepada jemaat yang telah melihat orang-orang terkasih mereka direnggut kematian, Paulus mengakui realitas kesedihan. Tetapi, ia menantang mereka untuk tidak “berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Kehilangan dan kematian adalah bagian dari hidup, tetapi orang-orang percaya dapat menghadapinya, karena mengetahui bahwa orang-orang kristiani tidak pernah mengatakan selamat tinggal untuk terakhir kali. Kita dapat saling menghibur (ayat 18) dengan harapan akan kebangkitan dan pertemuan kembali di masa mendatang —WEC



kematian bukan lagi tragedi
melainkan kemenangan karena Kristus hidup

1 Tesalonika 4:13-18
4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.
4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.
4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

FaGuS
December 13th, 2007, 01:21
Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?
Lukas 6:33

Bacaan: Lukas 6:27-36
Setahun: Hosea 12-14; Wahyu 4

Ketika Anda di drive-thru makanan siap saji, apakah Anda mau membayar pesanan orang-orang di mobil belakang Anda—meskipun Anda tidak mengenal mereka?

Inilah tantangan yang diberikan sebuah stasiun radio kristiani setempat untuk mengubah komunitas mereka. Namanya “Perbedaan Drive-Thru”. Tujuannya adalah melakukan kebaikan seperti yang dilakukan Kristus kepada orang-orang yang tak menyangkanya dan meninggalkan catatan yang menyatakan bahwa Anda melakukannya karena kasih Anda kepada Kristus.

Mengapa melakukan hal ini? Mengapa membuang-buang uang untuk makanan orang lain—terutama orang yang tidak kita kenal dan yang mungkin memusuhi iman kita? Mengapa kita memberi, tanpa berharap memperoleh balasan? Rasanya hal ini bertentangan dengan budaya kita, tetapi ide ini memiliki dasar alkitabiah yang kuat.

Perhatikan ucapan Yesus ketika berbicara kepada orang banyak: “Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?” (Lukas 6:32,33). Jelaslah bahwa Yesus ingin agar kita berbuat baik kepada orang-orang yang tak dapat membalas kebaikan kita.

Entah kita membayari makanan seseorang di restoran siap saji atau memasukkan uang kecil ke dalam kotak amal, yang penting ialah bahwa pemberian kita tidak untuk kepentingan diri sendiri—entah kita mendapat nama baik atau tidak. Dalam nama Yesus, siapakah yang dapat Anda berkati hari ini? —JDB


MOTIVASI PemberiAN AKAN mengungkapkan sifat si pemberi lebih dari pemberian itu sendiri

Lukas 6:27-36
6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

FaGuS
December 14th, 2007, 05:12
Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”
Lukas 1:38

Bacaan: Lukas 1:24-38
Setahun: Yoel 1-3; Wahyu 5

Tampaknya sebagian besar pergumulan kita berkisar pada hasrat untuk mengingini sesuatu yang tidak kita miliki atau keluhan karena memiliki sesuatu yang tidak kita ingini. Keinginan kita yang terdalam dan tantangan kita yang terbesar berakar sangat dalam pada usaha untuk melihat tangan Allah dalam dua fakta kehidupan ini. Di sinilah kisah Lukas tentang kelahiran Yesus dimulai.

Elisabet yang sudah lanjut usia mendambakan seorang bayi. Meskipun demikian, bagi Maria yang muda dan sudah bertunangan, kehamilan dapat menjadi aib. Akan tetapi, ketika keduanya mengetahui bahwa mereka akan mempunyai anak, mereka menerima berita itu dengan iman kepada Allah yang ketepatan waktu-Nya sempurna dan yang tidak mengenal kemustahilan (Lukas 1:24,25,37,38).

Pada waktu kita membaca kisah Natal, kita barangkali dikejutkan oleh konteks kehidupan nyata dari orang-orang yang nama-namanya sudah begitu kita kenal. Bahkan, ketika Zakharia dan Elisabet dikenai stigma oleh masyarakat bahwa mereka tidak dapat memiliki anak, kedua orang ini digambarkan sebagai orang-orang yang “benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (ayat 6). Dan, malaikat berkata kepada Maria bahwa ia beroleh anugerah di hadapan Allah (ayat 30).

Teladan mereka telah menunjukkan kepada kita nilai dari hati yang percaya, yang menerima jalan-jalan Allah, dan kehadiran tangan-Nya yang berkuasa, bagaimanapun kacaunya keadaan kita —DCM



Bagi orang-orang KristIAnI ujian tidak dapat dipisahkan dari iman


Lukas 1:24-38
1:24 Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya:
1:25 "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."
1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

FaGuS
December 15th, 2007, 04:41
Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa
Mazmur 5:3


Bacaan: Pengkhotbah 4:9-12
Setahun: Amos 1-3; Wahyu 6

Pada tahun 2006, ketika mempromosikan film Rocky Balboa, Sylvester Stallone mengejutkan orang-orang kristiani dengan apa yang diungkapkannya. Ia mengatakan bahwa imannya kepada Yesus Kristus tidak hanya memengaruhi penulisan film Rocky-nya yang pertama, tetapi bahwa keputusannya untuk menciptakan film yang terakhir diilhami oleh masuknya ia kembali ke dalam kekristenan. Sebagai bagian dari perubahan itu, Stallone menyadari bahwa dulu pilihan buruk telah menuntun hidupnya—yaitu percaya pada kemampuan diri sendiri. Ia berkata, “Kita memerlukan keahlian dan bimbingan orang lain.” Stallone belajar suatu hal yang mulai diakui oleh banyak orang—kita semua membutuhkan Allah dan orang-orang lain.

Alkitab menegaskan bahwa kita membutuhkan Allah dan orang lain. Daud telah mengungkapkan kepercayaannya kepada Allah dengan berseru dan memohon kepada-Nya di dalam doa. “Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa” (Mazmur 5:3). Dan di dalam kitab Pengkhotbah kita membaca bahwa Salomo menganjurkan supaya kita tidak menggantungkan hidup kita sepenuhnya kepada orang lain. Sebenarnya, ia mengatakan bahwa sikap saling menolong dapat menguatkan kita, tetapi individualisme dan percaya pada kemampuan diri sendiri itu berbahaya serta melemahkan. Berdua lebih baik daripada seorang diri (4:9-12).

Allah menciptakan kita untuk hadir satu sama lain. Marilah dengan penuh gairah kita bergantung kepada kuasa-Nya dan menerima bantuan orang-orang lain —MLW



Kita dapat berjalan lebih jauh bersama-sama daripada jika pergi sendirian


Pengkhotbah 4:9-12
4:9 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.
4:10 Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!
4:11 Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas?
4:12 Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

FaGuS
December 16th, 2007, 05:41
Those who work hard will prosper.
Proverbs 13:4 NLT



Daily Bible Reading:
Jonah 2, Luke 11:29-36

Good leaders constantly observe the actions and attitudes of those around them. They're looking for someone they can trust; someone who sees the big picture yet doesn't miss the details. And when they find them they reward them! Don't wait for tomorrow, empty your best into today and watch what happens. Rebekah did and she inherited the wealth of Abraham, became the bride of Isaac and the mother of a nation. What a payoff! When Abraham's assistant was sent to find a bride for Isaac, he asked God for a sign to confirm his choice. He said that the woman who would voluntarily offer him and his camels a drink of water would be the one. Do you have any idea how much water one thirsty camel can drink? Abraham's assistant was looking for someone who wanted to serve rather than be served: in a 'me first' world that's hard to find!

Notice Rebekah's qualifications. She was motivated and time conscious: "She… ran to the well." She was thorough: "[She] drew water for all his camels" (Genesis 24:20). That one act of kindness altered the rest of her life. She'd been to that well many times before and nothing unusual happened, but that day she found favour and her life changed for good. What if she'd missed her opportunity, or said, "That's not my responsibility?"



Whether you realise it or not your actions and attitudes are determining your future. So perform with excellence for someone is watching; someone God may use to help you get to the next level. Live by the Rebekah principle - always do more than is required of you, and do it gladly!

FaGuS
December 16th, 2007, 23:07
See to it that… no bitter root grows up to cause trouble and defile many.
Hebrews 12:15 NIV


Daily Bible Reading:
Nehemiah 5-7, John 18:1-11, Psalm 105:37-45, Proverbs 30:20-23


You say you've gotten over your hurt and resentment and now you're moving on. Good, but what are you leaving behind? The views you expressed were based on what you understood and how you felt at the time. But now you know more. You have matured Spiritually and your words are governed by grace. But did what you say shape the opinion and infect the attitude of others? Have you left a legacy of bitterness? It's wonderful when you can move from resenting others to forgiving them - but what about the unhealed wounds you've left behind?

James writes, "My dear brothers and sisters… be quick to listen, slow to speak and slow to get angry. Human anger does not produce the righteousness God desires" (James 1:19-20 NLT). The writer to the Hebrews says: "See to it that no one misses the grace of God and that no bitter root grows up to cause trouble and defile many." Thoughtless words leave lasting damage. That should concern us greatly! And it should call for making amends by setting the record straight with those we've left festering over a situation we now feel differently about. This is hard to do but we need to do it. It takes humility to go back and straighten things out, but until we do we won't be right with God.

Jesus said, "If you are offering your gift at the altar and there remember that your brother has something against you… go and be reconciled… then come and offer your gift" (Matthew 5:23-24 NIV).

FaGuS
December 18th, 2007, 18:33
TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku
Mazmur 139:1


Bacaan: Mazmur 139:1-12
Setahun: Obaja; Wahyu 9

Mary menerima kodok keramik dari rekan sekerjanya sebagai hadiah ulang tahun. Ia memajangnya di meja sehingga dapat dilihat semua orang. Sebagian teman kantornya mulai berpikir, ia pasti suka kodok, jadi mereka mulai memberinya barang-barang berupa kodok untuk Natal, ulang tahun, dan perayaan-perayaan khusus. Ruang Mary segera dipenuhi “barang-barang kodok”—pena, lilin, post-it [memo tempel], poster, cangkir kopi.

Setelah Mary meninggalkan perusahaan, seorang teman bertanya kepadanya, apa yang dilakukannya dengan kodok-kodok itu. Ia menjawab, “Sebenarnya saya tidak suka kodok, jadi semuanya saya berikan kepada orang lain.”

Orang-orang lain bermaksud baik terhadap kita, namun mereka tidak selalu mengenal kita dengan baik. Mereka tidak akan pernah mengenal kita seperti Allah mengenal kita. Bagi Dia, kita adalah buku yang terbuka—tak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Mazmur 139 mengatakan:

* Allah mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan (ayat 2). Dia tahu segala kegiatan kita sehari-hari dan detail jadwal kita.
* Allah mengetahui segala sesuatu yang kita pikirkan (ayat 2)—yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang tidak senonoh.
* Allah mengetahui ke mana kita pergi—”Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan … segala jalanku Kaumaklumi” (ayat 3).
* Allah mengetahui apa saja yang kita katakan (ayat 4).

Dia mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Alangkah nyamannya dikenal begitu dekat oleh Tuhan kita—bahkan dengan segala kekurangan kita—dan meskipun demikian kita dikasihi dengan begitu sempurna! —AMC



Anda bukan SEKADAR angka yang dapat dilacak komputer;
Kristus mengetahui kebutuhan, nama, dan wajah anda


Mazmur 139:1-12
139:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
139:2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
139:3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
139:4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
139:5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
139:6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.
139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
139:11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

FaGuS
December 18th, 2007, 23:38
Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
Lukas 2:34


Bacaan: Lukas 2:25-35
Setahun: Yunus 1-4; Wahyu 10

Sebuah kutipan dalam pedoman kebaktian Adven gereja kami membuat saya berpikir ulang tentang pendekatan saya terhadap Natal:

“Marilah kita dengan sekuat tenaga menghindari godaan untuk menjadikan ibadah Natal kita sebagai sarana menarik diri dari tekanan dan dukacita kehidupan guna memasuki keindahan yang barangkali berbeda dengan pikiran kita. Kristus datang ke dunia nyata, ke kota di mana tak ada tempat bagi-Nya, dan ke negeri di mana Herodes, pembunuh orang-orang tak berdosa, menjadi raja.

“Dia datang kepada kita, bukan untuk melindungi kita dari kekejaman dunia, melainkan untuk memberikan kepada kita keberanian dan kekuatan untuk menanggungnya. Bukan untuk, dengan ajaib, merenggut kita dari konflik kehidupan sehari-hari, melainkan untuk memberi kita rasa damai—damai-Nya—di dalam hati kita. Dengan demikian, kita dapat tetap tenang dan tabah pada saat konflik sedang merajalela, dan kita dapat membawa kesembuhan, yaitu kedamaian, bagi dunia yang tercabik.”

Ketika Maria dan Yusuf menyerahkan bayi Yesus kepada Tuhan, Simeon berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Lukas 2:34,35).

Natal bukan dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari kenyataan hidup, melainkan untuk masuk ke dalamnya bersama Sang Raja Damai —DCM



Yesus datang untuk memberi cahaya bagi dunia yang gelap


Lukas 2:25-35
2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

FaGuS
December 19th, 2007, 23:58
Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat
1 Petrus 3:17


Bacaan: 1 Petrus 3:8-17
Setahun: Mikha 1-3; Wahyu 11

Yusuf (bukan nama sebenarnya) adalah contoh perwira militer yang terpercaya. Ia naik pangkat di angkatan bersenjata negaranya sampai ke tingkat kolonel dalam tugas khusus. Dengan pangkat ini datanglah kesempatan, yang baik maupun buruk.

Ketika Yusuf ditempatkan di sebuah wilayah yang diguncangkan oleh perdagangan narkoba, ia berniat menegakkan keadilan di wilayah yang bermasalah ini. Ia dan pasukannya mulai menangkap para penjahat untuk melindungi masyarakat. Beberapa atasannya yang korup dan mendapat suap dari para bandar narkoba, memerintahkannya untuk menutup mata agar mereka dapat mengedarkan obat-obat terlarang itu. Berulang kali ia menolak melakukannya sampai akhirnya ia ditahan dan di penjara selama 8 tahun—karena melakukan kebaikan.

Sayangnya, kita hidup di dunia di mana kadang kala berbuat baik justru mengakibatkan penderitaan. Hal ini nyata bagi Yusuf; upah atas jasanya melayani rakyat adalah dipenjarakan dengan tidak adil.

Rasul Petrus, yang juga dipenjara karena melakukan kebaikan, memahami sakit hati seperti itu. Ia memberi kita cara pandang ini: “Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat” (1 Petrus 3:17).

Ketika Yusuf menceritakan apa yang diajarkan Allah kepadanya di penjara, saya tahu keadilan Allah tidak dapat dihalangi oleh kejahatan manusia. Berbuat baik tetap menyenangkan dalam pandangan-Nya—bahkan ketika kita diperlakukan semena-mena oleh dunia karena melakukan kebaikan —WEC



Sukacita karena berbuat baik mungkin satu-satunya upah
yang kita terima—tetapi itu patut dilakukan!



1 Petrus 3:8-17
3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:
3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."
3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?
3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.
3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
3:16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.
3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

FaGuS
December 20th, 2007, 23:07
Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun
Yesaya 64:1


Bacaan: Yesaya 42:1-9
Setahun: Mikha 4-5; Wahyu 12

“Koyakkanlah langit!” dan, “turunlah!” kata Nabi Yesaya memohon. Buatlah nama-Mu dikenal dengan membuat gunung-gunung bergoyang dan bangsa-bangsa gemetar, ia memberi saran kepada Tuhan (Yesaya 64:1-3).

Yesaya menginginkan agar Allah bertindak sama seperti yang telah dilakukan-Nya pada masa lalu. Dengan mengingat kisah Kitab Suci tentang pertemuan Allah dan Musa di Gunung Sinai, Yesaya mendambakan agar Tuhan mengulangi perbuatan itu.

Akan tetapi, Allah sudah mengatakan kepada Yesaya bahwa Dia akan melakukan sesuatu yang baru. “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu” (42:9).

“Hal-hal yang baru” itu adalah Yesus! Allah benar-benar telah turun. Tetapi bukan pada masa kehidupan Yesaya. Dan tidak dengan cara dramatis seperti yang didambakan oleh Yesaya. “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan” (42:2). Dia datang ke dunia dalam wujud sederhana seorang bayi.

Banyak di antara kita yang dapat mengingat situasi ketika Allah secara mengherankan menjawab keperluan kita pada waktu yang tepat. Seperti Yesaya, kita ingin agar Allah melakukan hal yang sama lagi. Tetapi mungkin Dia berencana melakukan hal lain. Ketika Anda merayakan turunnya Allah dengan penuh kesederhanaan ke dalam dunia, sadarilah bahwa Dia datang untuk mengubah hati kita, dan bukan sekadar keadaan kita —JAL


Jawaban Tuhan atas doa kita
dapat melampaui harapan kita

Yesaya 42:1-9
42:1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
42:5 Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya:
42:6 "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
42:7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
42:8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
42:9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.

FaGuS
December 21st, 2007, 23:30
Apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?
Mikha 6:8


Bacaan: Mikha 6:1-8
Setahun: Mikha 6-7; Wahyu 13

Baru-baru ini, ketika keluar untuk menikmati masakan Cina dengan teman-teman, saya memerhatikan seorang pria berjalan-jalan bersama anjingnya melewati restoran. Biasanya saya hanya melihat sekilas. Namun, pemilik anjing itu mengambil tali anjing, membentuknya seperti angka delapan, dan meletakkannya kuat-kuat di moncong anjing itu.

Teman-teman saya menjelaskan bahwa di kota mereka, membawa anjing berjalan-jalan tanpa tali merupakan pelanggaran terhadap hukum. Pemilik anjing yang pintar itu menemukan celah di dalam peraturan itu—undang-undang tersebut tidak menyebutkan bahwa orang harus memegang talinya! Yang mengherankan bukanlah celah dalam peraturan itu, tetapi anjing yang berjalan dengan patuh di samping tuannya. Padahal ia dapat melarikan diri untuk mengejar seekor tupai di dekatnya.

Perjalanan kita bersama Allah seharusnya seperti itu. Walaupun Allah, dalam belas kasih-Nya, memberi kita kendali yang panjang dan jarang memberi kita pecutan rohani dengan menarik kendali itu keras-keras, Dia tidak senang jika harus berjuang agar kita tetap berada di jalan yang benar. Sebaliknya, Dia senang apabila kita berjalan bersama-Nya dengan hati berserah.

Ketika bangsa Israel merajuk kepada Nabi Mikha tentang bagaimana sulitnya, menurut mereka, untuk menyenangkan Allah, Allah menjawab dengan memberikan cara yang langsung dan sederhana untuk menyenangkan hati-Nya. Berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya, itu akan menyenangkan hati Allah (Mikha 6:8). Anda tahu bahwa Dia merasa senang bila Dia tidak perlu memegang kendali Anda lagi —JMS



Temukanlah kebebasan sejati
Saat melangkah dengan taat bersama allah


Mikha 6:1-8
6:1 Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!
6:2 Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
6:3 "Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!
6:4 Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu.
6:5 Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN."
6:6 "Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?
6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?"
6:8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

FaGuS
December 23rd, 2007, 01:08
Warisan yang tidak dapat binasa … yang tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah
1 Petrus 1:4,5

Bacaan: 1 Petrus 1:3-12
Setahun: Nahum 1-3; Wahyu 14

Seorang teman saya menghabiskan waktu beberapa bulan untuk membangun kembali sebuah Ford Bronco tua dan mengubahnya menjadi kendaraan untuk jalanan pedesaan yang dipakai di sini, di Idaho. Ia menyimpan mobil itu di garasi yang terkunci rapat. Ketika Natal tiba, Gary berpikir, Ini tempat terbaik untuk menyembunyikan hadiah bagi putri saya, Katie.

Beberapa hari sebelum Natal, seseorang bertanya kepada Katie apa yang akan diterimanya sebagai hadiah Natal. “Oh,” jawabnya, “Saya sudah punya. Sebuah sepeda dalam kotak di bawah Bronco di garasi!”

Saya tidak tahu bagaimana cara Katie menemukan hadiah itu. Namun, saya mengagumi kepercayaannya yang teguh bahwa sepeda itu untuknya, meskipun ia belum menerimanya.

Kepercayaan tersebut mengingatkan saya pada kata-kata yang telah ditulis oleh Rasul Petrus: “[Allah] telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir” (1 Petrus 1:3-5).

Apa yang tersimpan bagi kita? Pusaka kita—surga, dan warisan yang tak terlukiskan berdasarkan keyakinan akan hidup kekal “yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta” (Titus 1:2) —DHR



Masa depan seorang kristiani
secerah janji-janji allah


1 Petrus 1:3-12
1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,
1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
1:10 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu.
1:11 Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.
1:12 Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

FaGuS
December 23rd, 2007, 23:33
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri
Amsal 3:5

Bacaan: Matius 1:18-25
Setahun: Habakuk 1-3; Wahyu 15

Di tengah-tengah semua kegiatan Natal , ada satu orang yang kerap kali dilupakan.

Bukan, yang saya maksudkan bukanlah orang yang kita rayakan ulang tahunnya. Meskipun kita sering kurang memberi Yesus tempat utama yang patut diterima-Nya, kita biasanya tidak melupakan-Nya. Yang saya maksudkan adalah Yusuf—orang yang begitu dipercaya Allah sehingga Dia menempatkan Putra-Nya di keluarganya untuk dikasihi dan diasuh. Sungguh besar tanggung jawab itu!

Yusuf benar-benar orang yang dilupakan dalam kisah Natal. Namun, tugasnya merupakan unsur penting dalam rencana Allah yang luar biasa. Ketika kita membaca kisah kelahiran Yesus, kita mengetahui bahwa Yusuf adalah orang yang lurus, adil, berbelas kasihan, melindungi, dan berani. Namun, lebih dari semua itu—ia taat. Ketika malaikat mengatakan kepadanya untuk memperistri Maria, ia menaatinya (Matius 1:24). Dan ketika malaikat mengatakan padanya untuk melarikan diri ke Mesir dengan Maria dan Yesus, ia melakukannya (2:13,14).

Sebagaimana Maria dipilih dengan teliti untuk mengandung Putra Allah, Yusuf pun dengan sengaja dipilih untuk mencukupi kebutuhan istrinya yang masih muda dan bayi Kristus. Dan dengan memercayai Allah, Yusuf mengikuti apa saja yang Allah minta agar ia lakukan.

Apa yang Allah minta dari Anda hari ini? Apakah Anda mau berjanji untuk melakukan apa yang Dia ingin Anda lakukan?

Kita dapat banyak belajar tentang ketaatan dari Yusuf, orang yang dilupakan pada hari Natal —CHK


Bukti kasih kita pada Allah adalah
ketaatan kita pada perintah-perintah Allah

Matius 1:18-25
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

FaGuS
December 25th, 2007, 00:28
Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku
Lukas 1:49


Bacaan: Lukas 1:46-55
Setahun: Zefanya 1-3; Wahyu 16

Saya membaca tentang pasangan muda yang bisnisnya gagal, dan mereka hampir tidak punya uang untuk dibelanjakan saat Natal. Mereka terpaksa harus pindah rumah setelah Tahun Baru. Akan tetapi, mereka tidak ingin musim liburan ini rusak karenanya. Maka, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta. Ketika para tamu datang, mereka melihat sebuah pohon cedar yang dihiasi serangkaian lampu dan kertas-kertas kecil yang digulung dan diikat pada cabang-cabang pohon dengan pita.

“Selamat datang di ‘pohon berkat’ kami!” kata mereka dengan wajah berseri-seri. “Meskipun kami mengalami masa-masa sulit, Allah telah memberkati kami dengan begitu banyak hal sehingga kami memutuskan untuk mempersembahkan pohon kami kepada-Nya. Setiap kertas melukiskan berkat yang Dia berikan kepada kami tahun ini.”

Pasangan ini menghadapi lebih banyak tantangan setelah itu, tetapi mereka memilih untuk tetap berpusat kepada Tuhan. Mereka kerap mengatakan bahwa Natal dengan “pohon berkat” ini merupakan salah satu Natal terindah bagi mereka, sebab mereka dapat bersaksi seperti yang dilakukan Maria: “Hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku …. Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Lukas 1:47-49).

Apa pun kesulitan Anda, hal itu tidak perlu merusak Natal, sebab tidak ada sesuatu pun yang dapat merusak Kristus! Tetaplah memusatkan perhatian kepada Yesus dan carilah cara untuk membagikan berkat-berkat-Nya dengan orang lain—mungkin melalui “pohon berkat” Anda sendiri —JEY


Untuk memberi makna pada Natal
berilah tempat utama bagi Kristus

Lukas 1:46-55
1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."

FaGuS
December 26th, 2007, 04:48
Aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu
1 Korintus 15:1

Bacaan: 1 Korintus 15:1-8
Setahun: Hagai 1-2; Wahyu 17

Apakah Anda pernah memerhatikan betapa cepatnya barang-barang menjadi tua atau ketinggalan zaman?

Saya memikirkan hal ini saat sedang mengajar di kelas sebuah sekolah lanjutan kristiani. Mereka mengikuti perkembangan terkini dengan menyediakan sebuah komputer jinjing bagi setiap siswa. Rasanya belum terlalu lama ketika menyediakan komputer bagi siswa di perpustakaan sekolah lanjutan dianggap sebagai sesuatu yang inovatif. Kemudian menyediakan komputer di asrama sekarang menjadi mode terkini. Namun, suatu hari nanti komputer jinjing pribadi pun tidak akan terpakai lagi.

Segala sesuatu yang diciptakan manusia pada akhirnya akan ketinggalan zaman. Semua, kecuali Injil. Injil sudah berusia lebih dari 2.000 tahun. Dan meskipun ada begitu banyak terjemahan Alkitab yang terus-menerus diperbarui, Injil tetap relevan hari ini seperti pada saat ia ditulis.

Inilah Injil itu: Yesus Kristus datang ke dunia, menjalani kehidupan dengan sempurna, menyerahkan hidup-Nya dengan dikurbankan di atas kayu salib, dikuburkan di sebuah makam pinjaman, dan bangkit dari kematian tiga hari kemudian (1 Korintus 15:1-4). Karena Dia telah mengambil alih hukuman atas dosa-dosa kita, Dia dapat mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita anak-anak Allah apabila kita beriman dan percaya kepada-Nya (Kisah Para Rasul 12:38,39).

Kiranya kisah terbesar yang pernah diceritakan ini membuat Anda menjadi manusia baru—untuk selamanya. Inilah kisah yang tidak akan pernah menjadi kuno —JDB


Injil tak akan pernah menjadi kuno

1 Korintus 15:1-8
15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

FaGuS
December 27th, 2007, 00:59
Batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya
Yosua 4:7

Bacaan: Yosua 4:1-9
Setahun: Zakharia 1-4; Wahyu 18

Dalam buku The Shelter of Each Other, Mary Pipher memberi nasihat tentang membangun kembali keluarga-keluarga yang bermasalah. Ia menyelidiki bagaimana anak-anak zaman sekarang terkadang terlalu sering menonton televisi dan bermain video game, sehingga mengabaikan pendidikan informal yang diterima dari kerabat mereka.

Ia mencontohkan pertemuan keluarga di mana anak-anak menonton video di ruang belakang sehingga para orang dewasa dapat berbicara tanpa diganggu. Dr. Pipher berpendapat bahwa hiburan semacam ini sesungguhnya merampas sesuatu yang berharga dari anak-anak. Anak-anak perlu bergaul dengan generasi yang lebih tua sehingga mereka dapat mendengar cerita-cerita tentang bibi, paman, kakek-nenek, dan orangtua. Ini membantu mereka belajar dari orang-orang yang telah mendahului mereka.

Perjanjian Lama sangat memandang penting pengajaran tentang warisan rohani kepada anak-anak mereka. Setelah Allah membelah Sungai Yordan, Yosua diperintahkan untuk mengambil dua belas batu dari sungai untuk membuat tanda peringatan bagi generasi-generasi mendatang. “Jika anak-anakmu bertanya … ‘Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?’ maka haruslah kamu katakan kepada mereka bahwa air Sungai Yordan itu terputus …. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya” (Yosua 4:6-7).

Kita perlu melakukan interaksi antargenerasi. Ingatlah, acap kali kisah-kisah Alkitab merupakan kisah-kisah keluarga. Anak-anak kita memerlukannya dan memerlukan kita —HDF



Nenek moyang yang saleh adalah
PARA guru yang baik

Yosua 4:1-9
4:1 Setelah seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian:
4:2 "Pilihlah dari bangsa itu dua belas orang, seorang dari tiap-tiap suku,
4:3 dan perintahkanlah kepada mereka, demikian: Angkatlah dua belas batu dari sini, dari tengah-tengah sungai Yordan ini, dari tempat berjejak kaki para imam itu, bawalah semuanya itu ke seberang dan letakkanlah di tempat kamu akan bermalam nanti malam."
4:4 Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku,
4:5 dan Yosua berkata kepada mereka: "Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel,
4:6 supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?
4:7 maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya."
4:8 Maka orang Israel itu melakukan seperti yang diperintahkan Yosua. Mereka mengangkat dua belas batu dari tengah-tengah sungai Yordan, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Yosua, menurut jumlah suku Israel. Semuanya itu dibawa merekalah ke seberang, ke tempat bermalam, dan diletakkan di situ.
4:9 Pula Yosua menegakkan dua belas batu di tengah-tengah sungai Yordan itu, di tempat bekas berjejak kaki para imam pengangkat tabut perjanjian itu. Batu-batu itu masih ada di sana sampai sekarang.

FaGuS
December 28th, 2007, 04:30
Karena siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya
Matius16:25

Bacaan: Matius 16:21-28
Setahun: Zakharia 5-8; Wahyu 19

Michigan Barat diserang musim-musim dingin yang bersalju, sehingga permukaan jalan harus ditaburi garam agar lebih aman untuk dilalui. Masalahnya, garam membuat keropos badan logam mobil. Jadi, pergi ke tempat pencucian mobil adalah ritual yang sering dilakukan pada musim dingin.

Belum lama ini saya duduk di sebuah fasilitas cuci mobil. Mesin-mesin mulai menyemburkan cairan khusus ke seluruh mobil sebagai proses akhir pencucian. Ada tulisan yang mengatakan bahwa cairan tersebut merupakan “unsur pengering”, tetapi saya merasa bahwa hal itu aneh. Membasahi sesuatu untuk mengeringkannya tampaknya bertentangan dengan apa yang Anda harapkan. Namun, zat-zat kimia tersebut dirancang untuk melakukan hal itu. Ini merupakan pemikiran yang bertentangan dengan intuisi—sebuah paradoks.

Yesus juga menawarkan pemikiran yang bertentangan dengan intuisi ketika Dia memperkenalkan pesan kerajaan-Nya kepada para pengikut-Nya. Dalam Matius 16:25, Dia berkata, “Karena siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Hal ini terdengar aneh. Untuk menyelamatkan hidup Anda, Anda harus kehilangan nyawa? Ini seperti mengatakan, “Untuk mengeringkan sesuatu, Anda harus membasahinya!” Namun demikian, hal ini mutlak benar. Saat kita mati bagi diri sendiri, dan memercayakan kepemilikan hidup kita kepada Kristus, kita baru bisa belajar apa artinya hidup dengan sebenarnya.

“Mati untuk hidup” tampaknya bertentangan dengan intuisi, tetapi ini adalah inti pengalaman kristiani —WEC



Untuk hidup bagi Kristus
kita harus belajar untuk mati bagi diri sendiri


Matius 16:21-28
16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."

FaGuS
December 29th, 2007, 04:32
Tuhan Allah berfirman, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”
Kejadian 2:18

Bacaan: Kejadian 2:15-25
Setahun: Zakharia 9-12; Wahyu 20

Di sebuah sistem penjara di Amerika Serikat, 25.000 orang tahanan yang paling berbahaya dikurung tersendiri di dalam sel-sel beton yang kecil. Bisa dikatakan orang-orang itu tidak memiliki hubungan dengan dunia luar. Seorang tahanan di Penjara Negara Oregon mengatakan bahwa bagian yang paling sulit dari isolasi seperti itu adalah “tidak dapat melihat seseorang muka dengan muka … untuk berkomunikasi, untuk menyentuh, untuk memeluk, untuk merasa dikasihi, untuk merasa sebagai manusia”. Kata-kata orang ini seakan-akan berteriak, “Saya merasa kesepian! Seharusnya tidak begini keadaannya.”

Penulis kitab Kejadian tentu akan menyetujui hal tersebut. Setelah Allah menciptakan manusia, Dia mengakui bahwa Adam kesepian, dan berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Pada intinya, Allah berkata bahwa manusia membutuhkan orang lain sehingga ia dapat menjadi manusia yang utuh. Meskipun lingkungan yang paling dekat dengan kita ialah pertemanan, dalam konteks yang lebih luas Allah mengatakan kepada kita bahwa menjadi seorang manusia yang utuh berarti menikmati hubungan dengan orang-orang lainnya.

Apa pun penyebab kesepian—dosa, kehilangan, rasa malu, sakit, depresi—Allah berkata bahwa hal ini “tidak baik”. Dia menciptakan kita untuk berhubungan erat dengan orang lain (Pengkhotbah 4:9-12) dan dengan-Nya (Wahyu 21:3). Ulurkanlah tangan dan kembangkanlah persahabatan yang diperlukan itu—demi Anda sendiri dan demi mereka —MLW


Persahabatan dapat membantu menghalau kesepian

Kejadian 2:15-25
2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

FaGuS
January 2nd, 2008, 19:33
Daily Bible Reading:
Exodus 4-6, Matthew 1:18-25, Psalm 90:7-17



Before the colonialists imposed national boundaries on Southeast Asia, the kings of Laos and Vietnam had already reached an agreement about who was Laotian and who was Vietnamese. Those who ate short-grain rice, built their houses on stilts, and decorated their homes with Indian-style serpents were considered Laotians. Those who ate long-grain rice, built their houses on the ground, and decorated their homes with Chinese-style dragons were Vietnamese. The kings taxed the people accordingly hence they had no need for boundaries. It was simple; each person belonged to the kingdom whose values they shared and whose king they honoured!

Understand this: you can only live by the principles, practices and power of one of two kingdoms: the kingdom of darkness or the Kingdom of light. Which have you chosen? Each time the will of God is done in your life the Kingdom of God is demonstrated through you. When you adopt His values, live by His standards and obey His commandments, Christ's prayer is answered, "Your Kingdom come, Your will be done in earth… as it is in Heaven." You ask, "But how do citizens of His Kingdom act?" In the Beatitudes (which are what our attitudes should be) Jesus says
(1) they are humble;
(2) they are submitted to God's will;
(3) they hunger and thirst for more of God;
(4) they show mercy to others;
(5) they have a pure heart;
(6) they are peacemakers;
(7) they rejoice, even in hard times;
(8) they know their reward is waiting for them (Matthew 5:3-12).



What the world knows about the Kingdom of God - is what it sees displayed in our lives! And that's a big responsibility!

FaGuS
January 3rd, 2008, 05:02
Be strong and courageous.
Deuteronomy 31:6 NIV


Daily Bible Reading:
Philippians 3:8-14, 2 Corinthians 5:14-21, Psalm 77:11-20, Proverbs 9:10-12

Without courage you're not living, you're hiding! Courage is what moves you forward; it's the muscle that makes your faith work. Faith by itself can be nothing more than a set of beliefs. Courage is what activates those beliefs.

Every Promised Land has giant-sized problems, and you have to face them and defeat them before moving in and taking up residence. Notice three things in Deuteronomy Chapter 7 (NIV) that God said to Israel about taking the Promised Land:
(1) "Your God, who is among you, is a great and awesome God" (v.21). Your God is greater than any opposition you are facing.
(2) "Will drive out those nations before you (v22)." God will go ahead of you. He will do for you what you cannot do for yourself, but you've got to show up for the fight.
(3) "Little by little (v22)." Whether it's conquering your Promised Land or your character flaws, you can't do it all at once, so God works with you in one area after another. Life is not one big battle, then you march in the victory parade. No, it's a series of small daily victories required to defeat the enemies of your Spiritual growth.

Twenty-four chapters later God is still telling Israel to be courageous (Deuteronomy 31:6). That's because courage is like oxygen, you can't survive without it. Courage is not the absence of fear, it's the conquest of it. Courage means doing it afraid - until you're no longer afraid. It means - tremble your way to confidence! God promised to go with them, and go before them. Who does God walk with and work with? Who does He go ahead of and arrange things for? The courageous!

FaGuS
January 3rd, 2008, 23:20
Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya
Yakobus 5:16

Bacaan: Yakobus 5:13-18
Setahun: Kejadian 10-12

Anda mungkin mengenal tokoh-tokoh kristiani seperti Hudson Taylor, Martin Luther, Gordon Lindsay, atau Corrie ten Boom. Tahukah Anda mengapa tokoh-tokoh ini bisa dipakai Allah secara luar biasa? Salah satu kesamaan yang mereka miliki adalah kehidupan doa yang luar biasa.

Corrie ten Boom mengatakan, “Iblis tersenyum ketika Anda menyusun suatu rencana. Ia tertawa ketika Anda terlalu sibuk. Namun, Iblis gemetar saat Anda berdoa.” Gordon Lindsay berkata, “Waktu yang Anda manfaatkan untuk berhubungan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia.” Hudson Taylor mengatakan, “Jangan melakukan konser terlebih dulu, baru memeriksa alat musik Anda. Mulailah setiap hari bersama Allah.” Martin Luther berkata, “Begitu banyak yang harus saya kerjakan hari ini, maka saya menggunakan tiga jam pertama saya untuk berdoa.” Kita tidak bisa hidup tanpa doa. Tanpa doa, kehidupan rohani kita menjadi lemah, sehingga kita mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Iblis tidak akan takut jika setiap hari kita menghadiri rapat di gereja untuk menyusun strategi. Iblis tidak akan takut jika kita membuat program-program gereja yang sangat menarik. Iblis bahkan tertawa terbahak-bahak saat melihat kesibukan kita yang padat di gereja. Semua itu tidak akan membuat Iblis gentar. Namun, saat kita berdoa, Iblis akan gemetar dan lari dari hadapan kita.

Doa menembus batas ketidakmungkinan dan kemustahilan. Kemampuan kita sangat terbatas. Tanpa doa, kita tidak dapat berbuat banyak. Sebab itu, mari kita mulai kehidupan hari ini dengan doa! —PK


DOA DI PAGI HARI MENARIK BERKAT UNTUK SEPANJANG HARI

Yakobus 5:13-18
5:13 Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!
5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.
5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.
5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.
5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.

FaGuS
January 5th, 2008, 00:05
Sebab Engkau, ya TUHAN ... berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu
Mazmur 86:5


Bacaan: Mazmur 86:1-10
Setahun: Kejadian 13-15

Sore itu anak perempuan saya duduk termangu dengan tatapan kosong. Padahal, biasanya ia selalu ceria. “Besok pagi aku ada ujian praktikum kimia, Ma. Aku takut. Selama ini, aku selalu kesulitan menentukan volum larutan yang pas menetes dari pipa titrasi. Kalau besok hal itu terjadi lagi, aku akan gagal dalam ujian praktikum,” ungkapnya.

Saya bertanya kepadanya, “Menurut kamu, kalau kita berdoa, apakah Allah akan menolongmu?” Ia mengangguk. Maka, kami pun berdoa bersama. Pada sore keesokan harinya, ia pulang sekolah dengan wajah berseri. Ia menceritakan dengan semangat, “Tiga kali aku membuat tetesan yang pas, tak sekali pun aku harus mengulang! Tuhan baik, Ma. Dia telah menjawab doa kita,” katanya.

Daud memiliki kehidupan doa yang intens. Ia berdoa: “Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, jawablah aku” (ayat 1). “Aku berseru sepanjang hari” (ayat 3). “Perhatikanlah suara permohonanku” (ayat 6). Apa yang mendasari kehidupan doa Daud? Keyakinannya yang kokoh bahwa Tuhan sangat mengasihinya dan Dia menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya (ayat 2). Dia adalah Allah yang baik, suka mengampuni, dan berlimpah kasih setia kepada semua orang yang berseru kepada-Nya (ayat 5), Dia adalah Allah yang besar dan melakukan keajaiban-keajaiban (ayat 10).

Kerap kali Tuhan mengizinkan kesulitan dan tantangan datang dalam kehidupan orang percaya. Namun, Dia ingin kita mengalami sendiri pertolongan-Nya yang ajaib. Tak hanya kita tahu dari kata orang atau dari kisah Alkitab. Anda ingin mengalami-Nya? Dia hanya sejauh doa! —YS


DOA MENGUBAH KESULITAN HIDUP
MENJADI PERNYATAAN CINTA KASIH-NYA


Mazmur 86:1-10
86:1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.
86:2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
86:3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.
86:4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
86:6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.
86:7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.
86:8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.
86:9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.
86:10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.

FaGuS
January 5th, 2008, 23:13
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati …
Ibrani 10:25

Bacaan: Ibrani 10:19-25
Setahun: Kejadian 16-18

Di zaman serbacanggih ini, orang bisa beribadah tanpa harus pergi ke gereja. Ada “gereja BTV” atau “gereja online” di internet. Setiap Minggu, orang bisa beribadah di depan layar kaca. Bahkan, di Amerika ada gereja yang menawarkan ibadah drive-thru. Anda bisa beribadah tanpa turun dari mobil. Cukup buka kaca mobil Anda. Petugas akan memberikan CD berisi khotbah, lembar bacaan Alkitab, serta kotak berisi roti dan air anggur perjamuan. Anda bisa memberi kolekte atau minta didoakan, lalu melanjutkan perjalanan sambil mendengarkan CD khotbah. Setelah itu, makan roti dan minum anggur perjamuan.

Namun, apakah yang kurang di sini? “Pertemuan ibadah”! Penulis kitab Ibrani melarang kita untuk menjauhi pertemuan ibadah. Maksudnya, ibadah bersama di mana umat Tuhan saling bertemu. Bertatap muka. Hadir. Kehadiran itu penting, sebab kita tidak dirancang untuk hidup sendiri. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita perlu terus saling berhubungan. Sekeping puzzle tidak akan berarti jika berdiri sendiri. Namun, saat disatukan dengan kepingan-kepingan lain pada posisi yang tepat, maka akan terbentuk gambar yang indah. Itulah yang terjadi saat umat Tuhan beribadah. Ketika kita hadir, bukan hanya Tuhan dimuliakan. Kita pun dapat saling menguatkan dan menasihati.

Tahun lalu, pernahkah Anda menjauhkan diri dari pertemuan ibadah? Entah karena bosan dengan acara ibadahnya, atau karena di sana ada orang yang tidak Anda sukai. Di tahun baru ini, buatlah komitmen untuk kembali hadir di sana. Libatkan diri dalam ibadah bersama dan rasakan bedanya! —JTI


KEHADIRAN ANDA DALAM IBADAH
TAK TERGANTIKAN OLEH APA PUN DAN SIAPA PUN

Ibrani 10:19-25
10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

FaGuS
January 6th, 2008, 23:23
Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya, dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna
2 Tesalonika 3:11


Bacaan: 2 Tesalonika 3:7-13
Setahun: Kejadian 19-21

Binatang kerap diidentikkan dengan hal-hal yang buruk. Orang jahat, kejam, telengas kerap kali disebut, “Seperti binatang!” Makian dan umpatan banyak juga yang memakai nama-nama binatang. Ini sebetulnya pelecehan terhadap binatang. Pelanggaran HAB. Hak Asasi Binatang. Sebab kalau mau jujur, dalam banyak hal tidak jarang perilaku binatang malah lebih luhur daripada perilaku manusia.

Dalam hal kerajinan bekerja, misalnya. Semut adalah contoh yang sangat baik. Maka, tidak heran penulis Amsal pun berujar, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6). Bayangkan! Kita, manusia, diminta untuk belajar kepada semut!

Salah satu “penyakit” manusia adalah kemalasan. Ingin hidup “enak”, tetapi enggan bekerja. Lalu membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Bahkan kontraproduktif. Di jemaat Tesalonika, masalah kemalasan ini rupanya juga sudah sangat kronis. “Bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya, dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna,” begitu Rasul Paulus menegur mereka.

Bagaimana kita mengisi hari-hari kita? Selama 24 jam sehari kita hidup, tujuh hari seminggu, 52 minggu setahun, berapa banyak waktu yang kita pakai untuk hal-hal yang tidak berguna, hal-hal bodoh yang tidak membuahkan apa-apa? Jadi, sangatlah perlu kita selalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah yang saya lakukan ini ada gunanya? Bagi diri saya maupun bagi orang lain? Sekarang ataupun kelak?” —AYA



KEBODOHAN DAN KEMALASAN ADALAH DUA SISI
DARI SATU MATA UANG YANG SAMA


2 Tesalonika 3:7-13
3:7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu,
3:8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.
3:9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.
3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
3:11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.
3:12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.
3:13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.

FaGuS
January 7th, 2008, 23:20
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat
Efesus 5:15,16

Bacaan: Efesus 5:1-20
Setahun: Kejadian 22-24

Pemilik Genting Resort di Malaysia, mengawali usahanya sebagai pedagang eceran atau kaki lima. Berkat kerja keras dan kejeliannya melihat peluang, serta kepandaiannya memanfaatkan peluang itu dengan tepat, maka usahanya berkembang pesat hingga ke mancanegara. Orang-orang menyanjungnya dengan sebutan si tangan dingin, the man with golden arms, orang berhoki tebal. Orang mengatakan bahwa tembaga yang digenggamnya akan berubah menjadi emas. Namun, atas segala pujian itu ia menjawab singkat, “Sekalipun kita dilempari batangan emas dari langit, kalau kita tidak memungutnya, maka emas itu tidak akan kita miliki.”

Ada tiga tipe orang berkenaan dengan peluang atau kesempatan dalam hidup ini. Pertama, orang yang tidak menyadari bahwa ada peluang baginya. Kedua, orang yang mengetahui adanya peluang, tetapi tidak mampu memanfaatkannya; mungkin karena ia takut mengambil risiko atau malas baik secara fisik maupun intelektual. Ketiga, orang yang bukan saja jeli melihat peluang yang baik, melainkan juga berani mengambil risiko untuk memanfaatkan serta mengembangkannya. Bahkan, orang tipe ini mampu menciptakan peluang, atau dari menggarap satu peluang, ia menciptakan peluang-peluang baru, baik bagi dirinya atau orang lain.

Bagaimana dengan kita? Sesungguhnya, Tuhan selalu menyediakan peluang untuk kita meningkatkan kehidupan, asal kita mau berusaha mengerti kehendak-Nya dan berupaya menjadi seperti yang Dia kehendaki. Untuk itu, seperti Rasul Paulus katakan, marilah kita hidup bijak dan saksama. Jangan hidup seperti orang bebal —NDA


PELUANG YANG BAIK SERING TIDAK TERULANG DALAM HIDUP KITA
DAN BENAR-BENAR ONCE IN A LIFE TIME

Efesus 5:1-20
5:1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih
5:2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
5:3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.
5:4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.
5:5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
5:6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
5:7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,
5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.
5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
5:14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita

FaGuS
January 13th, 2008, 04:54
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik ... yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam
Mazmur 1:1,2

Bacaan: Mazmur 1:1-3
Setahun: Kejadian 37-39

Tinggal di pedesaan memberi kesan tersendiri bagi saya. Setiap senja saya mencium aroma yang spesifik, yaitu bau rumput yang sengaja dibakar untuk mengusir nyamuk. Saya juga mendapati beberapa petani yang tidur sekamar dengan lembunya. Mereka sama-sama melepas lelah setelah seharian membajak di sawah.

Bila saya memerhatikan lembu yang beristirahat di siang hari, saya melihat mulutnya selalu bergerak mengunyah sesuatu. Ya, sapi itu sedang memamah biak. Binatang yang memamah biak memiliki lambung dengan banyak ruang [poligastrik: berperut banyak]. Makanan yang masih kasar dan mula-mula disimpan di perut, dikeluarkan lagi ke mulut untuk dikunyah dan dicerna lagi di lapisan perut yang lain dan seterusnya, sehingga akhirnya lembu itu mendapat sari makanan untuk kebutuhan tubuhnya. Sungguh hebat “mesin susu” ini, sehingga dari rumput yang hijau bisa dihasilkan susu yang putih.

Itulah yang seharusnya kita lakukan untuk benar-benar menikmati firman Tuhan. Membaca Alkitab bukan sekadar untuk “memenuhi kewajiban” bersaat teduh; merasa terbeban, tetapi tidak mendapatkan sesuatu. Kita perlu membaca dan merenungkannya siang dan malam, menggali, dan mengadakan refleksi: Apa yang saya baca? Mengapa demikian? Bagaimana menerapkannya? Hanya dengan demikian dan di bawah bimbingan Roh Kudus (Yohanes 16:13), kita akan mengalami dan merasakan yang Daud rasakan, yakni menikmati manisnya madu surgawi, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku” (Mazmur 119:103) —ACH


KITA MAKAN TIGA KALI SEHARI UNTUK MEMELIHARA TUBUH
BERAPA KALI SEHARI KITA MEMBERI MAKAN JIWA KITA?

Mazmur 1:1-3
1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

FaGuS
January 14th, 2008, 01:49
Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka
Kisah Para Rasul 16:25

Bacaan: Kisah Para Rasul 16:22-31
Setahun: Kejadian 40-42

Dulu, setiap kali berangkat kerja saya selalu terjebak kemacetan. Selama dua jam saya terperangkap di belakang setir. Hal itu tentu saja sangat menjengkelkan, apalagi jika melihat ulah para pengemudi kendaraan yang saling serobot. Suatu hari, ketika lalu lintas sedang macet total, saya mencoba melantunkan pujian. Hasilnya? Pikiran saya tak lagi terfokus pada kemacetan yang sedang terjadi, tetapi kepada Tuhan. Suasana hati saya berubah. Kejengkelan pun sirna. Jalanan tetap macet, namun saya dapat melaluinya dengan rasa damai.

Pujian dapat mengubah fokus hati. Tak heran, Paulus dan Silas berusaha menyanyi sewaktu mereka dipenjarakan. Padahal, ini bukanlah reaksi yang wajar. Dalam kondisi babak belur, biasanya orang lebih suka meratap. Mengapa mereka memilih untuk memuji? Karena mereka sadar bahwa puji-pujian mampu mengubah fokus hati. Saat memuji, mereka tidak lagi melihat besarnya suatu masalah, tetapi hanya kehadiran Tuhan di sana . Malam itu, penjara berubah menjadi gereja. Para tahanan mendengarkan puji-pujian dengan saksama. Kuasa Tuhan pun dinyatakan. Bahkan, kepala penjara bertobat dan dibaptiskan.

Dalam perjalanan hidup ini, kita bisa menghadapi situasi “macet total”. Masalah datang bertubi-tubi. Kita terjebak di dalamnya. Atau, seperti Paulus dan Silas, kejutan hidup datang tak terduga. Tiba-tiba kita merasa dipenjara. Dibelenggu masalah. Jalan keluar tampak sukar. Di saat seperti itu, janganlah berputus asa. Pujilah Tuhan! Biarkan pujian mengubah fokus hati kita, sehingga kita dapat melihat hadirnya Tuhan di dalam persoalan! —JTI


SAAT KITA TAK MAMPU MENGUBAH SITUASI
PUJIAN MAMPU MENGUBAH CARA KITA MENGHADAPI SITUASI



Kisah Para Rasul 16:22-31
16:22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.
16:23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.
16:24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.
16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.
16:26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.
16:27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.
16:28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"
16:29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.
16:30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?"
16:31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

FaGuS
January 15th, 2008, 20:50
Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman
Mazmur 4:9

Bacaan: Mazmur 4:7-9
Setahun: Kejadian 43-45

Dalam buku The Simple Path karya Lucinda Vardey, Ibu Teresa mengatakan bahwa di tengah melayani kaum papa di Calcuta , India , waktu untuk menyendiri atau saat teduh begitu sulit didapat. Di tengah pelayanan yang sibuk, privasi menjadi “barang” mahal, terlebih keheningan. Dalam kesibukan, keheningan adalah sebuah kelangkaan. Namun, Ibu Teresa melanjutkan bahwa kita harus tetap bisa mengambil waktu untuk bersaat teduh di tengah kesibukan, bahkan di antara keributan dan kebisingan sekalipun.

Hening hampir selalu dimaknai sebagai kesunyian. Padahal, hening yang kita cari lebih dari sekadar itu, yaitu hening dalam arti keleluasaan berteduh di tengah gempuran pergulatan hidup yang “bising”. Hening, seperti kata sang pemazmur, adalah ketenteraman untuk membaringkan diri, saat Tuhan membiarkan kita diam dengan aman (Mazmur 4:9). Hening di sini bukan sekadar berarti lingkungan sekitar yang sepi. Hening juga bukan berarti malam yang larut tanpa suara.

Hening adalah saat di mana kita dapat merasakan kehadiran Tuhan, sehingga kita dapat membaringkan diri dengan tenang dan tenteram. Dengan demikian, kita dapat merasakan keteduhan, sekalipun kita sedang berada di tengah keramaian, karena hening itu bukan dinikmati oleh telinga kita, tetapi oleh hati yang teduh. Hening bisa terjadi saat kesibukan dan keingarbingaran menerkam diri kita. Itulah yang dialami oleh Daud dan terekspresi dalam mazmurnya. Marilah kita menikmati keheningan, di saat kita bekerja maupun saat beristirahat, di saat sunyi maupun saat suasana ramai. Izinkan Tuhan meneduhkan lautan kehidupan kita dengan kuasa-Nya. Mari Tuhan, teduhkan hati saya —AGS


HENING MERUWAT HATI KITA SEMAKIN DEKAT DENGAN TUHAN
SEMAKIN DEKAT DAN SEMAKIN DEKAT LAGI

Mazmur 4:7-9
4:7 Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!
4:8 Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.
4:9 Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

FaGuS
January 16th, 2008, 00:06
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!
Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus
Galatia 6:2


Bacaan: 2 Korintus 8:1-24
Setahun: Kejadian 46-48

Ketika itu saya masih lajang. Satu hari saya menghadapi pergumulan berat dalam pelayanan dan membutuhkan teman untuk menolong saya. Jadi saya berdoa, “Tuhan, tolong kirimkan seorang hamba Tuhan yang bisa menolong saya.” Belum tuntas saya berdoa, terdengar ketukan di pintu. Begitu saya membuka pintu, ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang hamba Tuhan yang saya kenal. Puji Tuhan. Namun, belum saya persilakan masuk, ia sudah melontarkan keluhan, “Saya punya masalah. Apakah kamu bisa menolong saya?” Saya mengajaknya masuk dan mengatakan bahwa saya juga sedang menghadapi masalah. Kami pun bersepakat untuk saling menolong karena masalahnya berbeda. Lucu sekali. Kami konseling secara bergantian, dan merasa lega. Ternyata kami bisa saling menolong, masalah kami teratasi, dan sejak itu kami menjadi sahabat karib.

Secara implisit, ayat emas kita hari ini (Galatia 6:2) menunjukkan bahwa kita semua memiliki masalah; entah dalam keluarga, keuangan, pekerjaan, atau pelayanan. Jangan malu dan segan untuk berbagi dengan saudara seiman yang dapat dipercaya; dengan demikian beban menjadi ringan bila sama-sama dijinjing. Itulah tradisi baik yang sering dilakukan jemaat mula-mula, yaitu jemaat di Makedonia dan Yerusalem (2 Korintus 8:1-24). Meskipun mereka miskin, menderita, dan menghadapi berbagai cobaan, mereka tetap saling menolong, bahkan mendesak untuk mengambil bagian dalam pelayanan (2 Korintus 8:4).

Dengan melakukan hal itu, kita memenuhi hukum Kristus, yaitu mengasihi Allah dengan mengasihi sesama —ACH


IKUT MENANGGUNG BEBAN ORANG LAIN
TERNYATA JUGA MERINGANKAN BEBAN SENDIRI

2 Korintus 8:1-24
8:1. Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
8:6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.

8:7. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.
8:8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.
8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
8:10 Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.
8:11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.
8:12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
8:15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."

8:16. Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu.
8:17 Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu.
8:18 Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil.
8:19 Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami.
8:20 Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini.
8:21 Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.
8:22 Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu. Dan sekarang ia makin berusaha karena besarnya kepercayaannya kepada kamu.
8:23 Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus.
8:24 Karena itu tunjukkanlah kepada mereka di hadapan jemaat-jemaat bukti kasihmu dan bukti kemegahanku atas kamu.

FaGuS
January 29th, 2008, 05:26
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa
Lukas 15:18

Bacaan: Lukas 15:11-24
Setahun: Keluaran 35-37

Bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini, mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).

Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah melangkah atau meng*alami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.

Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada orang-orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya, khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.

Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa surgawi yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan —NDA


BERHENTILAH MENYESAL
ATAU ANDA AKAN KEHILANGAN HIDUP ANDA—Jonathan Larson

Lukas 15:11-24
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

FaGuS
January 30th, 2008, 05:18
Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang
2 Samuel 9:13


Bacaan: 2 Samuel 9:1-13
Setahun: Keluaran 38-40

Namanya Mefiboset. Ia timpang karena terjatuh dari gendongan pengasuhnya saat berusia lima tahun. Selanjutnya ia dibesarkan di Lodebar, sebuah tempat yang tandus tanpa padang rumput. Sungguh cocok dengan kondisi hidupnya. Ia meratap dengan menyebut dirinya seperti anjing mati, binatang najis yang telah kehilangan nyawa (ayat 8).

Suatu saat, Daud, raja Israel dan sahabat ayahnya, memanggilnya ke istana. Mengingat kasih dan persahabatannya dengan Yonatan, ayah Mefiboset, Daud memperlakukan Mefiboset sebagai salah seorang anaknya. Harta milik dan hak-hak pria timpang itu dipulihkan. Selanjutnya Mefiboset menetap di Yerusalem, kota damai sejahtera, dan senantiasa makan sehidangan dengan raja.

Mefiboset mewakili kita semua, orang-orang yang timpang akibat dosa. Kita terbuang dari hadapan Tuhan dan tinggal di Lodebar, menjalani kehidupan yang gersang tanpa pengharapan. Seperti Mefiboset, kita juga tak ubahnya anjing mati karena upah dosa adalah maut.

Tindakan Daud, di sisi lain, secara kuat menggambarkan anugerah Allah. Allah menebus kita dari dosa bukan karena perbuatan baik kita, melainkan semata-mata karena kasih-Nya yang besar. Dia mengangkat kita sebagai anak-Nya dan memberi damai sejahtera. Dan kita diizinkan untuk makan sehidangan dengan-Nya, bersekutu dengan Raja segala raja, dan memperoleh kehidupan yang kekal!

Anugerah Allah mendatangkan perubahan hidup yang sangat drastis. Atas semuanya itu, kita patut menjalani kehidupan baru ini dengan penuh sukacita dan ucapan syukur —ARS


DOSA MEMBINASAKAN
ANUGERAH MENGHIDUPKAN


2 Samuel 9:1-13
9:1 Berkatalah Daud: "Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan."
9:2 Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: "Engkaukah Ziba?" Jawabnya: "Hamba tuanku."
9:3 Kemudian berkatalah raja: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah." Lalu berkatalah Ziba kepada raja: "Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya."
9:4 Tanya raja kepadanya: "Di manakah ia?" Jawab Ziba kepada raja: "Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar."
9:5 Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar.
9:6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: "Mefiboset!" Jawabnya: "Inilah hamba tuanku."
9:7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku."
9:8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"
9:9 Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: "Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu.
9:10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku." Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.
9:11 Berkatalah Ziba kepada raja: "Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya." Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.
9:12 Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset.
9:13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.

FaGuS
January 30th, 2008, 23:49
Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa”
Lukas 5:8

Bacaan: Lukas 5:1-11
Setahun: Imamat 1-3

Pernah tersetrum listrik? Bagaimana rasanya? Maukah Anda mengulangi? Tidak bukan? Itu wajar. Namun, bagaimana bila yang Anda alami adalah “tersetrum” Tuhan?

Seusai mengajar dari atas perahu, Yesus menyuruh Simon bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menangkap ikan. Seketika nelayan kawakan ini memprotes, tetapi akhirnya ia patuh. Hasilnya? Mukjizat. Perahunya penuh ikan hingga hampir tenggelam. Lalu ada satu hal menarik yang terjadi dalam diri Simon. Ia menyadari ketidaklayakannya untuk mengalami rahmat itu.

Mengalami mukjizat justru membuat Simon mengakui keadaannya sebagai orang berdosa. Biasanya jika seseorang mengalami mukjizat, ia merasa senang bahkan sangat bangga. Namun, Simon justru gentar. Pengalaman dengan Yesus sungguh membuatnya terpesona sekaligus takut. Katanya, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Pergikah Yesus? Tidak. Yesus justru mengundang Simon untuk lebih dekat kepada-Nya. Bahkan sangat dekat. Yesus ingin mengubahkan Simon—yang menyadari bahwa dirinya tidak layak—menjadi Petrus yang akan “menjala” manusia-manusia lain dengan “jala” rahmat Tuhan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah tergetar karena karya Tuhan? Mungkin pernah, bahkan sering. Permasalahannya, apa yang menjadi buah dari getaran itu? Rasa bangga dan pongah rohani sembari membanding-bandingkannya dengan pengalaman orang lain? Atau, justru sebaliknya: kerendahan hati yang menebarkan rahmat Tuhan bagi semua orang? Mari temukan mana yang sepantasnya kita rayakan —DKL


AMBILLAH WAKTU UNTUK MENEMUKAN RASA DAMAI,
DAYA ILAHI, DAN RASA CINTA—Phil Bosman


Lukas 5:1-11
5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;
5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

FaGuS
January 31st, 2008, 23:20
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
1 Korintus 15:33


Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 32; Kisah Para Rrasul 4; Keluaran 13-14

Pernahkah Anda tiba-tiba merasakan jenuh dengan rutinitas harian Anda? Bahkan ide-ide kreatif sepertinya sudah mulai tersendat alirannya. Seolah-olah segala hal yang Anda lakukan hanya seperti rekaman film yang diulang berkali-kali. Hari demi hari itu-itu saja yang terjadi. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Namun kalau kita mau menata ulang kehidupan kita, ada banyak hal dapat dilakukan untuk menambah inspirasi, kegairahan dan kebahagiaan kita.

Misalnya, untuk pencapaian target, kita bisa menyusun kembali rencana perbaikan untuk tiga bulan ke depan. Untuk keseimbangan kehidupan sosial, kita bisa mendonasikan beberapa barang bekas kepada yang memerlukan. Carilah buku atau DVD favorit dan nikmatilah dengan sepenuh hati. Setelah menjelang akhir pekan, kita bisa pergi makan bersama orang-orang terdekat sambil bercengkerama dengan santai tanpa perlu membahas hal-hal yang berat dan monoton. Keesokan paginya, bangun lebih pagi dan berjalan menelusuri jalan-jalan di sekitar rumah sambil menyapa tetangga-tetangga. Atau bila ada sport center di dekat rumah, Anda bisa mengunjuginya untuk menjaga kebugaran tubuh. Setelah itu habiskan waktu berdua bersama seseorang yang kita cintai. Entah itu sekedar pergi ke mall atau bertamasya.

Kita hanya melewati dunia ini sekali saja. Maka, kebajikan apa pun yang dapat kita lakukan bagi siapapun, lakukanlah sekarang juga. Jangan menunda atau melalaikannya. Buatlah hidup Anda menjadi lebih efektif dan seimbang.


Sesuatu yang mengagumkan tanpa disadari terkadang ada di depan mata kita.

FaGuS
March 1st, 2008, 23:36
... dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan
Kisah Para Rasul 2:47


Bacaan: Kisah Para Rasul 2:41-47
Setahun: Ulangan 28-30


Dokter Teoh Seng Hing adalah salah satu dokter ginekologi di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Ia seorang kristiani. Semua orang yang saya kenal dan pernah menjadi pasiennya punya kesan yang sangat positif terhadapnya. Sebab selain ahli, ia juga sangat baik, sabar, telaten, ramah, penuh perhatian. Pasien bisa bebas dan nyaman berkonsultasi dengannya. Bahkan ketika Kezia, anak saya yang berumur 8 tahun, bertanya ini itu saat istri saya konsultasi, ia juga melayani dengan baik. Dengan sikapnya itu, Dokter Teoh telah menunjukkan kesaksian yang indah sebagai dokter kristiani.

Kekristenan berkembang bukan hanya karena peran para penginjil ternama. Namun juga melalui kesaksian hidup para “penginjil” anonim. Orang-orang yang dalam peran dan profesinya masing-masing telah memberi kesaksian indah bagi masyarakat sekitar. Seorang dokter—dokter kristiani yang berbeda dari dokter lain. Seorang pejabat—pejabat kristiani yang berbeda dari pejabat lain. Seorang mahasiswa—mahasiswa kristiani yang berbeda dari mahasiswa lain, dan sebagainya. Iman kristiani mereka betul-betul nyata dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap dan tutur kata yang ditunjukkan.

Jemaat mula-mula adalah jemaat yang bertumbuh sangat pesat. Ciri-ciri hidup mereka selain tekun dalam pengajaran para rasul (ayat 42), dan satu sama lain memiliki hidup kebersamaan yang kuat dan akrab (ayat 46), juga memberi pengaruh positif bagi orang-orang luar. “Dan mereka disukai semua orang” (ayat 47). Mari kita menjadi saksi yang setia, sehingga kehadiran kita sungguh menjadi berkat bagi orang-orang sekitar —AYA


Hidup kita bagai kitab terbuka yang dibaca sesama
Mari nyatakan Kristus dalam tutur kata dan laku kita


Kisah Para Rasul 2:41-47
2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

FaGuS
March 3rd, 2008, 04:53
Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri
Roma 15:1


Bacaan: Roma 15:1-6
Setahun: Ulangan 31-34

Carolina Reyes, koordinator rubrik koran kampus Western Washington University, menengarai adanya penyakit sosial bernama “affluenza” (affluence—bahasa Inggris: kemakmuran) yang menjangkiti masyarakat negara maju. Saat orang memiliki harta benda dan berbagai kemudahan hidup, mereka cenderung menjalani hidup yang konsumtif dan mengejar kenikmatan bagi diri sendiri. Namun, dari situ ternyata timbul berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, jantung koroner, hipertensi, stroke, dan sebagainya, yang dapat berakibat fatal.

Setiap orang percaya dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini dan mengalami pembaruan budi, sehingga dapat mengetahui kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Oleh karena itu, sekalipun kecenderungan hidup konsumtif mulai menjalar di sekitar kita, marilah kita memohon pertolongan Allah agar dapat mengambil sikap yang berbeda. Sikap yang tidak hanya mengejar kenikmatan duniawi bagi diri sendiri, tetapi juga mau menyatakan kasih Allah dengan berbagi berkat kepada yang lemah dan membutuhkan. Hidup menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama dan tidak hanya menikmatinya sendiri. Firman Tuhan mengingatkan tentang kewajiban kita untuk menanggung kelemahan mereka yang tidak kuat dan jangan hanya mencari kesenangan diri sendiri (Roma 15:1).

Mari kita bermurah hati kepada mereka yang membutuhkan, agar sebagai anak-anak Allah kita tampil secara berbeda dengan dunia ini dan terhindar dari “affluenza” yang dapat menyebabkan berbagai penyakit jasmani dan rohani —NDA


KEMURAHAN HATI MERUPAKAN TANGGAPAN TERBAIK
ATAS BERKAT YANG TELAH KITA TERIMA DARI TUHAN

Roma 15:1-6
15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.
15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.
15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku."
15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,
15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

FaGuS
March 4th, 2008, 00:09
Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar
Kejadian 39:12


Bacaan: Kejadian 39:1-23
Setahun: Yosua 1-3

Seorang ayah menemukan majalah porno di kamar anak laki-lakinya yang masih remaja. Ia sangat terkejut. Dibukanya majalah itu. “Ya, ampun!” serunya dengan mata terbelalak. Lalu dibukanya lagi. “Ya, Tuhan!” ia makin kaget. Dan, ia terus membukanya. Sampai di halaman terakhir, “Ya, habis!” serunya pula. Itu hanya cerita humor. Humor itu hendak menunjukkan kebiasaan orang, yang saat tahu bahwa sesuatu itu dosa, bukannya menjauh, tetapi malah sengaja mendekat dan mencoba-coba.

Yusuf tidak bersikap demikian terhadap dosa. Ia terus digoda oleh istri Potifar, tetapi dengan tegas ia menolak. “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (ayat 8,9). Sampai suatu hari, pada saat di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, godaan itu datang lagi. Dan, apa yang dilakukan Yusuf? Yusuf pun lari keluar (ayat 12).

Kita perlu meniru Yusuf yang berani bersikap tegas terhadap dosa. Lari keluar. Menjauh. Tidak lari di tempat, apalagi lari mendekat. Iblis sangat cerdik. Ketika kita belum jatuh, ia terus-menerus menggoda kita, “Ayolah, sekali-kali tidak apa-apa.” Akan tetapi, begitu kita terjatuh Iblis akan berkata kepada kita, “Yah, sudah telanjur jatuh. Sudahlah, ibarat kepalang basah, mandi saja sekalian!” —AYA


JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN DOSA

Kejadian 39:1-23
39:1 Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ.
39:2 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.
39:3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,
39:4 maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.
39:5 Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.
39:6 Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.
39:7 Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku."
39:8 Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,
39:9 bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"
39:10 Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.
39:11 Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah.
39:12 Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.
39:13 Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar,
39:14 dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: "Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras.
39:15 Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar."
39:16 Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang.
39:17 Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: "Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku.
39:18 Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar."
39:19 Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya.
39:20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.
39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
39:22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
39:23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

godai
April 5th, 2008, 22:30
byuh banyak amat , copy paste terus print ahh , buat bacaan di rumah :D

FaGuS
April 10th, 2008, 04:16
… supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebalik¬nya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir
1 Korintus 1:10


Bacaan: 1 Korintus 3:1-9
Setahun: 2 Samuel 23-24; 1 Raja-raja 1

Pengalaman hidup menyaksikan bahwa di mana-mana terjadi perselisihan; baik di rumah tangga, di kantor, apalagi di dunia politik. Termasuk juga di tempat yang seharusnya terjadi “damai sejahtera”, yakni di dalam gereja. Bahkan di tempat yang terakhir ini, terkadang perselisihan sulit didamaikan atau diselesaikan.

Kita belajar dari Paulus tentang hal ini. Menurutnya, perselisihan atau perpecahan menunjukkan ketidakdewasaan dalam Kristus (ayat 1), sebab manusia duniawi masih mengemuka di situ (ayat 3). Apabila seseorang masih hidup dengan lebih mengutamakan keakuannya dan tidak mengusahakan hidup yang rohani, maka hidupnya masih dapat diliputi oleh keirihatian dan perselisihan (ayat 4).

Untuk menyelesaikan perselisihan atau perpecahan, kedua pihak mesti berusaha hidup secara “rohani” dengan bercermin pada kehidupan Yesus Kristus; baik dalam perkataan, perasaan, pikiran, maupun tindakan. Selebihnya, Paulus menasihati jemaat di Korintus (ayat 7,8), juga kita, agar dalam hidup bersekutu kita berusaha untuk selalu seia sekata, serta sehati sepikir. Dengan hati yang sama-sama rindu dan sepakat untuk memiliki hidup yang rohani, anak-anak Tuhan akan lebih erat dan bersatu, sehingga tidak terjadi perselisihan.

Perselisihan kerap kali terjadi karena ego manusia hendak saling mengemuka. Padahal bila direnungkan, siapakah kita, sehingga ada keangkuhan di antara saudara? Bahkan Yesus Kristus yang adalah Tuhan, menjadi teladan bagi kita dengan rela menanggalkan ego-Nya, dan turun menjadi manusia untuk mati secara nista di kayu salib. Sebab itu, untuk menghindari perselisihan, landasi segala sesuatu dengan kasih—ENO


SERIBU TEMAN TERASA KURANG
SETENGAH MUSUH TERASA LEBIH!

1 Korintus 3:1-9
3:1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
3:2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.
3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
3:4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?
3:5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.
3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
3:8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.
3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

FaGuS
April 11th, 2008, 05:05
Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu
Markus 10:43

Bacaan: Markus 10:35-45
Setahun: 1 Raja-raja 2-4

Pada tahun 2003, Michael Weiskopf, wartawan majalah TIME, berangkat ke Irak. Bersama tentara Amerika Serikat, ia meliput suasana perang dari dalam tank baja. Tak dinyana, sebuah granat dilemparkan ke dalam tank itu dan meledak! Weiskopf pun kehilangan tangan kanannya. Ketika kembali pada keluarganya, ia merenung: “Mengapa aku mau diutus ke medan perang hingga cacat begini?” Akhirnya, ia menemukan jawabnya: ambisi. Weiskopf ingin menaikkan pamornya supaya dikenal sebagai jurnalis terhebat. Kini ia menyesal.

Ambisi adalah keinginan membara untuk sukses atau mencapai sesuatu yang lebih. Tak salah bila manusia berambisi. Bahkan, untuk memajukan gereja dibutuhkan pemimpin yang berambisi. Masalahnya, ke mana ambisi itu diarahkan? Yakobus dan Yohanes punya ambisi egois yang terarah pada diri sendiri. Mereka meminta Yesus kelak menempatkan mereka di posisi tertinggi (ayat 37). Menjadi yang terhebat. Pemegang kuasa. Mendengar permintaan itu, kesepuluh murid lain marah. Mengapa? Karena mereka pun mengincar kedudukan itu! Dari situ Yesus mengarahkan mereka agar memiliki ambisi yang terbaik: “meminum cawan yang harus Kuminum” (ayat 38). Ambisi untuk berkorban seperti Yesus. Menjadi hamba yang gigih melayani Tuhan dan sesama.

Dalam pelayanan, tidak salah kita memiliki ambisi, tetapi mesti hati-hati, sebab ambisi itu bagaikan api. Bisa menghangatkan, tetapi bisa juga menghanguskan. Ambisi egois menghasilkan perseteruan, sebaliknya ambisi yang kudus mempersatukan. Sudah benarkah arah ambisi Anda? Adakah Anda mencari hal-hal yang besar bagi Tuhan, atau bagi diri sendiri? —JTI


Ambisi yang kudus
merindukan hal-hal besar bagi kemuliaan Allah

Markus 10:35-45
10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!"
10:36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?"
10:37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."
10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"
10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.
10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."
10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.
10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

FaGuS
April 12th, 2008, 04:38
Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku
Galatia 2:19,20

Bacaan: 1 Korintus 12:12-26
Setahun: 1 Raja-raja 5-7

Tahun 2003-2004, Real Madrid dari Spanyol adalah kesebelasan bertabur bintang. Dalam daftar 10 pemain terbaik yang dikeluarkan FIFA (organisasi sepakbola dunia), lima di antaranya adalah pemain Madrid : Zidane, Ronaldo, Figo, Carlos, dan Beckham. Pemain lokal mereka juga tidak kalah hebat, seperti Raul dan Salgado. Kiper mereka, Iker Casilas, adalah kiper terbaik kedua di dunia. Mereka dijuluki Los Galacticos, kesebelasan dari planet lain.

Ironisnya, dalam kurun waktu itu Real Madrid justru mengalami kegagalan total. Tidak satu pun gelar mereka raih. Bahkan, di Liga Spanyol mereka hanya menduduki urutan keempat di bawah Valencia, Barcelona, dan Deportivo La Coruna. Banyak pengamat sepakbola menilai bahwa penyebab utama kegagalan Madrid adalah ego para pemain. Status bintang membuat mereka merasa hebat dan ingin menonjolkan diri. Padahal sepakbola adalah permainan tim.

Dalam pelayanan, ego juga bisa menjadi batu sandungan dan sumber masalah; keinginan untuk dipuji, untuk menonjol atau tampil, merasa paling hebat, paling berjasa, dapat merugikan bagi semua. Padahal pelayanan kristiani adalah pelayanan kolektif. Kita tak dapat bekerja sendiri, dan selalu membutuhkan orang lain. Paulus mengumpamakan gereja sebagai tubuh dan anggota-anggotanya. Setiap anggota mempunyai fungsi dan tempat yang berbeda. Semuanya berharga; tidak ada yang lebih penting atau kurang penting. Oleh karena itu, faktor utama dalam melayani bersama adalah bagaimana kita menyalibkan ego pribadi dan mewujudkan Kristus dalam hidup kita —AYA



SAAT KITA MELAYANI,
APAKAH ORANG LAIN MELIHAT KRISTUS MELALUI KITA?


1 Korintus 12:12-26
12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?
12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.
12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?
12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,
12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

FaGuS
April 13th, 2008, 11:45
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa
Kisah Para Rasul 2:42

Bacaan: Kisah Para Rasul 2:41-47
Setahun: 1 Raja-raja 8-10

Waktu masih kecil, saya sering mendengar pernyataan demikian, “Buat apa kamu terus ke gereja, apakah gereja akan memberimu makan?” “Bukankah kamu justru kehilangan uang karena harus memberi untuk persembahan?” Pemikiran semacam itu terus mengisi benak saya selama bertahun-tahun, hingga suatu saat Tuhan mengubah haluan hidup saya dan membuat saya bertobat.

Alkitab memberi perspektif yang lain tentang ibadah. Ternyata Tuhan menyediakan berkat yang khusus dalam ibadah. Bacaan kita hari ini diawali dengan khotbah Petrus yang membawa perubahan hidup. Jemaat yang pertama mendapat pencurahan Roh Kudus. Setelah itu, cara mereka beribadah pun diperbarui. Ibadah yang selama ini dijalankan biasa-biasa saja, kini berubah menjadi kebutuhan mutlak. Jemaat memiliki kehausan yang mendalam akan firman Tuhan. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Setiap hari mereka berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (ayat 42). Peristiwa-peristiwa ajaib terjadi sebagai bukti penyertaan Tuhan atas firman-Nya. Dan lebih hebat lagi, Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan (ayat 47). Sungguh besar segala berkat dalam ibadah!

Menghayati makna ibadah dengan benar adalah keharusan. Jika kita beribadah sebagai rutinitas belaka, maka tidak akan ada dampak apa pun. Ibadah gereja mula-mula membawa berkat rohani dan jasmani, sebab berawal dari kehausan akan kehadiran Tuhan dan firman-Nya. Karena itu, mari kita sama-sama berusaha menumbuhkan kerinduan yang dalam untuk bertemu Tuhan dalam setiap ibadah! —MZ


Ibadah akan menJadi berkat
JIka bertolak dari kehausan akan kehadiran Tuhan

Kisah Para Rasul 2:41-47
2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

FaGuS
April 14th, 2008, 01:14
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa
Ibrani 4:15


Bacaan: Filipi 2:5-8
Setahun: 1 Raja-raja 11-13

Suatu malam, seseorang yang sedang kesusahan berdoa, “Bapa, Engkau tahu keadaan saya. Uang saya sudah menipis, sahabat saya sudah lama tidak peduli kepada saya. Tugas-tugas menumpuk. Saya kesepian dan gadis yang selama ini saya dekati menolak saya. Bapa, Alkitab mengatakan bahwa Engkau sangat baik. Namun, rasanya saya tidak mengalami hal itu. Jika Engkau baik, mengapa Engkau membiarkan saya begini? Sepertinya Engkau tidak bisa mengerti perasaan saya! Ya, tentu saja. Engkau enak di atas sana, tidak tahu rasanya menderita sebagai manusia seperti saya!”

Pernahkah kita merasa sendirian dan berpikir seperti orang itu—bahwa Allah tidak mengerti penderitaan manusia? Benarkah demikian? Perikop Alkitab yang kita baca hari ini mengingatkan bahwa Allah kita pernah menjadi manusia hina dalam diri Yesus. Dia bahkan pernah menjalani berbagai kesusahan yang tidak pernah kita bayangkan. Dia pernah lahir secara sangat sederhana di sebuah kandang (Lukas 2:7). Dia pernah dihina sebagai anak haram (Yohanes 8:41). Dia pernah merasa lelah (Yohanes 4:6), juga lapar (Matius 21:18), dan haus. Dia pernah difitnah dan disalahmengerti. Dia pernah dikecewakan sahabat-sahabat-Nya (Markus 14:50) dan ditinggal sendirian di Getsemani. Dia pernah disiksa begitu hebat sampai mati (Matius 27:26-31, Filipi 2:8).

Dengan pernah mengalami semuanya itu, tentu Tuhan Yesus sangat mampu berempati dengan semua kesusahan kita! Allah kita sama sekali bukan Allah yang kejam. Sebaliknya, Dia sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi manusia (Filipi 2:7). Mari ceritakan kesusahan kita kepada-Nya. Dia mengerti! —ALS


TUHAN KITA SUNGGUH MENGERTI RASANYA JADI MANUSIA
KARENA IA PERNAH MENJADI MANUSIA

Filipi 2:5-8
2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

FaGuS
April 15th, 2008, 06:42
Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka
Nehemia 4:9


Bacaan: Nehemia 4
Setahun: 1 Raja-raja 14-16

Mana yang lebih penting; berdoa atau bekerja? Ada yang berkata bahwa berdoa lebih penting, sebab tanpa berdoa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Namun ada juga yang mempertanyakan, buat apa banyak berdoa, tetapi tidak bekerja?

Bagi Nehemia, kedua hal ini tak perlu diadu tingkat kepentingannya. Mari simak apa yang ia lakukan. Saat menghadapi tantangan dan ancaman dari Sanbalat dan Tobia, Nehemia menaikkan doa kepada Tuhan agar rencana musuhnya digagalkan. Namun, Nehemia juga menyuruh orang-orangnya agar tetap berjaga-jaga supaya dapat mengantisipasi bila sewaktu-waktu ada serangan musuh (ayat 9).

Dari Nehemia kita belajar bahwa doa adalah hal yang sangat penting, tetapi bekerja juga hal yang tidak kalah penting. Dalam film Facing The Giants, seorang pendeta bertutur kepada sang pelatih futbol tentang dua petani yang sama-sama berdoa meminta hujan kepada Tuhan. Petani yang pertama hanya berdoa, tetapi ia tidak mempersiapkan ladangnya untuk menerima hujan. Sedangkan petani yang kedua bukan hanya berdoa, tetapi juga mempersiapkan ladangnya. Jika kemudian Tuhan memilih; kepada petani mana Tuhan akan menurunkan hujan? Tentu yang kedua, karena dengan mempersiapkan ladang, ia beriman bahwa doanya akan dikabulkan.

Ketika menghadapi rintangan dalam hidup ini, mari kita datang kepada Tuhan. Sampaikan segala keluh kesah kita kepada-Nya, dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menolong. Namun sementara itu, kita pun harus waspada dan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Tak hanya berdoa, kita harus bekerja juga —RY


BERDOA DAN BEKERJA
ADALAH DUA HAL YANG HARUS DILAKUKAN BERSAMA-SAMA

Nehemia 4
4:1. Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi
4:2 dan berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: "Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?"
4:3 Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di dekatnya: "Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka."
4:4 Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.
4:5 Jangan Kaututupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, karena mereka menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun.
4:6 Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

4:7. Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka.
4:8 Mereka semua mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan kekacauan di sana.
4:9 Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka.
4:10 Berkatalah orang Yehuda: "Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini."
4:11 Tetapi lawan-lawan kami berpikir: "Mereka tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita ada di antara mereka, membunuh mereka dan menghentikan pekerjaan itu."
4:12 Ketika orang-orang Yahudi yang tinggal dekat mereka sudah sepuluh kali datang memperingatkan kami: "Mereka akan menyerang kita dari segala tempat tinggal mereka,"
4:13 maka aku tempatkan rakyat menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah di bagian-bagian yang paling rendah dari tempat itu, di belakang tembok, di tempat-tempat yang terbuka.
4:14 Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: "Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu."
4:15 Ketika didengar musuh kami, bahwa rencana mereka sudah kami ketahui dan bahwa Allah telah menggagalkannya, maka dapatlah kami semua kembali ke tembok, masing-masing ke pekerjaannya.

4:16. Sejak hari itu sebagian dari pada anak buahku melakukan pekerjaan, dan sebagian yang lain memegang tombak, perisai dan panah dan mengenakan baju zirah, sedang para pemimpin berdiri di belakang segenap kaum Yehuda
4:17 yang membangun di tembok. Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata.
4:18 Setiap orang yang membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya, dan di sampingku berdiri peniup sangkakala.
4:19 Berkatalah aku kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: "Pekerjaan ini besar dan luas, dan kita terpencar pada tembok, yang satu jauh dari pada yang lain.
4:20 Dan kalau kamu mendengar bunyi sangkakala di suatu tempat, berkumpullah ke sana mendapatkan kami. Allah kita akan berperang bagi kita!"
4:21 Demikianlah kami melakukan pekerjaan itu, sedang sebagian dari pada orang-orang memegang tombak dari merekahnya fajar sampai terbitnya bintang-bintang.
4:22 Pada waktu itu juga aku berikan perintah kepada rakyat: "Setiap orang dengan anak buahnya harus bermalam di Yerusalem, supaya mereka mengadakan penjagaan bagi kami pada malam hari, dan melakukan pekerjaannya pada siang hari."
4:23 Demikianlah aku sendiri, saudara-saudaraku, anak buahku dan para penjaga yang mengikut aku, kami semua tidak sempat menanggalkan pakaian kami. Setiap orang memegang senjata dengan tangan kanan.

FaGuS
April 16th, 2008, 14:19
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku
Filipi 3:13


Bacaan: Filipi 3:10-16
Setahun: 1 Raja-raja 17-19

Setiap kali saya menunggu untuk naik pesawat, ada dua hal yang menarik perhatian saya di lapangan bandara. Pertama, bendera merah yang berfungsi menunjukkan arah angin. Kedua, kendaraan berat yang berfungsi mendorong mundur pesawat. Kedua hal ini menyadarkan saya bahwa sebuah pesawat dapat terbang karena dua hal. Ia harus melawan arus angin agar dapat terbang. Kedua, ia harus maju terus agar sampai ke tujuan. Bila sudah terbang, maka sebuah pesawat tidak dapat dan tidak mungkin mundur; berhenti sedetik saja ia akan jatuh.

Demikian juga dengan kehidupan iman orang kristiani. Pertama, seorang anak Tuhan harus berani melawan arus dunia yang tidak benar. Kedua, sebagai anak Allah ia tidak boleh mundur, imannya tidak boleh mudah kendur dan putus asa karena adanya tantangan dan hambatan.

Inilah pula rahasia kemenangan Paulus. Seburuk apa pun masa lalunya, ia tak menoleh ke belakang dan berhenti di situ. Ibarat pesawat, ia terus maju dan terbang semakin tinggi bersama Tuhan. Dan beginilah ia melakukannya, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).

Jadi, inilah yang harus kita miliki sejak hari ini; sikap optimis, maju terus pantang mundur. Inilah sikap iman yang penuh harapan, yang terus memusatkan perhatian kepada Yesus, terfokus pada tujuan yang mulia dan kekal—ACH


BERANI TAMPIL BEDA, DAN JANGAN PERNAH UNDUR

Filipi 3:10-16
3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

FaGuS
April 17th, 2008, 10:08
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu
Matius 6:33


Bacaan: Matius 6:19-24
Setahun: 1 Raja-raja 20-22

Uang adalah salah satu aspek penting dalam hidup manusia. Bergulirnya aktivitas ekonomi yang menyertakan uang tak akan pernah habis. Bahkan, Benjamin Franklin mengeluarkan slogan “time is money”, seakan-akan seluruh hidupnya hanya diprioritaskan dan ditujukan untuk mendapat uang. Bukankah dewasa ini ada banyak orang yang dibutakan oleh uang? Sebenarnya uang bukan sesuatu yang jahat. Hanya, kita perlu menjagai sikap hati kita terhadap uang.

Itulah yang hendak Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Penumpukan harta yang tanpa tujuan sebenarnya justru akan membuat manusia khawatir. Atau, membuat manusia percaya pada diri sendiri secara berlebihan. Dan yang paling parah, membuat hidup manusia dikuasai oleh uang. Itulah inti perkataan Tuhan Yesus (ayat 24). Tuhan menegaskan bahwa di mana hati kita berada, di situlah prioritas hidup kita cenderung berada. Bila hati kita ada pada harta, maka seluruh waktu, pikiran, dan tenaga, kita konsentrasikan untuk mengumpulkan harta pula.

Tuhan Yesus tidak mengecam orang kaya. Buktinya, Zakheus pun dipanggil menjadi murid-Nya (Lukas 19:5). Namun Tuhan ingin agar kita memprioritaskan hubungan dengan-Nya di tengah rutinitas mencari nafkah setiap hari. Ketika kita menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari, hendaknya kita tetap memancarkan kasih Tuhan. Dengan demikian, cara kita mencari uang pun akan dipengaruhi oleh sikap hati. Inilah kuncinya agar kita tidak terjerumus dalam sikap cinta uang, yang merupakan akar dari segala kejahatan di bumi ini. Mari melihat ke dalam diri. Apa prioritas hidup kita hari ini? —BL


uang menjadi berharga saat ia menjadi hamba
Dan berbahaya saat menjadi tuan atas kita

Matius 6:19-24
6:19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
6:22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;
6:23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

FaGuS
April 18th, 2008, 05:30
Jadi, sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah …. Kekayaanmu sudah busuk
Yakobus 5:1,2


Bacaan: Yakobus 5:1-6
Setahun: 2 Raja-raja 1-3

Steve Wynn sangat beruntung. Tahun 1997, ia membeli sebuah lukisan karya Pablo Picasso senilai 47 juta dolar di balai lelang Christie. Belum sampai 10 tahun, ia bisa menjualnya lagi seharga 139 juta dolar. Tiga kali lipat! Transaksi itu bakal masuk rekor penjualan barang seni termahal di dunia. Sayangnya, saat lelang terjadi, Wynn berdiri di dekat lukisan itu dan tanpa sengaja menyenggolnya dengan sikutnya. Celaka! Lukisan itu robek sepanjang 15 cm, tepat di tengahnya. Batallah penjualan termahal itu! Dalam sekejap, 139 juta dolar menguap dari mata Wynn.

Betapa fana harta kekayaan. Ia bisa menguap dalam sekejap. Itulah pesan yang disampaikan dalam Yakobus 5. Jika seseorang mengandalkan harta sebagai jaminan masa depan, ia perlu menangis dan meratap. Mengapa? Sebab kekayaan bisa tiba-tiba saja meninggalkannya. Rapuh. Kalaupun seumur hidup harta bisa terjaga, saat mati ia tak dapat dibawa pergi. Harta tak bisa dijadikan modal sukses di akhirat. Bahkan, kelak Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita atas bagaimana cara kita mendapatkan dan mengelola harta di bumi. Menahan upah buruh, misalnya (ayat 4), adalah pelanggaran serius di mata Tuhan. Mencari harta dengan cara salah di dunia akan membuat kita melarat di akhirat!

Setiap orang perlu harta, maka tidak salah jika kita mencari uang. Menjadi kaya pun tidak masalah. Namun, jangan jadikan harta segala-galanya, sehingga kita rela menindas sesama, menipu, atau berkelahi dengan saudara demi mendapatkannya. Sebaliknya, jadikanlah harta sebagai alat berkat. Alat untuk menyatakan kasih Allah dengan menolong sesama —JTI


ALKITAB TIDAK MENENTANG KEMAKMURAN
DIA HANYA MINTA AGAR KEMAKMURAN ITU DIBAGIKAN

Yakobus 5:1-6
5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!
5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.
5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.
5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.
5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

FaGuS
April 21st, 2008, 05:40
Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya …. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia
Amsal 31:27,28


Bacaan: Amsal 31:10-31
Setahun: 2 Raja-raja 10-12

Saat berbincang santai dengan ibu saya yang berumur 83 tahun, saya menarik-narik pelan kulit tangannya yang sudah menggelambir. Ya, saya ingat bagaimana tangan itu kadang harus mengangkat papan-papan jati yang besar dan berat ketika ia membuka dan menutup toko rotinya yang mungil. Dengan senyum, setiap hari ia melayani pelanggannya selama hampir 30 tahun. “Dulu tangan ini kuat untuk bekerja sehingga kalian bertujuh bisa bersekolah dan mandiri. Sekarang aku berbahagia dan bersyukur atas hidupku,” simpulnya saat mengenang masa ia berjuang demi hari depan anak-anaknya.

Peran wanita dalam Amsal 31 sungguh luar biasa. Ia dapat dipercaya, dan olehnya, suaminya diberkati (ayat 11,12). Ia rajin dan dapat mengatur rumah tangga dengan baik, hingga anak-anak dan suaminya sangat menghargainya (ayat 13-15,27, 28). Ia meniti karier (ayat 16-18), tetapi masih sempat memerhatikan orang lain yang membutuhkan pertolongan (ayat 20). Penampilannya selalu apik (ayat 22). Ia takut akan Tuhan (ayat 30). Ia melayani sesama sebagai perwujudan imannya kepada Tuhan.

Meski mungkin tak selengkap gambaran Amsal 31, setiap wanita juga dapat mulai memberi hidup bagi sesama, sejak hari ini. Dan bisa mulai dari keluarga, yang ditemui setiap hari. Mulai dari hal yang biasa dilakukan untuk mereka. Bila semuanya dilakukan dengan penuh syukur dan kesetiaan, kelak akan timbul kekaguman karena Tuhan memakai hidup keseharian seorang wanita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Orang-orang terdekat kita, apakah mereka merasakan kehadiran, kasih, dan pelayanan kita? —YS


Jadikan Hidup Sebagai Saluran Berkat
Mulailah Dari Orang-orang Terdekat

Amsal 31:10-31
31:10 Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
31:11 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.
31:12 Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.
31:13 Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.
31:14 Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.
31:15 Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.
31:16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.
31:17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.
31:18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.
31:19 Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.
31:20 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.
31:21 Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.
31:22 Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.
31:23 Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.
31:24 Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.
31:25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.
31:26 Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.
31:27 Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.
31:28 Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:
31:29 Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.
31:30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
31:31 Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

FaGuS
May 22nd, 2008, 07:44
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api
1 Petrus 1:7

Bacaan: 1 Petrus 1:1-9
Setahun: Nehemia 3-5

Ibu Merry berusia 72 tahun. Ia menderita kanker lever stadium akut. Dokter sudah memvonis bahwa hidupnya hanya tinggal hitungan bulan. Perutnya membesar, dan kerap kali ia harus menanggung kesakitan di sekujur tubuh. Suatu hari, saya dan istri menengoknya di rumah sakit. Kami berbincang-bincang. Wajahnya yang kurus pucat tidak melunturkan semangat dan senyumnya. Saya membacakan firman Tuhan. Sebelum berdoa, saya mengajaknya bernyanyi, sebab ia senang menyanyi. “Tante mau nyanyi lagu apa?” tanya saya. “Lagu Berserah kepada Yesus,” jawabnya. Kami pun bernyanyi bersama.

Sungguh luar biasa. Seseorang yang seakan-akan sudah dekat dengan kematian dan di tengah deraan sakit yang hebat, melantunkan pujian: “Aku berserah, aku berserah, kepada-Mu Juru Selamat, aku berserah.” Inilah iman yang sejati. Sangatlah biasa bila dalam keadaaan berkelimpahan, hidup senang, dan sehat walafiat, seseorang memuji-muji Tuhan. Akan tetapi, sungguh istimewa bila di tengah kesulitan hidup, dalam pencobaan yang berat, seseorang masih bisa memuji dan mengagungkan nama Tuhan.

Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada umat kristiani yang tersebar di Pontus , Galatia , Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia (ayat 1). Mereka tengah mengalami tekanan dan penganiayaan hebat akibat iman mereka. Namun, Petrus mengingatkan mereka untuk tetap gembira walau harus menanggung semua kesulitan itu (ayat 6). Nasihat ini juga berlaku bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tetaplah bergembira. Pandanglah pencobaan sebagai sarana untuk “membuktikan” kemurnian iman kita —AYA


Iman, seperti juga cinta,
teruji pada saat yang sulit

1 Petrus 1:1-9
1:1 Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia,
1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.
1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,
1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

FaGuS
May 23rd, 2008, 00:59
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya
Pengkhotbah 3:1

Bacaan: Pengkhotbah 3:1-15
Setahun: Nehemia 6-8

Bagi penduduk Amerika, jembatan Mississippi memiliki peran yang vital dalam menghubung kan perekonomian negara bagian Minnesota yang berbasis pertanian. Jembatan sepanjang 27,6 kilometer itu menghubungkan kota Minneapolis dan Saint Paul . Jembatan itu dibangun oleh Departemen Transportasi Minnesota pada 1967 dengan tinggi 64 kaki atau sekitar 20 meter. Namun, jembatan delapan lajur tersebut ambruk pada Rabu, 1 Agustus 2007, pukul 18.00 waktu setempat. Diduga jembatan runtuh bukan karena aksi teror, melainkan karena konstruksi jembatan telah rapuh ditelan usia. Jembatan yang berusia empat puluh tahun tersebut, akhirnya ambruk juga.

Firman Tuhan dengan tepat mengatakan “segala sesuatu ada masanya” (ayat 1). Sekolah kehidupan telah mengajar Salomo, raja Israel di Yerusalem, bahwa segala sesuatu ada waktunya. Waktu berlalu begitu cepat. Tak seorang pun mampu menahannya. Sepanjang berproses dengan waktu, seseorang dapat menikmati dinamika kehidupan. Ada waktu yang menyenangkan, ada juga waktu yang menyedihkan. Namun, Allah selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Selagi napas dikandung badan, menggunakan waktu dengan bertanggung jawab adalah suatu keharusan. Bukankah segala sesuatu akan terus berubah? Filsuf Heraclitus memberikan ungkapan bijak, “Tidak ada yang tetap di dunia ini kecuali perubahan.” Hari ini kita masih bernapas, besok belum tentu. Hari ini kita masih bekerja dengan gagah, besok tidak tahu. Oleh karena itu, mari kita menaklukkan diri kepada-Nya sebelum ambruk bak jembatan Mississippi —MZ


Orang yang Bijak memedulikan Waktu

Pengkhotbah 3:1-15
3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.
3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
3:15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

Lyd
May 25th, 2008, 15:02
Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku
Filipi 4:13

Bacaan: Filipi 4:10-19
Setahun: Nehemia 12-13; Ester 1

Pada suatu malam, anak pertama saya yang berusia 5 tahun mengalami panas tinggi. Saat itu saya sedang hamil tua. Dengan perut besar, saya menggendong anak pertama saya ke rumah sakit. Akibat panasnya itu, ia mengigau dan mengeluarkan darah dari hidung, telinga, dan mulutnya. Dalam keadaan demikian saya berdoa memohon kebaikan Tuhan, dan Roh Kudus mengingatkan saya akan firman Tuhan, “Segala hal dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ayat 13). Melalui ayat tersebut, saya tahu Roh Kudus menguatkan saya untuk melewati masa yang berat itu.

Paulus membukakan sebuah rahasia kepada kita agar dapat kuat menanggung segala sesuatu, yakni hidup di dalam Tuhan, yang dapat memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya (ayat 19). Apa pun yang terjadi, tidak ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan yang berasal dari Tuhan. Paulus sudah membuktikan hal ini.

Memang ada banyak hal di dunia ini yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan, sehingga kita tidak lagi hidup di dalam Dia. Bisa berupa hal yang berkaitan dengan kelimpahan atau kekurangan. Bisa juga berupa hal yang berkaitan dengan kekenyangan atau kelaparan (ayat 12). Namun, Paulus yang telah mengalami semua itu, mengingatkan kita agar jangan terkecoh oleh apa pun yang dapat membuat kita tidak berada di dalam Tuhan. Mari kita belajar mencukupkan diri dalam segala hal (ayat 11) dan memohon rahmat-Nya setiap hari, supaya Roh Kudus memberi hati yang bijak dan menolong kita untuk terus ada di dalam Tuhan —CHA


hanya DENGAN TETAP berada di dalam tuhan
KITA BEROLEH KEKUATAN YANG KITA PERLUKAN

Filipi 4:10-19
4:10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.
4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.
4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.
4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.
4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.
4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.
4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Lyd
May 26th, 2008, 06:01
Ayat bacaan: Galatia 2:13
===========================
"Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka."


Sudah menjadi hal yang lumrah ketika semakin kita bertumbuh dewasa, semakin banyak pula kita mendapati banyak kepalsuan disekitar kita. Ada banyak orang2 yang bersikap ramah ketika berhadapan dengan anda tapi dibelakang anda semuanya berbeda. Ada banyak juga orang yang selalu berbicara mengenai budi pekerti dan sopan santun, tapi perilakunya jauh dari apa yang mereka ajarkan. Ada orang yang berteriak2 mengenai kejujuran, tapi dia sendiri melakukan korupsi. Ada banyak orang mengenakan topeng dalam masyarakat, ada banyak orang munafik, dan itu semua pasti anda jumpai dalam kehidupan anda sehari2.

Hari ini saya teringat seorang teman saya. Saya ingat dulu dia berkata tidak sanggup menghadapi orang munafik. Pada suatu waktu, ketika dia sedang berlatih di tim musik di gereja, dia berselisih dengan salah seorang pelatihnya. Saya tidak tahu persis apa masalahnya, tapi yang jelas, sehari setelah kejadian itu, dia mundur dan pindah gereja. "saya tidak mau bertumbuh disana, karena disana banyak orang munafik", itu katanya.

Teman saya itu tidak sendirian. Ada banyak orang yang tidak tahan menghadapi orang2 munafik. Bukan hanya bagi orang dunia saja, tidak hanya di pekerjaan atau antar tetangga anda saja, tapi di Gereja, di pelayanan, di persekutuan, hal2 seperti ini pun bisa anda jumpai. Manusia tidak ada yang sempurna. Jika anda mendasarkan segala sesuatunya pada manusia, cepat atau lambat anda bisa merasa kecewa. Saya pun tidak menyalahkan teman saya itu, karena tidak menjadi masalah di gereja mana anda beribadah asalkan anda bertumbuh disana. Satu pertanyaan yang hinggap di pikiran saya adalah, apakah keberadaan segelintir orang munafik membuat gereja itu tidak lagi valid?

Ayat bacaan hari ini adalah mengenai kritik Paulus terhadap kemunafikan Petrus dalam pelayanan. Apakah hal itu menjadikan apa yang disampaikan Petrus menjadi tidak sah? Sebagian orang mungkin berpikir demikian,mungkin karena mereka mengharapkan murid2 Yesus atau orang2 Kristen secara umum haruslah sempurna. Tapi manusia tetaplah manusia yang lemah, yang tidak luput dari kesalahan. Yang pasti, Yesus telah mengingatkan bahkan menegur orang2 munafik seperti yang dapat dibaca pada injil Matius 12:13-33. Tuhan Yesus sendiripun tidak menyukai orang munafik dan dengan keras mengecam mereka.

Akhirnya saya sampai pada satu poin penting, dasar Kekristenan tidak didasari pada manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan, melainkan pada Yesus Kristus sang Juru Selamat yang sempurna. Ketika anda fokus pada Kristus, maka orang2 munafik dan penuh kepura2an tidak lagi mempengaruhi anda.



Bergantunglah sepenuhnya pada Yesus Kristus, bukan pada manusia.

Lyd
May 27th, 2008, 00:48
Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu
Yohanes 8:31,32

Bacaan: Yohanes 8:30-36
Setahun: Ester 5-7

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus menyiratkan bahwa ada dua macam murid; yang benar-benar murid dan yang semu. Dalam era informatika global seperti sekarang ini, kita pasti akan dibanjiri oleh berbagai informasi dan pengajaran. Repotnya, jika tidak memiliki penyaring yang baik, kita dapat menjadi tong sampah. Padahal seharusnya setiap murid Tuhan mengutamakan air susu yang murni dan yang rohani, yang akan menjamin pertumbuhan iman dan membentenginya dari pengajaran-pengajaran yang menyesatkan (1 Petrus 2:2,3).

Kita belajar bahwa murid-murid di Galatia terlalu cepat berpaling dari Injil yang benar kepada “injil yang lain” ( Galatia 1:6-10). Jadi, mari kita memerhatikan peringatan Paulus tersebut dengan saksama. Terlebih Rasul Paulus juga mengingatkan kita bahwa akan muncul pengajar-pengajar palsu, “serigala berbulu domba” yang menyusup ke dalam persekutuan orang-orang percaya. Parahnya, pengajar-pengajar palsu semacam itu bisa muncul dari antara kita sendiri (Kisah Para Rasul 20:29,30).

Betapa pentingnya bagi kita untuk mengadakan waktu khusus secara tetap dan teratur—sebagaimana halnya kita harus makan setiap hari—agar kita tetap sehat dan bertumbuh secara rohani. Hanya dengan semakin mengenal firman Tuhan secara benar, kita akan mudah membedakan yang palsu dari yang benar. Kita juga akan dimerdekakan sehingga kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam angin pengajaran yang merupakan permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Efesus 4:14,15) —CC


KENALILAH YANG BENAR MAKA KITA AKAN MUDAH MENGHINDARI
YANG KELIRU DAN MENYESATKAN

Yohanes 8:30-36
8:30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.
8:31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
8:33 Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?"
8:34 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.
8:35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
8:36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

FaGuS
September 1st, 2008, 04:50
Dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan”
Filipi 2:11


Bacaan: Matius 16:13-20
Setahun: Yeremia 40-42

Pada masa kini, ada kesan kuat bahwa gereja seolah-olah hanya tempat pertunjukan dan hiburan. "Pengunjung" datang dan pergi sesukanya demi mencari acara yang memuaskan selera. Bila gedung gereja dipenuhi oleh hadirin yang terpikat, entah oleh apa, itu dinilai sukses. Gereja hanya dipahami sebagai sebuah gedung, tempat, acara, dan pertunjukan.

Atas perkenan Allah, Petrus mengaku bahwa Yesus-lah Anak Allah; dan Tuhan mendirikan Gereja-Nya di atas dasar pengakuan iman itu. Keberadaan gereja ditentukan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejarah gereja membuktikan bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, pengakuan itu bertahan walaupun diterjang pelbagai tantangan, siksaan, penganiayaan, dan pembantaian. Selama kaum beriman yang tinggal masih setia pada pengakuan imannya, gereja—dalam arti sesungguhnya—tak akan pernah binasa, meskipun para tokohnya dibunuh, gedung-gedungnya dibakar, kegiatan-kegiatannya dilarang, ruang gerak dan izin pendiriannya dibatasi. Sebaliknya, gereja justru makin berkembang.

Keberadaan gereja lebih ditentukan oleh faktor orang-orang yang hidup di atas dasar pengakuan iman, yaitu makna Yesus bagi jemaat. Bukan dari megahnya gedung, rapinya organisasi, bervariasinya kegiatan, dan kuatnya keuangan. Semua itu memang perlu, tetapi bukan yang utama. Kekuatan gereja bertumpu pada karya Roh Kudus di dalam dan melalui orang-orang yang setia pada imannya. Pada akhirnya, orang-orang tidak hanya mencari gereja sebagai tempat ibadah, tetapi juga demi melaksanakan hidup bergereja; terlibat aktif dalam setiap pelayanan gereja —PAD



GEREJA BUKANLAH GEDUNGNYA
MELAINKAN ORANG-ORANGNYA


Matius 16:13-20
16:13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"
16:14 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."
16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
16:16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
16:17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
16:20 Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

FaGuS
September 2nd, 2008, 03:13
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,
tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum
Markus 16:16



Bacaan: Kisah Para Rasul 8:1-17
Setahun: Yeremia 43-46

Tanggal 7 Mei 2006, di Athena, seorang pemuda imigran yang telah mengenal Kristus selama tiga tahun, dibaptis. Ia tinggal bersama pamannya yang membenci kekristenan. Setiap malam ia membaca Alkitab diam-diam. Suatu saat, rencana baptisan itu diketahui pamannya. Sang paman marah besar. Saat si pemuda masih tidur, pamannya mendidihkan sepanci air, menyiramkannya ke tubuh pemuda itu, lalu mengusirnya. Namun pagi harinya dengan pinggang dan tangan melepuh, pemuda itu tetap pergi ke gereja. Dengan tubuh penuh luka dan sakit, ia berlutut di depan altar untuk menerima baptisan. "Kini saya milik Yesus!" serunya.

Bagi banyak orang yang hidup pada zaman sekarang, baptisan mungkin merupakan perkara biasa. Namun, tidak demikian bagi pemuda tadi atau orang-orang pada zaman para rasul! Baptisan bisa jadi soal hidup mati, sebab baptisan adalah inisiasi. Pada saat baptisan dilakukan, orang menyatakan di depan Tuhan dan jemaat, bahwa ia beriman hanya pada Kristus; bukan pada yang lain. Bagi pemimpin agama Yahudi baptisan dianggap sebagai pemurtadan, sehingga pengikutnya pantas dianiaya (ayat 1-3). Uniknya, walau tahu risikonya berat, banyak orang yang tetap mau dibaptis (ayat 12). Mereka percaya bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar daripada kuasa penganiaya.

Baptisan itu berharga. Jangan disepelekan! Jika Anda belum dibaptis, usahakan untuk menerimanya! Iman Anda harus dinyatakan dengan berani di depan Allah dan manusia. Jika Anda sudah dibaptis, hadapilah konsekuensinya. Baptisan adalah langkah awal untuk hidup berpusatkan pada Yesus —JTI



KITA DISELAMATKAN KARENA IMAN, BUKAN KARENA BAPTISAN
NAMUN ORANG BERIMAN MEMBUTUHKAN BAPTISAN


Kisah Para Rasul 8:1-17
8:1 Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. (8-1b) Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
8:2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.
8:3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
8:4 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.
8:5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.
8:6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
8:7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.
8:8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.
8:9 Seorang yang bernama Simon telah sejak dahulu melakukan sihir di kota itu dan mentakjubkan rakyat Samaria, serta berlagak seolah-olah ia seorang yang sangat penting.
8:10 Semua orang, besar kecil, mengikuti dia dan berkata: "Orang ini adalah kuasa Allah yang terkenal sebagai Kuasa Besar."
8:11 Dan mereka mengikutinya, karena sudah lama ia mentakjubkan mereka oleh perbuatan sihirnya.
8:12 Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.
8:13 Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.
8:14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ.
8:15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus.
8:16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
8:17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.

FaGuS
September 3rd, 2008, 04:48
Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu
Yohanes 8:7


Bacaan: Yohanes 8:1-11
Setahun: Yeremia 47-49

Dalam buku Connecting, Larry Crabb menceritakan kisah berikut. Dalam sebuah acara retret bagi kaum muda bermasalah, seorang gadis berdiri untuk menuturkan pergumulannya. Dengan bibir bergetar dan air mata meleleh membasahi pipi, ia mengaku, "Saya telah menjadi pelacur selama tiga tahun terakhir ini. Saya sangat menyesal."

Saat gadis itu masih berdiri dengan gamang, ayahnya berjalan menghampiri, lalu memeluknya dan berkata, "Saat aku melihatmu, aku tidak melihat seorang pelacur di dalam dirimu. Kamu sudah dibasuh oleh darah Kristus. Kini aku melihat putriku yang cantik."

Kisah ini bukan hanya kisah keluarga yang menyentuh, melainkan juga memuat pelajaran yang patut diterapkan dalam kehidupan bergereja, khususnya saat menyikapi anggota jemaat bermasalah. Bagaimana tanggapan kita bila tahu ada saudara seiman yang jatuh ke dalam dosa? Tak jarang kejadian itu malah menjadi ajang penghakiman dan bahan gosip.

Tanggapan itu sangat ganjil kalau kita menyadari bahwa gereja adalah keluarga Allah. Orang yang jatuh ke dalam dosa bukan penyakit yang perlu disingkiri, melainkan saudara yang harus diperhatikan dan ditolong. Seperti ayah gadis tadi, kita dapat belajar untuk tidak berfokus pada kesalahan yang diperbuat, tetapi pada realitas kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus dan pemulihan yang tersedia di dalam anugerah-Nya. Sikap semacam ini mengandung daya pemulihan yang manjur untuk membangkitkan kembali mereka yang jatuh. Itulah yang dilakukan Yesus terhadap perempuan —ARS



KEMURAHAN TUHAN DIMAKSUDKAN
UNTUK MENUNTUN KITA KEPADA PERTOBATAN


Yohanes 8:1-11
8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

FaGuS
September 4th, 2008, 00:20
Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya
1 Korintus 12:27


Bacaan: Mazmur 92:13-16
Setahun: Yeremia 50-52

Ada ungkapan bernada gurau: "Gereja Kristen Jalan-jalan". Istilah itu mengacu pada orang kristiani yang enggan menetap dan bertumbuh di satu gereja tertentu, tetapi berpindah dari satu gereja ke gereja lain. Bila diibaratkan suatu hubungan, mereka hanya ingin menikmati asyiknya berpacaran, tetapi enggan berkomitmen dan membina kehidupan berkeluarga.

Berjalan kaki pada pagi hari secara teratur tentu sangat dianjurkan demi menjaga kebugaran, namun berjalan-jalan dari gereja ke gereja setiap minggu malah akan mengganggu kesehatan rohani kita. Pemazmur antara lain menggambarkan kehidupan orang benar sebagai pohon yang "ditanam di bait Tuhan" (Mazmur 92:14). Supaya bertumbuh dengan baik, sebuah pohon perlu mengembangkan akarnya guna menyerap air dan sari-sari makanan yang tersedia di tanah.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sebuah pohon yang baru ditanam kemudian dicabut, lalu ditanam di tempat lain, lalu dicabut lagi, lalu ditanam di tempat lain lagi. Tidak ayal pohon itu akan layu sebelum berkembang.

Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi percaya, tetapi juga untuk menjadi anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:27). Itulah salah satu makna yang terkait dalam gambaran Paulus tentang gereja sebagai "satu tubuh banyak anggota". Maka sudah semestinya kita berkomitmen di dalam gereja lokal. Dengan berkomitmen secara rohani, kita berakar dan menerima asupan makanan rohani secara teratur. Kita juga mendapatkan "tanah tempat bertumbuh", yaitu komunitas orang percaya, untuk saling mengasihi dan melayani menuju kedewasaan rohani —ARS



KOMITMEN TERHADAP GEREJA MENUNJUKKAN TANGGUNG JAWAB
KEPADA KRISTUS, SANG KEPALA GEREJA


Mazmur 92:13-16
92:13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
92:14 mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
92:15 Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,
92:16 untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

FaGuS
September 5th, 2008, 00:34
Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok
Amsal 24:17



Bacaan: Matius 5:43-48
Setahun: Ratapan 1-3

Dalam "hukum" dunia, kata "mengasihi" dan "musuh" adalah dua kata yang bertolak belakang, karenanya tidak dapat dipersatukan. Dalam bahasa Inggris, musuh adalah enemy, berasal dari bahasa Latin inimicus, artinya "bukan sahabat". Definisinya jelas: orang yang membenci, menginginkan hal yang tidak baik, menyebabkan jatuh, kecewa, sakit, dan sebagainya. Maka, nasihat untuk mengasihi musuh bisa dibilang aneh. Sebab, normalnya musuh itu mesti dilawan, dibenci, disingkirkan, kalau perlu dibasmi.

Akan tetapi, itulah yang dengan tegas dan jelas diajarkan Tuhan Yesus: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Ajaran mengasihi musuh tidak saja berdimensi teologis—berkenaan dengan aspek imani—tetapi juga berdimensi praktis dan logis. Pertama, membenci musuh akan merugikan diri sendiri; tidak ada orang yang hidupnya bahagia kalau terus dikuasai kebencian terhadap orang lain. Kedua, melawan kebencian dengan kebencian sama dengan melipatgandakan kebencian. Seperti gelap yang tidak bisa dilawan dengan gelap, tetapi harus dengan terang. Terang, walau hanya secercah, akan sanggup menembus kegelapan.

Dengan memahami makna ajaran "mengasihi musuh", kita bisa melihat luka tanpa dendam; kepahitan tanpa amarah; kekecewaan tanpa geram. Kita memandangnya sebagai kesempatan untuk mengasihi orang lain; untuk berbuat kebaikan. Seperti kata Alfred Plummer, "Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tabiat ilahi" —AYA



KEMENANGAN TERBESAR ADALAH
KETIKA KITA BERHASIL MENGASIHI LAWAN


Matius 5:43-48
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

FaGuS
September 6th, 2008, 05:29
Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan
Roma 5:3


Bacaan: Roma 5:1-6
Setahun: Yehezkiel 1-4

Suatu malam, sebuah gereja yang ada di desa mengadakan kebaktian penyegaran iman dan mereka mengundang seorang pendeta untuk berkhotbah. Desa tersebut baru saja mendapat sambungan aliran listrik sehingga ruang kebaktian gereja mendapat penerangan dari lampu pijar. Ketika sang pendeta tengah berkhotbah, tiba-tiba listrik mati. Ruangan ibadah pun menjadi gelap gulita. Sang pendeta bingung; harus terus berkhotbah atau menunggu listrik menyala. Tiba-tiba seorang anggota majelis berbisik, "Teruslah berkhotbah, Pak Pendeta. Kami masih bisa melihat Yesus di dalam gelap."

Hidup bisa tiba-tiba menjadi gelap saat kita menghadapi kesengsaraan; kehilangan orang terkasih, sakit-penyakit, kegagalan bisnis. Semua itu membuat hari-hari tampak suram. Ibarat mati lampu, keadaan di sekeliling menjadi tampak gelap. Namun, orang yang beriman pada Kristus dapat tetap berdiri, bahkan bermegah. Mengapa? Sebab ada pengharapan. Kita yakin, di tengah gelapnya hidup, Yesus beserta. Kita bisa melihat Dia dalam gelap. Oleh sebab itu, kesengsaraan tidak perlu menjatuhkan iman, tetapi menguji iman kita untuk naik setingkat lebih tinggi. Pengalaman membuktikan, hari-hari gelap justru merupakan saat di mana Tuhan mendekat; saat di mana kita merasakan pertolongan dan kuasa-Nya secara istimewa.

Apakah jalan di depan Anda tampak gelap? Jangan takut, apalagi sampai kehilangan kegembiraan hidup. Percayalah, semakin sulit jalan hidup Anda, semakin nyata Tuhan menyertai Anda. Seperti orangtua yang memberi perhatian khusus saat anaknya sakit, Tuhan pun begitu. Di topan gelap, Anda didekap —JTI



GELAPNYA JALAN TAK PERLU MENGHENTIKAN LANGKAH
SELAMA PELITA Anda TETAP MENYALA


Roma 5:1-6
5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

FaGuS
September 7th, 2008, 06:05
Yang satu (persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan
Matius 23:23


Bacaan: Maleakhi 3:1-10
Setahun: Yehezkiel 1-4

Tentang persepuluhan, ada yang berkata, "Persepuluhan harus dikembalikan ke gereja lokal, kalau tidak, berarti kita merampok milik Tuhan". Sebaliknya, ada pula yang berkata, "Itu sistem di Perjanjian Lama. Bukankah kita hidup di zaman Perjanjian Baru, zaman anugerah, jadi yang penting kita memberi dengan rela dan sukacita."

Begitulah, kita bisa terjebak dalam kebingungan bila mengubah, menambah, atau mengurangi ayat Alkitab semau kita menjadi "lebih indah dari warna aslinya". Padahal, Maleakhi 3:10 dan Imamat 27:30 telah menuliskan persepuluhan ini dengan jelas. Tak ada kata tuduhan "merampok" atau "merampas". Kita hanya menerima nasihat, "bawalah milik Tuhan". Selanjutnya, persepuluhan tidak hanya disebut dalam Perjanjian Lama, tetapi juga dalam Perjanjian Baru. Yesus mengatakan, "Yang satu (persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan" (Matius 23:23). Bahkan lebih jauh Perjanjian Baru juga menegaskan, bahwa tak hanya sepersepuluh, tetapi juga seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, karena kita sudah ditebus dengan darah Yesus yang mahal (1 Petrus 1:18,19).

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara sangat jelas mengenai persembahan. Yang penting; baik persepuluhan, persembahan iman dan syukur, atau apa pun namanya, harus diberikan bukan dengan duka atau terpaksa. Namun, dengan motivasi yang benar, bukan untuk pamer (Matius 6:3) dan dengan rela dan sukacita (2 Korintus 9:7). Dengan demikian, Allah pun berkenan atas setiap persembahan kita. Inilah prinsip yang utuh di dalam seluruh Alkitab —ACH



BIARLAH ALLAH DIMULIAKAN
MELALUI SETIAP PERSEMBAHAN YANG KITA BAWA


Maleakhi 3:1-10
3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.
3:5 Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.
3:6 Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.
3:7 Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?"
3:8 Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!
3:9 Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!
3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

FaGuS
September 8th, 2008, 06:09
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur
Matius 8:24


Bacaan: Matius 8:23-27
Setahun: Yehezkiel 5-7

Salah satu kasus terbanyak penyebab kecelakaan di jalan tol adalah pengemudi yang mengantuk. Tidak heran di setiap jalan tol biasanya tersedia rest area atau tempat beristirahat. Pengemudi yang mengantuk diimbau untuk menepi dan beristirahat sejenak. Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) pernah melakukan penelitian tentang pengaruh tidur sesaat kepada para pilot militer dan astronot. Hasilnya, dengan tidur empat puluh menit, kinerja mereka meningkat 34%. Kesiagaan dan konsentrasi mereka pun meningkat hingga 100%.

Kita perlu beristirahat untuk melepas kepenatan, kesumpekan, dan kelelahan demi mengembalikan tenaga. Tidur membuat metabolisme dalam tubuh kita melambat. Seluruh organ tubuh beristirahat. Tubuh kita melakukan perbaikan jaringan yang rusak. Itulah sebabnya, tidur yang cukup akan memberi kesegaran, tidak hanya jasmani, tetapi juga rohani. Namun, kita kerap kali mengorbankan waktu tidur hanya demi mengejar target pekerjaan atau belajar. Hal ini tentu saja keliru, karena secara alamiah tubuh kita justru akan lebih produktif apabila cukup tidur. Apalagi, kurang tidur juga bisa menyebabkan emosi kita menjadi tidak stabil.

Hari ini kita menyimak kisah tentang Tuhan Yesus yang tengah tidur di dalam perahu saat berlayar bersama para murid. Kesibukan mengajar dan melayani orang banyak tentu membuat-Nya lelah dan penat. Dalam kemanusiaan-Nya, seperti juga kita, Tuhan Yesus pun memerlukan tidur. Secara alamiah, tidur membuat-Nya tidak kehilangan kendali diri, bahkan ketika krisis terjadi (ayat 26). Sudahkah kita cukup tidur hari ini? —AYA



TIDUR CUKUP MENJAGA PRODUKTIVITAS
BAIK JASMANI MAUPUN ROHANI


Matius 8:23-27
8:23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.
8:24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
8:25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."
8:26 Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.
8:27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

FaGuS
September 9th, 2008, 05:23
Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba Tuhan?
Yesaya 42:19


Bacaan: Yesaya 42:18-25
Setahun: Yehezkiel 8-11

Doof indie atau tuli gaya Hindia merupakan sikap kaum pribumi yang banyak dikritik oleh para menir Belanda pada zaman penjajahan dulu. Kaum pribumi yang bekerja sebagai pembantu para menir itu sering berpura-pura tidak mendengar perintah tuannya. Kalau dimarahi, mereka berkilah, "Maaf saya tidak dengar, Tuan." Namun, apabila tuannya adalah Tuhan semesta alam, ceritanya bisa lain.

Yesaya 42 berisi teguran Tuhan kepada umat-Nya. Awalnya, Israel punya julukan hebat: hamba Tuhan. Namun, sang nabi menyindirnya sebagai hamba Tuhan yang buta dan tuli. Bahkan satu-satunya bangsa yang buta dan tuli: "Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh?" (ayat 19). Bermata, tetapi tidak melihat. Bertelinga, tetapi tidak mendengar. Intinya, nabi menohok dengan mengatakan si hamba Tuhan ini berindra, namun indranya tak berfungsi. Mendengar itu bukan sekadar untuk menangkap bunyi yang datang, melainkan juga untuk menyimak dan memahami. Begitu juga terhadap perintah Tuhan (ayat 23). Bila sungguh-sungguh mendengarkan, kita akan tahu maksud Tuhan; baik dalam peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu, maupun peristiwa yang sekarang. Dan menjadikan itu sebagai modal untuk mengantisipasi apa yang akan datang.

Dunia ini begitu bising dengan suara, teori, pendapat, serta gagasan kita sendiri tentang banyak hal. Mungkin itu sebabnya kita sedikit mendengarkan suara Tuhan. Kini, sediakan diri untuk berdiam, mendengarkan, dan melihat realitas hidup. Lalu bersiaplah untuk mendengarkan dengan telinga yang peka menangkap suara dan kehendak-Nya —DKL



TELINGA yang mendengar
memimpin langkah ke arah yang benar


Yesaya 42:18-25
42:18 Dengarkanlah, hai orang-orang tuli pandanglah dan lihatlah, hai orang-orang buta!
42:19 Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN?
42:20 Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar.
42:21 TUHAN telah berkenan demi penyelamatan-Nya untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia;
42:22 namun mereka suatu bangsa yang dijarah dan dirampok, mereka semua terjebak dalam geronggang-geronggang dan disembunyikan dalam rumah-rumah penjara; mereka telah menjadi jarahan dan tidak ada yang melepaskan, menjadi rampasan dan tidak ada yang berkata: "Kembalikanlah!"
42:23 Siapakah di antara kamu yang mau memasang telinga kepada hal ini, yang mau memperhatikan dan mendengarkannya untuk masa yang kemudian?
42:24 Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN? Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, dan orang tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya orang tidak mau mendengar.
42:25 Maka Ia telah menumpahkan kepadanya kepanasan amarah-Nya dan peperangan yang hebat, yang menghanguskan dia dari sekeliling, tetapi ia tidak menginsafinya, dan yang membakar dia, tetapi ia tidak memperhatikannya.

FaGuS
September 10th, 2008, 05:59
Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga
Matius 18:4


Bacaan: Matius 18:1-5
Setahun: Yehezkiel 12-14

Milton Rokeach, seorang psikolog, merasa kewalahan menyembuhkan tiga pasiennya yang menderita “sindrom Mesias”. Mereka menganggap dirinya sebagai penyelamat dunia. Sulit sekali menyadarkan ketiganya tentang siapa mereka sebenarnya. Suatu kali, mereka bertiga diajak berdiskusi dalam suatu terapi kelompok. Orang pertama berkata, “Akulah Mesias, anak Allah yang diutus menyelamatkan dunia.” “Bohong! Dari mana kamu tahu?” bantah orang kedua. “Tuhan berbicara kepadaku,” jawab orang pertama. Tiba-tiba orang ketiga berseru: “Siapa bilang? Aku tak pernah berkata begitu kepadamu!”

Para murid Yesus pun pernah mengalami sindrom Mesias saat mereka mempersoalkan siapa di antara mereka yang terbesar. Tiap-tiap orang merasa paling unggul, paling layak, paling berjasa, atau paling rohani. Yang diincar bukan lagi pelayanan, tetapi keuntungan. Itu sebabnya Yesus meminta mereka agar bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Seorang anak tidak memedulikan status atau gengsi. Ia mengakui dirinya tak berdaya dan bergantung sepenuhnya pada orang lain. Inilah kerendahan hati sejati. Jika ingin masuk ke dalam kerajaan surga, seseorang tak boleh merasa dirinya berjasa.

Sindrom Mesias bisa juga terjadi di gereja. Banyak konflik terjadi karena orang saling bersaing, berebut kuasa, atau merasa dirinya hadir sebagai “penyelamat”. Yang senior berkata, “Karena sayalah, gereja ini berdiri!” Yang yunior berkata, “Kamilah pembaru gereja. Tanpa kami, gereja ini sudah mati ditelan tradisi!” Berhati-hatilah! Ketika kita membangun kerajaan kita sendiri, bisa-bisa kita semakin jauh dari kerajaan-Nya —JTI



TIADA TEMPAT DI KERAJAAN SURGA
BAGI MEREKA YANG MERASA DIRI SEGALA-GALANYA


Matius 18:1-5
18:1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

FaGuS
September 12th, 2008, 04:39
Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
Kisah Para Rasul 5:3


Bacaan: Kisah Para Rasul 4:34-5:5
Setahun: Yehezkiel 19-21

Sebuah gereja memerlukan dana untuk membeli sepuluh unit pendingin udara (AC). Seorang yang kaya tergerak mempersembahkan dua unit. Tiga tahun kemudian, muncul ketegangan antara si orang kaya dengan pendeta. Ia tersinggung karena usulnya untuk mengubah gaya ibadah tidak diterima. Akhirnya, ia memutuskan angkat kaki dari gereja itu. Namun sebelumnya ia meminta agar dua unit pendingin udara yang pernah ia berikan, dicopot! Begitulah jika memberi tidak dengan tulus, hanya untuk mencari "nama". Padahal, memberi persembahan bagi Tuhan berbeda dengan menyumbang ke yayasan sosial. Ini menyangkut komitmen dengan Tuhan.

Ananias dan Safira juga tidak dipaksa mempersembahkan seluruh hasil penjualan tanahnya untuk gereja. Mereka berhak memberi berapa pun. Tergantung kerelaan hati. Masalahnya, mereka berdusta. Sesudah berkomitmen mempersembahkan seluruh hasil penjualan tanah, mereka menahannya sebagian. Masalah lain, mereka tidak tulus memberi persembahan. Mencoba menampilkan kesan bahwa mereka lebih murah hati dari yang sebenarnya. Karena hal inilah mereka berdosa, selain mendustai Allah sekaligus jemaat-Nya, mereka juga telah bengkok hati dalam memberi persembahan. Tindakan mereka mencemari kesaksian gereja sehingga mendapat hukuman berat.

Ketika Anda memberi persembahan, berilah dengan hati tulus. Jangan mengharapkan imbalan apa pun. Kalaupun Anda memberi banyak, jangan merasa menjadi "donatur besar gereja" yang harus diperlakukan khusus. Persembahan bisa menjadi berkat bila muncul dari hati yang tulus. Sebaliknya, bisa menjadi kutuk bila bertolak dari hati yang bengkok —JTI



TUHAN TAK HANYA MELIHAT PERSEMBAHAN Anda
DIA MELIHAT KEMURNIAN HATI Anda


Kisah Para Rasul 4:34-5:5
4:34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

5:1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.
5:2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
5:3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
5:4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."
5:5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.

Lyd
September 22nd, 2008, 23:45
Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah
Pengkhotbah 3:13


Bacaan: Lukas 16:19-31
Setahun: Daniel 7-9


Ada sebuah karikatur bergambar dua batu nisan bersebelahan. Nisan yang satu bertuliskan, "Di sini terbaring jenazah Peter yang meninggal karena terlalu banyak makan gandum". Sedangkan nisan yang lain bertuliskan, "Di sini terbaring jenazah Akharia yang meninggal karena gandum Peter tidak pernah singgah di sini". Sebuah sindiran yang sangat mengena bagi kita.

"Jauh di mata, dekat di hati" merupakan ungkapan yang indah tentang kedekatan batin—kedekatan batin yang terjalin meski tak berjumpa secara fisik. Namun, atas perumpamaan Tuhan yang satu ini berlaku prinsip yang sebaliknya, yakni "dekat di mata, jauh di hati". Betapa dekatnya Lazarus tinggal dengan si orang kaya. Hanya "... dekat pintu rumah orang kaya itu" (ayat 20). Begitu dekatnya ia untuk disapa, diperhatikan, dan ditolong. Namun, Lazarus malah mati mengenaskan dalam kemiskinan. Sangat kontras jika dibandingkan dengan kemakmuran "si tetangga". Mengapa? Semua tahu jawabnya. Persis seperti karikatur di atas.

Sebenarnya banyak penderitaan di dunia ini tak perlu terjadi, jika orang-orang terdekat dari orang yang menderita mau berbuat sesuatu. Tuhan mengizinkan kedekatan fisik terjadi agar kita tergerak berbagi kasih dengan mereka. Dengan anak yang perlu diperhatikan dan tetangga yang sakit; dengan nenek yang duduk sendirian di sebelah kita waktu di gereja dan Bi Inem yang ayahnya (di desa) sakit keras; dengan Pak Pos yang rutin mengantar surat ke rumah kita dan Pak Jo yang setia mengangkut sampah dari rumah kita. Dan banyak lagi. Ya, mereka ada "dekat di mata" justru agar tersedia tempat di hati kita bagi mereka —PAD



SEGALA YANG KITA DAPAT DARI TUHAN
LAYAK KITA BAGIKAN KEPADA SESAMA YANG MEMBUTUHKAN


Lukas 16:19-31
16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Lyd
September 24th, 2008, 03:40
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus
Matius 28:19


Bacaan: Matius 28:16-20
Setahun: Daniel 10-12


Film Mission Impossible yang dibintangi Tom Cruise sempat menjadi boxoffice pada tahun 2006. Film yang diangkat dari serial televisi berjudul sama ini berkisah tentang agen Ethan Hunt yang mendapatkan misi yang teramat berat, bahkan nyaris mustahil. Dalam upaya mewujudkan misinya itu Hunt tidak sendiri. Ia dibantu teman-temannya yang tergabung dalam Impossible Mission Force (IMF).

Seperti film-film Hollywood yang lain, sesulit apa pun misi yang diemban oleh Hunt dan teman-temannya, pada akhirnya mereka berhasil menuntaskannya. Mereka sanggup mengubah apa yang tadinya dianggap "mustahil" menjadi "tidak mustahil". Kuncinya terletak pada penggunaan peralatan canggih dan kemampuan para tokohnya.

Sebagai pengikut Kristus kita pun memiliki misi yang harus diemban di dunia ini, yaitu menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dari sisi "target akhirnya", betul, ini sungguh tugas yang teramat berat. Bayangkan, menjadikan semua bangsa murid Kristus—walaupun pasti bukan sebuah mission impossible. Sebab kalau itu mustahil, Tuhan Yesus pun tentu tidak akan memerintahkannya.

Namun, dari sisi bagaimana misi tersebut dapat diwujudkan, sebetulnya tidaklah "seberat" itu. Maksudnya, kita semua bisa turut berperan serta. Caranya? Yaitu dengan menjadikan hidup kita sebagai kesaksian yang indah bagi orang-orang di sekitar kita. Dengan begitu, mereka melihat dan merasakan sapaan kasih Kristus lewat tindakan dan ucapan kita, lalu tergerak untuk mengikut Kristus. Kuncinya terletak pada kasih kita kepada Tuhan dan kepedulian kita terhadap sesama —AYA



HIDUP MENCERMINKAN KRISTUS DALAM SIKAP DAN LANGKAH
ADALAH KESAKSIAN HIDUP YANG PALING NYARING


Matius 28:16-20
28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Lyd
September 25th, 2008, 04:27
Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan ... burung-burung ... ternak dan atas seluruh bumi ... segala binatang melata
Kejadian 1:26


Bacaan: Kejadian 1:1-31
Setahun: Hosea 1-4


Bioteknologi adalah sebuah bidang ilmu yang menerapkan kemajuan teknologi ke dalam bidang ilmu biologi. Prospek kemajuan yang ditawarkan oleh bidang ilmu yang satu ini sungguh luar biasa. Mulai dari yang sudah kita anggap normal, seperti semangka tanpa biji, sampai kepada yang masih terasa bagaikan mimpi seperti mengganti anggota tubuh kita yang rusak dengan teknologi sel punca (stem cell).

Namun, perkembangan ini juga menimbulkan banyak masalah etika. Kemajuan yang ditawarkan tersebut acap kali berbenturan dengan batas-batas etika yang selama ini dipegang oleh masyarakat. Sebagai contoh, teknologi embryonic stem cell membutuhkan janin sebagai bahan percobaannya. Tak heran begitu banyak perdebatan yang terjadi di kalangan para ahli etika seputar isu-isu bioteknologi tersebut.

Disadari atau tidak, perkembangan bioteknologi memang membawa perubahan yang besar dalam pola pikir manusia mengenai seluruh alam dan ciptaan. Manusia, dengan perkembangan bioteknologi, seakan-akan merasa mampu mengubah alam dan kemudian menciptakan kehidupan baru. Dengan demikian, manusia merasa bahwa ia adalah allah. Dan karena itu, ia tidak lagi memerlukan Allah yang sejati.

Sebagai umat percaya, kita harus berhati-hati terhadap isu ini. Sebab seperti yang kita baca dalam bacaan Alkitab hari ini, tampak jelas siapa Tuhan dan siapa kita. Dia adalah pencipta segala sesuatu, sedangkan kita, betapa pun hebat dan canggihnya, tetap hanyalah ciptaan yang penuh keterbatasan. Tanpa Dia kita tidak ada. Terlepas dari Dia kita binasa —ALS



SEMAJU APA PUN TEKNOLOGI MANUSIA
KITA TETAP CIPTAAN YANG BERGANTUNG KEPADA SANG PENCIPTA


Kejadian 1:1-31
1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

1:3. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

1:6. Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air."
1:7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.
1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

1:9. Berfirmanlah Allah: "Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering." Dan jadilah demikian.
1:10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:11 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian.
1:12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

1:14. Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.
1:16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

1:20. Berfirmanlah Allah: "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala."
1:21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak."
1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

1:24. Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian.
1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:26. Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

1:29. Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian.

1:31. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Lyd
September 26th, 2008, 03:06
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Galatia 5:13


Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 88; Lukas 9; Yeremia 23-24

Bull riding atau mengendarai banteng merupakan salah satu dari tujuh pertandingan utama dalam acara rodeo profesional. Bull riding adalah cabang yang paling terkenal dan berbahaya dalam pertandingan rodeo.

Tujuan dari pertandingan bull riding adalah bertahan menunggangi seekor banteng liar selama 8 detik dengan satu tangan untuk mencapai kemenangan. Para cowboy yang menunggang banteng hanya diperbolehkan menggunakan satu tangan untuk memegang tali yang melingkari banteng. Gagal bertahan selama 8 detik ataupun menggunakan tangan yang bebas untuk memegang banteng maupun anggota tubuh sendiri berakibat diskualifikasi.

Namun demikian, usaha 8 detik menunggangi banteng seberat 2000 pon ini merupakan usaha yang sangat berbahaya. Tidak sedikit cowboy yang terjatuh dan terluka karena ditanduk banteng. Sebuah perkataan yang sering dikutip mengenai bull riding adalah, "It is not if you get hurt, it is when!"

Dalam diri manusia terdapat sifat dosa yang sulit dikendalikan bagaikan banteng liar. Bermain-main dengan dosa merupakan sesuatu hal yang berbahaya. Bukan soal apakah kita akan terluka karena bermain-main "mengendarai" dosa, tapi soal kapan waktunya!

Seringkali hanya dibutuhkan waktu kurang dari 8 detik bagi iblis untuk membuat kita terpelanting dan tertanduk hingga binasa. Mari berhenti bermain dengan dosa! Ijinkan tangan Yesus yang berlubang mengambil alih tali yang melingkari banteng itu. Hanya kasih karunia yang membuat kita bertahan hingga keluar sebagai pemenang.



Berhentilah bermain-main dengan dosa.

Lyd
September 27th, 2008, 04:26
Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara
Amsal 11:13


Bacaan: Amsal 11:9-13
Setahun: Hosea 8-11


Ibu Debi jengkel sekali. Dua hari lalu, ia baru saja menceritakan uneg-unegnya pada istri pendeta di gerejanya. Ia menceritakan perihal suaminya yang diduga menyeleweng. Suatu pagi, teman satu gereja menelepon dan bertanya: "Ada masalah apa dengan suamimu?" Ibu Debi kaget sekaligus kecewa. Kabar soal suaminya sudah sampai ke telinga para ibu di komisi wanita. Rupanya, dalam persekutuan doa ibu-ibu kemarin malam, sang istri pendeta memasukkan namanya ke dalam pokok doa. "Doakan Ibu Debi yang sedang punya masalah dengan suaminya," katanya. Walau berniat baik dan tak menyebut masalahnya secara rinci, si istri pendeta telah gagal menjaga rahasia.

Di gereja, banyak orang kecewa karena berhadapan dengan orang yang tak bisa menjaga rahasia. Ini masalah serius. Membocorkan rahasia berarti mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan seseorang. Walaupun tanpa sengaja, dampaknya tetap merusak. Amsal mengingatkan, mulut yang mengucapkan apa yang tidak perlu bisa "membinasakan sesama" (ayat 9), bahkan "meruntuhkan kota" (ayat 10). Selanjutnya, ketidakmampuan menyimpan rahasia juga menandakan bahwa orang itu tidak setia dan tidak bisa mengendalikan diri (ayat 12). Seseorang yang bijak seharusnya tahu kapan saatnya berdiam diri dan kapan saatnya menutupi perkara.

Sekali gagal menjaga rahasia, orang lain akan kapok untuk berbagi rasa lagi dengan kita. Mereka akan menutup diri karena merasa tidak aman. Akibatnya, kita akan kehilangan persekutuan yang akrab dan mendalam. Oleh sebab itu, mulai sekarang kendalikanlah lidahmu! Stop membicarakan yang tidak perlu —JTI



LEBIH BAIK MEMILIH APA PUN YANG AKAN ANDA KATAKAN
KETIMBANG MENGATAKAN APA PUN YANG ANDA PILIH


Amsal 11:9-13
11:9 Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.
11:10 Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.
11:11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.
11:12 Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri.
11:13 Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.

FaGuS
September 28th, 2008, 03:47
Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya
Lukas 21:4


Bacaan: Lukas 21:1-4
Setahun: Hosea 12-14

Kak Yanto adalah seorang penarik becak berusia separuh baya. Ia biasa mangkal di depan Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Penghasilannya tidak tetap. Kalau sedang sepi, ia hanya memperoleh sekitar Rp10.000,00 sehari. Kalau sedang ramai, biasanya sehari bisa sampai Rp25.000,00-Rp30.000,00. Dari penghasilannya itu, selain tentu untuk menghidupi istri dan tiga orang anaknya di kampung, Pak Yanto juga selalu menyisihkan untuk memberi persembahan bagi gerejanya yang tengah direnovasi.

Ada dua hal yang membuat sebuah pemberian itu berharga. Pertama, ketulusan yang mendasari; memberi karena memang mau memberi. Titik. Bukan, misalnya, supaya mendapat pujian atau berharap ucapan terima kasih. Motivasi tidak tulus akan mengurangi nilai sebuah pemberian. Kedua, adanya pengorbanan di baliknya. Pemberian yang bertolak dari keterbatasan dan kekurangan si pemberi akan jauh lebih bernilai, terlepas besar kecilnya nilai nominal pemberian itu.

Inilah yang dilakukan oleh janda miskin yang kita renungkan hari ini. Ia memberi banyak justru dalam kekurangannya. Dan dari pemberiannya itu tercermin pula ketulusan. Ia memberi tanpa berpikir apa yang akan diperolehnya sebagai balasan; betul-betul sebuah pemberian atas dasar kerelaan dan karena keinginan untuk memberi yang terbaik. Itulah sebabnya di mata Tuhan, pemberiannya itu jauh lebih bernilai dari semua pemberian yang lain (ayat 3). Ya, sebuah pemberian dapat menunjukkan besarnya kasih di baliknya ketika kita melakukannya tanpa pamrih, dan ketika kita harus berkorban untuk memberikannya —AYA



NILAI SEBUAH PEMBERIAN TERLETAK PADA
KETULUSAN DAN PENGORBANAN YANG MELANDASINYA


Lukas 21:1-4
21:1 Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.
21:2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
21:3 Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.
21:4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

FaGuS
September 29th, 2008, 08:32
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah mengetahuinya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan"
Markus 6:38


Bacaan: Markus 6:30-44
Setahun: Yoel 1-3

Mukjizat lima roti dan dua ikan diawali dengan belas kasihan Yesus (ayat 34). Namun rupanya Yesus tidak bermaksud bekerja sendirian. Ia meminta partisipasi dari pihak orang banyak. Sabda-Nya, "Berapa banyak roti yang ada padamu?" Bahkan tidak hanya bertanya, Dia juga menekankan perlunya partisipasi itu. Mari perhatikan sabda lanjutan-Nya, "Cobalah periksa!" Dan, akhirnya dari hasil pemeriksaan itu, mereka mendapatkan lima roti dan dua ikan.

Mukjizat Tuhan tidak dilakukan di dalam kehampaan. Yesus meminta kita untuk mengambil bagian. Apabila kita mengelak dengan mengatakan bahwa kita tidak memiliki apa pun, Yesus akan "masuk" lebih dalam dan Dia akan berkata, "Coba periksa dulu ... periksa ... periksa ... apa yang ada padamu!" Dan bila kita sudah menemukannya, bawalah itu kepada-Nya. Dia akan "mengambilnya ... menengadah ke langit, mengucapkan berkat atas apa yang kita bawa, dan memberkatinya", kemudian menggunakan hal itu demi menjadi berkat yang lebih berarti bagi hidup orang-orang lain di sekitar kita.

Kita belajar satu hal penting dari kisah lima roti dua ikan yang menjadi makanan untuk lima ribu orang dan bersisa dua belas bakul. Mukjizat Tuhan dimulai dengan belas kasihan Tuhan yang berpadu dengan keterlibatan dari umat yang bersedia.

Adakah Anda bersedia dipakai menjadi saluran mukjizat Tuhan? Periksalah apa yang ada pada Anda dan bawalah itu kepada Yesus agar diberkati dan dipakai-Nya. Dia tidak pernah meminta apa yang Anda tidak punya. Dia meminta apa yang Anda punya. Anda mengatakan bahwa Anda tidak punya apa-apa? Cobalah periksa dulu! —DKL



BAWALAH talenta Anda KEPADA TUHAN
dia akan melipatgandakannya


Markus 6:30-44
6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.
6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.
6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

FaGuS
September 29th, 2008, 23:54
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga
Matius 19:12


Bacaan: 1 Korintus 7:25-40
Setahun: Amos 1-4

Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan, kalau memang ia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat jodoh yang lain, selain aku. Amin."

Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa sebagai aib bagi yang menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya karena si lajang mendengarkan perkataan orang lain. Padahal sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam menghadapinya. Jika disikapi secara positif, maka sisi-sisi positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya waktu luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan berarti hidup sendiri, karena orang yang melajang justru punya kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan orang lain.

Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga" yang harus dibayar dalam hidup berpasangan (ayat 33-34). Intinya kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara duniawi. Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetap sama; berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang, bajiklah membawa diri. Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur. Percayakanlah hidup Anda pada rencana dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan tahu yang terbaik —DYA



melajang maupun menikah
kita sama-sama mesti memuliakan nama-nya!


1 Korintus 7:25-40
7:25 Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah.
7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.
7:27 Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang!
7:28 Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.
7:29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
7:30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
7:31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
7:32 Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.
7:33 Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya,
7:34 dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.
7:35 Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.
7:36 Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa.
7:37 Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik.
7:38 Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik.
7:39 Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.
7:40 Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Dan aku berpendapat, bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.

FaGuS
October 1st, 2008, 06:15
You did it to Me.
Matthew 25:40 NAS



Daily Bible Reading:
1 Samuel 11-13, Luke 24:45-53, Psalm 63, Proverbs 22:17-23


A minister on Chestnut Street in Philadelphia noticed a homeless man coming towards him. He was filthy and his beard was caked with rotten food. He was holding a cup of coffee and the lip of the cup was dirty. Staggering up to him the homeless man exclaimed, "Hey, mister. You want some of my coffee?" The pastor really didn't, but he thought it was the right thing to do, so he said, "Sure, I'll take a sip." When he handed the cup back he remarked, "You're generous giving away your coffee." Looking at him the derelict man replied, "Well, it was particularly delicious today, and I think if God gives you something that good you should share it!"

The pastor continued: "I figured I was being set up and it would cost me five bucks. So I asked him, 'Is there something I can do for you in return?' The man answered, 'Yeah, you can give me a hug!' (To tell the truth, I was hoping for the five dollar option!) He put his arms around me, and I suddenly realised he wasn't going to let me go! People were passing by and staring at me. There I was, dressed in my establishment garb, hugging this filthy man! I was embarrassed. Then little by little my embarrassment changed to awe. I heard a voice echoing down the corridors of time saying, 'I was hungry; did you feed Me? I was naked; did you clothe Me? I was sick; did you care for Me? I was the homeless man you met on Chestnut Street… did you hug Me? For if you did… you did it to Me.'"

FaGuS
October 2nd, 2008, 08:39
Bacaan hari ini: Mazmur 104
Ayat mas hari ini: Mazmur 8:4,5
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 8-9; Obaja 1


Suatu sore, saya asyik bercengkerama dengan anak saya yang baru berusia dua setengah tahun. Langit sore yang lembayung tampak begitu indah, sehingga sayang untuk kami lewatkan sambil bersantai di kursi panjang. Dengan asyik anak saya menelusuri langit dengan jari mungilnya yang tertuding ke atas, sembari menyanyi “Pelangi, pelangi, alangkah indahmu ….” Tiba-tiba senandungnya yang patah-patah itu terhenti dan ia bertanya, “Ma, Tuhan ada di mana?” Saya agak terkejut mendengarnya, tetapi dengan segera saya menja-wab, “Tuhan ada di hatimu, Nak. Di hati Mama juga.”

Sebagai orang dewasa, benak kita cenderung penuh dengan berbagai urusan. Maka, tak heran bila sedang memandang ciptaan Tuhan dan keindahan alam, kita jarang mengingat Pribadi yang telah menciptakan semua itu (Mazmur 104:24). Padahal, sesungguhnya hal itu merupakan saat-saat indah di mana Tuhan menyapa kita dengan kesejukan kasih-Nya, khususnya di tengah-tengah berbagai urusan kita di dunia ini. Bahkan manakala kita berada di tengah gelapnya kehidupan, alam akan mengingatkan kita bahwa Allah yang menciptakan semesta yang agung, sesungguhnya juga memer-hatikan kita pribadi demi pribadi, termasuk segala keberatan di hidup kita (Mazmur 8:4,5).

Marilah kita menikmati karunia Allah yang dari waktu ke waktu mewakili senyum kasih-Nya. Langit yang biru, mentari senja yang memerah, pelangi yang membusur dengan cantiknya, pegunungan yang gagah, lautan yang menggelora, dan banyak lagi yang lain, akan selalu menunjuk kepada kebesaran penciptanya



TANGAN ALLAH MENCIPTA ALAM YANG BEGITU LUAS TETAPI DIA JUGA BISA MENDEKAP SAYA YANG BEGITU KECIL

FaGuS
October 3rd, 2008, 08:36
Bacaan hari ini: Kejadian 36:1-8
Ayat mas hari ini: Yesaya 49:16
Bacaan Alkitab Setahun: Yunus 1-4



Saya mengenal seorang ibu yang begitu mengasihi anaknya. Bahkan sekalipun si anak berlaku tidak baik, sang ibu tak kehilangan rasa sayangnya. Suatu kali, si anak marah, meninggalkan rumah, dan tak kembali. Beberapa orang meminta si ibu untuk membiarkannya saja karena si anak sangat kurang ajar. Orang-orang yang tak tahan melihat perilakunya mengatakan bahwa ia adalah “anak yang patut dibuang”. Akan tetapi, si ibu tidak menggubris. Ia terus berusaha mencari anaknya dan berharap anaknya kembali. Bagi saya, kasih ibu ini tampak ajaib, sebab saat orang lain “membuang” si anak, sang ibu mencarinya.

Gambaran tokoh Esau dalam Alkitab juga serupa dengan anak di atas. Esau, bisa dikatakan tidak menghargai kasih Allah. Ia memandang rendah hak kesulungan yang dimilikinya dan dengan mudah menjualnya dengan harga yang tak setimpal. Namun, Alkitab tak berhenti mencatat tentang kehidupannya, dan seluruh ayat dalam Kejadian 36 menceritakan bagaimana Allah terus memelihara Esau dan keturunannya. Walaupun Esau bisa dianggap sebagai “anak yang kurang ajar dan patut dibuang”, tetapi Allah tetap mengasihinya. Itulah kejaiban kasih Allah.

Dalam perjalanan hidup ini, kita juga bisa bersikap “kurang ajar”. Bahkan barangkali manusia bisa tidak tahan menghadapi sikap atau perilaku kita. Namun, ketika orang lain sulit menerima kita, Allah terus mencari kita. Kasih-Nya selalu sangat besar kepada kita. Dan setiap kita adalah objek kasih-Nya yang besar. Maukah kita menyambut kasih ajaib itu dan menghargainya dengan sungguh-sungguh?



BAHKAN KETIKA SEMUA ORANG SEOLAH-OLAH ”MEMBUANG” KITA ALLAH TERUS MENCARI KITA

FaGuS
October 4th, 2008, 05:08
Bacaan hari ini: Mazmur 150
Ayat mas hari ini: Mazmur 150:6
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 1-3


Kata “Puji Tuhan” kerap kita dengar saat seseorang bersaksi bahwa ia telah mengalami atau menerima berkat Tuhan; misalnya mendapatkan sesuatu, lulus ujian, atau sembuh dari sakit. Sepertinya kata ini tidak jauh dengan perasaan bersyukur. Namun, apa benar hanya pada saat-saat demikian kita perlu berkata, “Puji Tuhan”?

Mazmur 150 mengajarkan kepada kita, mengapa dan kapan kita harus memuji-Nya. Mazmur ini sungguh tepat untuk mengakhiri kitab yang penuh dengan berbagai pengalaman dan perasaan para penulisnya. Para pemazmur menuangkan setiap pengalaman mereka—bisa pujian atau keluhan, syukur atau permohonan, keyakinan atau keraguan. Namun, atas setiap pengalaman naik turun itu, setelah perjuangan, pergumulan, peperangan yang harus dilalui, mereka mengakhirinya dengan satu nya-nyian yang mantap bahwa Tuhan sungguh layak dipuji. Sama dengan para pemazmur, tidak ada anak Tuhan yang luput dari gelombang kehidupan. Perjalanan hidup manusia selalu kaya dengan aneka pengalaman; baik-buruk, senang-susah, berhasil-gagal. Namun, atas setiap pengalaman itu, Allah tetap berdaulat. Dan bila kita hidup melekat kepada-Nya, pasti kemenangan yang akan kita alami.

Kelak seluruh dunia akan menaikkan pujian seperti Mazmur 150 ini. Dan pujian yang dipersembahkan bagi-Nya, disajikan layaknya sebuah orkestra: semua alat musik dipadu untuk menembangkan kemegahan-Nya! Ditambah dengan tari-tarian yang mengekspresikan syukur melimpah. Jadi mulai saat ini, atas setiap hal yang terjadi dalam hidup kita, mari berlatih untuk berkata, “Puji Tuhan!”



TERPUJILAH TUHAN YANG MULIA ATAS SETIAP PERISTIWA YANG KITA TERIMA

FaGuS
October 5th, 2008, 13:09
Bacaan hari ini: Imamat 25:1-22
Ayat mas hari ini: Keluaran 20:8
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 4-7


Kehidupan kerap kali menjebak manusia dengan ritme yang terlalu cepat dan tanpa jeda. Padahal Tuhan yang merancang manusia sejak semula, memberi kita perintah untuk beristirahat, dengan mengkhususkan sabat. Tuhan hendak menunjukkan cinta-Nya melalui sabat. Hidup seluruh ciptaan akan seimbang melalui penerapan sabat. Bahkan, bukan manusia saja yang diperintahkan untuk beristirahat, tetapi juga tanah. Dalam Imamat 25, Tuhan Allah menerapkan tahun sabat bagi tanah untuk berproduksi. Namun, Tuhan akan tetap mencukupkan makanan bagi umat selama tahun itu, karena sejak tahun keenam Tuhan sudah mengirim lebih banyak berkat (ayat 20, 21). Lebih jauh lagi, tahun kelima puluh (tahun Yobel) dikhususkan untuk mengadakan pembebasan.

Sabat diadakan agar kita bergantung pada pemeliharaan Tuhan dan menikmati kecukupan yang Tuhan sediakan. Ambil satu hari sabat setiap minggu sebagai momen untuk membuang segala kekhawatiran kita dalam mencari nafkah. Juga sebagai momen untuk belajar berserah total pada pemeliharaan Tuhan.

Tentu beristirahat pada hari sabat tidaklah identik dengan usaha mencari hiburan semata. Sabat perlu diisi dengan aktivitas-aktivitas yang semakin mendekatkan diri kita kepada sang Ilahi. Aktivitas yang memperkaya hidup batin seperti ibadah, bersekutu dengan saudara seiman, menikmati waktu bersama keluarga, dan sebagainya. Tanpa menjaga sabat, maka irama hidup kita tidak akan seimbang. Sabat akan mengajar kita betapa seharusnya kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak khawatir secara berlebihan akan hidup ini



KESEIMBANGAN HIDUP TERJADI KETIKA SABAT KITA JALANI

FaGuS
October 6th, 2008, 04:16
Bacaan hari ini: Kejadian 2:18-25
Ayat mas hari ini: Kejadian 2:22
Bacaan Alkitab Setahun: Nahum 1-3


Pernahkah Anda kesepian? Bagaimana suasana hati Anda ketika itu? Kelabu dan dingin? Lalu bayangkan, dalam suasana begitu, tiba-tiba seseorang hadir dan membuat hati Anda hangat dan bahagia. Rasanya? Sungguh menyenangkan!

Saat Adam kesepian, Allah merasa kasihan kepadanya. Jadi, untuk memberinya penolong yang sepadan, Allah mengirim segala binatang hutan dan burung agar diberi nama oleh Adam. Tujuannya, supaya ia dapat memilih satu penolong baginya. Namun, tak ada yang sesuai. Karena semua calon gagal, Tuhan Allah membuat Adam tertidur. Lalu dari rusuk Adam dibangun-Nya (dari kata Ibrani banah, artinya “melakukan karya seni bak seniman patung”) seorang wanita (isyah). Berbeda dengan bagaimana Adam dibentuk (yatsar, artinya “melakukan karya seperti tukang”) dari debu tanah menjadi laki-laki (isy). Itulah pria dan wanita. Dibentuk dari bahan baku berbeda (debu tanah dan rusuk) serta cara kerja berbeda pula (cara tukang dan cara seniman). Walau demikian, pernikahan pertama itu mengandung semangat kesatuan dalam perbedaan. Sampai A-dam pun berkata: “Inilah dia tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku” (ayat 23).

Demikian pula yang semestinya terjadi dalam semua pernikahan. Bagi calon pengantin yang merancang hidup baru dan pengantin baru, mungkin ini menggairahkan. Namun bagi suami istri yang sudah lama berumah tangga, perbedaan dalam kesatuan bisa jadi beban, bahkan beban berat! Namun, kemungkinan besar persoalannya ada pada pemikiran kita mengenai perbedaan. Jadi, mari mohon hikmat Tuhan; sebab siapa pintar mengelola perbedaan akan menemukan kesepadanan




PERBEDAAN BUKAN BENCANA JUSTRU PERBEDAAN YANG MEMBUAT HIDUP INI BERWARNA

FaGuS
October 7th, 2008, 03:44
Bacaan hari ini: Ibrani 13:1-6
Ayat mas hari ini: Ibrani 13:5
Bacaan Alkitab Setahun: Habakuk 1-3



Pada awal masa krisis ekonomi, pernah terjadi orang sulit membeli minyak goreng. Harganya meroket. Banyak orang menjadi resah. Namun, seorang ibu malah mendapat ide kreatif. Ia mencoba menggoreng tanpa minyak goreng! Ketika memasak telur ceplok, ditaruhnya daun pisang di atas wajan, lalu telur diceplok di atasnya. Hasilnya cukup memuaskan. Segera ide ini disebarluaskan ke media massa. Idenya, ketimbang belanja melebihi kemampuan, lebih baik belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada.

Dalam Ibrani 13:5, penulis kitab Ibrani mengutip janji pemeliharaan Tuhan dari Ulangan 31:6, “Ia tidak akan membiarkan engkau.” Namun, didahului dengan sebuah syarat: “cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu”. Tuhan tidak akan memelihara orang yang boros dan serakah. Dia memelihara orang yang mau belajar bersyukur de-ngan apa yang ada. Yakni mereka yang berjuang untuk bisa hidup dengan yang sedikit, ketimbang terus berusaha meraup lebih banyak. Mereka yang memilih bergaya hidup memberi dan membagi (ayat 2,3) lebih dari mengumpulkan bagi diri sendiri. Mereka yang berusaha menikmati apa yang sudah tersedia, ketimbang menyesali apa yang telah hilang.

Kita hidup di zaman sulit. Di satu sisi, harga BBM dan kebutuhan pokok semakin mahal. Di sisi lain, semakin banyak tawaran untuk membeli aneka barang yang tak kita butuhkan. Tanpa belajar mencukupkan diri, kita bisa menjadi hamba uang yang serakah. Terjebak utang-piutang yang menyengsarakan. Atau menjadi pribadi yang ha-nya ingat diri sendiri, tak pernah memberi tumpangan. Ini saatnya kita belajar mencukupkan diri!




ALLAH AKAN MENCUKUPKAN MEREKA YANG BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI

FaGuS
October 8th, 2008, 08:48
Bacaan hari ini: Yohanes 2:1-5
Ayat mas hari ini: Yohanes 2:4
Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3



Setiap kali kisah di Kana dikhotbahkan, iman kita diteguhkan dengan mukjizat yang Yesus lakukan. Kerinduan untuk mengundang Yesus ke dalam hidup kita semakin besar. Memang benar bahwa jika Yesus hadir, maka kekurangan dalam hidup kita pasti dapat Yesus atasi. Namun lebih dari sekadar mengharap mukjizat-Nya, kita patut mengamati dan meniru sikap hidup Yesus dalam peristiwa ini.

Pertama, Dia mau hadir dalam pesta pernikahan. Artinya, Yesus mau bergaul, tidak menyendiri atau di Bait Suci saja. Kita pun mesti hadir di masyarakat dan lingkungan, berada di tengah orang banyak, mungkin di sana kita dapat melakukan sesuatu yang berguna. Kedua, Ibu Maria meyakini-Nya (ayat 4,5) sebagai Pribadi yang bisa dimintai pertolongan. Ibu Maria tidak meminta tolong kepada orang lain. Ia langsung datang kepada Yesus karena yakin Yesus pasti dapat menolong. Semoga setiap kita sebagai anak-anak-Nya juga dipercaya sebagai tempat ke mana orang dapat datang meminta pertolongan. Orang boleh merasa yakin mereka tidak akan ditolak oleh orang kristiani. Ketiga, Yesus rela berkurban bagi orang lain. Memang belum saat-Nya Yesus “dikenali” orang banyak lewat mukjizat yang Dia buat. Bila publik mulai mengetahui hal itu, kemungkinan besar akan muncul berbagai reaksi yang dapat menyulitkan Yesus. Walaupun demikian, Dia tetap membuat mukjizat agar pesta pernikahan di Kana terselamatkan. Begitulah Yesus berkurban dan menolong, agar orang lain terselamatkan.

Belajar dari sikap hidup Yesus, biarlah hari ini kita meniru Dia!




SIKAP HIDUP ORANG BANYAK MUNGKIN MEMENGARUHI KITA NAMUN BIARLAH SIKAP HIDUP YESUS YANG MENJADI CETAK BIRU KITA

godai
October 8th, 2008, 10:00
banyak banget , baca dulu ahhhh

FaGuS
October 9th, 2008, 04:28
Bacaan hari ini: Bilangan 10:29-34
Ayat mas hari ini: Bilangan 10:31
Bacaan Alkitab Setahun: Hagai 1-2


Seberapa sering Anda menerima pujian yang tulus dari kekasih Anda?” Pertanyaan ini diajukan pada ratusan suami istri dalam sebuah penelitian. Hasilnya mengejutkan. Ternyata banyak yang berkata, “Saya tak pernah menerima pujian” atau “Hampir tak pernah”. Seorang istri menjawab: “Aku tidak ingat kapan terakhir kali suamiku me-mujiku”. Banyak orang pelit dalam memuji. Berat lidah untuk menyatakan betapa ia menyukai, mengagumi, atau menghargai orang lain. Alasannya macam-macam. “Ia sudah tahu!”, “Kalau dipuji nanti besar kepala”, atau “Saya malu mengatakannya”.

Sebuah penghargaan dapat memperkokoh hubungan. Musa menyadari hal ini. Ketika berada di Gunung Sinai, Musa diberi tahu bahwa Hobab tidak lagi mau melanjutkan perjalanan bersama rombongannya. Memang Hobab bukan orang Israel. Ia orang Midian. Bukannya ikut ke tanah perjanjian, ia justru ingin kembali ke kampungnya. Melihat hal ini, Musa memohon Hobab tetap bersamanya. Musa menyatakan betapa pentingnya Hobab. Dipujinya Hobab sebagai penunjuk jalan terbaik. Orang yang paling tahu seluk-beluk padang gurun. Walaupun Musa pemimpin tertinggi, ia tidak gengsi un-tuk mengakui kehebatan Hobab. Penghargaan ini akhirnya membuat Hobab tak jadi meninggalkan Musa, sebab ia merasa dirinya berharga.

Coba pikirkan orang-orang yang sudah banyak menolong Anda. Mereka yang sudah membuat hidup Anda nyaman dan indah. Kapan terakhir kali Anda memuji dan menghargai mereka? Pernahkah Anda menyatakan betapa pentingnya mereka bagi Anda? Kalau belum, lakukanlah itu hari ini!



PUJIAN MEMPERKAYA HIDUP ORANG YANG MENERIMANYA TANPA MEMPERMISKIN SANG PEMBERINYA

FaGuS
October 9th, 2008, 23:57
Bacaan hari ini: 2 Timotius 2:22-26
Ayat mas hari ini: 2 Timotius 2:22,23
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 1-3



Filippo Inzaghi adalah seorang striker sepakbola asal Italia. Gaya permainan bolanya tidak secantik Ronaldinho—pemain nasional Brasil. Tubuhnya kecil, kecepatan larinya pun rata-rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya mencari ruang kosong, sehingga setiap serangan yang ia buat menjadi efektif. Tak banyak gaya, tetapi gol tercipta. Itulah yang membuatnya menjadi striker yang tetap diandalkan oleh AC Milan, timnya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi.

Prinsip ini senada dengan nasihat Paulus. Ayat-ayat yang kita baca adalah nasihat Paulus kepada Timotius yang hendak menjadi hamba Tuhan. Agar pelayanannya berhasil, Timotius diminta untuk tidak mengejar nafsu orang muda (ayat 22), tetapi menyalurkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Tidak membuang waktu untuk sesuatu yang mengada-ada atau bodoh (ayat 23), tetapi mengejar keadilan, kesetiaan, kasih, dan damai sejahtera. Melalui setiap nasihat ini, Paulus rindu agar Timotius hidup seefektif mungkin dalam melayani Allah.

Sekarang coba kita terapkan nasihat ini bagi kita secara pribadi. Adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain, dan sebagainya? Waktu yang ada begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sudah seharusnya kita menggunakan waktu untuk melaku-kan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Apalagi Tuhan memberi kita tugas untuk mengajar dan menuntun orang lain (ayat 24,25). Jangan buang waktu lagi, hiduplah efektif bagi Allah!




BEBERAPA MENIT YANG HABIS UNTUK MEMBICARAKAN ORANG LAIN SEBENARNYA CUKUP UNTUK MELAKUKAN SATU KEBAIKAN

FaGuS
October 11th, 2008, 05:14
Bacaan hari ini: Kejadian 44:18-34
Ayat mas hari ini: Matius 3:8
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 4-6



Saya pernah bertemu seorang anak muda yang baru sembuh dari kecanduannya akan narkoba. Setelah dirawat di pusat rehabilitasi dan dinyatakan sembuh, ia pun diizinkan pulang. Lembaran baru dalam hidupnya dimulai. Ia pun kembali ke gereja. Namun, beberapa bulan kemudian saya mendengar berita mengejutkan bahwa anak muda itu meninggal dunia karena overdosis. Ya, mengagetkan karena seharusnya ia sudah sembuh. Pengalaman pahit dengan obat-obatan ternyata tidak membuat anak muda ini sungguh-sungguh berubah. Ia belum mengalami pertobatan yang membawa-nya sampai ke titik perubahan.

Saudara-saudara Yusuf telah melakukan kesalahan besar dalam hidup mereka. Dengan hati penuh dengki dan iri hati, mereka menjual Yusuf ke tangan orang asing (37:28). Namun, akhirnya itu menjadi pengalaman menyakitkan, bukan hanya buat Yusuf tetapi buat mereka juga. Mengapa? Setelah melihat ayah mereka sangat berduka, mereka sadar telah berbuat salah (37:34,35). Sebab itu, ketika mereka kembali diper-hadapkan pada sebuah tantangan untuk “menjual” Benyamin atau membelanya, mereka memilih untuk membela Benyamin (44:16,18-34). Mengapa? Karena mereka tidak mau melakukan kesalahan yang sama.

Sebuah pertobatan tidak cukup hanya sebuah kata yang keluar dari mulut kita. Apabila kita pernah melakukan sebuah dosa dan kemudian menyesalinya, kita perlu membuat perubahan yang nyata. Itu sebabnya pertobatan harus dialami tiap-tiap hari. Atas setiap perbuatan kita yang salah, mari bertobat dengan sungguh sampai kita be-nar-benar berubah




SEBUAH PERTOBATAN YANG SUNGGUH PASTI MEMBAWA KITA PADA PERUBAHAN DIRI

FaGuS
October 12th, 2008, 09:08
Bacaan hari ini: Keluaran 20:1-6
Ayat mas hari ini: Keluaran 20:4
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 7-9


Jika kita ditanya apakah kita menyembah berhala, pasti kita langsung menampik-nya. Kita tidak pernah merasa menyimpan patung apalagi sujud menyembahnya. Kita merasa aman dari dosa pelanggaran titah kedua ini. Padahal, dosa ini tidak selalu berkenaan dengan ada tidaknya benda-benda objek pemujaan di sekitar kita. Namun, juga menyangkut cara berpikir dan cara bersikap, yang bersumber jauh di ruang kendali pikiran manusia, yakni paradigma kita.

Bahaya yang lebih nyata dan lebih berbahaya kerap kali adalah kecenderungan kita untuk “memberhalakan Tuhan”, daripada “mempertuhankan berhala”. Berhala disembah, tetapi sebenarnya apakah itu diberikan untuk kehormatan si berhala sendiri? Tidak! Berhala disembah, agar ia bersedia melayani si “penyembahnya”. Demikian pula tanpa disadari kita acap “memanfaatkan” Tuhan agar tujuan kita tercapai. Tuhan disembah dan dipuja, bukan karena Dia Tuhan, melainkan agar kita dapat meminta ini dan itu kepada Tuhan. Dan pada saat itulah kita telah memberhalakan Tuhan

Bangsa Israel mengalami didikan Allah yang berdaulat penuh. Allah yang memimpin menjadi satu-satunya tempat menggantungkan hidup mereka. Mereka sadar Allah yang Mahabesar dapat melakukan apa pun jika Dia mau. Itu sebabnya Dia patut disembah dan diagungkan, tanpa manusia berhak mengharap sesuatu dari-Nya. Mari menyembah Tuhan semata-mata karena Dia Tuhan. Apa pun yang dilakukan-Nya. Terlepas dari apa pun yang diberikan-Nya. Tanpa syarat, tanpa pamrih. Dia Allah Mahakuasa yang memi-liki kita




PENYEMBAHAN KEPADA TUHAN ADALAH TUJUAN HIDUP BUKAN ALAT UNTUK HIDUP

ducklover
October 12th, 2008, 20:13
wew.. renungan harian di forum begini... semoga berhasil... sori kayanya ga bisa bantu banyak.. GBU

FaGuS
October 13th, 2008, 04:40
Bacaan hari ini: 1 Petrus 3:1-7
Ayat mas hari ini: 1 Petrus 3:1
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 10-12


Sejak berpacaran dengan Dedi, Santi menyadari kekasihnya itu sering bersikap cuek. Tidak peduli. “Tidak mengapa,” pikirnya, “aku akan mengubahnya setelah menikah!” Setelah berumah tangga barulah ia sadar betapa sulitnya mengubah suami. Berbagai cara telah dipakainya; mulai dari memohon, merajuk, menangis, menegur, sampai mengancam sang suami untuk lebih memedulikan dirinya. Hasilnya nihil. Bukannya tambah peduli, sikap cuek sang suami malah makin menjadi. Pasalnya, ia merasa jengkel “diteror” sang istri.

Jarang sekali orang bisa berubah karena dipaksa. Kita tidak bisa mengubah orang lain karena perubahan hanya bisa terjadi dari kesadaran diri. Yang bisa kita lakukan hanyalah menciptakan suasana kondusif untuk mendorong orang lain berubah. Menyadari hal itu, Rasul Paulus meminta para istri untuk “memenangkan suami tanpa perkataan” jika ia berbuat salah. Dengan menunjukkan keteladanan yang simpatik, suami akan sadar diri dan terdorong untuk berubah. Cara ini jauh lebih efektif ketimbang mengkhotbahi. Nasihat Paulus tidak hanya berlaku bagi para istri, tetapi juga untuk setiap orang. Keteladanan hidup adalah perhiasan batin; punya daya pikat; menarik orang untuk berusaha memilikinya juga.

Apakah Anda ingin orang yang Anda kasihi berubah? Jangan katakan, “Aku akan mengubah dia!” Mintalah Tuhan yang mengubah orang tersebut. Sementara itu, berusahalah untuk mengubah diri Anda sendiri. Tunjukkan keteladanan yang simpatik. Memang butuh waktu lama, tetapi perjuangan Anda tak akan sia-sia. Perlahan tapi pasti, perubahan akan terjadi



KETELADANAN ITU BAGAIKAN MAGNET IA MENARIK ORANG MENGIKUTI APA YANG KITA CONTOHKAN

FaGuS
October 14th, 2008, 09:24
Bacaan hari ini: Amsal 31:10-31
Ayat mas hari ini: Amsal 31:29
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 13-14



Cindy dan Chip sudah 5 tahun pisah rumah. Rencananya, mereka akan bercerai pada akhir 2007. Lagipula, Chip sudah punya kekasih baru. Pada awal tahun, sesuatu terjadi. Chip menderita gagal ginjal parah. Cindy tidak tega melihatnya. “Bagaimanapun, ia masih suamiku,” ujarnya. Maka ia sumbangkan satu ginjal untuk Chip, tanpa ikatan apa pun. Rencana cerai tetap berjalan. Namun setelah keduanya pulih dari operasi, mereka jatuh cinta lagi! Sang suami berujar, “Buat apa aku mencari perempuan lain, jika di sini ada seseorang yang mau berkorban begitu besar untukku?” Akhirnya, Chip meninggalkan kekasih gelapnya dan kembali kepada Cindy.

Pengorbanan istri sanggup meluluhkan hati suami. Pengabdian istri adalah kecantikan batin yang tak ternilai. Ada banyak bentuk pengorbanan. Dalam kitab Amsal, pengorbanan istri ditunjukkan dengan perjuangannya setiap hari. Mulai dari memenuhi kebutuhan sandang pangan suami dan anak-anaknya (ayat 13-19, 21,22) sampai menjadi guru dalam keluarga (ayat 26,27). Dari pagi hingga malam ia berjerih lelah. Mengupayakan yang terbaik, demi masa depan keluarga. Ia lelah, tetapi bahagia. “Ia tertawa tentang hari depan”.

Dewasa ini, banyak suami atau anak memandang sepele pengorbanan istri atau ibu. Kesibukannya mengurus rumah ataupun bekerja dianggap sudah biasa. “Memang sudah kewajibannya.” Padahal di balik cerita sukses suami maupun keberhasilan anak, ada pengorbanan istri atau ibu. Istri atau ibu kita mungkin belum pernah mendonorkan ginjalnya. Namun, pengorbanannya dari hari ke hari tidak kurang. Kita patut menghargainya lebih!



ISTRI KITA MUNGKIN BUKAN ORANG TERCANTIK TETAPI IA ADALAH ORANG YANG TERBAIK

FaGuS
October 15th, 2008, 07:42
Bacaan hari ini: Yohanes 3:14-20
Ayat mas hari ini: Yohanes 3:17
Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4



Saya mendapat kiriman sebuah klip video dari seorang teman di Jakarta. Kisahnya, ada seorang ibu yang menemukan seekor singa di sebuah hutan di Cali, Kolombia. Singa itu terluka parah dan hampir mati. Si ibu membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh kasih hingga sembuh. Kemudian ia menyerahkan singa itu ke kebun binatang setempat supaya mendapat perawatan yang lebih baik. Klip video berdurasi sekitar 40 detik itu berisi tayangan ketika suatu hari si ibu meng-unjungi singa itu. Melihat ibu penyelamatnya datang, serta merta singa itu berdiri dan dari dalam kerangkeng, ia meraih dan memeluk erat si ibu dengan kedua kaki depannya. Si ibu pun mengusap-usap kepala singa itu. Mengharukan sekali.

Seekor binatang buas pun tahu berterima kasih kepada penyelamatnya. Lalu, bagaimana dengan manusia? Mirip dengan si ibu yang menyelamatkan singa yang terluka itu, Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia yang terluka—bahkan telah mati karena dosa-dosa yang mengerikan. Namun, apa yang kemudian Dia terima dari manusia? Justru penolakan dan penyaliban! Sungguh ironis.

Kita tentunya tidak ingin mengulangi kesalahan manusia dua ribu tahun yang lalu. Bayangkanlah kondisi kita yang terluka dan tanpa harapan; kematian seolah-olah tinggal menunggu waktu. Lalu Tuhan Yesus datang; menolong, merawat, dan menyelamatkan kita, sehingga kita sembuh benar. Kita dipulihkan. Adakah hidup kita sudah menunjukkan rasa terima kasih yang menyukakan hati-Nya?




KALAU HEWAN SAJA TAHU BERTERIMA KASIH KENAPA KITA TIDAK?

FaGuS
October 19th, 2008, 09:28
Bacaan hari ini: Yohanes 3:22-36
Ayat mas hari ini: Yohanes 3:30
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 11-14



Nama Tenzing Norgay tidaklah sepopuler Sir Edmund Hillary. Padahal, Norgay ada-lah orang yang mendampingi dan bersama Hillary menaklukkan Mount Everest. Ia adalah penduduk asli yang berprofesi sebagai pemandu jalan bagi Hillary. Setelah pendakian yang monumental itu, nama Hillary menjadi terkenal ke seluruh dunia. Ia pun diingat dan dikenang sebagai orang pertama yang menaklukkan Mount Everest. Kecewakah Norgay? Tidak. Dalam sebuah wawancara ia berkata, “Andai menjadi orang kedua yang menaklukkan Everest adalah hal yang memalukan, saya akan menanggungnya.” Norgay sadar betul ia hanyalah pemandu. Tugas utama seorang pemandu adalah mengantar orang tiba di tempat tujuan. Apa yang dicapai setelah itu bukanlah “bagiannya”.

Sama dengan sikap yang dihidupi oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes sadar betul bahwa dirinya hanyalah seorang utusan; pembawa berita. Bukan berita itu sendiri. Tugasnya adalah membuka jalan bagi Sang Mesias (ayat 28). Kepada murid-muridnya yang bertanya, ia menjawab, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ayat 30).

Begitulah prinsip dasar pelayanan kristiani: menjadikan Tuhan, yang kita junjung dan layani, semakin dimuliakan dan diingat. Pelayanan bukan untuk “membesarkan” nama kita, sebab kita ini hanyalah alat; entah sebagai pendeta, guru Sekolah Minggu, aktivis gereja, atau apa pun. Justru kalau karena pelayanan kita, orang malah lebih mengingat dan mengagumi kita, pasti ada yang salah. Sebab itu berarti kita telah mengambil apa yang bukan hak kita




TUJUAN PELAYANAN ADALAH MENJADIKAN TUHAN NOMOR SATU BIARLAH KITA TETAP ”DI BELAKANG”

FaGuS
October 20th, 2008, 05:24
Bacaan hari ini: Efesus 6:1-4
Ayat mas hari ini: Efesus 4:29
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 15-17



Banyak konflik orangtua dan anak dibingkai oleh kata-kata: “Bapak Ibu itu kuno!” Atau, “Anak zaman sekarang tidak tahu menghormati orangtua, beda dengan zaman kami dahulu”. Begitulah yang kerap terjadi dalam banyak rumah tangga. Lalu bagaimana ketegangan seperti ini mesti dikelola?

Paulus berpesan agar orangtua mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan serta bertindak sedemikian rupa agar anak paham yang mereka terima meru-pakan ekspresi kasih semata. Bisa jadi ajaran dan nasihat mengambil bentuk yang tegas, tetapi tak pernah ketegasan itu keluar dari hati yang membenci. Sebaliknya, anak diminta menghormati orangtuanya, bukan hanya agar si anak beruntung (“supaya lanjut umurmu”, ayat 3). Anak perlu taat kepada orangtua yang hidup dalam Tuhan karena ini merupakan sebuah perintah; suatu keharusan! Namun, ingat juga pesan Paulus, “taatilah orangtuamu di dalam Tuhan”. Artinya, perspektif ketaatan pada orangtua mesti berpusatkan kepada Tuhan. Nilai-nilai ketuhanan itulah yang menjadi dasar ketaatan anak terhadap ayah dan ibunya.

Bisa saja orangtua berbuat salah, bahkan jahat. Terhadap kasus seperti ini, anak tentu harus lebih memegang kebenaran sebagai ekspresi imannya kepada Tuhan sebagai sumber segala kebenaran. Sekalipun demikian, janganlah orangtua diabaikan. Mereka tetap layak menerima hormat. Semoga sebagai anak, kita selalu menghargai orangtua dengan hati yang hormat, bukan dengan hati yang merasa “lebih” lalu meremehkan bahkan menihilkan orangtua sendiri





JIKA DAMAI YANG ANDA INGINKAN MULAILAH DARI KELUARGA ANDA—BUNDA TERESA

FaGuS
October 21st, 2008, 04:39
Bacaan hari ini: Markus 7:24-30
Ayat mas hari ini: Markus 7:26
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 18-21



Sebagai orangtua kristiani, kita memiliki kewajiban yang tak boleh dilupakan. Apakah itu? Berdoa untuk anak-anak kita! Dalam buku How to be a Good Mom, dikupas tentang pentingnya orangtua berdoa untuk anak-anaknya. Doa untuk anak-anak sungguh merupakan sesuatu yang penting dan tak dapat diabaikan!

Pokok doa pertama tentu kita berdoa untuk kehidupan rohani anak-anak. Berdoa agar mereka semakin mengenal Allah lebih dalam lagi. Dengan doa, anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, tanpa harus kita awasi dengan ketat pun mereka dapat menjadi anak yang bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri. Pokok doa selanjutnya, kita berdoa untuk perkembangan fisik dan mental mereka. Ada begitu banyak anak memiliki gambar diri yang rusak. Sulit menerima diri sendiri. Mereka mungkin minder, penuh sikap negatif, dan pesimis. Melalui doa, mintalah Allah membuat terobosan-terobosan baru dalam hidup mereka, sehingga hidup mereka diubahkan. Masih banyak yang perlu kita doakan. Berdoa untuk komunitas dan pergaulan anak-anak kita; untuk calon pasangan hidup mereka kelak; untuk kesehatan mereka; untuk studi atau aktivitas-aktivitas yang dijalani; untuk masa depan mereka; dan tentu masih ada banyak hal khusus yang bisa kita doakan.

Kita takkan pernah menjadi orangtua yang baik jika berhenti berdoa untuk anak-anak kita. Dengan berdoa untuk anak-anak, berarti kita mengakui keterbatasan kita sebagai orangtua dalam mendidik anak-anak. Dengan berdoa, kita mengizinkan Tuhan yang tak terbatas menyatakan kebaikan-Nya kepada anak-anak kita




KITA TIDAK AKAN PERNAH MENJADI ORANGTUA YANG BAIK JIKA KITA BERHENTI BERDOA UNTUK ANAK-ANAK KITA

FaGuS
October 22nd, 2008, 06:29
Bacaan hari ini: Ayub 42:1-6
Ayat mas hari ini: Ayub 42:5
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 22-24



Emily hanyalah wanita biasa. Ketika mertuanya meninggal, suaminya diminta melan-jutkan sebuah proyek raksasa pembangunan jembatan. Namun, di tengah proses pembangunan itu, suaminya sakit—lumpuh, tuli, dan sulit berkomunikasi. Saat itulah, sang suami, dalam keterbatasannya, mengajarkan berbagai hal mengenai pembangunan jembatan. Emily pun menjadi asisten utama suaminya dan berusaha belajar teknik pembangunan sendiri. Pada 1870, sebuah jembatan sepanjang 1.825 meter terbentang kokoh di atas East River. Jembatan tersebut menghubungkan Brooklyn dan Manhattan di Amerika Serikat. Itulah Brooklyn Bridge, yang berhasil dituntaskan pembangunannya oleh Emily Warren Roebling. Pencobaan kerap membawa kita naik satu tingkat lebih tinggi. Melalui masalah, tidak jarang kita bertemu dengan kemampuan-kemampuan kita yang tidak terduga; belajar tentang arti pentingnya kasih, semangat kekeluargaan, makna persahabatan sejati, dan yang tak kalah penting, merasakan pengalaman penyertaan Tuhan yang luar biasa.

Itulah yang dialami Ayub. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa segala yang ia miliki hilang lenyap. Namun, Allah menuntun Ayub melewati setiap lembah yang penuh duka dan kepedihan. Dan, ketika semuanya berlalu, Ayub mendapatkan pengalaman berharga. Ia mengalami sendiri penyertaan Allah. Katanya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (ayat 5).

Mungkin Anda tengah dalam pergumulan berat. Jangan putus asa. Tuhan punya rencana yang besar dalam hidup Anda




SIKAPI PENCOBAAN DENGAN IMAN MAKA ITU AKAN MEMBAWA KITA LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN

FaGuS
October 23rd, 2008, 05:33
Bacaan hari ini: Lukas 18:9-14
Ayat mas hari ini: Roma 12:15
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 25-28



Ketika muridnya bertanya tentang ucapan yang paling disesalinya, sang guru yang bijaksana menjawab, “Saat saya berkata: Syukurlah bukan saya!”. “Mengapa begitu, Guru?” tanya muridnya lagi. Sang guru lalu bercerita, “Suatu hari, seorang tetangga mengabarkan bahwa terjadi kebakaran hebat di desa saya. Sebagian besar rumah di sana habis terbakar. Rumah saya selamat. Saat itulah saya spontan berkata, ’Syukurlah!’ Itulah kalimat yang paling saya sesali, sebab bagaimana mungkin saya bisa mensyukuri keuntungan diri sendiri di atas kesusahan orang lain?”

Tidak salah kita bersyukur karena terhindar dari sebuah kejadian buruk. Akan tetapi, menjadi salah kalau kemudian kita mengabaikan orang lain yang tertimpa kejadian buruk itu. Tidak bersimpati kepada orang yang mendapat kemalangan, karena sibuk mensyukuri keberuntungan diri sendiri. Dalam kasus lain, hal ini mirip dengan sikap orang Farisi dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Ia bersyukur karena “tidak seperti orang-orang lain yang berdosa” (ayat 11).

Sebagai orang kristiani kita dipanggil untuk hidup dalam kasih Kristus. Salah satu aspek dari kasih Kristus adalah simpati. Simpati berasal dari kata Yunani syn artinya bersama dengan (together with), dan paskhein artinya mengalami, menderita (to experience, to suffer). Jadi, simpati adalah kesediaan untuk keluar dari perhatian ter-hadap kesenangan diri sendiri dengan turut merasakan kesusahan orang lain. Lawan dari simpati adalah antipati. Senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Itu bukan sikap kristiani




JANGAN BERGEMBIRA DI ATAS KEBURUKAN DAN KESUSAHAN ORANG LAIN

FaGuS
October 24th, 2008, 05:39
Bacaan hari ini: Keluaran 14:9-14
Ayat mas hari ini: Keluaran 14:13
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 1-3



Ada saat kita mengalami situasi “maju kena mundur kena”. Jalan yang ada di depan seolah buntu, tetapi untuk mundur juga tidak bisa. Jadinya serbasalah. Misalnya, bertetangga dengan orang sulit dan terus mencari-cari masalah. Capek hati rasanya. Namun, mau pindah rumah juga tidak gampang. Atau, teman-teman di kantor yang menjengkelkan. Kita merasa sangat tertekan. Sudah mencoba mencari tempat kerja baru, tetapi tidak kunjung dapat.

Umat Israel dalam bacaan kita juga mengalami hal yang serupa. Mereka baru keluar dari perbudakan di negeri Mesir. Akan tetapi, rupanya Firaun tidak rela melepas mereka (Keluaran 14:5). Lalu mengejar dengan bala tentaranya. Keadaan umat Israel terjepit. Di depan Laut Teberau, sedangkan di belakang tentara Mesir. Mereka ketakutan (ayat 11). Musa mengingatkan mereka agar jangan takut, berdiri tetap, dan berfokus pada penyertaan Tuhan (ayat 13). Akhirnya mereka selamat sampai di seberang (Keluaran 14:30).

Langkah pertama menghadapi keadaan sulit adalah: jangan takut. Sebab bukan saja tidak akan menolong, rasa takut juga malah bisa melumpuhkan; membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, berdiri tetap dalam iman. Biasanya dalam keadaan tertekan orang mudah sekali tergoda mengambil jalan pintas; asal segera keluar dari masalah, lalu menghalalkan segala cara. Padahal sikap demikian biasanya malah semakin menjerumuskan. Ketiga, berfokus pada kasih dan penyertaan Tuhan. Jalani hidup ini seberat apa pun dengan penyerahan diri dan pengharapan. Tuhan akan bertindak




TUHAN AKAN BUKA JALAN, SAAT TIADA JALAN KUNCINYA TETAP BERFOKUS KEPADA-NYA DAN TEGUH DALAM IMAN

FaGuS
October 26th, 2008, 05:59
Bacaan hari ini: Galatia 1:6-10
Ayat mas hari ini: Galatia 1:6,7
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 8-10



Dalam acara orientasi di sebuah universitas, para peserta terpaksa menahan haus karena dilarang minum selama kegiatan berlangsung. Namun, panitia telah menyediakan seember air di sana. Karena itu, begitu acara selesai, para peserta segera menyerbu ember tersebut dan meminumnya tanpa memeriksa apakah air itu layak untuk diminum. Akibatnya, para senior memarahi mereka karena tidak berhati-hati. Ternyata, ini adalah cara panitia untuk mengajarkan tentang sikap berhati-hati.

Sikap berhati-hati semacam ini pula yang dinasihatkan Rasul Paulus. Saat itu, jemaat Galatia sedang menghadapi isu pengajaran sesat. Banyak pihak berusaha mengacaukan atau memutarbalikkan Injil (ayat 7). Jadi, Paulus menasihati mereka untuk tidak menerima begitu saja segala pengajaran baru yang mereka terima. Caranya dengan membandingkan hal baru tersebut dengan pengajaran yang telah mereka terima dari Paulus (ayat 8).

Sebagai orang percaya zaman ini, berbagai “pengajaran baru” juga menggempur kita. Isunya mungkin seputar ketuhanan Yesus, kebangkitan Yesus, mukjizat, keselamatan, Alkitab, dan lain-lain. Sumbernya bisa melalui buku yang kita baca, media massa yang membawa banyak berita, atau bahkan dari khotbah di gereja. Dan itu membuat kita ragu atau goyah. Dalam kondisi demikian, ingatlah nasihat Paulus: periksalah setiap ajaran tersebut dengan membandingkannya pada pengajaran mula-mula (yang sekarang tertulis di Alkitab). Itu sebabnya kita wajib mempelajari Alkitab dan mengerti segala kebenarannya, agar sanggup menguji setiap ajaran yang datang dan tak tersesat dalam perjalanan




ALKITAB ADALAH SATU-SATUNYA STANDAR KEBENARAN AJARAN IMAN KITA

FaGuS
October 27th, 2008, 05:04
Bacaan hari ini: Filemon 8-19
Ayat mas hari ini: Filemon 11
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 11-13



Suami istri itu hampir bercerai karena cekcok terus. Kepada pendeta, sang suami menyatakan kekesalannya. “Saya jengkel sekali! Setiap kali bertengkar, istri saya selalu mengungkit lagi kesalahan saya di masa lalu. Satu per satu. Akibatnya pertengkaran menjadi semakin seru. Kami meributkan kembali masalah yang sudah diselesaikan.”

Mengungkit kesalahan masa lalu adalah kebiasaan buruk. Itu tandanya kita tidak mau memandang orang lain secara baru. Kita memberi stempel: “sekali begitu, tetap begitu.” Ini membuat orang frustrasi. Bacaan kita hari ini mengisahkan ada seorang tuan bernama Filemon. Ia mempunyai budak bernama Onesimus. Budak ini pernah mencuri barang tuannya lalu lari dari rumah. Tentu saja Filemon sangat marah. Di tengah pelariannya, Onesimus berjumpa dengan Paulus. Tuhan bekerja. Budak ini bertobat dan menerima Kristus. Hidupnya diubahkan. Paulus lantas meminta Onesimus balik kepada tuannya. Karena Paulus kenal dekat dengan Filemon, ia mengirim sepucuk surat. Isinya meminta agar Filemon bisa memandang Onesimus se-cara baru, menerimanya bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara seiman. Jangan ungkit lagi kesalahannya, sebab Onesimus sudah berubah.

Tampaknya, kita harus belajar mengampuni seperti Kristus. Dia mengampuni secara tuntas. Dia tak pernah mengungkit lagi dosa kita di masa lalu. Ketika mengampuni, Yesus membuang atau mengubur dosa kita. Di hadapan-Nya kita menjadi manusia baru. Bukankah kita harus mengampuni orang lain, sama seperti Kristus meng-ampuni kita?




ORANG YANG TERUS MENGUNGKIT KESALAHAN MASA LALU MEMPERSULIT TERJADINYA PEMBARUAN DI MASA DEPAN

FaGuS
October 28th, 2008, 01:47
Bacaan hari ini: Yeremia 42:1-22, 43:1-7
Ayat mas hari ini: Yeremia 42:3
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 14-16




Banyak dari kita yang sering meminta pendapat dari orang lain ketika sedang bingung. Namun, harus diakui, terkadang sebelum mendengar pendapat mereka pun, kita sudah punya rencana sendiri. Dengan demikian, yang terjadi adalah kita sekadar mencari persetujuan atas rencana kita. Dalam beberapa kasus, sikap ini mungkin dapat dipahami mengingat semua penda-pat tersebut adalah pendapat manusia yang bisa salah. Namun, kalau sikap ini kita bawa juga ketika meminta pendapat dari Tuhan, seperti yang kita temukan dalam bacaan Alkitab hari ini, tentu menjadi salah.

Saat itu Yohanan, Azarya, dan sisa rakyat Kerajaan Yehuda berencana pergi ke Mesir untuk lari dari tentara Babel (41:17). Akan tetapi, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk Tuhan tentang rencana ini. Ternyata Tuhan berpendapat lain dan menyuruh mereka untuk tidak pergi. Sulit bagi mereka untuk menerima petunjuk Tuhan, yakni agar mereka tetap di Yehuda, sehingga mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan tetap pergi ke Mesir.

Kita boleh datang kepada Tuhan dengan rencana kita dan meminta pendapat-Nya. Namun, kita harus siap kalau Tuhan menyatakan bahwa rencana tersebut harus diubah sesuai kehendak-Nya. Hal ini kerap kali memang tidak mudah, sebab rencana-Nya kadang tampak berat. Kadang kita bisa lihat bahwa akan ada pengorbanan yang akan kita tanggung. Mungkin itu berbentuk tak tergapainya ambisi pribadi, cibiran dari orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi, kalau kita mau yang terbaik, tidak bisa tidak, rencana-Nya itulah yang harus kita ikuti




BILA KITA MEMINTA PETUNJUK DARI TUHAN BERSIAPLAH UNTUK MENAATINYA

FaGuS
October 29th, 2008, 03:55
Bacaan hari ini: Mazmur 90:1-12
Ayat mas hari ini: Mazmur 90:12
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 1-4



Pak Permana meninggal dunia,” kata teman saya di telepon. Saya terkesiap. Dua hari lalu saya sempat bertemu dengan Pak Permana. Masih segar bugar. Kami ngobrol ngalor-ngidul, sambil bersenda gurau dan tertawa-tawa. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun hidup Pak Permana akan sesingkat itu. Rupanya, Pak Permana terkena serangan jantung. Sehabis bermain tenis, ia mengeluh dadanya sakit. Lalu, tidak lama sesudah itu ia pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia mengembuskan napasnya yang terakhir.

Begitulah hidup. Sangat ringkih. Bisa dibilang, kita ini berada di bawah bayang-bayang kematian. Setiap saat kita bisa dijemput oleh kematian. Kapan saja dan di mana saja. Tidak saja ketika usia kita sudah uzur atau ketika tubuh sakit-sakitan. Namun juga saat kita “masih” di usia muda, berada di puncak karier, dan di saat tubuh kita sehat. Kematian tidak pandang bulu; tidak pandang usia; tidak pandang situasi dan kondisi kita. Pemazmur bahkan mengibaratkan hidup kita ini seperti rumput; yang di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, akan tetapi di waktu petang ia sudah lisut dan layu (ayat 5,6).

Lalu bagaimana? Apakah kita pasrah dan pasif saja menjalani hari-hari, sekadar untuk menunggu kematian datang? Tidak. Kesadaran bahwa kita bisa kapan saja dijemput kematian seharusnya mendorong kita untuk hidup dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Soal kapan pun kematian itu datang menjemput, kalau kita sudah berusaha hidup bijak dan bajik di dalam Tuhan, kita akan menghadapinya dengan tenang. Untuk itu, kuncinya adalah berjaga-jaga senantiasa




YANG PENTING BUKAN KAPAN KITA MATI TETAPI BAGAIMANA KITA HIDUP

FaGuS
October 30th, 2008, 01:47
Bacaan hari ini: Keluaran 3:1-6
Ayat mas hari ini: Keluaran 3:4
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 5-7



Henri Dunant adalah bankir kaya. Suatu hari, pemerintah Swiss mengutusnya menemui Napoleon di Paris untuk urusan bisnis. Namun, Napoleon sedang berperang di Italia. Jadi, Dunant menyusulnya ke medan perang. Di situ ia terhenyak melihat kekejaman perang. Mayat manusia berserakan di ladang. Gereja penuh orang yang luka berat. Berminggu-minggu Dunant ikut membantu dokter merawat mereka. Sepulangnya ke Swiss, ia depresi. Bayangan kekejaman perang terus menghantui. Ia yakin Tuhan ingin dirinya berbuat sesuatu. Lalu Dunant mendirikan Palang Merah Internasional, yang sampai kini telah menolong jutaan orang di medan perang.

Perjalanan Dunant ke Italia sepertinya salah jalan. Menyimpang dari rencana semula. Namun, justru di situ Tuhan menyatakan kehendak-Nya. Sama seperti pengalaman Musa. Tiap hari ia mengikuti rute yang sama ketika menggembalakan domba-domba. Namun suatu hari, ketika melihat semak duri yang menyala, ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Keluar dari jalur rutin. “Menyimpang ke sana untuk memeriksanya.” Di situlah ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengubah arah hidupnya. Saat itulah Tuhan menyatakan kehendak-Nya

Orang bilang, hidup harus terencana. Jadi, kita pun membuat rencana tahunan, bulanan, sampai jadwal harian, dan berusaha menurutinya. Tak ada yang salah dengan itu. Namun, jika situasi membuat kita harus menyimpang dari rencana semula, jangan panik atau marah. Bisa jadi saat itu Tuhan ingin menyatakan kehendak dan rencana-Nya yang berbeda dengan rencana kita. Belajarlah untuk peka!




BAGI ORANG BERIMAN TAK ADA ISTILAH ”SALAH JALAN” SEBAB KE MANA PUN IA PERGI, TUHAN ADA DI DEPAN

FaGuS
October 31st, 2008, 05:23
Bacaan hari ini: Bilangan 9:15-23
Ayat mas hari ini: Mazmur 37:23,24
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 8-11


Kompas adalah penunjuk arah yang telah sangat menolong para penjelajah dunia. Namun sekarang banyak orang lebih suka menggunakan GPS (Global Positioning System), yakni sebuah instrumen interaktif yang dioperasikan lewat satelit dan berisi informasi peta perjalanan. Jika kita mengerti cara membaca petunjuk GPS tersebut, kita tidak mungkin tersesat. Alat canggih ini akan memberi tahu kita ke mana arah yang harus dituju. Betapa indahnya bila kita memiliki sebuah “GPS kehidupan” di sepanjang perjalanan kita di dunia ini.

Umat Tuhan mengalami kehadiran dan penyertaan Tuhan lewat “GPS istimewa” yang tak akan terulang dalam sejarah manusia—tiang awan (ayat 16). Melebihi akal. Tuhan menjamin bahwa mereka takkan pernah tersesat saat menuju tanah perjanjian. Syaratnya hanyalah mengikuti jadwal perjalanan tiang awan yang Tuhan sediakan. Saat itu, umat pilihan tidak tahu apa yang terjadi di luar lingkup perkemahan mereka. Namun, Tuhan Allah tahu benar kapan mereka harus berangkat dan berjalan. Jadi, umat Tuhan menempuh perjalanan dengan iman bahwa petunjuk tiang awan pasti benar, sebab itu berasal dari Tuhan (ayat 22, 23).

Sampai sekarang pun, sebetulnya Tuhan senantiasa memberi penunjuk arah bagi kita. Ada sebuah “GPS rohani” bagi setiap kita dalam menjalani hidup. Masalahnya, apakah kita peka terhadapnya, hingga kita cukup cakap untuk “membacanya”? Agar kita memiliki kepekaan atas arah yang ditunjukkan, kita perlu memiliki kedekatan pribadi dengan Tuhan. Hanya dengan demikian “GPS rohani” kita tetap berjalan




HIDUP ADALAH PERJALANAN PANJANG TANPA PENUNJUK ARAH YANG PASTI KITA SANGAT MUDAH TERSESAT

FaGuS
November 2nd, 2008, 01:12
Bacaan hari ini: Matius 21:18-22
Ayat mas hari ini: Matius 21:19
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 15-18



Seorang teman bercerita bahwa selama ini ia rajin menyikat gigi. Sejak kecil ibunya telah membiasakan dirinya untuk menyikat gigi paling sedikit dua kali sehari. Namun suatu hari, tiba-tiba giginya terasa ngilu dan berdarah. Ia pun pergi ke dokter dan dari pemeriksaan ia baru tahu bahwa selama ini caranya menyikat gigi salah. Sekilas dari luar giginya memang sehat, tetapi di dalam ternyata ada beberapa bagian yang keropos. Itu berarti, rajin saja tidak cukup, tetapi perlu diiringi dengan cara-cara yang benar.

Begitu juga dalam kehidupan rohani kita. Selama ini kita mungkin rajin beri-badah di gereja, rajin berdoa, rajin berpuasa, dan sebagainya. Namun, kita tetap merasa “kosong”, tidak merasakan sukacita dan damai sejahtera di dalam hati. Orang-orang lain yang melihat hidup kita dari luar mungkin mengenal kita sebagai “orang baik”. Sayangnya, kita sendiri malah merasakan yang sebaliknya. Jika ini yang terjadi, berarti ada sesuatu yang salah dalam cara kita menjalani kehidupan rohani. Mungkin motivasi kita selama ini sudah keliru, atau pema-haman dan cara-cara kita melaksanakannya yang salah.

Itulah yang terjadi pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka rajin melaksanakan kewajiban keagamaan, bahkan aturan demi aturan mereka jalankan dengan sangat ketat, sehingga dari luar mereka tampak sebagai orang-orang saleh. Namun, di mata Tuhan Yesus ternyata kondisi mereka sebenarnya tidak demikian. Mereka tidak lebih seperti pohon ara yang berdaun lebat, tetapi tidak berbuah. Kerajinan mereka tidak ada artinya. Bagaimana dengan kita?




KERAJINAN DALAM BERIBADAH TANPA DIIRINGI KETULUSAN DAN KERENDAHAN HATI ADALAH NOL BESAR

FaGuS
November 4th, 2008, 04:26
Bacaan hari ini: Markus 14:43-52
Ayat mas hari ini: Markus 14:52
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 22-24



Memberikan kritik kepada orang lain selalu lebih mudah dilakukan daripada mengkritik diri sendiri. Yah, “selumbar” di mata orang lain mudah terlihat, semen-tara “balok” di mata sendiri tidak. Oleh sebab itu, orang yang mampu melakukan otokritik (kritik atas diri sendiri) pastilah seorang yang berjiwa besar.

Injil Markus ditulis dengan semangat otokritik yang berani. Dialamatkan kepada orang kristiani, tetapi juga ditulis untuk mengkritik para pemimpin kristiani. Kita dapat melihatnya dari bagaimana Injil ini menceritakan murid-murid Yesus, yang notabene adalah para rasul, yaitu pemimpin Gereja. Kelemahan para pemimpin itu “ditelanjangi” dengan sangat jujur. Termasuk tatkala mereka semua “melarikan diri” waktu Yesus ditangkap di Taman Getsemani. Memalukan, tetapi nyata. Markus benar, tindakan memalukan para pemimpin—termasuk para pemimpin kristiani—masih terus ada dan terjadi sampai sekarang. Untuk itu, harus ada yang berani mengkritiknya demi perbaikan. Namun, yang luar biasa adalah Markus bukan hanya mengkritik para seniornya, tetapi juga mengkritik dirinya sendiri. Bahkan lebih tajam! Jika para murid “melarikan diri”, ia adalah pemuda yang “lari dengan telanjang”. Sebenarnya pemuda itu adalah dirinya sendiri! Jadi, di sini seolah-olah Markus berkata, “Mereka semua lari meninggalkan Yesus, lebih-lebih aku sendiri!” Sebuah otokritik yang pantas dihargai.

Apakah kita adalah orang kristiani yang bertumbuh dewasa? Salah satu takaran untuk mengukur kedewasaan iman kita adalah kesediaan diri untuk melakukan otokritik. Maukah kita?




JUJUR ARTINYA BERSEDIA MENGAKUI KEBENARAN DAN KESALAHAN BAIK PADA ORANG LAIN MAUPUN PADA DIRI SENDIRI

FaGuS
November 6th, 2008, 08:42
Bacaan hari ini: Matius 25:14-30
Ayat mas hari ini: Matius 25:26
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 5-7



Seorang gadis Jepang bermaksud bunuh diri dengan cara terjun dari gedung yang tinggi. Anehnya, sebelum bunuh diri ia menelepon seorang reporter televisi. Sang reporter diminta merekam adegan bunuh diri tersebut dan menayangkannya di siaran berita. Celakanya, reporter itu setuju. Bersama seorang juru kamera, ia merekam dan menayangkan adegan bunuh diri tersebut. Tentu saja masyarakat heboh! Kedua orang itu dikecam karena tidak mencoba mencegah sang gadis untuk bunuh diri. Namun, keduanya berkelit. “Apa salah kami? Kami tidak melakukan apa-apa,” kata mereka.

Ya, kedua orang ini bersalah justru karena tidak berbuat apa-apa! Mereka punya kesempatan untuk menyelamatkan nyawa, tetapi diam saja. Sama seperti perumpamaan hamba yang diberi satu talenta. Ia dikecam tuannya bukan hanya karena ia malas, melainkan juga karena ia “hamba yang jahat”. Padahal ia tidak melakukan tindak kriminal, misalnya mencuri talenta itu. Sepeser pun tidak. Ia diberi satu talenta, lalu dikembalikannya juga satu talenta. Lantas, di mana letak kejahatannya? Ia jahat justru karena tidak berbuat apa-apa. Dengan berdiam diri, ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh tuannya. Ia potensial, tetapi tidak produktif.

Setiap hari, Tuhan memberi kita kesempatan untuk berbuat sesuatu; mengembangkan bakat, mengasihi sesama, melayani Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama. Sudahkah kita berbuat sesuatu, melakukan bagian kita? Ataukah kita diam saja, membiarkan kesempatan berlalu hari demi hari? Jangan abaikan setiap kesempatan. Itu adalah sebuah kejahatan




KITA BERDOSA BUKAN HANYA SAAT MELAKUKAN YANG SALAH TETAPI JUGA SAAT TIDAK MELAKUKAN YANG BENAR

FaGuS
November 8th, 2008, 13:47
Bacaan hari ini: Keluaran 17:1-7
Ayat mas hari ini: Keluaran 17:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 11-14



Pada tahun delapan puluhan, pemerintah Indonesia mencanangkan program Listrik Masuk Desa. Tujuannya supaya semua rakyat Indonesia, termasuk yang ada di pelosok, bisa menikmati manfaatnya. Namun, ternyata bagi penduduk di sebuah desa di Jember, Jawa Timur, harapan itu tinggal harapan. Sampai tahun dua ribuan awal, mereka masih belum menikmati listrik. Adalah Sunarya yang mengubah semuanya. Dengan peralatan seadanya, ia memanfaatkan sungai kecil yang melintasi desa itu untuk menggerakkan turbin sederhana hasil rakitannya. Dari situ ia berhasil membuat sumber listrik alternatif yang kemudian dipakai untuk menerangi rumah-rumah penduduk.

Sunarya memilih untuk tidak mengeluh. Daripada bersungut-sungut dan melancarkan protes pada pemerintah, ia memilih mencari jalan keluar. Mandiri guna menemukan solusi. Sayangnya, sikap demikian tidak dimiliki oleh bangsa Israel. Ketika mereka tidak mendapatkan air saat berkemah di Rafidim, mereka datang kepada Musa; berkeluh kesah, memprotes, dan marah. Dalam sekejap mereka lupa pada semua hal baik yang pernah Tuhan lakukan bagi mereka. Lupa pada peristiwa Laut Teberau (Keluaran 14:15-31); lupa pada peristiwa di Mara dan Elim (Keluaran 15:22-27); lupa pada peristiwa manna dan burung puyuh (Keluaran 16:1-36).

Mengeluh dan bersungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru yang tidak perlu. Lebih dari itu, keluhan dan sungut-sungut membuat mata rohani kita buta. Kita tidak lagi dapat melihat hal-hal baik yang telah Tuhan berikan, sehingga kita lupa bersyukur dan mengabaikan potensi diri sendiri





JANGAN MENGELUH JIKA SAMPAH BERSERAKAN DI DEPAN KITA AMBIL SAMPAH TERDEKAT DAN BUANGLAH KE TEMPATNYA

FaGuS
November 12th, 2008, 20:02
Bacaan hari ini: Lukas 17:5,6
Ayat mas hari ini: IBRANI 11:30
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 5-7



Seberapa besar iman yang harus kita miliki? Bisa jadi inilah pertanyaan yang mendorong para murid untuk meminta kepada Tuhan Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” Dan, jawaban yang mereka terima sangat mengejutkan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada po-hon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Lukas 17:6).

Biji sesawi tergolong biji-bijian yang sangat kecil. Diameter biji ini kurang lebih satu milimeter, bahkan ada yang lebih kecil dari itu. Ada yang berwarna kekuningan, ada yang kecoklatan, ada juga yang berwarna hitam. Begitu kecil ukuran biji sesawi ini, sehingga orang bisa sangat sulit memegangnya. Dan biji sesawi yang sangat kecil ini justru dijadikan “ukuran” oleh Tuhan untuk menunjukkan kekuatan iman yang besar.

Iman melewati batas-batas perhitungan akal. Apa yang menurut akal sulit, bahkan tidak mungkin, bisa terjadi di dalam iman. Tembok Yerikho menjadi bukti betapa kekuatan iman mampu meruntuhkan tembok (Yosua 6:1-27). Akal sehat kita tentu akan sangat sulit membayangkan tembok yang kokoh dan kuat itu runtuh, tetapi iman memungkinkan segala sesuatu terjadi. Karena itu, jangan berkecil hati jika kita tengah menghadapi “jalan buntu”; kesulitan dan hambatan bertumpuk di depan kita seolah-olah mustahil dilampaui. Jangan undur. Tetaplah berpaut pada iman, sebab di dalam iman selalu ada pengharapan akan adanya jalan keluar. Kadang-kadang hal itu dapat terwujud dengan cara dan waktu yang sama sekali tidak terduga. Sungguh




APA YANG TIDAK MUNGKIN BAGI AKAL MUNGKIN BAGI IMAN

FaGuS
November 12th, 2008, 23:53
Bacaan hari ini: Matius 13:24-30
Ayat mas hari ini: Matius 13:29
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 8-10



Gandum dan lalang adalah dua tanaman yang sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Gandum adalah makanan pokok yang sangat berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Bahkan lalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya lalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-bulir-nya ke-luar. Dan, lalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut. Satu-satunya cara memisahkan lalang dan gandum adalah de-ngan menunggunya sampai saat menuai tiba.

Seumpama lalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik. Tuhan mengasihi seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dalam ketaatan pada firman Tuhan. Justru dengan adanya “lalang”, maka “gandum” ditantang untuk makin tekun bertumbuh, makin tahan uji, dan makin berkualitas.

Hari ini kita diajar mengenal hati Allah yang panjang sabar dan mengasihi seluruh isi dunia ini. Dia bersabar karena segala sesuatu ada waktunya; kasih-Nya menerima setiap orang apa adanya. Kasih-Nya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berubah dan bertumbuh lebih baik, bukan cepat menghakimi dan menghukum. Allah memiliki kasih yang besar, yang tidak menyerah untuk terus mengasihi. Sebagai “gandum” di ladang-Nya, hendaknya kita terus bertumbuh dalam kasih dan kebenaran yang sejati




MESKI LALANG HARUS TUMBUH DI ANTARA GANDUM BIARLAH GANDUM ITU TERUS MERANUM

FaGuS
November 14th, 2008, 02:38
Bacaan hari ini: Matius 8:5-13
Ayat mas hari ini: Matius 8:6,7
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 11-14



Dulu saya bersekolah di SD milik gereja. Mayoritas murid beragama kristiani, namun suasananya tidak selalu “kristiani”. Anak orang kaya cenderung bergaul dengan yang “setara”. Jika ada anak orang miskin di antara mereka; maka ia hanya akan sering disuruh-suruh atau dijadikan semacam bodyguard. Sementara itu saya, karena malas disuruh-suruh dan tak berbakat jadi bodyguard, hanya bisa berteman dengan mereka yang juga berkantong “tipis”. Ya, orang cenderung aman dengan yang “setara”, sehingga tali kasih yang terja-lin bukan kasih semesta!

Kasih semesta adalah kasih yang melampaui batas-batas sosial, ekonomi, budaya, agama, dan “kotak-kotak” buatan manusia lainnya. Yesus menunjukkan kasih-Nya yang semesta saat menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Yang Dia tolong adalah hamba orang Romawi. Ia orang Romawi—yang tentu tak karib dengan orang Yahudi, masih pula statusnya hanya seorang hamba! Akan tetapi, dua “batasan” ini tidak menghalangi Yesus untuk mengasihi dan menolong! Bahkan sang perwira Romawi—tuan dari hamba yang sakit itu, juga menunjukkan kasih semesta, kasih yang lintas batas. Ia memperjuangkan kesembuhan orang yang berbeda status sosial dengannya (hamba). Kedua, ia mengusahakan kesembuhan hambanya dengan memercayai bahwa Yesus yang adalah orang Yahudi itu sangat berkuasa untuk menolong. Inilah yang membuat Yesus heran sehingga berkata, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (ayat 10).

Kasih yang semesta menembus berbagai batas dan membuka banyak kemungkinan tak terduga. Bagaimana kasih kita?




[B]
KASIH TUHAN LAKSANA MENTARI YANG DIMILIKI SEMUA ORANG KIRANYA KASIHKU PUN TAK MEMILIH ORANG

FaGuS
November 15th, 2008, 05:16
Bacaan hari ini: Kejadian 6:13-22
Ayat mas hari ini: Kejadian 6:19
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 15-17



Harimau Jawa adalah salah satu dari sekian spesies harimau yang pernah hidup di Pulau Jawa. Namun sayang, pada tahun 1980-an spesies ini dikabarkan telah punah. Para ahli lingkungan menduga kepunahan binatang ini disebabkan oleh aktivitas manusia yang terus mendesak habitat mereka. Kini, daftar binatang yang punah atau terancam punah semakin panjang. Di antaranya harimau Sumatra, badak Jawa, jalak Bali, orang utan, dan banyak lagi.

Hari ini kita membaca tentang bagaimana Allah marah kepada ciptaan-Nya dan bermaksud mengakhiri hidup segala makhluk (ayat 13); yakni dengan men-datangkan air bah (ayat 17). Walaupun demikian, di tengah maksud itu pun Allah ingat untuk melakukan penyelamatan: Dia memilih Nuh serta keluarganya untuk diselamatkan. Dia juga ingat untuk menyelamatkan binatang-binatang, masing-masing sepasang. Apa yang Dia sebut “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31) terus ingin Dia lestarikan.

Sebagaimana yang Allah lakukan, demikian pula kita. Kita mesti sungguh-sungguh bertindak menyikapi krisis lingkungan hidup yang tengah terjadi, khususnya dalam hal kepunahan berbagai jenis makhluk hidup. Kita mesti turut menjaga kelestarian alam; antara lain dengan tidak merusak cagar alam, tidak memburu binatang-binatang langka, tidak membeli barang-barang—seperti obat-obatan, makanan, pakaian, dan sebagainya—yang terbuat dari bagian tubuh binatang langka, atau mendukung organisasi pelestarian lingkungan. Biarlah kita selalu berusaha mengembalikan asrinya alam yang sejak mulanya Allah ciptakan dengan “sungguh amat baik”




ALLAH MEMBERI ALAM SEBAGAI ANUGERAH BAGI BUMI MARI JAGAI ANUGERAH ITU AGAR TETAP LESTARI

FaGuS
November 18th, 2008, 03:56
Bacaan hari ini: Yeremia 20:7-18
Ayat mas hari ini: Yeremia 20:9
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 25-28



Soe Hok Gie adalah tokoh muda penulis buku “Catatan Harian Seorang De-monstran”. Ia meninggal dunia dalam usia 27 tahun di puncak Gunung Semeru. Riwayat hidupnya pernah dibukukan dan difilmkan. Dalam puisinya berjudul “Mandalawangi Pangrango”, ia menulis demikian: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.” Yah, dalam hidup ini kerap kita tidak dapat memilih. Seumpama makanan, seolah-olah semuanya sudah disediakan dari “sononya”. Kita hanya bisa “makan” tanpa protes. Kita, misalnya, tidak pernah memilih untuk terbaring sakit, melahirkan anak yang dengan kebutuhan khusus, menjalani kehidupan yang tidak kita inginkan. Kita hanya bisa menerimanya.

Pergumulan itu juga dialami Yeremia. Ia tidak pernah memilih menjadi nabi (ayat 7). Bahkan, sebetulnya ia ingin menolak jabatan itu. Namun kenyataannya, ia tak dapat mengelak (ayat 9). Keadaan itu membuatnya merasa tertekan dan terus didera peperangan batin. Sampai-sampai ia berkata, “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!” (ayat 14)

Ketika menghadapi situasi demikian, tak ada cara lain yang lebih tepat selain menerimanya dengan rela. Kalaupun kita terus memberontak, tidak akan ada gunanya; hanya melelahkan bahkan menambah masalah baru. Ketika kita tak dapat mengubah keadaan di luar, yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap dan pandangan kita terhadap keadaan itu. Kuncinya ada pada keyakinan bahwa hidup kita selalu dalam kendali kasih dan kuasa Tuhan




BERDAMAI DENGAN KENYATAAN ITU INDAH

FaGuS
November 19th, 2008, 04:08
Bacaan hari ini: Bilangan 13:25-33; 14:1-10
Ayat mas hari ini: Amsal 15:30
Bacaan Alkitab Setahun: ROMA 1-3



Dunia kita adalah dunia berita. Kabar bertebaran setiap hari. Lewat koran, ta-yangan televisi, situs internet, papan iklan, majalah, tabloid, dan penyampaian dari mulut ke mulut. Melalui kata, suara, gerak, gambar dan warna. Sayang, sedikit saja yang netral. Lebih banyak berita yang tersebar mengusung kepentingan-kepentingan dagang atau politik. Dan, masyarakat adalah sasarannya.

Menjelang masuk ke Kanaan, umat Israel terpengaruh oleh kabar yang dibawa oleh para pengintai utusan Musa. Sebagian besar pengintai membawa kabar miring, sehingga umat menjadi takut. Berita yang mereka sampaikan bernada negatif dan umat menjadi korbannya. Ibarat makanan, mereka membawa “makanan busuk” yang bikin “diare”. Umat Israel jadi resah, takut, panik, lalu memberontak. Syukurlah, di antara para pengintai itu ada Yosua dan Kaleb. Mereka tampil menyampaikan berita yang membesarkan hati. Menghantar “makanan sehat” dengan “gizi” iman yang tinggi. Mengajak umat untuk berpaling kepada Tuhan dan bersandar penuh kepada-Nya.

Penelitian di negeri kita membuktikan bahwa berita yang paling banyak dikonsumsi masyarakat saat ini adalah infotainment yang gencar “menjual” gosip kehidupan para selebriti. Kedua, sinetron yang berbau dunia gaib. Itukah “makanan” kita sehari-hari? Sebagai anak Tuhan, mari perhatikan “makanan berita” yang kita santap. Saringlah berita yang kita dengar dan baca. Cermatilah tayangan yang kita tonton. Jangan menyantap “makanan basi” berupa kabar busuk yang merusak iman dan moral. Utamakan untuk menyantap “kabar baik” (Injil) sebagai “nutrisi bergizi” bagi jiwa kita




KESEHATAN IMAN KITA TERGANTUNG PADA “MAKANAN” YANG KITA BERIKAN KEPADA JIWA KITA

FaGuS
November 22nd, 2008, 12:57
Bacaan hari ini: 2 Korintus 4:16-5:10
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 4:16
Bacaan Alkitab Setahun: ROMA 10-12



Usia tua tidak membuat semangat William Franklin Graham Jr. alias Billy Graham, surut. Di usia 70 tahun, ia masih melakukan perjalanan ke China dan Korea untuk berkhotbah. Ia juga terus menulis buku dan tampil di berbagai kegiatan pela-yanan. Padahal saat itu ia sudah mulai terserang penyakit Parkinson. Seiring waktu, penyakit lain seperti cairan dalam otak dan kanker prostat juga menyerangnya. Di usianya yang hampir 90 tahun sekarang, ia mengisi hidupnya dengan berdoa dan sesekali terlibat dalam kegiatan yayasan-nya. Menurutnya, usia tua dan penyakit bukanlah halangan bagi seseorang untuk berkarya dan bersyukur kepada Tuhan.

Kita tidak selalu berada dalam kondisi tubuh yang sehat dan kuat. Akan ada saatnya di mana kondisi tubuh kita merosot, menjadi ringkih dan lemah. Bisa jadi penyakit yang mendera membuat kita tidak dapat melakukan aktivitas dengan maksimal. Atau, bisa juga usia yang beranjak tua membatasi kita untuk melakukan berbagai kegiatan. Dan, kita tidak dapat mengelak atau menolak proses alamiah tersebut.

Dalam keadaan demikian, yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar “tubuh batiniah” kita tidak ikut-ikutan merosot. Itulah yang Paulus lakukan. Walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot, tetapi manusia batiniahnya terus diperbarui (ayat 16). Caranya adalah dengan selalu bersyukur dan berpengharapan; dengan memfokuskan hati dan pikiran pada hal-hal yang indah dalam hidup ini (ayat 18). Di dalam iman kepada Tuhan Yesus, selalu ada alasan untuk bersyukur dan berpengharapan. Bagaimanapun keadaan kita




TUBUH JASMANIAH BOLEH MEROSOT NAMUN TUBUH BATINIAH HARUS TERUS MENANJAK

FaGuS
November 24th, 2008, 13:04
Bacaan hari ini: Yohanes 17:6-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 17:18
Bacaan Alkitab Setahun: 1 KORINTUS 1-3



Pada tahun 2007, ketika mengadakan perjalanan di Vietnam, kami dipandu seorang warga Vietnam yang belum pernah bertemu orang Indonesia. Mungkin karena sangat penasaran, ia memakai kesempatan untuk bertanya kepada kami mengenai berbagai peristiwa di Indonesia, misalnya peristiwa bom Bali. Ia ingin tahu mengapa orang Indonesia begitu membenci orang Barat, sehingga tega berbuat semacam itu. Menanggapi keingintahuannya, kami sebagai “duta” Indonesia berusaha menjawab dan memberi penjelasan bahwa tindakan ter-sebut tidak mewakili sikap orang Indonesia secara umum.

Seperti orang Vietnam tersebut, ada juga banyak orang di sekitar kita yang belum tahu tentang Kerajaan Allah. Dan mereka akan tetap hidup dalam ketidaktahuan jika kita sebagai “duta” Kerajaan Allah tidak pernah menjelaskan hal itu kepada mereka. Tentang siapa Raja kita, dan bagaimana kita dapat diangkat menjadi anak-Nya. Orang-orang yang ditaruh di sekitar hidup kita mem-butuhkan kesaksian kita tentang-Nya. Lebih dari itu, menjadi duta Kerajaan Allah tidak cukup dengan berkata-kata saja. Kesaksian hidup kita pun memegang peranan yang sama penting, sebab tentu sulit bagi mereka untuk percaya bahwa ada kasih dalam Kerajaan Allah jika di antara sesama orang percaya tidak ada kepedulian satu sama lain. Sulit bagi mereka untuk percaya bahwa ada damai dalam Kerajaan Allah jika kita suka ber-tengkar dengan orang lain.

Sebagai “duta” Kerajaan Allah, biarlah kita hidup sepadan dengan status kita sebagai orang kristiani, sehingga orang yang melihat kita akan percaya kepada Yesus




TUHAN MENGUTUS KITA KE DUNIA UNTUK MENJADI DUTA-NYA MARI KITA KERJAKAN TUGAS ITU SEBAIK-BAIKNYA

FaGuS
November 25th, 2008, 01:48
Bacaan hari ini: 1 Korintus 12:1-11
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 12:4-6
Bacaan Alkitab Setahun: 1 KORINTUS 4-7



Saya pernah mendapat hadiah unik berupa lima ratus keping puzzle. Tentu saja kado ini tidak siap pakai. Supaya bisa membentuk gambar yang indah, saya harus menyusun lima ratus kepingan itu di tempat yang tepat. Menyusunnya tidaklah mudah dan memakan waktu lama, sebab setiap keping itu tampak serupa walau sesungguhnya masing-masing unik. Baru setelah tersusun rapi, saya puas melihat gambar indah yang terbentuk.

Roh Kudus memberi kita karunia. Kata “karunia” berarti kado atau hadiah. Kado itu “tidak siap pakai”. Roh Kudus sengaja memberi karunia yang berbeda-beda kepada setiap orang; yang satu diberi karunia bermain musik, yang lain diberi karunia mengajar, karunia berorganisasi, karunia kemurahan hati, dan sebagainya. Tak seorang pun punya karunia yang lengkap. Karunia itu tak dapat dipakai sendiri karena ia diberikan “untuk kepentingan bersama” (ayat 7). Jadi, setiap kita ini bagaikan sekeping puzzle. Tanpa orang lain, karunia yang kita da-patkan menjadi sia-sia. Karunia-karunia itu baru berfungsi ketika tiap-tiap orang mau hidup saling berbagi, saling mengisi, dan saling melayani di tengah jemaat. Pada saat itulah, jemaat akan disusun dengan rapi oleh Roh Kudus—dan membentuk gambar Kristus yang indah.

Kita tak dapat memaksa Roh Kudus untuk memberi karunia tertentu. Dia memberikannya “seperti yang dikehendaki-Nya” (ayat 11). Jadi, bersyukurlah atas karunia yang kita miliki. Lebih penting lagi, relakan diri untuk dibentuk dan ditempatkan Roh Kudus pada posisi yang tepat dalam jemaat. Izinkan Dia menguasai hidup kita—dan hal biasa pun bisa Dia buat menjadi luar biasa




KARUNIA ROH KUDUS TIDAK SIAP PAKAI SAMPAI KITA MEMBERI DIRI DIPAKAI OLEH-NYA

FaGuS
November 26th, 2008, 03:54
Bacaan hari ini: Markus 4:35-41
Ayat mas hari ini: Markus 4:41
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 8-10




Angin topan merupakan salah satu peristiwa dahsyat di bumi kita. Siapa yang tidak takut jika angin topan terjadi? Perbedaan tekanan udara yang ekstrem menjadi penyebab munculnya angin topan. Bahkan para pengamat topan me-ngatakan bahwa energi dalam sebuah angin topan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik di Amerika Serikat selama tiga sampai empat tahun. Begitu kuat dan dahsyat. Namun, kekuatan yang kita pandang begitu dahsyat itu nyatanya tak ada apa-apanya di hadapan Allah kita. Lihatlah, bagaimana Yesus cukup berkata, “Diam! Tenanglah!” (ayat 39), maka badai itu segera reda, air pun segera menjadi tenang.

Terkadang ada “angin topan” masalah yang seolah-olah juga begitu besar menyerang kita, dan rasanya tak ada cukup daya yang kita miliki untuk menahannya. Barangkali berupa masalah kesehatan, pengkhianatan, impian yang hancur, dan sebagainya. Dalam kondisi demikian, kita mesti berhati-hati su-paya jangan dibutakan oleh kekecewaan hingga memercayai naluri atau ramalan. Kita juga harus menguatkan diri agar tidak terpaku dalam ketakutan, dan mengingat bahwa Yesus ada dalam perahu hidup kita.

Sebagaimana topan tunduk kepada Allah kita, demikian pula setiap topan masalah kita pun pasti mampu Dia taklukkan. Berlindunglah di dalam Yesus. Dia akan memberi Anda kekuatan, sehingga Anda dapat bertahan di tengah badai sampai Dia meredakannya. Ketika Anda memercayai kuasa Allah, damai sejahtera-Nya akan menjauhkan Anda dari rasa panik; dan kuasa-Nya akan menyelamatkan Anda




DI HADAPAN ALLAH YANG BESAR TOPAN DAHSYAT PUN GENTAR

FaGuS
November 27th, 2008, 02:56
Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 21:1-19
Ayat mas hari ini: Mazmur 140:13
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 11-13



Theodor Seuss Geisel, pengarang buku cerita anak-anak terkenal, pernah menulis cerita tentang seekor kura-kura bernama Yertle. Yertle adalah raja kura-kura di sebuah kolam yang aman dan damai. Setiap hari ia duduk di takhtanya, yakni sebuah batu di tengah kolam. Suatu saat ia berpikir, andai takhtanya lebih tinggi, tentu ia dapat melihat banyak hal yang indah di luar kolam.

Yertle mendapat akal. Ia memerintahkan sembilan ekor kura-kura untuk saling menaiki punggung, sehingga tersusun tinggi ke atas. Lalu ia naik ke punggung kura-kura paling atas dan melihat pemandangan yang luas dari tempat tinggi. Mack, kura-kura yang berada paling bawah, mengeluh kesakitan. Namun, Yertle tidak peduli. Ia terus memerintah supaya jumlah tumpukan kura-kura ditambah. Sampai akhirnya, jumlah kura-kura yang bertumpuk adalah 5.816 ekor. Ketika itulah Mack bersendawa. Lalu bergoyanglah kura-kura lain di atasnya. Akibatnya, Yertle yang berada di ketinggian jatuh terperosok ke dalam lumpur dan mati.

Hikmah cerita di atas adalah, apabila kita memiliki kekuasaan; entah sebagai majikan di rumah, atasan di kantor, ataupun pejabat di pemerintahan—jangan mempergunakannya untuk menindas orang lain. Bisa-bisa kita sendiri yang menanggung akibatnya. Kekuasaan bukan warisan yang dapat digunakan seenaknya, tetapi titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. Tuhan tidak suka dengan sikap para pemegang kekuasaan yang sewenang-wenang. Ingatlah bagaimana Dia sangat marah kepada Raja Ahab yang dengan kekuasaannya berbuat sewenang-wenang terhadap Nabot (ayat 19)




PARA PENINDAS AKAN MENUAI APA YANG DITABURNYA

FaGuS
November 28th, 2008, 03:32
Bacaan hari ini: Lukas 19:1-10
Ayat mas hari ini: Lukas 19:5
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 14-16



Keong mas adalah salah satu jenis hama padi yang sering merugikan para petani di Indonesia. Tak heran binatang ini dibenci banyak orang. Namun ternyata jika diolah dengan benar, keong mas punya potensi untuk diubah dari hama yang merugikan menjadi bahan makanan berprotein tinggi.

Hampir seperti keong mas yang dibenci para petani, Zakheus adalah seseo-rang yang tidak disukai masyarakat. Ia dianggap telah merugikan masyarakat dengan cukai yang ia tarik. Tak heran orang-orang menjauhi Zakheus, bahkan mengecapnya sebagai seorang pendosa (ayat 7). Akan tetapi bagi Yesus, Zakheus adalah seseorang yang berpotensi untuk menjadi berkat bagi banyak orang jika “diolah” dengan benar. Karena itu Dia menyempatkan diri untuk mengunjungi Zakheus (ayat 5). Dan sentuhan Yesus ini berhasil mengubah Za-kheus secara drastis, sehingga ia berubah menjadi berkat bagi masyarakat (ayat 8).

Dalam bergereja dan bermasyarakat, terkadang ada orang-orang yang seperti Zakheus. Sebetulnya mungkin mereka tidak pernah bermusuhan secara pribadi dengan kita. Hanya, cara hidup, cara berpikir, tingkah laku, karakter, atau sifat mereka sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Jadi terkesan nyentrik dan menjengkelkan. Namun, acap kali orang-orang semacam ini memiliki potensi istimewa untuk menjadi berkat seperti Zakheus. Sebagai sesama mereka, yang perlu kita lakukan adalah melihat potensi itu dan menolong mereka untuk memunculkannya. Dan akhirnya, membimbing mereka untuk bertemu dengan Allah, yang berkuasa mengubahkan hidup




PENGENALAN AKAN TUHAN SECARA PRIBADI MEMBUAT ORANG MENEMUKAN MAKNA DAN TUJUAN DIRI

FaGuS
November 29th, 2008, 03:16
Bacaan hari ini: Kejadian 3:9-21
Ayat mas hari ini: Kejadian 3:21
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Korintus 1-3



Pakaian adalah bagian dari budaya manusia di seluruh dunia. Tak heran bila pameran model baju menjadi industri yang luar biasa besar. Cara manusia berpakaian pun berevolusi. Khususnya sejak abad ke-20. Sebelumnya, hampir tak ada orang yang berani memakai bikini. Namun sesudah masa itu, khususnya setelah filosofi kebebasan dikumandangkan di Barat, cara orang berpakaian berubah total. Banyak orang berpakaian “seadanya” dan menyebutnya mode. Orang kristiani pun tidak luput menggunakan pakaian seadanya ketika pergi ke gereja.

Mungkin kita tak pernah merenungkan, apa tujuan Tuhan memberi kita pakaian. Kejadian 3:21 memberikan dasar penting tentang alasan adanya pakaian. Tuhan mengorbankan binatang, dan memberikan kulitnya untuk menutupi ketelanjangan manusia. Ketika manusia berdosa, Tuhan berinisiatif menolong. Sekilas, hal pakaian mungkin merupakan topik yang terlalu biasa dalam hidup sehari-hari. Namun, cara kita berpakaian secara tak langsung menunjukkan apresiasi kita kepada Allah yang penuh kasih, yang tak mau kita dipermalukan karena dosa itu.

Sebagai orang kristiani, kebanyakan kita tidak terlalu memusingkan cara berpakaian di zaman ini, karena budaya populer seakan-akan lebih menguasai kita. Mari perhatikan bagaimana kita berpakaian. Adakah Anda merasa rendah diri karena pakaian yang sederhana? Tidak perlu. Apakah Anda menjadi sombong karena bisa membeli pakaian mahal? Jangan lupakan tujuan Tuhan memberi kita pakaian. Berpakaianlah secara pantas, sehingga melaluinya kita te-rus diingatkan bahwa Tuhan memberikannya demi menutupi keberdosaan kita




BERPAKAIANLAH DENGAN PANTAS SEBAGAI RASA SYUKUR BAHWA TUHAN TELAH MENUTUPI SALAH DAN BOBROKNYA KITA

FaGuS
December 1st, 2008, 03:43
Bacaan hari ini: Ayub 2:11-13
Ayat mas hari ini: Roma 12:15
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Korintus 8-10



Letakkanlah tanganmu di atas bahuku, biar terbagi beban itu dan tegar dirimu, di depan sana cahya kecil ‘tuk memandu, tak hilang arah kita berjalan menghadapinya ....” Demikian sepenggal syair lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dinyanyikan Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya. Syair itu ditulis untuk para penderita AIDS. Menurut data Departemen Kesehatan, jumlah penderita AIDS di Indonesia saat ini telah lebih dari 11.000 orang.

Uluran simpati dan empati bagi seseorang yang tengah menanggung beban hidup sangat berat ibarat secangkir air di padang gersang; sangat menyejukkan dan menguatkan. Ayub tentunya merasakan hal demikian. Ketika berada di tengah pende-ritaan yang begitu hebat, para sahabatnya—Elifas, Bildad, dan Zofar—datang memberi penghiburan (ayat 11). Mereka duduk bersamanya dan berkabung atas apa yang diala-minya (ayat 13). Sebaliknya, jika rasa simpati dan empati itu hilang, beban hidup terasa berat berkali-kali lipat. Pada 1993, seorang pria pengidap HIV di Kalifornia meninggal. Namun, ternyata bukan virus itu yang menyebabkan kematiannya. Ia meninggal gara-gara gangguan syaraf akibat perasaan tertekan karena teman-teman dan keluarga menjauhi-nya. Ia merasa sangat kesepian; tak punya tempat untuk mengadu dan berbagi beban. Rasa tidak diperhatikan dan ditinggalkan ternyata jauh lebih berbahaya dari virus HIV.

Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Kita diingatkan bahwa masih banyak saudara kita yang memerlukan uluran simpati dan empati. Mereka mendambakan bahu sebagai tempat berbagi beban.




DUNIA YANG SURAM DAN MURAM AKAN MENJADI CERAH jika SETIAP KITA MAU BERBAGI SIMPATI DAN EMPATI

FaGuS
December 1st, 2008, 23:54
Bacaan hari ini: Yohanes 14:11-14
Ayat mas hari ini: Yohanes 14:12
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Korintus 11-13



Seseorang memerhatikan nelayan yang menangkap ikan besar, tetapi membu-angnya lagi ke air. Ia mendekati si nelayan dan bertanya, “Mengapa ikan-ikan itu engkau buang lagi?” Orang itu mengeluarkan sebuah penggorengan di perahunya dan berkata, “Lihat, penggorengan saya terlalu kecil, jadi yang saya perlukan ikan kecil saja.” Tak ter-bayangkan oleh si nelayan bahwa ia akan mendapat “ikan-ikan” besar, sehingga tidak disiapkannya sesuatu yang istimewa. Mungkin ia berpikir, mendapat ikan kecil saja sudah cukup, mengapa harus mengharap ikan besar?”

Serupa dengan itu, kita juga kerap membatasi karya Tuhan dengan pola pikir kita yang sempit. Kadang Tuhan ingin melakukan perkara besar dan dahsyat dalam hidup kita. Namun, kita berkata, “Ah, tidak mungkin saya bisa melakukannya. Mana mungkin Allah mau memakai orang sederhana seperti saya?” Dan masih banyak kalimat pesimis lain yang kita ucapkan.

Sebagian besar murid Tuhan Yesus adalah orang sederhana. Namun, Allah bisa bekerja lewat mereka dengan dahsyat. Mungkin tak pernah terlintas di benak Petrus, Yohanes, dan Yakobus, bahwa mereka dapat mengadakan banyak mukjizat, seperti Tuhan Yesus. Tuhan pernah berkata, barangsiapa percaya kepada-Nya, ia juga akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar dari itu! Namun, mengapa sampai kini kita belum pernah melakukan perkara yang besar? Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, seberapa besar “penggorengan” yang kita siapkan. Kalau kita benar-benar percaya dan tidak membatasi karya Tuhan, kita akan segera melihat perkara-perkara besar dalam hidup kita. Gantilah “penggorengan” kita yang kecil. Jangan batasi kuasa Allah.




BESAR KECILNYA PERKARA YANG AKAN KITA ALAMI TERGANTUNG PADA BESAR KECILNYA ”PENGGORENGAN” YANG KITA SIAPKAN

FaGuS
December 3rd, 2008, 04:15
Bacaan hari ini: Matius 5:14-16
Ayat mas hari ini: Matius 5:16
Bacaan Alkitab Setahun: Galatia 1-3



Hampir semua dari kita mengenal sebuah permainan anak-anak yang namanya petak umpet. Dalam permainan tersebut, setiap pemain harus bersembunyi sedemikian rupa hingga tak bisa ditemukan oleh pemain yang lainnya. Semakin pintar ia bersembunyi maka semakin hebatlah si pemain. Namun, tidak demikian dengan kekris-tenan. Orang kristiani tidak dipanggil untuk sembunyi, tetapi untuk tampil. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita adalah terang dunia. Terang itu harus tampak atau tampil, tidak boleh disembunyikan. Masalahnya apa yang harus ditampilkan? Tuhan Yesus men-jelaskan lebih lanjut bahwa yang harus ditampilkan oleh orang kristiani bukan perhiasan salib yang menempel di kalung, mobil mewah, atau hal-hal yang berkenaan dengan materi, melainkan kebaikan hati atau perbuatan baik.

Menampilkan perbuatan baik bukanlah untuk pamer supaya orang lain melihat kita baik dan dermawan, melainkan kemuliaan Tuhanlah tujuannya. Dalam ayat 16 dikatakan dengan jelas “supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”. Perkataan ini dengan jelas menyatakan bahwa kita melakukan perbuatan baik bukan untuk kemuliaan diri, melainkan untuk kemuliaan Tuhan.

Banyak orang kristiani dikenal baik hanya ketika ia di gereja. Namun, tidak demikian jikalau ia berada di luar gereja. Itulah sebabnya mengapa golongan ini disebut golongan anak Tuhan petak umpet. Kehadirannya sebagai terang tidak tampak karena ia bersem-bunyi dengan baik. Padahal yang Tuhan Yesus inginkan adalah terang itu tampak dan diketahui banyak orang.




Jangan letakkan terang di bawah gantang Tetapi di atas kaki dian

FaGuS
December 4th, 2008, 03:21
Bacaan hari ini: Matius 18:21-35
Ayat mas hari ini: Matius 18:27
Bacaan Alkitab Setahun: Galatia 4-6



Pada suatu siang yang panas, saya pulang dari mengajar. Mulanya saya berencana naik angkot, tetapi tak ada yang lewat. Akhirnya saya memilih naik bajaj. Begitu saya turun, tukang bajaj meminta ongkos dua kali lipat dari biasa. Saya bersikeras membayar dengan harga biasa, tetapi ia juga bersikeras. Jadi saya mesti membayar Rp3.000,00 lebih mahal. Saya kesal karena merasa ditipu. Namun Tuhan mengingatkan, “Pantaskah kamu kesal karena uang Rp3.000,00?” Saya pikir rugi juga marah karena hal sepele. Namun, tak berhenti di situ. Tuhan mengingatkan saya lagi untuk mengampuni orang tadi. Dalam hati saya tidak terima, karena saya yang dirugikan. Orang itu juga tidak minta maaf. Apa saya mesti mengampuninya?

Matius 18:21-35 mencatat pengajaran Yesus mengenai pengampunan. Seorang hamba tak mampu membayar utangnya yang besar kepada raja dan meminta waktu untuk melunasinya (ayat 26). Sang raja, dengan penuh belas kasihan membebaskan dan menghapus utangnya (ayat 27). Sayang, si hamba—yang sudah menerima belas kasihan, tidak menunjukkan belas kasihan pada sesamanya. Karena itu raja murka dan menghukumnya.

Kita sebetulnya seperti hamba yang berutang banyak. Bapa tidak menuntut kita membayar utang dosa kita yang begitu besar. Dia justru membebaskan kita. Akan tetapi, kita kerap tidak menyadari pengampunan yang sudah kita terima. Kita masih sering tak mau mengampuni saat ada orang yang bersalah, menipu, dan menyakiti kita. Sekalipun orang lain tak pernah meminta maaf, ingatlah Allah sudah menyatakan belas kasih-Nya kepada kita. Mari tunjukkan belas kasih pula kepada orang lain




DOSA TERBESAR PUN SUDAH TUHAN HAPUSKAN KESALAHAN SEBESAR APAKAH YANG TAK DAPAT SAYA MAAFKAN?

FaGuS
December 10th, 2008, 01:00
Bacaan hari ini: Matius 20:1-16
Ayat mas hari ini: Matius 20:16
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tesalonika 4-5



Umumnya orang berpendapat bahwa banyak bekerja tentu akan banyak mendapat; banyak berprestasi pasti juga banyak mendapat. Firman Tuhan hari ini barangkali akan membuat kita bertanya, “Apakah Tuhan adil?” Dia memberi upah yang sama untuk jerih payah yang berbeda. Mengapa Yesus berkata demikian? Apakah pantas? Sebuah pernyataan yang sulit dipahami secara konkret, meski kalimatnya jelas dan lugas.

Setidaknya ada dua penjelasan mengenai hal ini. Pertama, itu tak adil menurut kita karena kita berfokus pada upah—bukan Sang Tuan yang kita layani. Bukankah motivasi kita dalam melayani semestinya untuk Sang Tuan? Fokusnya tak boleh pada diri sendiri, tetapi pada Sang Tuan. Sama seperti saat kita punya kesempatan melayani seorang raja, bukankah itu merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai? Berpijak pada pandangan tersebut, kita akan memahami bahwa upah bukanlah hal yang terutama; bukan pada apa yang kita dapat, tetapi pada yang bisa kita beri.

Kedua, apabila kita protes, bukankah itu tandanya kita merasa iri hati? (ayat 15). Seperti perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32)—ketika si sulung memprotes kemurahan hati sang ayah kepada adiknya. Si sulung merasa ayahnya berlaku tidak adil karena ia sudah setia dan bekerja keras. Kita adalah manusia berdosa yang telah diselamatkan Tuhan dari sengat maut. Itu sebabnya Tuhan berhak atas hidup kita sepenuhnya, berhak memberikan apa pun yang pantas dan perlu kita peroleh. Baiklah kita fokus pada apa yang harus kita kerjakan dan berikan, bukan pada apa yang bisa kita peroleh




BERIKANLAH YANG TERBAIK KEPADA TUHAN DAN SESAMA TANPA IRI HATI, TETAPI ATAS DASAR KASIH

FaGuS
December 11th, 2008, 05:21
Bacaan hari ini: 1 Samuel 24:1-14
Ayat mas hari ini: Mazmur 119:30
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tesalonika 1-3



Salah satu kejahatan paling berbahaya di dunia ini adalah mengabsahkan sebuah tindakan atas nama Tuhan. Termasuk jika tindakan itu memperdaya, melukai, meneror, atau bahkan menghabisi nyawa sesama. Orang suka menyembunyikan keinginan dan ambisi pribadinya di balik topeng “kehendak Tuhan” atau “perintah suci agama”, sambil menghalalkan cara-cara tak bermoral.

Kisah Daud di En-Gedi menerangi pemahaman kita. Kesempatan dan semua faktor pendukung begitu terbuka untuk menghentikan sumber ancaman bagi dirinya. Saat itu Saul sedang lengah. Dengan satu kali kibasan pedang, selesai! Tak ada penghalang. Daud benar-benar bebas melakukannya. Bahkan keyakinan imannya sendiri mengatakan, “Tuhan sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku” (ayat 11). Artinya, jika Daud melakukannya pun, ia dapat membenarkan diri dengan alasan “Tuhan memang berkenan”. Tetapi, ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia memilih untuk tidak mencemari tangannya dengan darah orang yang diurapi Tuhan.

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk dengan kehendak-bebas, tetapi sekaligus juga dengan tanggung jawab yang menyertai. Jadi, jangan gampang-gampang mengatakan “ini kehendak Tuhan”. Sebab andaikan bagi kita tampaknya Tuhan memang menghendaki, karena kesempatannya begitu terbuka, keputusan untuk melakukannya atau tidak masih tetap ada di tangan kita. Pertimbangan dan keputusan moralnya ada di pundak kita. Tuhan tidak menghendaki kita melepaskan diri dari tanggung jawab pribadi atas keputusan moral kita. Apalagi dengan cara “melemparkan” tanggung jawab itu kepada-Nya, dengan dalih “Tuhan menghendaki”



JANGAN MENGGUNAKAN DALIH KEHENDAK TUHAN UNTUK MENGHINDARI TANGGUNG JAWAB PRIBADI KITA

FaGuS
December 12th, 2008, 04:08
Bacaan hari ini: Yohanes 10:1-10
Ayat mas hari ini: Yohanes 10:4
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Timotius 1-3


Para murid sekolah di Inggris dilarang menyalakan nada dering telepon genggam di kelas. Namun, mereka tidak habis akal. Mereka memasang ringtone yang disebut “suara nyamuk”, yaitu nada dengan frekuensi tinggi yang tidak bisa didengar oleh telinga orang dewasa. Para guru pun tak bisa mendengar suaranya. Namun, para murid dapat mendengarnya, sehingga bisa berkirim SMS dengan leluasa. Rupanya setelah berusia 25 tahun ke atas, ada bulu-bulu halus di dalam telinga manusia yang menua atau rusak. Itu sebabnya telinga orang dewasa tak lagi dapat mendengar suara dengan frekuensi tinggi (di atas 16 KHz) seperti telinga anak-anak.

Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik dan para murid adalah domba milik-Nya. Ada ikatan batin antara gembala dan domba. Gembala di Israel biasanya memberi nama tiap dombanya dan memanggil nama mereka dengan nada khas. Jika malam tiba, setelah semua domba masuk kandang, sang gembala tidur di pintu masuk. Ia menjadi pintu—tameng untuk melindungi domba dari serangan musuh. Kedekatan ini membuahkan kepekaan. Domba-domba mampu mengenali dan membedakan suara gembalanya. Jika gembala asing memanggil, mereka tak bereaksi.

Di sekitar kita ada banyak suara. Kadang sulit membedakan mana suara yang benar dan mana yang sesat; mana kehendak Tuhan, mana bukan kehendak Tuhan. Untuk melatih kepekaan, kita perlu membangun persekutuan dengan Tuhan melalui disiplin doa dan firman. Kalau kita ingin terus mengenali suara-Nya, jangan mengabaikan disiplin rohani ini



TANPA DOA DAN FIRMAN ANDA AKAN KEHILANGAN KEPEKAAN

FaGuS
December 14th, 2008, 07:59
Bacaan hari ini: Galatia 2:15-21
Ayat mas hari ini: Galatia 2:16
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Timotius 1-4


Saat sekolah, kita mungkin pernah dihukum karena melanggar aturan. Aturan me-mang diperlukan, tetapi juga mengandung bahaya, yakni jika diterapkan menjadi pemu-tlakan yang kaku. Jika hidup beriman hanya berisi aturan dan hukuman, dapatkah kita merasakan indahnya pengampunan dan cinta kasih?

Dalam Galatia 2:15-21, Paulus hendak meluruskan pemahaman yang keliru, yang memaksa orang kristiani non-Yahudi untuk menerima hukum Taurat sebagai syarat mengikut Yesus. Paulus menyatakan bahwa Taurat tidak dapat membenarkan orang. Sebaliknya, Taurat cenderung mengungkung dan membebani manusia karena tak mungkin mampu memenuhinya. Sementara itu, iman kepada Kristus justru membenarkan orang berdosa. Siapa pun dapat dibenarkan oleh karya Kristus (ayat 16). Lantas, ada yang mengatakan bahwa manusia boleh terus berkubang dalam dosa karena toh Kristus akan memberi pembenaran. Paulus menolak pendapat ini, sebab dibenarkan dalam iman berarti dijadikan benar, bukan dipersilakan berbuat yang tidak benar. Dan, siapa pun yang beriman mesti menunjukkan gaya hidup yang berpadanan dengan pembenaran yang telah ia terima dari Tuhan. Orang yang terus berbuat dosa berarti belum sungguh-sungguh memahami makna pembenaran. Ia hanya mau memetik manfaat dari Kristus, tetapi tak beriman kepada-Nya.

Beriman bukan sekadar ucapan mulut. Beriman adalah soal hidup yang nyata. Karena itu Paulus berkata: “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Itulah sebabnya kita perlu menjaga hidup batin dan bersukacita senantiasa




BILA KRISTUS TELAH MEMERDEKAKAN JANGAN LAGI MENYENTUH BELENGGU YANG TELAH DILEPASKAN

FaGuS
December 15th, 2008, 07:16
Bacaan hari ini: Yakobus 1:1-8
Ayat mas hari ini: Amsal 24:16
Bacaan Alkitab Setahun: Titus 1-3; Filemon 1


Pada tahun 1850-an, Levi Strauss mengadu nasib ke Kalifornia untuk menambang emas. Hasilnya tak seberapa banyak, tetapi ia tidak putus asa. Ia lantas mencari usaha sampingan dengan membuat bahan kain keras (jeans) untuk tenda atau penutup mobil. Teman kerjanya berkomentar: “Mengapa kamu tidak membuat celana dari bahan ini?” orang itu menjelaskan bahwa para penambang perlu celana dari bahan kain yang kuat. Strauss setuju. Ia pun membuat celana bagi para penambang emas. Hal ini menjadi langkah awal ia mendapatkan “emas”. Celana berbahan jeans itu disukai banyak orang, bahkan menjadi populer sampai ke seluruh dunia.

Dalam hidup ini, kita tidak dapat menghindari kegagalan, kesusahan, pencobaan, atau ujian. Namun, kita dapat menyikapinya secara berbeda. Jika disikapi dengan keputusasaan, masa sulit akan melumpuhkan semangat hidup. Membuat kita menjadi pecundang. Sebaliknya, jika disikapi dengan ketekunan, masa sulit bisa dianggap sebagai “suatu kebahagiaan” (ayat 2). Mengapa? Karena melaluinya kita ditempa menjadi lebih dewasa dan berpengalaman. Apakah ketekunan itu? Sikap pantang menyerah dan terus berusaha melakukan yang terbaik di saat terburuk. Ketekunan membentuk orang menjadi tahan banting; pandai melihat peluang di tengah penghalang. Dan, buahnya adalah keberhasilan.

Apakah Anda tengah melalui masa sulit? Kegagalan bisnis, keretakan hubungan, sakit-penyakit, sampai ujian iman. Apakah pencobaan dan kegagalan membuat Anda patah semangat atau pesimis? Ayo bangkit lagi! Mintalah hikmat kepada Tuhan agar bisa tetap bertahan




KEPUTUSASAAN MELUMPUHKAN KETEKUNAN MEMAMPUKAN

FaGuS
December 16th, 2008, 04:56
Bacaan hari ini: 1 Samuel 17:40-50
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 17:50
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 1-4



Kejutan sesuatu yang tidak terduga; diduga tidak terjadi malah itu yang terjadi, disangka terjadi malah tidak terjadi. Dalam permainan sepak bola kejutan kerap terjadi; di mana kesebelasan yang semula dianggap lemah, tidak punya peluang menang, tetapi malah keluar sebagai pemenang. Salah satu contoh adalah ketika Piala Eropa tahun 2004. Sejak awal yang dijagokan menjadi juara adalah negara raksasa sepak bola macam Jerman, Italia, Prancis, dan Belanda. Namun, yang kemudian menjadi juara justru Yunani, negara yang sama sekali tidak diperhitungkan.

Peristiwa Daud mengalahkan Goliat juga kejutan. Betapa tidak, siapa yang men-duga si penjaga ternak, “anak ingusan”, sanggup mengalahkan prajurit profesional yang sangat ditakuti seperti Goliat. Namun itulah yang terjadi. Sejarah mencatat demikian. Kita bisa membayangkan ketika tubuh raksasa Goliat itu tumbang dihantam “ketapel” Daud, para prajurit kedua pihak yang menyaksikan hanya bisa melongo. Terhenyak dan terdiam.

Fenomena kejutan ini kiranya mengingatkan kita; kalau kita sedang berada “di atas angin”, hidup bergelimang sukses dan kejayaan, hati-hati, jangan lupa diri. Jangan takabur. Sebab bisa saja dalam sekejap semua itu amblas tak berbekas. Maka mawas diri itu penting. Bagaimana pun kita tetaplah makhluk yang terbatas. Sebaliknya, kalau kita berada “di bawah angin”, hidup kita terus berkubang kegagalan dan diremehkan, jangan putus asa, teruslah berusaha. Lakukan yang terbaik. Kejutan selalu bisa terjadi kapan saja, dan dengan cara apa saja. Seperti Daud ketika mengalahkan Goliat




Mawas dirilah di tengah kegembiraan dan jangan kecil hati di tengah kepedihan

FaGuS
December 17th, 2008, 05:20
Bacaan hari ini: 2 Korintus 1:3-11
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 1:6
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 5-7



Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang memiliki ilmu kebal; yang tak mem-pan ditembus senjata tajam, bahkan peluru? Mungkin pernah. Namun, adakah orang yang kebal terhadap penderitaan? Selama punya rasa dan hati, orang tidak dapat kebal dari kesesakan hidup. Akan tetapi, penderitaan yang berat belum tentu “menggilas” manusia. Mari cermati pesan Paulus tentang hal ini.

Mengawali suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata bahwa Allah telah menghiburnya dalam penderitaan. Ya, ia memang sedang harus menanggung keseng-saraan Kristus ketika surat ini ditulis (ayat 5). Namun, saat ia mengalami penderitaan berat, ada juga penghiburan yang besar. Bahkan penderitaan itu pada gilirannya justru menjadi penghiburan. Inilah pesannya; di tengah impitan beban hidup, kita mesti membuka hati untuk merasakan penguatan Allah. Dan ada satu kenyataan ilahi yang memampukan kita untuk menghadapi segala beban hidup, yakni bahwa Allah kita sungguh berkuasa, bahkan dapat membangkitkan orang mati (ayat 9). Hal ini terbukti melalui peristiwa kebangkitan Kristus. Dan itulah pengharapan Paulus.

Jika kita menghadapi beban hidup bersama-sama dengan Allah, maka sebuah “luka” pun dapat berubah menjadi “obat”. Bagaimana tidak? Penderitaan yang kita alami akan membuat kita memiliki pengalaman iman dengan Tuhan. Melalui hal itu, kita pun dikuatkan untuk tetap tegar di tengah badai. Dan pada gilirannya, orang yang kuat akan dapat meneguhkan orang lain. Bukan dengan penghiburan yang klise, tetapi penghiburan yang berdasarkan pengalaman nyata




PENDERITAAN BERAT YANG DIOLAH DENGAN TEPAT DAPAT MENJADI OBAT ROHANI YANG MANTAP

FaGuS
December 18th, 2008, 04:41
Bacaan hari ini: Filipi 2:1-11
Ayat mas hari ini: Filipi 2:7
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 8-10


Apa kesamaan Fransiskus Asisi, Ibu Teresa, dan Romo Mangun? Salah satu hal yang paling menonjol dari ketiganya adalah mereka rela meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal dan melayani orang-orang miskin; baik di Eropa berabad-abad yang lalu, di India, maupun di Indonesia. Kita percaya mereka melakukannya karena iman kepada Kristus. Kita pun percaya inspirasi mereka datang dari peristiwa dua ribu tahun lalu, pada suatu malam di Betlehem.

Malam itu, Allah Pencipta dan Penguasa semesta meninggalkan segala kemuliaan-Nya, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Bukan dalam rupa seorang raja, bangsawan, atau orang terhormat, melainkan sebagai anak dari sepasang wong cilik (rakyat jelata), yang bahkan tak sanggup menyewa tempat untuk melahirkan bayi dengan layak (Lukas 2:7). Paulus menggambarkan peristiwa ini dengan kalimat: “Dia mengosongkan diri-Nya” (ayat 6).

Peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia biasa memang patut dikagumi dan disyukuri. Namun tak hanya itu, peristiwa ini mesti menginspirasi dan menggerakkan kita untuk melayani orang lain, seperti ketiga tokoh di atas. Mereka bersedia keluar dari kenyamanan; untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Ada begitu banyak orang di sekitar kita dan di dunia ini yang menderita; baik secara fisik, mental, atau spiritual. Mereka memerlukan makanan, pakaian, dan perawatan. Mereka perlu dihibur, ditemani, dan dikasihi. Terlebih mereka perlu mendengar Injil. Tuhan telah memulai. Kini giliran kita yang hidup pada zaman ini untuk meneruskannya




ALLAH TELAH MENELADANKAN PENGOSONGAN DIRI AGAR KITA PUN MENGOSONGKAN DIRI UNTUK MELAYANI

FaGuS
December 19th, 2008, 04:03
Bacaan hari ini: Lukas 1:39-45
Ayat mas hari ini: Lukas 1:44
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 11-13



Kesedihan dan kegembiraan itu menular. Apabila Anda sedih, orang di sekitar Anda dapat merasakannya. Bahkan mereka bisa ikut sedih. Sebaliknya, jika Anda bergembira, suasana hati Anda akan memendar hangat, sehingga terasa oleh orang lain. Bahkan bisa menghangatkan hati mereka juga. Jadi bukan hanya penyakit, pengalaman rasa dalam diri manusia dapat menular. Lalu, bagaimana dengan pengalaman batin? Bisakah itu menular? Tentu saja! Bila batin seseorang damai, maka kedamaian itu akan memancar lembut di mata, wajah, dan seluruh tubuhnya. Siapa pun yang berhubungan dengannya, sedikit banyak akan “tersetrum” damainya.

Suatu ketika, Maria mengunjungi Elisabet untuk meneguhkan hatinya sehubungan dengan pernyataan malaikat Gabriel (ayat 36). Saat mereka berjumpa, Elisabet merasa-kan “setrum”—anak dalam rahimnya melonjak dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (ayat 41). Bahkan ia dapat berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (ayat 43). Padahal Kitab Suci tidak mengatakan bahwa malaikat juga menyampaikan pesan itu kepada Elisabet!

Perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi juga bisa terasa seperti “setrum” yang menyenangkan. Dan itu bisa Anda bagikan kepada dunia. Namun, tak usah merasa gagal bila tak ada orang yang menyatakannya, sebab hal ini memang tak menuntut pengakuan. Rasakan, hayati, dan nikmati setrum perjumpaan dengan Tuhan sebagai penguatan bagi diri Anda. Dan orang-orang yang murni hatinya, seperti Maria dan Elisabet, dengan sendirinya akan “saling setrum”. Semoga kita juga




ALLAH MENYALURKAN KEHANGATAN KASIH-NYA AGAR KITA MENERUSKANNYA KEPADA DUNIA

FaGuS
December 22nd, 2008, 04:13
Bacaan hari ini: Roma 15:1-6
Ayat mas hari ini: Markus 10:45
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Petrus 1-5



Ketika saya tengah menempuh studi di China, seorang sahabat menceritakan sebuah pengalaman malam Natal di suatu gereja rumah. Sebelum Natal, pendeta di ge-reja itu mengingatkan jemaat untuk mengundang sebanyak mungkin keluarga dan teman yang belum percaya, agar hadir dalam kebaktian malam Natal. Saat Natal tiba, rumah tempat mereka mengadakan ibadah dibanjiri banyak orang. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali beribadah di gereja. Karena banyak sekali yang datang, bangku yang tersedia tidak mencukupi. Tanpa perlu dikomando, beberapa jemaat yang melihat hal itu segera memberikan bangku mereka. Lalu mereka masuk ke kamar dan berdoa supaya orang yang duduk di bangku mereka mendengar Injil dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Mendengar kisah itu, saya ingat kata Paulus dalam surat Filipi. Bahwa Kristus, sekalipun setara dengan Allah, rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) ketika datang ke dunia ini. Dia merelakan hak yang sesungguhnya patut Dia nikmati. Dia tidak hendak dilayani, tetapi hendak melayani dan memberikan nyawa-Nya

Bagaimana dengan kita? Kerap kali Natal kita buat semegah dan semeriah mungkin demi kepuasan diri. Mungkin kita menyisihkan uang untuk kegiatan sosial, tetapi terkadang itu hanya embel-embel dan bukan inti acara Natal. Ini saatnya kita kembali ke berita Natal, yaitu meneladani Allah yang memberi. Merelakan hak-hak kita, agar orang lain dimudahkan untuk mengenal Tuhan. Kita dapat segera memulainya, bahkan dari hal kecil seperti berbagi bangku




ANTARKAN SESAMA UNTUK MENGENAL ALLAH LEWAT SEGALA CARA YANG DAPAT KITA UPAYAKAN

FaGuS
December 23rd, 2008, 03:58
Bacaan hari ini: Matius 2:1-12
Ayat mas hari ini: Matius 2:11
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Petrus 1-3



Seorang ibu tengah menyusun daftar hadiah Natal buat para kerabat dan sahabat keluarga. Anaknya yang berumur tujuh tahun duduk di sampingnya dan asyik memerhatikan. “Nak, Ibu sudah menyusun daftar nama penerima hadiah Natal kita. Coba kamu lihat, apakah ada nama yang lupa Ibu tulis?” tanyanya. Si anak menyimak daftar nama yang ditulis ibunya dengan teliti. “Ibu lupa mencatumkan nama Yesus,” sahutnya kemudian.

Sebetulnya sangat ironis ketika Natal tidak lagi berfokus pada Kristus. Bukankah Natal adalah peringatan akan hari kedatangan-Nya? Sayangnya, yang kerap terjadi sekarang adalah orang-orang malah sibuk dengan kepentingan dan kesenangannya sendiri, sehingga pertanyaan yang muncul bukan, “Apa yang bisa aku berikan buat Sang Bayi Kudus?”, melainkan, “Hadiah apa yang akan aku dapat? Mau shopping ke mana? Bisnis apa lagi yang bisa aku garap?”. Fokusnya adalah “aku”, bukan Kristus.Di gereja pun demikian. Orang begitu sibuk dengan berbagai persiapan acara, hingga tidak jarang orang saling berkelahi. Kita lupa untuk duduk tenang dan bertanya, “Apakah memang ini yang Kristus inginkan sebagai peringatan atas kelahiran-Nya?” Tidak heran kalau kemudian Natal berlalu tanpa makna. Hanya sebuah rutinitas. Tidak mengubah atau memperbarui apa-apa.

Hari ini kita kembali membaca kisah para Majus. Mereka datang ke Betlehem dari negeri yang jauh; melewati berbagai rintangan dan bahaya; membawa hadiah-hadiah bermakna untuk Kristus. Fokus mereka adalah: menyembah Kristus, bukan menuruti keinginan atau kepentingan sendiri




NATAL HARUS BERFOKUS PADA KRISTUS SEBAB NATAL ADALAH PESTA-NYA, BUKAN PESTA KITA

FaGuS
December 24th, 2008, 00:44
Bacaan hari ini: Lukas 2:8-20
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 5:17
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Yohanes 1-5



Natal 2004 adalah natal pertama saya di China (ketika studi di sana). Natal pertama tanpa keluarga; tanpa pohon Natal; tanpa kebaktian Natal; tanpa kartu Natal; tanpa lagu Natal; bahkan tanpa libur natal! Namun, di tengah keadaan demikian, saya justru menemukan makna Natal yang sejati. Pada tanggal 24 Desembersahabat saya dibaptis; dan saya berkesempatan melihat sebuah hidup yang sungguh diubahkan oleh Kristus. Sejak sahabat saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, ia telah banyak berubah—dari orang yang keras menjadi orang yang lembut hati; dari orang yang tak memiliki hubungan dengan Tuhan, menjadi orang yang bergaul erat dengan Dia.

Ketika itu barulah saya sadar bahwa inilah arti Natal. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dan mengubah hidup mereka—menjadikan hidup yang tak berarti menjadi berarti. Demikian pula mukjizat Natal pertama yang dialami para gembala. Mereka hidup biasa-biasa saja, tetapi sebuah berita dari malaikat mengubahkan hidup mereka. “Telah lahir bagimu Juru Selamat” (ayat 11). Bukan bagi orang lain, tetapi bagimu. Mereka pun menemui bayi Yesus lalu pulang sambil memuji-muji Allah (ayat 20).

Natal tak akan berarti sebelum kita bertemu dengan Kristus. Dan, mukjizat natal adalah ketika seseorang tersesat dapat bertemu dengan Sang Juru Selamat—Juru Selamat yang lahir baginya. Sudahkah Anda mengalami Kristus lahir di hati Anda? Sudahkah Anda mengalami perubahan hidup karena-Nya? Jika belum, Dia rindu mela-kukannya hari ini




NATAL TERINDAH TERJADI KETIKA YESUS LAHIR DI HATI YANG HANCUR

FaGuS
December 25th, 2008, 06:12
Bacaan hari ini: Yesaya 9:1-6
Ayat mas hari ini: Yesaya 9:1
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Yohanes; 3 Yohanes; Yudas



Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember? Tidak! Kita membaca bahwa saat Yesus lahir, para gembala “menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Lukas 2:8). Dan, para gembala menggembalakan domba di padang saat malam hari hanya pada musim panas. Padahal, Desember adalah musim dingin. Artinya, kelahiran Yesus pasti terjadi pada bulan-bulan musim panas, meski tak ada yang mengetahui waktunya secara pasti. Tanggal 25 Desember dijadikan hari Natal karena hari itu merupakan perayaan berbaliknya matahari ke belahan bumi utara. Di tengah musim dingin yang gelap, terang muncul; Yesus lahir sebagai Terang Dunia.

Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan perayaan datangnya Yesus ke dunia sebagai Sang Terang. Kelahiran-Nya membuka babak baru: dunia yang dikuasai kegelapan dosa kini melihat Terang yang besar. Di mana terang hadir, di situ tak ada lagi kegelapan. Apa akibatnya? Pertama, umat manusia dilepaskan dari belenggu dosa yang menekan dan menindas (ayat 3). Kedua, ada damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan perseteruan (ayat 4) serta ketidakadilan (ayat 6).

Dua ribu tahun sudah Yesus lahir. Mengapa penindasan, perang, dan ketidakadilan masih ada? Karena masih banyak orang belum membuka hati bagi Sang Terang. Manusia “melihat” Terang itu, tetapi tidak menyambut-Nya, sehingga hatinya masih dikuasai kegelapan. Tugas kita adalah memperkenalkan terang Kristus kepada sesama melalui tindakan kasih. Itulah inti perayaan Natal. Bukan sekadar menyalakan lilin atau pohon terang, melainkan hidup dalam terang dan membawa orang mengenal Sang Terang




KEGELAPAN HANYA BISA TERUSIR JIKA TERANG DIPERSILAKAN HADIR

FaGuS
December 27th, 2008, 05:50
Bacaan hari ini: Galatia 4:4-9
Ayat mas hari ini: Galatia 4:4,5
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 5-8



Setelah 37 tahun bekerja di meja operasi, dokter Evan Kane sadar bahwa bius total berisiko tinggi. Menurutnya, pada operasi tertentu pasien cukup dibius lokal. Namun, praktik ini belum dikenal pada tahun 1921. Untuk membuktikan teorinya, dokter Kane mencari orang yang mau menjadi pasien percobaan, tetapi ia kesulitan. Tak seorang pun ingin tetap sadar ketika operasi tengah berlangsung dan merasakan sakit luar biasa. Akhirnya, dokter Kane berinisiatif—ia mengajukan diri untuk dioperasi, yaitu operasi usus buntu. Inilah operasi usus buntu pertama dengan bius lokal. Hasilnya sukses. Terobosan besar ini membuat operasi dengan bius lokal mulai dipakai di seluruh dunia dan meringankan derita pasien.

Untuk menyelesaikan sebuah masalah, kerap diperlukan sosok yang berani mengambil inisiatif. Dan, Allah yang kita sembah itu penuh inisiatif! Melihat manusia tak berdaya di bawah kuasa dosa, Dia tidak tinggal diam. Dia tak membiarkan manusia terus menjadi hamba ilah-ilah, yang akhirnya akan membuat manusia binasa. Karena tak seorang pun dapat menjadi penebus dosa, Allah berinisiatif mengutus Anak-Nya sendiri untuk lahir sebagai manusia dan menebus kita (ayat 4). Bahkan, Roh Anak-Nya pun diutus untuk tinggal dalam hati kita (ayat 6). Solusi total itu membuat manusia kini bisa bebas dari kuasa dosa dan mengabdi pada Allah.

Natal adalah saat untuk kita mensyukuri inisiatif Allah. Kehadiran-Nya di dunia telah membebaskan kita dari kebinasaan melalui karya penebusan Kristus. Karena itu, kita yang telah menerima anugerah tersebut mesti mengambil inisiatif untuk mengabdi hanya kepada Allah




SEBUAH INISIATIF MUNCUL BUKAN KARENA PAKSAAN MELAINKAN KARENA KASIH DAN KEPEDULIAN

FaGuS
January 1st, 2009, 11:56
Bacaan hari ini: Yakobus 4:13-17
Ayat mas hari ini: Roma 8:28
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 1-2



Menyusun resolusi adalah hal yang ke*rap dilakukan orang di awal tahun. Na**mun, banyak orang begitu semangat me*nyusun resolusi agar menjadi “lebih ba*ik”, kemudian lupa ketika waktu berlalu. Ada banyak hal membuat kita sulit mewu*jud*kan resolusi. Akan tetapi, ada satu hal penting yang bisa menjadi pangkal kega*gal*an kita, yakni saat kita menyusun reso*lusi dengan pertanyaan yang salah, “Apa yang ingin saya capai tahun ini?” atau “A*pa yang ingin saya lakukan tahun ini?” Sebagai orang-orang yang menjadikan Ye*sus se*ba*gai Raja atas hidup ini, bukankah seharusnya kita mendasarkan resolusi pada perta*nya*an, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan tahun ini? Apa yang Engkau ingin agar saya capai tahun ini?” Ada dua alas*an mengapa kita harus melibatkan Tuhan dalam menyusun resolusi.

Pertama, Yakobus mengingatkan agar kita tidak melupakan Tuhan dalam perencanaan, karena kita tidak tahu apa yang akan ter*jadi besok (ayat 14). Yakobus menasihati supaya kita berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (ayat 15). Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di se*panjang tahun ke depan. Namun, Tuhan akan memimpin kita untuk membuat keputusan yang tepat, saat kita membuat rencana bersa*ma-Nya. Kedua, kita mesti ingat bahwa tujuan utama hidup kita adalah men*jadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Karena itu, fokus re*so*lusi kita seharusnya adalah menjadi apa yang Tuhan mau, bukan se*kadar menjadi lebih baik menurut ukuran manusia.

Mari membuat dan menjalani resolusi bersama Tuhan. Pegang*lah janji Tuhan, bahwa Dia akan “turut bekerja dalam segala se*su*atu” di sepanjang tahun ini




JANGAN KATAKAN KEPADA TUHAN APA YANG BAIK MENURUT KITA TANYAKAN KEPADA TUHAN APA YANG DIA PIKIR BAIK BAGI KITA

FaGuS
January 2nd, 2009, 05:40
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 1:1-5
Ayat mas hari ini: Kisah Para Rasul 1:3
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 3-5



Angka 40 kerap muncul di Alkitab. Mo*men-momen yang menentukan dalam hi*dup Musa sampai dengan saat ia me*ning**gal ditandai dengan usia kelipatan 40. Sebelum masuk ke tanah Kanaan, umat Is*rael mengembara selama 40 tahun di pa*dang gurun. Setelah berpuasa 40 hari di gu**run, Iblis datang untuk mencobai Yesus. Sesudah kebangkitan dan sebelum kenaik*an-Nya ke surga, Tuhan menam*pakkan diri kepada para murid selama 40 hari. A*da apa dengan angka 40 ini?

Rupanya angka ini senantiasa me*nan*dai masa persiapan sebelum da*tang*nya babak baru dalam kehidupan sese*orang, umat Tuhan, atau bahkan dunia ciptaan-Nya. Saat Yesus menam*pak*kan diri selama 40 hari kepada para murid-Nya, hal itu merupakan masa persiapan di mana kelak Yesus tidak akan lagi hadir di antara mereka dalam wujud fisik. Dia akan kembali surga. Dia akan hadir dalam wujud yang baru, yakni Pribadi Roh Kudus. Itulah yang menandai babak baru bagi pekabaran Injil ke seluruh dunia, melalui kemitraan antara Roh Yesus dengan “tubuh-Nya” (Gereja Tuhan). Jelas bahwa pada masa 40 hari itu, aktivitas begitu padat dengan pendi*dik*an yang disampaikan “berulang-ulang” kepada para murid demi mem**per*siapkan datangnya babak baru tersebut.

Segala hal yang baik dalam kehidupan ini selalu memerlukan masa persiapan. Persiapan yang baik menentukan datangnya hasil yang baik. Semakin matang persiapan, semakin besar potensi sukses. Kalau Tuhan saja bekerja dengan persiapan, apalagi kita. Ma*rilah kita melakukan apa saja dengan persiapan yang memadai. Jangan asal-asalan atau seadanya. Jangan suka meremehkan. Per*si*ap*an itu penting.




DATANGNYA KEBERHASILAN MASA DEPAN DITENTUKAN JUGA OLEH PERSIAPAN MASA SEKARANG

FaGuS
January 9th, 2009, 02:05
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 7:54-60
Ayat mas hari ini: Kisah Para Rasul 5:41
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27-29



Blandina adalah nama seorang perem*pu*an kristiani yang meninggal ka*re*na sebu*ah penganiayaan di Lyon, Pran*cis, pada tahun 177. Ia mengalami sik*sa*an be*gi*tu rupa, tetapi ia tetap mem*perta*hankan iman*nya kepada Tuhan Yesus. Sam**pai-sam*pai, walaupun sang penyik*sa sudah ke*lelahan dan frustrasi menyik*sa**nya, ia te*tap pada pendirian dan keya*kin**an*nya.

Kematian Blandina ini mengikuti jejak ke*matian Stefanus, martir kristiani perta*ma yang kisahnya tercatat dalam Kisah Pa***ra Rasul 7. Saat itu penganiayaan ter*ha**dap jemaat kristiani semakin nyata ter*ja*di. Aniaya itu di*mu*lai dengan ancaman kepada Rasul Petrus dan Rasul Yo*hanes da**lam Kisah Para Rasul 4 dan 5. Kemu*dian disu*sul dengan hukuman mati bagi Stefa*nus. Namun, mereka semua rela dan bahkan ber*sukacita atas terja*di*nya pengania*ya*an tersebut (Kisah Para Rasul 5:41). Ini di*mung*kin*kan karena iman keyakinan mereka akan Yesus sangat te*guh. Ke*ya*kin*an ini dapat terbangun karena mereka sudah melihat sen*diri karya Tuhan Ye*sus dalam hidup mereka.

Dalam hidup kita sebagai orang percaya, ada masa-masa ke*ti*ka iman kita menjadi goyah. Pada saat itu kita mungkin mem*per*ta*nyakan ten*tang keberadaan Allah, tentang kasih-Nya, tentang ke*hi*dup*an, tentang ke*matian, tentang kebangkitan Yesus, dan se*ba*gai*nya. Di saat-saat de*mikian, mari kita mengenang kisah para martir kris*tiani di masa lalu seperti Stefanus dan Blan*dina. Mung*kinkah me*reka rela mati jikalau mereka tidak sung*guh-sungguh yakin bah*wa iman yang mereka miliki, dan juga kita miliki ini, sung*guh-sungguh be*nar?




KESETIAAN DAN PENGORBANAN PARA MARTIR KRISTIANI ADALAH SALAH SATU BUKTI KUAT TENTANG KEBENARAN IMAN KITA

FaGuS
January 17th, 2009, 05:52
Bacaan hari ini: Matius 9:9-13
Ayat mas hari ini: Matius 9:12
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 5-7


Suatu kali saya bertanya kepada seo*rang ibu, “Apakah Ibu yakin masuk sur*ga kelak?” Ibu itu menjawab, “Yakin sih. Ah, tapi kadang masih ragu juga.” Yakin tetapi ra*gu? Artinya masih tidak yakin. Lalu saya bertanya lagi, “Mengapa begitu, Bu?” Si ibu menjawab, “Saya ini masih banyak dosa, masih suka ber*bohong, masih suka ma*rah-marah ter*ha*dap suami saya. Po*kok*nya saya merasa tidak la*yak masuk sur*ga.”

Kerap kali perasaan dan kenyataan bah**wa kita masih memiliki banyak dosa da**pat membuat kita merasa enggan un*tuk datang kepada Tuhan. Na*mun, fir*man Tuhan hari ini memberikan sebuah kon***sep yang berbeda. Ketika Yesus te*ngah ber*kum*pul dan makan bersama pa*ra pemu*ngut cukai dan orang berdosa di rumah Matius, orang-orang Farisi yang ada di sekitar tempat itu mem*per*ta*nyakan apa yang dilakukan oleh Yesus. Akan tetapi, Yesus mem*berikan ja*wab*an yang hingga kini men*jadi pengharapan bagi semua orang ber*do*sa, yaitu bahwa Dia da*tang ke dunia untuk menjadi sahabat orang-orang yang ber*do*sa. Bu*kan untuk melakukan dosa ber*sama para pe**mungut cukai, me*lain*kan untuk menghapuskan dosa-dosa me*re*ka.

Seandainya Anda adalah salah satu dari orang-orang berdosa yang diun**dang untuk makan bersama Yesus di rumah Matius, res*pons apa yang akan Anda berikan? Menerima atau menolaknya ka*rena me*rasa tidak layak? Pilihan ada di tangan Anda. Anda mesti tahu bah**wa Ye***sus ada*lah sahabat orang berdosa. Dia akan selalu me*ne*ri*ma orang ber**do*sa; siapa pun yang mau datang kepada-Nya




TAKUTLAH UNTUK BERBUAT DOSA TETAPI JANGAN TAKUT MEMBAWA DOSA KEPADA KRISTUS

FaGuS
January 19th, 2009, 03:31
Bacaan hari ini: Filipi 4:2-8
Ayat mas hari ini: Filipi 4:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 11-13



Di sebuah kota hidup seorang wanita yang sudah sangat lanjut usianya, te*ta*pi ia masih sehat dan tetap berse*ma*ngat. Ia tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Suaminya telah mening*gal du*nia belasan tahun lalu. Para pen*du*duk me*nge**nalnya sebagai ibu yang murah se*nyum dan penuh perhatian kepada sia*pa sa*ja.

Suatu hari, tepat di usianya yang ke-87, seorang wartawan dari surat kabar lo*kal mewawancarainya, “Apa rahasia Ibu se**hingga bisa tetap sehat dan berse*ma*ngat?” tanya si wartawan. Ibu itu menja*wab, “Saya berusaha selalu berpikir positif dan melakukan kegiatan-kegiatan positif”. “Kegiatan seperti apa, Bu?” tanya si war*ta**wan lagi. “Misalnya setiap hari saya me*ra*wat tetangga saya, seorang wanita berusia 70 tahun, menyediakan ma*kanan untuknya, mengajaknya jalan-jalan sore, atau sekadar me*ne*maninya minum teh dan menyulam.”

Para ahli gerontologi, ilmu tentang warga usia lanjut, me*nga*ta*kan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki tiga jenis usia, yaitu usia kronologis, usia biologis, dan usia psikologis. Usia kronologis dan usia biologis itu alamiah, tidak bisa dielakkan. Sedangkan usia psi**kologis tergantung pada pilihan kita sendiri. Kalau kita, seperti yang di*nasihatkan Paulus hari ini, memiliki hati yang selalu ber*su*kacita (ayat 4), hidup yang bersyukur (ayat 6), dan pikiran yang ter*arah pa*da hal-hal yang positif dan membangun (ayat 8), maka usia ps*i**ko*lo*gis kita akan sehat. Selanjutnya, hal itu akan berdampak po*sitif terhadap hidup ke*seharian kita. Dan dengan demikian, kita juga bi*sa menjadikan hi*dup kita senantiasa berguna serta bermakna





USIA TUA BUKAN HALANGAN UnTUK BERKARYA KUNCINYA PADA HATI DAN PIKIRAN YANG SEHAT

FaGuS
July 17th, 2009, 21:33
Bacaan hari ini: Pengkhotbah 7:1-7
Ayat mas hari ini: Pengkhotbah 7:2
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 31-33



Rumah duka biasanya terkesan suram, kotor, pengap, dan menyeramkan. Untuk menghapus kesan itu, kini mulai banyak dibangun rumah duka modern yang indah, bersih, berpendingin udara, bahkan dilengkapi alat musik. Namun, ini tidak membuat orang lebih suka pergi ke sana, apalagi berlama-lama di situ! Manusia enggan berhadapan dengan kematian dan suasana duka.

Melihat kenyataan ini, nasihat Pengkhotbah terdengar tidak lazim. Menurutnya, lebih baik pergi ke rumah duka daripada pergi ke rumah pesta. Lebih baik bersedih dan meratap di rumah duka, ketimbang tertawa di rumah pesta. Mengapa? Karena kedukaan mengajarkan kita banyak hal. Kita disadarkan bahwa hidup ini singkat. Semua orang akan mati, termasuk kita. Mumpung masih ada kesempatan hidup, pakailah untuk berbenah diri! Keluarga yang meratap juga belajar banyak. Rasa kehilangan mendorong mereka lebih bergantung pada Tuhan. Jadi, di rumah duka kita belajar hidup bijak. Pelajaran ini tidak akan kita dapatkan di rumah pesta. Di situ orang diajak tertawa. Melupakan segala kesusahan dan realitas hidup. Dibawa bersenang-senang sampai lupa daratan!

Kita banyak belajar tentang Tuhan dan iman justru di saat sulit, bukan di saat bersenang-senang. Oleh karena itu, kemalangan ada gunanya. Tidak harus dihindari. Apakah Anda selalu berusaha menghindar dari penderitaan dengan segala cara? Saat Tuhan menempatkan Anda di “rumah duka”, apakah Anda lari ke “rumah pesta”? Lihatlah kemalangan sebagai kesempatan emas untuk belajar sesuatu dari Tuhan!





Tuhan membuat hidup kita kaya; dengan mengajar kita mencampur canda dan air mata

FaGuS
July 18th, 2009, 08:35
Bacaan hari ini: Efesus 6:10-20
Ayat mas hari ini: Efesus 6:11
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34-36



Ada humor tentang seseorang yang mati dan diizinkan memilih ke surga atau neraka. Ia memutuskan untuk melihat-lihat dulu. Di surga ia melihat suasana yang sangat tenang. Sayup-sayup terdengar musik gereja yang lembut. Di sana semua orang berdoa. Rupanya ia tidak tertarik suasana seperti itu. Maka, ia melihat neraka; di mana semua orang sedang minum-minum sambil ditemani banyak perempuan dengan baju yang erotis. Mereka tertawa dan berfoya-foya. Ia pun memilih ke neraka. Malaikat mengantarnya kepada Lucifer, yang segera mengangkat dan siap mencemplungkannya ke belanga besar yang panas. Cepat-cepat ia protes, “Bukannya tadi ada musik, wanita, bar, dan minuman? Mana semua itu?” Dengan santai Lucifer menjawab, “Oh, itu tadi hanya iklan!”

Inilah yang kerap dilakukan Iblis: “beriklan”. Iblis selalu hadir dengan iklan yang membuat kita terpikat. Ia menawarkan dosa sebagai sesuatu yang menyenangkan; membungkusnya seperti kado yang indah, sehingga tanpa sadar banyak orang terpikat olehnya. Iblis selalu menjanjikan kenikmatan luar biasa. Agar kita tidak jatuh dalam perangkap, Paulus menasihati kita untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani yang telah Tuhan berikan (ayat 11).

Iblis takkan pernah berhenti berusaha menjerat kita. Sekali kita lengah dan tertarik pada kenikmatan yang ia tawarkan, ia pun mengejar dan membujuk kita untuk terus melakukannya. Ia akan tertawa setelah tipuannya mampu memperdaya dan memikat kita. Karena itu, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus” (ayat 18).




Iblis selalu membungkus dosa dengan sangat menarik. Jika tidak berhati-hati, kita bisa terpikat olehnya

FaGuS
July 19th, 2009, 07:48
Bacaan hari ini: Bilangan 12
Ayat mas hari ini: Bilangan 12:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 37-39



Sebuah lembaga kristiani sudah lama menjalankan sebuah pos pelayanan kesehatan di suatu desa. Meski mayoritas penduduk desa tersebut bukan orang kristiani, hubungan mereka selama ini berjalan dengan sangat baik. Ini karena pos pelayanan tersebut dijalankan dengan hati yang tulus untuk menolong masyarakat tanpa membeda-bedakan agama. Keadaan begitu tenang, sampai suatu hari beberapa provokator dari luar daerah datang dan menyebarkan fitnah, sehingga timbullah keresahan di lingkungan tersebut.

Musa juga pernah mengalami masalah karena difitnah, meskipun ia adalah seorang yang jelas melayani Tuhan dengan hati tulus. Tidak tanggung-tanggung, fitnahan ini datang dari Miryam dan Harun, yang adalah orang-orang terdekatnya sendiri. Dapat kita bayangkan sakit hati yang Musa rasakan saat itu. Namun, Musa tidak menjadi marah atau mundur. Ia tetap setia dan berbesar hati untuk membiarkan Tuhan menjadi hakim atas mereka. Ia pun mengampuni Miryam dan Harun ketika Tuhan telah menyatakan keadilan-Nya.

Dalam melayani Tuhan, jemaat-Nya, atau orang lain, ada kalanya kita mungkin mendapat fitnahan seperti kisah Musa dan lembaga kristiani di atas. Atau, mendapat masalah-masalah lain yang menyakitkan hati kita. Pada saat itu kita perlu ingat bahwa pelayanan ini kita lakukan karena dan untuk Tuhan, sehingga kita tidak boleh kehilangan ketulusan dan kesetiaan. Selain itu, kita tidak perlu membalas mereka yang menyakiti kita. Kita perlu mengampuni mereka dan membiarkan Tuhan menyatakan keadilan-Nya; sesuai waktu dan cara-Nya.



Tetaplah tulus dan setia dalam pelayanan, ketika masalah datang menghadang

FaGuS
July 20th, 2009, 08:33
Bacaan hari ini: 1 Korintus 16:5-18
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 16:13,14
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 40-42



”Bu,” kata seorang anak kecil, “Kata guru Sekolah Mingguku, kita hanya hidup sementara di dunia ini. Dan Tuhan meminta kita bersiap-siap untuk pergi ke dunia yang lebih baik. Tapi, Bu, kulihat tidak ada orang yang bersiap-siap. Ibu bersiap-siap mengunjungi Nenek, dan Tante Santi bersiap-siap menjemput kita, tapi kulihat tidak ada yang bersiap-siap pergi ke dunia yang lebih baik itu. Kenapa, Bu?” Orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus. Penantian ini bukan suatu sikap pasif, melainkan sikap yang waspada dan siap siaga. Sikap seperti itulah yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat di Korintus.

Berjaga-jaga. Mereka harus senantiasa waspada akan musuh rohani yang mungkin menyusup dan mengancam hendak menghancurkan mereka. Musuh itu bisa berupa perpecahan, kesombongan, dosa, kekacauan, atau pengajaran sesat. Berdiri teguh dalam iman. Mereka harus bertekun di dalam Injil yang sudah diajarkan kepada mereka dan membawa mereka ke dalam keselamatan. Bersikap berani. Mereka harus kuat dan berani dalam menghadapi musuh iman, menjaga integritas, mengatasi dosa, dan menangani masalah.

Melakukan segala pekerjaan dalam kasih. Semangat dan kegigihan iman mereka harus dilandasi oleh kasih. Tanpa kasih, ketiga hal terdahulu hanya akan memperlihatkan fanatisme buta yang dapat menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Bagaimana kesiapan Anda untuk menyambut-Nya? Nasihat Paulus tadi dapat kita terapkan untuk mempersiapkan diri.




Menunggu bukanlah kesempatan untuk bersikap pasif, melainkan kesempatan untuk mempersiapkan diri

FaGuS
July 21st, 2009, 04:09
Bacaan hari ini: Yakobus 4:1-4
Ayat mas hari ini: Matius 6:11
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-45




The Compact, sekelompok aktivis lingkungan Amerika, bertekad untuk puasa belanja selama setahun. Tidak membeli barang baru apa pun kecuali kebutuhan pokok. Hasilnya? Mereka belajar banyak. Seorang remaja berkata, “Banyak barang yang tadinya sangat kuinginkan, ternyata tidak kubutuhkan.” Seorang ibu menutup kartu kreditnya. Seorang bapak mengaku bisa lebih menghargai barang. Jika rusak, ia berusaha memperbaikinya dulu, tidak langsung membeli yang baru. Mereka menyimpulkan, perilaku konsumtif membuat kita berbelanja lebih dari yang kita butuhkan.

Waspadailah jebakan perilaku konsumtif. Iklan dan promosi terus meyakinkan kita bahwa hidup belumlah lengkap sebelum membeli produk mereka. Kita dipacu untuk menginginkan dan memperoleh semuanya. Jika dituruti terus, segala cara akan kita tempuh. Mulai dari menumpuk utang sampai bertengkar demi mendapat lebih banyak uang belanja. Doa pun bisa dipakai untuk memaksa Tuhan memenuhi daftar belanja. Yakobus menamakan ini “persahabatan dengan dunia” (ayat 4). Saat hawa nafsu dibiarkan berkuasa, kita akan iri pada mereka yang punya lebih (ayat 2). Doa pun jadi terkontaminasi dengan permintaan duniawi (ayat 3).

Apakah Anda selalu merasa apa yang Anda miliki kurang? Apakah Anda resah jika belum memiliki benda yang banyak orang telah memilikinya? Apakah belanja Anda tak seimbang dengan penghasilan? Apakah doa Anda didominasi permintaan materi? Jika jawabnya “ya”, Anda tengah berada dalam jerat perilaku konsumtif. Bebaskan diri segera. Tak ada salahnya mencoba puasa belanja!




Masalah kebanyakan orang bukanlah memiliki terlalu sedikit, melainkan berharap memiliki terlalu banyak

FaGuS
July 22nd, 2009, 06:53
Bacaan hari ini: Kejadian 6:9-22
Ayat mas hari ini: Kejadian 6:22
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 46-48


“Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Pepatah lama ini tepat untuk menggambarkan upaya tidak kenal lelah dari Chaerudin atau Bang Idin. Cita-citanya untuk menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan di Jakarta Selatan awalnya mendapat tentangan, kecaman, dan cemoohan. Ia dianggap gila merancang ide mustahil itu. Maklum pada 1980, bantaran Kali Pesanggrahan benar-benar kumuh dan tidak terurus; sampah bergunung-gunung teronggok, berdampingan dengan tembok tinggi para juragan tanah. Namun, itu dulu. Kini kalau Anda melewati Pondok Cabe Udik sampai Pondok Pinang, sejauh mata memandang pepohonan hijau terlihat menyegarkan mata.

Hasil jerih lelah Bang Idin selama lebih dari lima belas tahun berbuah hasil. Di jalur sepanjang 30 km, seluas 35 hektar, sekarang telah ditanami lebih dari 60 ribu spesies tanaman. Sungguh sebuah perjuangan keras dan tidak mudah. Atas jerih lelahnya itu, Bang Idin menerima penghargaan di bidang lingkungan dari pemerintah. Hal yang sama dialami oleh Nuh. Tidak ada hujan, tidak ada angin, Allah memerintahkannya membuat bahtera raksasa. Nuh taat. Walaupun bisa jadi ia harus menerima cemoohan dan hinaan orang-orang di sekitarnya. Usaha Nuh tidak sia-sia. Berkat bahteranya, ia dan keluarganya, serta binatang-binatang, selamat dari amukan air bah.

Ada saatnya kita harus melakukan sesuatu yang, mungkin bagi banyak orang, “bodoh”. Kita dicemooh dan diolok-olok. Jangan undur. Jalan terus, sepanjang kita meyakininya dengan sepenuh hati dan menjalankannya dengan tulus. Bukankah mereka yang tertawa belakangan adalah pemenang yang sesungguhnya?





Ejekan dan cemoohan jangan menyurutkan langkah kita

FaGuS
July 25th, 2009, 04:14
Bacaan hari ini: Mazmur 8
Ayat mas hari ini: Mazmur 8:5
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 55-57




Ada banyak acara bagi-bagi uang di televisi Indonesia. Bentuknya bisa berupa kuis, undian, bantuan, dan sebagainya. Semua penerima uang tersebut selalu menunjukkan kegembiraan. Tetapi ada sedikit perbedaan respons antara mereka yang mendapat uang yang berupa bantuan, dengan mereka yang mendapatkannya karena menang kuis. Biasanya, kelompok yang pertama menunjukkan rasa syukur yang meluap-luap kepada pembawa acara. Hal ini lebih jarang terjadi di kelompok yang kedua. Perbedaan ini disebabkan oleh karena cara pandang yang berbeda. Mereka yang mendapatkan uang dengan memenangkan suatu kuis, merasa layak mendapatkan uangnya. Sementara mereka yang menerima uang sebagai bantuan tanpa berbuat apa pun yang membuatnya pantas menerima, melihat uang tersebut sebagai anugerah.

Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa hubungan kita dengan Allah sebetulnya adalah seperti orang yang menerima “uang bantuan”. Kita terlalu kecil untuk dapat dipandang layak diperhatikan Allah. Akan tetapi, oleh anugerah-Nya, justru Allah menjadikan kita puncak dan pemimpin ciptaan.

Fakta ini seharusnya menghadirkan perasaan takjub dan syukur kepada-Nya. Sayangnya, kadang kala kita lupa akan hal tersebut. Kadang kita merasa bahwa kita layak untuk diberkati Allah, mungkin karena merasa sudah aktif melayani, memberi banyak persembahan, bekerja keras dalam hidup, dan sebagainya. Akibatnya, kita jadi merasa tidak perlu lagi bersyukur. Hari ini kita diingatkan bahwa kita semua terlalu kecil bagi Allah, tetapi anugerah-Nya sangatlah besar bagi kita. Karena itu, kita harus selalu bersyukur pada-Nya.




Kesadaran akan kebesaran anugerah Allah pada kita menghasilkan ungkapan syukur dalam diri kita

FaGuS
July 26th, 2009, 14:12
Grow in grace…
2 Peter 3:18



Daily Bible Reading:
2 Kings 5:1-17, Luke 4:16-30


Samuel and Susanna Wesley (John Wesley's parents) were at evening prayer one night when Susanna didn't say 'amen' to her husband's prayer for William of Orange, then King of England. When he asked her why, she explained that her sympathy lay with the deposed James the Second. It turned into a game of 'you do what I say' which he couldn't win. She wrote about what happened next: 'He immediately kneeled down and invoked the divine vengeance upon himself and all his posterity if he ever touched me again or came to bed with me before I had begged God's pardon, and his, for not saying amen to a prayer for the king.' The stalemate lasted six months and was broken only when a tragic fire destroyed two-thirds of their home.

People who cling to resentments, who don't know how to handle disappointment with grace, who have long memories, who choke on the words, 'I'm sorry,' or who sulk and pout and whine, always finish up on the short end of the stick. Losing well is an art that requires all the grace we can muster. It means having the humility to face reality with no excuses, but with the confidence not to allow losing to define our identity or make us feel 'less than.' It means no excuses, no blaming, no self-pity - but no self-condemnation either. It means having the discernment to know when to quit and when to persevere. It means learning how to say 'congratulations.' It means letting go of an outcome we cannot change, but holding on to the will to live fully and well, and seeking to glorify God in all that we do.

FaGuS
July 27th, 2009, 05:06
Bacaan hari ini: Nehemia 5:14-19
Ayat mas hari ini: Nehemia 5:18
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 61-63



Selamat atas pernikahan putramu minggu lalu,” kata Pak Badu sambil menyalami tangan Pak Indra seusai kebaktian. “Maaf, saya tidak datang ke pestamu, soalnya saya tidak diundang!” sambungnya ketus. Rupanya Pak Badu tersinggung. Pikirnya, “Kalau ia menganggapku teman baik, seharusnya aku diundang.” Ia tidak paham bahwa Pak Indra sedang didera kesulitan keuangan, sehingga hanya mampu menyelenggarakan pesta kecil untuk kerabat dekat.

Dalam relasi dengan sesama, orang biasanya menuntut diperlakukan sesuai dengan statusnya. Status istimewa sebagai suami, istri, teman baik, penguasa, atau majikan membuat kita merasa berhak menerima perlakuan khusus. Kita marah jika mereka tidak memberi apa yang menjadi hak kita. Nehemia tidak demikian! Dua belas tahun sudah ia diangkat menjadi Bupati. Sesuai statusnya, ia berhak mendapat perlakuan khusus dari rakyat. Mereka wajib membayar upeti, apalagi Nehemia memerintah dengan penuh dedikasi. Namun, Nehemia tidak pernah mengambil jatah itu. Mengapa? Karena ia memahami bahwa “pekerjaan itu sangat menekan rakyat” (ayat 18). Pembangunan tembok Yerusalem menguras tenaga dan pikiran rakyat. Semakin Nehemia belajar mengerti kesusahan mereka, semakin ia tidak mau menuntut bagiannya.

Banyak perselisihan dalam keluarga dan masyarakat terjadi karena masing-masing pihak ingin diperlakukan khusus. Kadang kala kita menuntut lebih dari apa yang orang lain bisa berikan. Andaikan saja Anda bersikap seperti Nehemia: belajar memahami orang lebih daripada menuntut, pasti relasi Anda menjadi lebih indah!





BERJUMPA DENGAN ORANG YANG TAK SUKA MENUNTUT, SERASA BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG LEMAH LEMBUT

FaGuS
July 28th, 2009, 02:50
Bacaan hari ini: Kejadian 49:29-33
Ayat mas hari ini: Kejadian 50:12
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 64-66



Bu Mimin, usia 81 tahun, meninggal dunia, menyusul Pak Wijian, suaminya, yang berpulang empat tahun lalu. Anak-anak dan menantunya bersitegang. Gara-gara sebagian ingin jenazah almarhumah dikremasi, sebagian lagi berkeras harus dikubur. Mereka memang berasal dari gereja yang berbeda-beda. Masing-masing punya pandangan dan alasannya. Sedang Bu Mimin sendiri semasa masih hidup tidak meninggalkan pesan apa-apa. Akibatnya relasi di dalam keluarga pun menjadi rusak.

Untuk menghindarkan hal-hal seperti itu, maka ada baiknya kita mempersiapkan apa-apa yang perlu diperhatikan jika saatnya kematian tiba. Jangan sampai kita mati dengan meninggalkan masalah buat orang-orang yang ditinggalkan. Menyedihkan sekali. Kita mungkin sudah tenang-tenang “di alam sana”, tetapi keluarga kita malah saling bertengkar. Lagipula kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Cepat atau lambat. Entah karena usia lanjut, sakit, atau penyebab lainnya. Jadi, perlulah kita mempersiapkan diri sebelum kematian datang.

Seperti Yakub dalam bacaan Alkitab hari ini. Sebelum kematiannya, ia berpesan kepada anak-anaknya agar dikuburkan di gua Makhpela bersama Lea, istri tertuanya (ayat 32). Andai yang menginginkan itu Ruben atau Yehuda atau anak Lea lainnya, bisa saja Yusuf dan Benyamin, anak-anak Rahel, memprotes. Apalagi ketika itu Yusuf adalah orang yang berkuasa. Rahel sendiri istri kesayangan Yakub, yang meninggal ketika melahirkan Benyamin dan dikuburkan di sisi jalan ke Betlehem (Kejadian 35:16-19). Namun, karena demikian pesan Yakub, anak-anaknya melakukan seperti yang dipesankannya (Kejadian 50:12), sehingga konflik di antara mereka pun tidak terjadi.




Untuk sesuatu yang pasti terjadi seperti kematian, bersiap itu perlu

FaGuS
July 29th, 2009, 03:34
Bacaan hari ini: Wahyu 1:1-3
Ayat mas hari ini: Wahyu 1:1
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 1-4



Di internet saat ini banyak silang pendapat tentang ramalan suku Maya. Suku yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala ini dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan. Menurut manuskrip peninggalan mereka, pada 21 Desember 2012 akan muncul gelombang galaksi yang besar, sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi. Ada yang menginterpretasikan hal itu sebagai “kiamat”, tetapi banyak pula yang memaknainya secara kontemplatif sebagai seruan untuk mencegah kerusakan bumi.

Alkitab telah menyediakan satu kitab yang secara khusus membahas “kiamat” atau rangkaian peristiwa pada akhir zaman, yakni kitab Wahyu. Kitab ini tidak menjelaskan kapan persisnya hal itu akan terjadi, tetapi memaparkan gambaran simbolis tentang bagaimana hal itu akan terjadi. Melalui tulisan Yohanes ini, kita mengerti bahwa Yesus Kristus akan datang kembali, Iblis akan dihukum, dan semua orang akan diadili untuk menerima kehidupan kekal atau kebinasaan kekal.

Di tengah situasi dunia yang dilanda krisis, peperangan, bencana alam, dan penganiayaan terhadap orang percaya, berita kitab Wahyu menawarkan penghiburan dan pengharapan. Bagaimanapun situasinya, Allah tetap memegang kendali dan rencana-Nya akan tergenapi. Kitab Wahyu juga menantang kita untuk hidup dalam kekudusan. Kita menolak berbuat dosa dengan merenungkan, “Akankah saya melakukannya seandainya Dia datang kembali hari ini?” Walaupun, kita mesti terus bekerja dan melayani dengan tekun seolah-olah Dia baru akan datang kembali seribu tahun lagi!




PENGHARAPAN KITA AKAN MASA DEPAN TERWUJUD DALAM PILIHAN-PILIHAN KITA PADA HARI INI

FaGuS
July 30th, 2009, 05:07
Bacaan hari ini: Yesaya 55:8-9
Ayat mas hari ini: Yesaya 55:9
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 5-7


Mbak Suryanti adalah anggota keluarga dari pelayanan Renungan Harian. Bagian keluarga yang divonis sakit berat sejak awal tahun 2009. Kanker ganas. Sudah stadium akhir. Terlambat diketahui, sehingga sudah menjalar ke mana-mana. Benar-benar mengganas, hingga minggu dan bulan yang dijalani, segera saja menghabiskan tubuhnya.

Awal April 2009, kami melawatnya. Wajah mengernyit menahan sakit, menyambut kami. Ya, menit demi menit, kanker itu memberi siksaan yang mendera begitu sakit. Seorang rekan bertanya kepada Mbak Suryanti, “Apakah dalam kondisi sakit ini, Ibu masih percaya bahwa Tuhan baik?” Agak terkejut tampaknya ia mendengar pertanyaan itu. Tetapi tegas jawabnya, “Ya.” Lalu ditanya lagi, “Andaikan Tuhan mengizinkan Ibu sakit setahun lagi, apakah Ibu masih percaya Tuhan itu baik?” Sekali lagi jawabnya masih sama. Dan satu kali lagi, “Andai Ibu masih harus menderita bertahun-tahun lagi, dan akhirnya Tuhan bilang, ’Cukuplah kasih karunia-Ku, pulanglah anak-Ku’, apakah Ibu masih bisa mengatakan Tuhan itu baik?” Heran, bertambah tegas ia menyahut, “Ya, saya percaya Tuhan baik, ketika saya hidup, atau ketika saya mati.”

Berserah diri tanpa syarat, yang ditunjukkan Mbak Suryanti, menunjukkan kepercayaan kepada rancangan Allah. Bahkan meski tantangan di hadapan tidak dilalukan, meski mukjizat tak dijanjikan, percayanya tetap. Keberserahan kepada Sang Pencipta untuk mengatur hidup kita, bukan sebaliknya, merupakan kehendak Allah. Terkadang jalan-Nya sama sekali tak sama dengan jalan yang kita ingini. Seolah-olah sejauh langit dari bumi (ayat 9). Namun mari percaya, Dia merancang segalanya sempurna. Selalu.




JALAN-NYA TAK SELALU MUDAH, TETAPI YAKINLAH DIA MENYEDIAKAN AKHIR YANG INDAH

FaGuS
July 31st, 2009, 03:07
Bacaan hari ini: 2 Petrus 3:9-15
Ayat mas hari ini: 2 Petrus 3:14
Bacaan Alkitab Setahun: Nahum 1-3




Kota Bandung terkenal dengan Factory Outlet-nya. Tempat orang bisa berbelanja produk fashion dari merek ternama dengan harga miring. Pakaian sisa ekspor yang dijajakan di sana bagus-bagus. Harganya pun jauh di bawah harga outlet resmi. Namun, di antaranya ada pula barang yang tidak lolos kendali mutu (quality control). Produk ini cacat sedikit. Entah potongan, jahitan, bahan, atau warnanya tidak sesuai pesanan. Walaupun hanya cacat sedikit, pihak pemesan menganggapnya tidak layak ekspor!

Ketika memberitakan bahwa hari Tuhan pasti akan datang, Rasul Petrus menekankan betapa pentingnya kita hidup “tak bercacat dan tak bernoda” (ayat 14). Kata “tak bercacat” berkait erat dengan tradisi persembahan korban. Di Perjanjian Lama, setiap hewan korban harus diteliti dulu sebelum dipersembahkan. Ada semacam kendali mutu! Hanya yang dipandang tidak bercacat, yang pantas dipersembahkan kepada Tuhan. Bagi kita, hidup “tak bercacat” berarti berjuang terus agar hidup kita layak dipersembahkan bagi Tuhan. Masa penantian ini adalah kesempatan dari Tuhan untuk kita berbenah diri (ayat 9,15). Roh Kudus bisa membentuk kita sedikit demi sedikit, hingga kelak kita kedapatan tak bercacat saat kedatangan Tuhan.

Bagian mana dalam hidup Anda yang merupakan “cacat” di mata Tuhan? Sudahkah Anda berupaya membenahinya, atau masa bodoh dan berkata “cacat sedikit tidak mengapa”? Cepat atau lambat, kita semua harus menghadap hadirat Tuhan. Jangan sia-siakan kesempatan berbenah diri ini. Buatlah “proyek berbenah diri” jangka panjang, dengan pimpinan Roh Kudus!




MASALAHNYA BUKAN KAPAN DIA DATANG, MELAINKAN SUDAH LAYAKKAH KITA KAPAN PUN DIA DATANG?

FaGuS
August 2nd, 2009, 02:49
Bacaan hari ini: Markus 6:30-32
Ayat mas hari ini: Markus 6:31
Bacaan Alkitab Setahun: Habakuk 1-3



Michael Schumacher menjadi juara dunia Formula One (F1) tujuh kali. Ia mampu memacu mobil balapnya dengan kecepatan di atas 300 km/jam, menyelesaikan puluhan lap dalam waktu yang amat cepat. Ada satu hal yang selalu ia lakukan saat berlomba, yaitu melakukan pit stop. Di pit stop itu, ia berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban yang aus, dan memeriksa peralatan mobilnya. Sesaat kemudian ia pun melanjutkan lomba.

Sejarah mencatat, dalam F1 strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Mirip dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktivitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, mungkin ditambah juga dengan pelayanan di gereja atau aktivitas di tempat lain. Sehingga saking sibuknya sampai-sampai kita pun kerap kali lupa hal yang sangat penting, yaitu “berhenti” sejenak.

Dalam bacaan kita, Tuhan Yesus mengetahui kelelahan para murid-Nya setelah melayani orang banyak. Dia pun lalu mengajak mereka beristirahat, menarik diri dari kesibukan. Ada saat di mana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Saat di mana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat me-recharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi.





TANPA AKTIVITAS KITA BISA TUMPUL, TETAPI TANPA LIBUR KITA BISA AUS

FaGuS
August 3rd, 2009, 03:43
Bacaan hari ini: Mazmur 19:2-7
Ayat mas hari ini: Mazmur 19:2
Bacaan Alkitab Setahun: Obaja




Pada sebuah siang yang panas, Badu—sebut saja demikian, mengeluh kepanasan. Mukanya terlipat, tak ada senyuman. Baju kerjanya mulai basah oleh keringat. Ini memperpanjang daftar keluhannya. Sorenya—masih di hari yang sama, sekali lagi Badu mengeluh. Hujan turun sangat lebat disertai kilat, dan angin menusuk tubuhnya yang tak mengenakan jaket. Dalam hati ia berkata, “Tuhan, jangan berlebihan dong! Bukankah akan lebih baik jika tadi siang tak sepanas itu, dan sore ini tak sedingin ini?” Mungkin itu juga yang ada dalam hati kebanyakan orang saat merespons cuaca. Saat panas, mengeluh. Saat hujan, mengeluh. Mendung pun mengeluh. Astaga! Siapakah kita? Apakah kita memiliki kuasa untuk mengendalikan alam, sampai-sampai kita mengeluh terhadap apa yang Tuhan jadikan? Bukankah yang seharusnya terjadi adalah bersyukur atas semua hal, termasuk atas cuaca?

Lihatlah pemazmur yang mengungkapkan kebesaran Allah, saat memandang ke langit. Ia bahkan menemukan tutur Sang Pencipta saat memandang cakrawala. Betapa luar biasa kepekaannya untuk mengerti pernyataan kemahakuasaan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya! Sungguh, ini acap disepelekan dan diabaikan manusia.

Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita hidup di bawah kolong langit. Namun, sempatkah kita memandang langit hari ini? Mahakarya ilahi yang sayang untuk diabaikan begitu saja! Luangkan waktu sejenak untuk menikmati keindahan karya Tuhan dan bersyukur; entah pada saat panas, mendung, maupun hujan. Jangan terjebak pada keluhan, melainkan ingatlah Dia yang menciptakannya. Dan, mulailah bersyukur atas semua ini.





SEPERTI TUHAN MENAUNGI KITA DENGAN LANGIT, DEMIKIANLAH DIA MENAUNGI KITA DENGAN KESETIAAN-NYA DARI HARI KE HARI

FaGuS
August 5th, 2009, 00:53
Bacaan hari ini: Kejadian 4:1-16
Ayat mas hari ini: Kejadian 4:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 3-4



Dalam salah satu cerita Donal Bebek, pernah dikisahkan Donal yang bingung untuk bertindak; bertindak baik atau bertindak buruk. Lalu muncullah dua figur di kepalanya, yakni tokoh putih dan tokoh hitam. Kedua figur itu mati-matian berusaha memengaruhi Donal agar memperhatikan dan mengikuti nasihat mereka yang pastilah berseberangan. Donal pun harus memilih, mana yang ia ikuti: nasihat si tokoh putih atau hitam.

Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Kain yang iri dan marah kepada Habel karena persembahannya tidak diindahkan Tuhan. Sangat mungkin ia juga merasa malu, karena terjemahan bahasa Ibrani dari “muka muram” (ayat 6) adalah “wajahnya jatuh”. Wajah jatuh berarti tak punya muka. Tak punya muka berarti malu. Jadi, Kain menjadi iri, marah, dan sekaligus malu akibat Tuhan menolak persembahannya. Akibatnya, Kain melampiaskan kemarahan dan rasa malu serta iri hatinya kepada Habel, adiknya. Kain membunuh Habel. Ini bukan tanpa peringatan Tuhan. Sebetulnya Tuhan sudah memperingatkan Kain, agar “berkuasa atas dosa yang sudah mengintip di depan pintu” (ayat 7). Namun, agaknya kuasa dosa yang mengintip di pintu hati Kain yang marah dan malu itu terlalu besar untuk dapat ia kuasai. Hasilnya tragis: Darah Habel tercurah ke tanah akibat pembunuhan yang dilakukan oleh kakak kandungnya.

Godaan si jahat harus kita kalahkan sejak awal; sejak godaan itu masih berupa benih. Itu jauh lebih mudah daripada kita mencoba mengalahkannya ketika godaan itu sudah menjadi pohon yang besar




DOSA BESAR BERAWAL DARI KEINGINAN KECIL

FaGuS
August 6th, 2009, 01:06
Bacaan hari ini: Lukas 12:42-46
Ayat mas hari ini: Lukas 12:43,44
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 5-6




Apabila atasan tidak sedang berada di tempat, seorang karyawan bisa jadi akan memilih berhenti bekerja lalu bermalas-malasan; mungkin ngobrol ngalur ngidul dengan teman, atau main internet, atau bahkan tidur-tiduran. Nah, bagaimana dengan kita? Akan melakukan hal yang samakah?

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus berbicara tentang pertanggungjawaban. Tuhan Yesus menggambarkan dua golongan hamba. Pertama, hamba yang bertanggung jawab, yaitu hamba yang tetap bekerja, walaupun tuannya tidak ada di tempat. Kedua, hamba yang tidak bertanggung jawab; hamba yang sok menjadi tuan dengan memukul para hamba yang lain, tidak bekerja melainkan bermalas-malasan, makan minum dan mabuk-mabukan. Apa yang terjadi pada waktu tuannya datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan? Sangat jelas bahwa ada ganjaran yang berbeda bagi kedua golongan hamba tersebut. Golongan hamba pertama mendapatkan promosi kenaikan pangkat, sedangkan golongan hamba yang kedua mendapatkan hukuman yang setimpal.

Dari sini kita belajar bahwa ternyata ada ganjaran atas sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab seharusnya menjadi bagian dalam etos kerja kristiani. Tunjukkanlah kepada sekitar kita bahwa terdapat perbedaan yang tampak dari para pekerja kristiani di Indonesia. Sudah menjadi tugas kita untuk menggarami dan menjadi teladan dalam dunia kerja di Indonesia saat ini. Bagaimana kita dapat berbicara mengenai kekristenan kepada dunia jika kita sendiri tidak pernah me*nunjukkan cara hidup kristiani, walaupun untuk hal-hal yang sederhana, seperti bertanggung jawab dalam pekerjaan?





TANGGUNG JAWAB ADALAH BAGIAN DARI ETOS KERJA KRISTIANI

FaGuS
August 10th, 2009, 02:51
Bacaan hari ini: Matius 13:31-33
Ayat mas hari ini: Matius 13:32
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 17-20



Di Indonesia, arus listrik sering padam. Entah karena kerusakan teknis atau pemadaman bergilir. Hal ini sangat meresahkan, karena masyarakat sudah sangat bergantung pada listrik. Dulu, listrik dipakai hanya sebatas menyalakan lampu. Kini, pemakaiannya merambah ke segala bidang. Hampir semua kegiatan memerlukan listrik: mendinginkan ruangan, menjalankan mesin, menonton televisi, menyalakan komputer, dan lain-lain. Pengaruhnya semakin besar. Tidak bisa lagi kita hidup nyaman tanpanya!

Pengaruh atau dampak Kerajaan Surga juga begitu. Ia seumpama biji sesawi. Mula-mula kecil mungil. Tak terasa hadirnya, apalagi dampaknya. Namun, setelah tumbuh, ia menjadi pohon besar tempat bernaung burung-burung. Dampaknya sangat terasa. Burung-burung tak bisa hidup nyaman tanpanya. Kerajaan Surga juga seumpama ragi dalam adonan. Ketika ditaruh sejumput, tampaknya tidak terjadi apa-apa. Namun, perlahan tetapi pasti, 3 sukat adonan (hampir 40 liter) akan dipengaruhi hingga mengembang. Itulah yang terjadi saat kita hidup dalam Kerajaan Surga. Sewaktu baru beriman pada Kristus, mungkin Tuhan dan Firman-Nya belum terlalu memengaruhi hidup. Tetapi, makin lama dampaknya makin besar. Kristus dan Firman-Nya memengaruhi pikiran dan hati. Mewarnai setiap aksi. Menjadi sumber inspirasi.

Hidup dalam Kerajaan Allah tak pernah statis. Ada pertumbuhan. Pengaruh Kristus seharusnya semakin terasa, hingga kita tak nyaman lagi hidup tanpa merasakan hadir-Nya. Seberapa besar Yesus telah memengaruhi cara pikir, sikap, dan tindakan Anda?




IMAN YANG HIDUP SELALU BERGERAK MAJU, TIDAK PERNAH BERHENTI DI TEMPAT

FaGuS
August 11th, 2009, 01:14
Bacaan hari ini: 2 Korintus 3:1-6
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 3:2
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 21-23



Seorang pembuat pensil sebelum mengutus pensilnya ke dunia memberikan empat pesan. (1) Kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya jika kamu mau berada di tangan seseorang. (2) Kamu akan menderita setiap kali kamu diruncingkan, tetapi kamu perlu itu untuk menjadi pensil yang baik. (3) Bagian yang terpenting dari hidupmu adalah bagian yang ada di dalam, bukan bagian luarnya. (4) Pada permukaan mana pun juga, selalu tinggalkan jejakmu dan teruslah menulis.

Ilustrasi di atas menyimpan kebenaran rohani yang luar biasa. Pertama, kita memiliki potensi yang luar biasa dan mampu melakukan hal yang besar. Hanya saja kalau kita membiarkan diri berada di tangan Tuhan. Kedua, ada kalanya kita akan mengalami proses-proses pengeratan dan peruncingan yang sangat menyakitkan. Itu membuat kita sangat menderita, tetapi mau tidak mau kita akan melewati proses itu demi kebaikan kita sendiri. Proses pengeratan kedagingan kita akan membuat karakter ilahi muncul dalam hidup kita.

Ketiga, bagian yang terpenting dalam hidup kita adalah bagian yang ada di dalam. Jangan pernah terjebak dengan hal-hal yang hanya merupakan penampilan luar saja. Tuhan tidak pernah tergiur dengan topeng-topeng kita. Tuhan lebih melihat kedalaman hati kita. Keempat, di mana pun Tuhan taruh kita, selalu tinggalkan jejak atau “tulisan-tulisan” yang benar-benar bisa memengaruhi orang yang membacanya. Jadilah orang kristiani yang berpengaruh dan selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang bertemu dengan kita.




Sudahkah kita menjadi pensil yang meninggalkan goresan mendalam?

FaGuS
August 12th, 2009, 01:22
Bacaan hari ini: Mazmur 42:1-6
Ayat mas hari ini: Mazmur 42:2
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 24-26


Dalam geografi Perjanjian Lama memang ada sungai yang tidak berair. Rusa-rusa Palestina kadang kala menemukan batang sungai yang kering pada musim kemarau. Jika hal ini terjadi, rusa-rusa biasanya menyusuri dan mendaki aliran sungai sampai menemukan mata air yang masih memiliki aliran air yang tipis untuk memuaskan dahaga mereka. Namun, tidak jarang ditemukan rusa yang tergeletak mati di tengah batang sungai karena benar-benar tidak menemukan air.

Demikianlah pemazmur bani Korah menggambarkan kerinduannya akan Tuhan. Kerinduan yang dimilikinya adalah kerinduan jiwa yang haus kepada Allah yang hidup. Kehausan yang tidak dapat digantikan dengan apa pun kecuali bertemu dengan Allah secara langsung. Tuhan senang mendapati hati yang merindukan-Nya dengan hasrat. Berdoa, bernyanyi, dan beribadah kepada Allah tidak hanya melibatkan unsur rasionalitas semata. Akan tetapi, perlu melibatkan perasaan dan jiwa yang bergairah memuji dan memuliakan Tuhan.

Blaise Pascal mengatakan bahwa dalam hati manusia ada ruang kosong yang akan selalu terasa kosong sampai ruang itu terisi dengan kehadiran Tuhan. Selama ruang itu masih kosong, manusia akan selalu berusaha mengisinya dengan berbagai hal; seperti kekayaan, kenikmatan, dan ketenaran. Namun, hal-hal semacam ini tidak akan pernah dapat mengisi kekosongan tersebut. Jiwa manusia tanpa Tuhan adalah seperti rusa yang mati di tengah batang sungai yang tidak berair. Jiwa yang kosong akan terus mencari dan mencari, sampai akhirnya kekosongan itu dipuaskan oleh Tuhan. Sebab, Dialah asal dan tujuan dari jiwa manusia.




TUHAN MENYENANGI JIWA YANG HAUS AKAN DIA

FaGuS
August 14th, 2009, 04:14
Bacaan hari ini: 1 Korintus 9:24-27
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 9:27
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 30-32



Gerakan Pramuka masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 1912. Akan tetapi, baru pada tanggal 14 Agustus 1961, gerakan Pramuka Nasional secara resmi diperkenalkan. Hari inilah yang kemudian kita peringati setiap tahun sebagai hari Pramuka.

Gerakan ini dimulai oleh Robert Baden-Powell sekitar tahun 1908 di Inggris. Ia adalah seorang tentara yang “terpaksa” melatih para pemuda di daerah di mana ia bertugas untuk membantunya dalam mempertahankan lini pertahanan dari serangan musuh. Melihat kegunaan pelatihan ini, ia terdorong mengadakan pelatihan serupa bagi para pemuda lain. Tujuannya supaya fisik, karakter, dan jiwa para pemuda dibentuk dengan baik. Dengan semangat kedisiplinan tinggi dan pantang menyerah yang berakar dari semangat kemiliteran, gerakan ini terus dipertahankan sampai kini. Semangat tersebut juga menjadi salah satu sebab gerakan ini terus berhasil membentuk para anggotanya menjadi orang-orang tangguh dan berguna.

Semangat untuk disiplin dan pantang menyerah ini juga perlu kita miliki sebagai pengikut Kristus, agar mampu menyangkal diri dan hidup sesuai kehendak-Nya. Dan untuk menjadi orang yang demikian, diperlukan proses panjang dan tak mudah. Kita perlu tekun melatih diri untuk tunduk kepada firman-Nya meski mungkin itu mengganggu kenyamanan kita, membuat kita takut, dan sebagainya. Ketika kita gagal, kita tidak menyerah, tetapi memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan yang sudah terjadi. Dengan begitu, pelan-pelan tetapi pasti, kita terbentuk untuk semakin lama semakin terbiasa hidup sesuai kehendak-Nya.




DIBUTUHKAN KEDISIPLINAN DAN SEMANGAT PANTANG MENYERAH UNTUK MENJADI PENGIKUT KRISTUS YANG SEJATI

FaGuS
August 19th, 2009, 05:26
Bacaan hari ini: Rut 2:1-7
Ayat mas hari ini: Rut 2:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 47-49



Bekerja sebagai regu pemadam kebakaran itu unik. Menurut Dr. Terence Keane, seorang pengamat perilaku, hanya 5% waktu mereka dipakai untuk memadamkan api. Sisanya, 95% waktu dipakai untuk menunggu. Ini membuat banyak pemadam kebakaran kerap merasa bosan, sehingga mereka disarankan agar melakukan pekerjaan lain untuk mengisi waktu, tetapi tetap siaga. Orang yang tidak bekerja akan merasa hidupnya tak bermakna. Tak bersemangat. Sebaliknya, kesibukan bekerja akan meningkatkan vitalitas hidup!

Rut dan mertuanya tiba di Israel tanpa membawa apa pun. Melarat. Fakta ini mengharuskan Rut segera berjuang mencari makan agar mereka berdua bisa tetap hidup. Rut tidak suka berpangku tangan, apalagi meminta-minta sambil menunggu belas kasihan orang. Rut lebih suka bekerja. Maka, ia mohon diperkenankan memungut sisa bulir-bulir jelai yang berceceran. Pekerjaan kasar ini ia tekuni dari pagi sampai sore. Melelahkan. Namun, Rut bekerja dengan tekun. “Seketika pun ia tidak berhenti,” karena didorong oleh rasa tanggung jawabnya. Rut bekerja keras melakukan yang terbaik, meski pekerjaannya sangat tidak menyenangkan. Dan, Tuhan memberkati karyanya.

Mungkin pekerjaan Anda lebih nyaman daripada Rut. Sudahkah Anda bekerja segiat dia: melakukan yang terbaik? Ataukah kita bermalas-malasan dan bekerja ala kadarnya? Ingatlah bahwa setiap pekerjaan adalah anugerah Tuhan. Berapa pun upah yang Anda terima, pekerjaan membuat kita merasa diri berharga. Pekerjaan membuat kita mampu mandiri. Jika dilakukan dengan giat dan penuh dedikasi, pekerjaan akan membawa kemuliaan besar bagi Tuhan.




JANGAN BEKERJA ALA KADARNYA. BEKERJALAH SEOLAH TUHAN-LAH BOS ANDA

FaGuS
August 20th, 2009, 05:34
Bacaan hari ini: Yakobus 4:13-17
Ayat mas hari ini: Yakobus 4:14
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 50-52


Tuhan sudah memanggil Mbak Suryati pulang. Ke tempat yang tak kenal duka atau air mata. Keluh atau sakit. Pergulatannya dengan kanker yang tanpa ampun menyerangnya dalam bulan-bulan terakhir, telah usai. Segala perih dan sakit yang menyiksa sudah tidak ada lagi. Empat puluh tiga tahun Tuhan memberinya waktu. Sepertinya kurang lama, begitu mungkin keluarga dan kerabat merasa. Namun Tuhan bilang, ia sudah menamatkan tugasnya.

Bagi setiap pribadi, Allah telah menetapkan batas umur. Itu sebabnya Yakobus mengingatkan, alangkah baiknya jika kita menyandarkan setiap hari pada kemurahan-Nya. Dan, apabila Tuhan masih menghendaki kita hidup pada hari ini, itu tandanya kita mesti bekerja bagi-Nya. Melakukan “ini dan itu”—yang Allah rancangtugaskan bagi kita (ayat 15). Jika tidak, maka kita berdosa. Sebab, menyia-nyiakan “masa hidup” yang Tuhan tetapkan berarti kita seperti orang yang tahu bagaimana harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya (ayat 17).

Memandangi tanah yang diurukkan ke atas peti jenazah Mbak Suryanti, saya bertanya-tanya, “Tuhan, seberapa batas umur yang Engkau tetapkan ketika mencipta saya? Jika waktunya tak banyak lagi, adakah saya sudah melakukan ’ini dan itu’ yang Tuhan kehendaki untuk saya lakukan?” Mbak Suryanti telah menjadi pribadi yang berhasil. Membesarkan dua putra menjadi anak Tuhan yang setia, menjadi saksi bahkan di tengah sakit, dan terus mempertahankan iman dan kasih kepada Tuhan hingga waktunya berakhir. Kita tidak pernah tahu batas umur kita, tetapi tentunya kita dapat mencari tahu “ini-itu” yang mesti kita lakukan, selagi masih ada waktu.




SEBAB TAK KUTAHU BATAS UMURKU; TAK KAN KUBUANG WAKTU UNTUK MENCINTAI TUHANKU

FaGuS
August 21st, 2009, 03:41
Bacaan hari ini: Daniel 1
Ayat mas hari ini: Daniel 1:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ratapan 1-5



Dalam bukunya yang berjudul Burung Berkicau, Anthony de Mello menceritakan kisah ini. Di sebuah desa hidup seorang kakek. Suatu kali ia mendapat wangsit, bahwa dua hari lagi hujan akan turun dan mencemari sungai di desa itu. Siapa pun yang minum airnya akan menjadi gila. Kakek itu memberitahukan kepada penduduk desa, tetapi tidak ada yang percaya. Akhirnya, si kakek mengumpulkan air persediaan untuk dirinya sendiri. Benar. Hujan turun, sungai desa tercemar. Semua penduduk desa menjadi gila setelah minum air sungai itu, kecuali si kakek. Dua minggu kemudian, si kakek merasa tidak tahan. Ia satu-satunya orang yang waras di antara semua orang gila. Ia pun lalu memutuskan minum air sungai dan ikut menjadi gila.

Berbeda dari lingkungan sekitar memang tidak mudah. Tidak heran kalau kerap kali orang mudah terseret “arus dunia”. Seorang remaja yang tidak suka merokok, misalnya, karena bergaul dengan teman-teman perokok, maka ia ikut-ikutan. Atau, seorang bapak yang rajin ke gereja dan punya reputasi baik, tetapi kemudian ketahuan korupsi karena teman-teman di kantornya ternyata suka melakukan korupsi.

Dalam lingkungan yang tidak sehat, kita perlu berketetapan hati untuk tidak ikut arus. Sebaliknya, tetap bertahan dengan prinsip iman dan identitas kita sebagai orang kristiani. Bisa ada risikonya memang, tetapi tidak usah kecil hati. Tuhan tidak mengecewakan orang yang setia kepada-Nya. Kisah Daniel dan teman-temannya dalam firman Tuhan hari ini menunjukkan kebenaran tersebut.




IKUT ARUS DUNIA HANYA AKAN MEMBUAT KITA TERHANYUT LALU TENGGELAM

FaGuS
August 22nd, 2009, 06:15
Bacaan hari ini: Zefanya 2:13-15
Ayat mas hari ini: Zefanya 2:15
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 1-3



Dalam film Kung Fu Panda, penjaga penjara tersinggung ketika utusan Master Shifu memintanya memperkuat penjagaan. Ia merasa penjaranya sudah sangat kuat: seribu penjaga, dan hanya satu tahanan, Tai Lung. Belum lagi sistem pengamanannya amat canggih. Namun, sebuah celah kecil yang luput dari perhatiannya berhasil dimanfaatkan Tai Lung untuk melepaskan diri dari belenggu. Dengan kelihaiannya, penjahat itu melumpuhkan penjaga satu per satu dan dengan kegesitannya ia berhasil mendobrak pintu penjara, lalu meloloskan diri.

Zefanya menubuatkan kehancuran Niniwe. Saat itu, menurut Life Application Study Bible, Niniwe merupakan pusat kebudayaan, teknologi, dan keelokan di Timur Dekat. Perpustakaan dan gedung-gedung megah menghiasi kota, sistem irigasi yang canggih mengairi perkebunan yang menghampar permai, perbentengannya diperkokoh dengan 1.500 menara. Kota itu beria-ria dan tenteram, sikap yang menggambarkan kepongahan dan kesembronoan, dilandasi oleh rasa aman yang palsu. Mirip dengan penjaga penjara tadi, ia merasa paling unggul, tiada tandingan, baik dalam kekayaan maupun kedigdayaan. Namun, sekitar sepuluh tahun setelah nubuatan ini, Niniwe benar-benar rata dengan tanah. Ia hancur karena kecongkakannya.

Nubuatan ini dapat mengingatkan kita agar waspada terhadap berbagai bentuk kesuksesan, seperti kekayaan, kepandaian, atau kekuasaan. Jangan sampai kita terlena, sehingga merasa bahwa diri kita paling unggul, tidak memerlukan Tuhan, dan merendahkan orang lain. Bukankah “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4:6).





KESOMBONGAN BERKAWAN AKRAB DENGAN KECEROBOHAN: IA MEMBUAT KITA LENGAH TERHADAP KELEMAHAN PRIBADI

FaGuS
August 24th, 2009, 05:41
Bacaan hari ini: 2 Korintus 7:1-10
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 7:10
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 7-9



Sudah setahun Anton selingkuh dengan teman kantornya. Akhirnya ketahuan juga oleh istri dan teman-teman gereja. Pendeta datang membesuk dan menegurnya. Anton mengaku bersalah. Ia menyesal, tetapi tak rela meninggalkan kekasihnya. “Kasihan,” katanya, “Ia belum menikah. Ke mana ia harus pergi? Saya yang berbuat, kini saya harus bertanggung jawab. Jika saya mencampakkannya, saya akan dikejar rasa bersalah!” Anton lupa, dengan mempertahankan hubungan gelap itu, justru ia bersalah lebih besar terhadap istri dan anak-anaknya.

Rasa bersalah tak selalu mendorong orang bertobat. Menurut Rasul Paulus, ada rasa bersalah sejati, ada juga yang palsu. Rasa bersalah sejati adalah “dukacita menurut kehendak Allah”. Datangnya dari teguran ilahi. Jemaat Korintus pernah menerima surat teguran yang keras dari Paulus, karena mereka membiarkan guru-guru palsu mengacaukan jemaat. Teguran ini membuat mereka menyesal, meratapi dosanya, lalu bertobat (ayat 8,9). Tidaklah demikian dengan rasa bersalah palsu; “dukacita yang dari dunia.” Di sini sang pelaku meratapi akibat dosanya, bukan dosa itu sendiri. Anton bersedih karena perbuatannya ketahuan. Ia berduka karena tak rela meninggalkan selingkuhannya, bukan karena menyadari dosanya pada Tuhan dan keluarga. Rasa bersalah palsu membuatnya berusaha menutupi dosa, bahkan meneruskannya karena “sudah kepalang tanggung”.

Ketika Anda ditegur karena berbuat dosa, bagaimana reaksi Anda? Mengakuinya atau berusaha menutupi? Rasa bersalah seperti apa yang muncul? Mintalah Tuhan memberi Anda rasa bersalah sejati.




RASA BERSALAH YANG TIDAK DIIKUTI DENGAN PERTOBATAN, BUKAN RASA BERSALAH YANG DARI TUHAN

FaGuS
August 27th, 2009, 05:42
He has made perfect forever those who are being made holy.Hebrews 10:14 NIV

When you disregard your positive qualities by telling yourself, "I'm too fat, I'm no good, I never do anything right," you'll always find verification of what you're looking for. Dr. Richard Carlson says: "Putting yourself down reinforces rather than corrects your imperfections by placing unnecessary attention and energy on everything that's wrong, rather than what's right with you. Why would you do this knowing the only possible result is a negative outlook, more negative feelings and less appreciation for the gift of life? People who regularly put themselves down are often seen as complainers, not to mention the example they set. Everyone has aspects of themselves they'd like to improve, but this doesn't mean you should beat yourself up. Here on earth none of us is ever going to be perfect, but putting yourself down isn't the answer."

The Bible says God "has made perfect forever those who are being made holy" (Hebrews 10:14 NIV). Max Lucado writes: "Underline the word perfect. Note, the word isn't better. Not improving. Not on the upswing. God doesn't improve; he perfects. He doesn't enhance; he completes… I realise there's a sense in which we're imperfect. We still err. We still stumble. We still do exactly what we don't want to do… that part of us is 'being made holy.' But when it comes to our position before God, we're perfect. When he sees each of us, he sees someone who has been made perfect through the One who is perfect - Jesus Christ."

It's okay to work on improving yourself, but go easy; stop often and remind yourself that you're "being made new… becoming like the One who made you" (Colossians 3:10 NCV).

FaGuS
August 28th, 2009, 04:57
Bacaan hari ini: Yohanes 4:12-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 4:15
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 20-23



Pernah ibu saya dirawat di ICU karena gagal jantung. Dokter memasukkan selang-selang plastik ke dalam mulutnya dari mesin pompa darah. Ketika sadar, ia tak bisa bicara. Bibirnya yang kering mencoba berbisik: “Haus ... haus ....” Ia haus luar biasa, tetapi saya dilarang memberinya minum. Saya hanya boleh mengolesi bibirnya dengan kapas yang dibasahi air. Sungguh pedih melihat ia menderita kehausan, sementara yang saya lakukan tak cukup untuk memuaskan dahaganya.

Kehausan adalah penderitaan hebat. Orang bisa membayar berapa pun untuk memuaskan dahaga. Perempuan Samaria yang ditemui Yesus juga kehausan luar biasa. Bukan haus akan air, tetapi haus kasih sayang. Ia mengira, dengan menikahi seorang laki-laki, dahaganya akan kasih dapat terpuaskan. Nyatanya tidak. Ia mencoba lagi dengan laki-laki lain. Sama saja. Sampai lelaki keenam, ia tetap dahaga. Yesus berkata, yang perempuan itu butuhkan ialah “air hidup.” Maksudnya, Roh Kudus (bandingkan dengan Yohanes 7:38,39). Hanya Roh Kudus yang dapat mengisi ruang kosong di hati kita. Memberi kehangatan kasih sejati yang tak dapat manusia berikan. Jika kasih-Nya melimpah di hati, kita akan merasa puas. Tidak lagi menuntut terlalu banyak dari kasih manusia yang terbatas dan bersyarat.

Apakah Anda sering kecewa karena merasa kurang dikasihi? Apakah Anda berharap terlalu banyak pada orang terdekat? Berhentilah menjadikan orang lain sebagai sumber kasih. Minta Roh Kudus memenuhi hati Anda dengan kasih-Nya. Anda akan diubahkan oleh-Nya menjadi penyalur kasih, bukan pengemis kasih.




JADIKAN TUHAN SUMBER KASIH. ANDA TAK AKAN LAGI MENJADI PENGEMIS KASIH